Font Size
15px

Wajah Haban berseri-seri dan Leah tak dapat nahan tawa. Dia tampak nggemaskan.

"Aku rasa seperti kehilangan sepuluh tahun dalam hidupku," katanya sambil duduk di kursi di seberangnya.

“Mari kita bicara sebentar.” Leah nyodorkan camilan yang belum tersentuh ke arahnya dan Haban segera ngunyahnya, satu per satu. “...Dia pasti sangat marah, kan?”

Tak perlu disebutkan siapa. Haban nelan kuenya.

"Kau tak perlu khawatir tentang itu," katanya sambil lambaikan tangan dengan acuh tak acuh. "Orang Kurkan sangat berbakti kepada pasangannya, itu sifat kami. Jika kau neteskan satu tetes air mata, Ishakan akan ngatakan bahwa itu adalah kegagalannya."

Kalau dipikir-pikir lagi terakhir kali dia bertemu dengannya, Leah tidak rasa Ishakan mudah marah. Haban natapnya saat dia duduk diam.

“Ishakan terlalu percaya diri,” katanya hati-hati. “Aku tidak ngerti bagaimana dia bisa ngatakan tidak masalah jika ada orang lain di hatimu...”

Ada beberapa hal yang ngganggu Haban. Tidak masuk akal bagi Ishakan untuk nerima hal seperti itu begitu saja, atau begitu cepat mbatalkan rencana untuk mbawanya kembali ke padang pasir.

"Saya tidak tahu bagaimana njelaskannya," lanjutnya. "Hanya saja, karena dia miliki kepribadian yang kuat...nurut saya, Anda tidak perlu terlalu mikirkannya. Maksud saya, secara emosional."

Dia gangi kepalanya.

“Kedengarannya seperti Genin. Pokoknya, nurutku lebih baik biarkan saja semuanya...ngalir, untuk saat ini.”

“...Begitu ya.” Leah mainkan cangkir tehnya yang dingin sambil berpikir. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Mata Haban terbelalak.

“Ada tempat yang ingin aku kunjungi. Aku ingin tahu apakah kamu bisa nemaniku malam ini.”

***

Setelah kembali ke istananya, Leah nunggu hingga malam semakin larut. Sambil nunggu, ia ngeluarkan jubah dari lemarinya dan ngenakannya. Beberapa saat kemudian, ia ndengar suara seseorang ngetuk kaca, lalu mbuka pintu balkonnya dan langkah keluar. Haban sedang berjongkok di pagar balkon.

Sambil nggendong Leah, dia ninggalkan istana, dan tak lama kemudian reka sudah berada di sebuah gang di kota, ndengarkan suara bising pasar malam di dekatnya. Gang itu terletak jauh dari lampu pasar, jadi suasananya cukup gelap.

nurut kilasan ingatan itu, ini adalah gang tempat dia lihat Tomaris. skipun dia hanya bisa nggambarkan tempat itu secara samar-samar dan tidak tahu di mana tempatnya, Haban tahu persis apa yang dia bicarakan.

Perlahan, dia lihat ke sekeliling gang. Dulu, dia bersembunyi di balik seseorang. Dia berharap bisa ngingat lebih banyak jika dia datang langsung ke sini, tetapi tidak ada yang terlintas di benaknya.

Namun, ia tidak kecewa. Ia berencana untuk ngunjungi semua tempat yang pernah ia kunjungi. Selanjutnya, ia akan kembali ke penginapan tua tempat Ishakan mberinya makan.

“......?”

Sesaat Leah ragukan penglihatannya saat lihat seseorang berjalan di kejauhan. Ia tidak bisa lihat wajahnya, tetapi ia ngenalinya hanya dari siluetnya.

Itu Byun Gyeongbaek. Dengan cepat, dia lihat sekeliling dan kemudian masuk ke gang lain. Apa yang dia lakukan di sini tanpa pengawalan di tempat terpencil seperti ini? Mungkin reka harus ngikutinya.

“Kenapa kita tidak pergi ke tempat lain saja...?” Haban nyarankan dengan hati-hati.

Ia rasa gelisah, dan sepertinya ia tahu sesuatu. Leah natapnya hingga Haban bergeser, posturnya mancarkan rasa tidak nyaman. Tepat saat ia hendak nanyakan apa yang diketahuinya, Byun Gyeongbaek tiba-tiba keluar dari gang, berteriak.

“Ahhh!!!!”

Tomaris yang berlumuran darah ngikutinya beberapa saat kemudian, larikan diri demi keselamatan reka dalam ketakutan. Namun, reka tidak berhasil pergi jauh. Sosok-sosok tiba-tiba muncul dari kegelapan, dan saat reka nerjang Tomaris, Haban raih Leah dan ndorongnya ke balik dinding gang terdekat, buru-buru nutupi matanya.

Ia masih ndengar suara tulang patah yang ngerikan. Ia ndengar jeritan yang ngerikan. Tercium bau darah. Ketika suara-suara itu berhenti, Leah nyingkirkan tangan Haban dari wajahnya dan ngintip dari sudut.

Orang-orang Kurkan berdiri di antara mayat-mayat itu. Itulah yang pertama kali narik perhatiannya. Kemudian dia lihat seorang pria muncul dari kegelapan, ndekati Byun Gyeongbaek dengan darah netes dari tangannya. Mata emas yang dingin itu nakutkan. skipun dia tahu pria itu tidak berniat nyakitinya, hanya natapnya saja sudah mbuat Leah rinding.

Byun Gyeongbaek, berlumuran darah, mohon untuk hidupnya.

“Tolong, biarkan aku...hidup saja...”

Ishakan diam-diam nghisap cerutunya sejenak, ngamati pria itu. Ia ngembuskan asap.

“ngapa kau pergi ke Tomaris?” Kepalanya dimiringkan. “Bukankah kau lakukannya karena kau ingin segera mati?”

“Oh, tidak...tidak, Ishakan...” Byun Gyeongbaek tergagap, lalu tiba-tiba berteriak. “Aku harus mastikan aku benar-benar tidak sedang dimantrai!”

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 240: Pertemuan yang Disengaja 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.