Font Size
15px

Leah rasakan wajahnya rah karena marah saat dia ndengarkan hinaan yang diludahi Blain padanya. Dia ndengus marah dan negakkan postur tubuhnya, mperbaiki pakaiannya yang acak-acakan sebelum natap tajam ke arahnya.

"Jangan khawatir, Saudaraku," desisnya, "Bahkan jika Byun Gyongbaek mbuatku takut, aku tidak akan lakukan itu," dia yakinkan.

Wajah Blain ringis sejenak saat nyebut Byun Gyongbaek, sebelum ngubah wajahnya njadi cemberut saat dia natap Leah dengan seringai manik.

"Kau baik." katanya, "Sangat pandai nyangkal, bahkan bersembunyi di taman bersama Raja Kurkan," bisiknya. Wajahnya ndekat hingga mulutnya berjarak satu hembusan napas dari telinganya.

Dia lepaskan cengkeramannya pada rambutnya, tangan ngarah ke bawah, mbelai pipinya. Jari-jarinya yang panjang dan ramping nepuk pipinya dengan lembut, ngarahkan kepalanya ke arahnya dengan perhatian yang ngejek.

"Apakah dia mberitahumu bahwa dia jatuh cinta padamu?" dia bertanya sambil cemberut padanya, yang mbuat Leah ngatupkan rahangnya, "nyuruhmu tidur dengannya?" Leah maksakan mulutnya untuk tetap tutup.

Dia ingin mberitahunya bahwa dia lakukannya, tapi dia berpikir sebaliknya.

"Tidak ada yang terjadi di antara kami," katanya, "Dia hanya tertarik padaku karena aku tunangan Byun Gyongbaek," dia nyelesaikan penjelasannya. Blain hanya natapnya diam-diam, ngamatinya apakah ada tanda-tanda ketidakjujuran. Dia tidak mpercayai satu kata pun, tapi untuk saat ini, dia akan mbiarkannya.

reka dekat sebelumnya, dia dan Leah. Dulu ketika reka masih muda. reka akan njaga satu sama lain, sama seperti reka njaga saudara kandung.

Dan Blain sangat muja Leah, mberikan apa yang diinginkannya dan lebih lagi, ngabulkan setiap keinginannya. Dan Leah juga sama, karena sifatnya yang kesepian, dia berteman dengan Blain. Akhirnya, orang sering salah ngira reka sebagai saudara kandung dengan orang tua yang persis sama, dan reka tidak pernah mau ngoreksinya.

Namun seperti semua keluarga, seiring berjalannya waktu, reka akhirnya berpisah.

Ketika Leah bertumbuh, dia nyaksikan Leah nemukan banyak bakatnya, tumbuh semakin sukses, dan semakin tidak mbutuhkannya. Dan itu robek Blain, mbuatnya rasa tidak mampu berdiri di sampingnya. Perlahan kekagumannya berubah njadi rasa cemburu. Cintanya berubah njadi kebencian.

Dia tidak suka bagaimana dia berkembang. Dia ingin nghancurkannya dengan cara apa pun.

Dan ketika hubungan reka hancur di depan matanya, Leah ndapat pelajaran berharga, yang nyebabkan putusnya ikatan reka yang tadinya kuat.

Kematian ibunya adalah kuncinya. Ketika dia nyadari alasan sebenarnya, dia tidak bisa lagi berpura-pura, dan akhirnya ninggalkan Blain. Dia tidak bisa nyesuaikan apa yang dia ketahui tentang pria itu sekarang, dengan dirinya yang dulu.

Dan saat Leah misahkan diri, warna asli Blain mulai bersinar.

Setelah natap bola mata berwarna biru langit yang marah, dan lihat dia tidak punya hal lain untuk dikatakan, Leah lepaskan cengkeramannya di dagunya, tiba-tiba nyentakkan kepalanya dan ndorong lewatinya untuk pergi. Blain langkah mundur ketika dia lakukannya dan manggil.

