Font Size
15px

Kata-kata itu ngejutkannya. Gelar Ratu Kurkan bergema di benaknya. Namun, secara lahiriah, Leah tidak terganggu.

"Omong kosong," katanya. "Kenapa aku harus nyelamatkan nyawamu?"

Sambil ngobrak-abrik keranjang mawar dengan satu tangan, wanita Toma itu nunjukkan padanya sebuah botol kaca berisi cairan hitam, yang tersembunyi di antara bunga-bunga. Ramuan Tomari.

"Ini akan mbantu nenangkan pikiranmu," katanya. "Jika kau ragu, tanyakan kepada penjagamu untuk apa ramuan ini."

Awalnya Leah ngira yang dimaksudnya adalah para kesatria. Namun, para kesatria itu tidak mungkin tahu apa pun tentang ramuan aneh. Lalu, Leah ngerti siapa yang dimaksud wanita tua itu.

"...Aku akan ngambil mawarnya."

Saat Leah ngambil keranjang itu, wanita Toma ngucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

"Tapi aku tidak bisa njamin keselamatanmu," Leah njelaskan. "Aku tidak punya kekuatan itu."

Wanita tua itu tersenyum seolah dia ndengar sesuatu yang lucu.

"Orang-orang Kurkan akan selalu ngikuti keinginan Ratu reka," bisiknya. "Jangan lupakan pertemuan ini."

Dan wanita tua Toma itu pun pergi. Sang kusir ludah ke arahnya dan narik tali kekang, mbuat kereta itu laju maju. Leah nutup jendela dan nggeser tirai kembali ke tempatnya, mbelai kelopak mawar di keranjang. Dia belum lihat bunga segar sejak dia ninggalkan kebun buah persik.

Kepalanya tertunduk.

Dia nginginkan Ishakan.

Dia telah mutuskan untuk kembali ke istana atas kemauannya sendiri, skipun ada kepahitan akibat perpisahan reka, dan dia bertekad bahwa dia akan ndapatkan sesuatu untuk ditunjukkan. Dia harus lakukan semua yang dia bisa dalam waktu yang telah diberikan kepadanya.

Sambil mbelai kelopak bunga, ia mbayangkan bagaimana jadinya nanti, saat ia telah ndapatkan kembali semua ingatannya. Ia akan mampu berdiri di sisinya tanpa bayangan apa pun yang ngganggunya.

Saat ia tenggelam dalam pikirannya, kereta itu berjalan nuju sebuah pertanian kecil dan berhenti. Leah keluar dari kereta dan berjalan nuju gerbang yang dikunci dengan gembok besar. Ketika ia ngintip dari balik pagar, ia lihat bahwa tempat itu ditumbuhi rumput liar. Tempat itu tampak terbengkalai.

Entah ngapa, Leah tidak nyangka kondisinya akan seperti ini jika Baroness Cinael yang rawatnya. Namun, Leah juga tidak percaya bahwa dia telah njualnya. Dia harus ncari waktu lain untuk pergi ke rumah besar sederhana tempat Baroness tinggal.

ninggalkan pertanian kecil itu, Leah berangkat nuju pusat kota. Tujuan berikutnya adalah kedai teh dua lantai yang tenang. Tidak banyak pelanggan. Itu tempat yang bagus untuk bersantai, tetapi hari ini dia tidak datang untuk minum teh.

Saat dia turun dari kereta, para kesatria bergerak untuk ngikutinya, tetapi Leah nghentikan reka.

"Tunggu aku di luar," perintahnya. "Lagipula, urusan hari ini bersifat pribadi."

"Kita tidak bisa lakukan itu, Putri."

Dia terkekeh lihat ekspresi khawatir reka.

"Sejak kapan kamu peduli dengan keselamatanku?"

"Putri...!"

"Kalian semua tertidur di kebun," katanya. "Seseorang mberikan ramuan tidur kepadamu. Siapa yang bisa lakukan hal seperti itu?"

"..."

"Para dayangku tidak mungkin bersikap begitu ramah kepada Lady Mirael," kata Leah dengan penuh perhatian. "Jadi, kurasa pengkhianat itu pasti salah satu dari kalian."

Wajah para kesatria berubah kaku.

"Ingatlah bahwa akulah yang nyelamatkan nyawamu," kata Leah dingin, lalu masuki kedai teh sendirian.

Para karyawan di sana telah njamu sang putri beberapa kali sebelumnya, jadi salah satu dari reka nuntunnya ke ja di lantai dua tanpa berkontar. Leah nyuruh pelayan itu pergi dan kemudian berdiri sendiri, lihat ke luar jendela. Orang-orang berpakaian rapi berjalan-jalan di jalan di luar.

Saat dia duduk di bawah sinar matahari dan nyeruput tehnya, dia mutuskan untuk riksa apakah ada yang ngikutinya. Tiba-tiba, dia letakkan cangkir tehnya dan mulai bernapas dengan napas yang berat dan terengah-engah. Dia gangi perutnya, suara kesakitan keluar darinya.

"Ahhh...!"

"Lea!"

Seketika, seorang pria muncul dari balik bayang-bayang langit-langit yang tinggi, jatuh ke lantai selembut seekor kucing. Dia adalah Haban, salah satu pengawal Ishakan. Wajahnya pucat.

"Apa kau baik-baik saja? Aku akan segera njemput Morga...!"

Ia hendak lompat keluar jendela ketika Leah duduk tegak dan natapnya dengan tenang. Haban berhenti.

"Apakah perutmu tidak sakit...?" tanyanya dengan heran.

Leah nggelengkan kepalanya. Dia tidak pernah rasakan sakit perut lagi sejak dia kembali dari kebun buah.

"Hatiku hampir ledak!" Haban gangi dadanya dan ndesah berat.

"Ishakan rintahkanmu untuk ngikutiku?" tanya Leah pelan.

"Oh, aku tidak ngikutimu, aku hanya...ngawalmu untuk mastikan tidak terjadi apa-apa padamu. Genin ingin lakukannya, tetapi dia khawatir tidak bisa bersembunyi. Dia terlalu besar," Haban njelaskan, dan langsung minta maaf. "Maaf. Tidak sopan tidak minta izinmu."

"Tidak. Aku cukup lega kau ada di dekatku."

Mata Haban yang putus asa berbinar.

"Benar-benar?"

"Tentu saja aku mau."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 239: Pertemuan yang Disengaja on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.