"Leah," katanya, dan dia berhenti. Suaranya mbuat getaran tidak nyenangkan rambat di tulang punggungnya. Jari-jarinya sekali lagi nemukan sentuhan di rambutnya, saat dia nyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya, kapalan mbelai kulitnya dengan lembut.

"Kau harus belajar ndengarkanku, saudari." dia mberitahunya sebelum natapnya dengan serius, "Dan jangan berkeliaran di tempat yang tidak bisa kulihat," dia mperingatkan, dan Leah mberinya anggukan singkat.

Yang dia inginkan hanyalah semua ini berakhir. Dia sangat lelah.

****

Ketika Leah akhirnya kembali ke kamar Putri, para pelayan sudah berkumpul, nunggunya, dengan Countess lissa di antara barisan reka, berdiri di depan para pelayan.

Begitu Countess lihatnya, dia segera berlari ke arahnya sambil nangis.

"Putri!" serunya sambil ndekat dan berhenti di depannya, gelisah. "Putra Mahkota sedang ncarimu." dia mberitahunya, dan Leah ngangguk.

"Ya, aku pernah lihatnya." Leah njawab dengan senyuman lembut, dan Countess lissa natapnya ternganga, sebelum nutup mulutnya, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." dia yakinkan. Namun bahkan dengan jaminannya, kekhawatiran masih terlihat di mata Countess. Dan ski Leah ingin njelaskan lebih lanjut, dia tidak bisa ngambil risiko nceritakan lebih banyak padanya.

Dia ingat cara Blain nariknya ke samping, njambak rambutnya, dan dia ingat dia masih berantakan. Dia belum bisa mikirkan alasan untuk njelaskan kondisi pakaiannya yang buruk. ngangguk padanya, Countess lissa segera ngeluarkan selendang, dan nyampirkannya di bahunya.

Leah ngucapkan terima kasih sebentar sebelum masuk ke dalam kamarnya.

Begitu masuk, para pelayan nyajikan tehnya, sentara dia duduk di bangku dan nyesapnya. Untuk saat ini, kehangatan cairan yang ngalir di tenggorokannya sudah cukup untuk nenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia rasakan otot-ototnya ngendur lalu ketegangan saat dia narik napas dalam-dalam, nikmati sensasi Countess nyisir rambutnya.

Di tengah-tengah minum teh, Countess cah kesunyian, ski ragu-ragu.

"Putri, kalau boleh," dia mulai sambil terus nyisir rambutnya, "Apa yang terjadi dengan Raja Kurkan?"

Leah berhenti sejenak pada pertanyaan itu dan letakkan kembali cangkir tehnya di atas ja. Sangat mudah untuk berbohong untuk keluar dari masalah ini. Dan dengan sangat mudahnya, dia masang ekspresi tenang dan senyuman yang yakinkan.

"Dia hanya ingin tahu padaku." dia njawab, "Sepertinya dia sangat penasaran siapa Byun Gyongbaek dari tunangan Oberde," Dia nyelesaikannya dan nyesap tehnya lagi, dan Countess lissa ngangguk ngerti.

Dia bahkan tidak ragukan satu kata pun.

"Itu legakan." Countess nghela nafas, kekhawatirannya reda, "Aku sangat khawatir, terutama karena kamu sudah lama nghilang. Dia tampak terlalu kasar dan tegas," dia ngutarakan kekhawatirannya.

Dan Leah puas mbiarkannya ngoceh seperti biasa. Biasanya, Countess akan nceritakan hal-hal yang tidak penting pada zamannya, biasanya libatkan Blain. Tapi sejak dia bertemu Ishakan hari ini, hal itu sangat berkesan sehingga dia tidak bisa berhenti mbicarakannya.

"Oh, dan matanya..." kenang Countess, dengan sedih ngingat wajah Ishakan dari ingatannya. Namun saat dia berhenti, dia segera nyadari, dengan cemberut, betapa bebasnya dia berbicara. Dia biasanya sangat berhati-hati untuk tidak berbicara begitu saja kepada sang putri. Sentara itu, tangan Leah terdiam, tehnya masih belum habis, ngingat mata emas Ishakan.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 24: Penyusup on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.