Tidak diragukan lagi, dia adalah pria yang tampan—dengan rambut perak dan mata biru tua yang ncerminkan ciri-ciri Leah. Namun, kecantikannya hanyalah topeng, karena apa yang ada di dalamnya lebih ngerikan daripada yang bisa dibayangkan.
Dingin dan pemarah, putra mahkota Estia ditakuti banyak orang. Sebenarnya, Leah rasa ngeri setiap kali dia mandangnya. Seperti mon ini misalnya.
Matanya yang tajam nelusuri seluruh tubuhnya. Setelah ngamati kotak yang dibawa Leah, dia perlahan natap Ishakan. Sambil ngamati situasinya, Ishakan dengan ramah nyapa Blain tanpa sedikit pun rasa malu.
Selamat pagi, Yang Mulia!
Awalnya, dia berpura-pura ngenal Blain. Baru saat itulah Blain ngakuinya. Sambutan sopan santunnya mbosankan dan masam. Tak lama kemudian, suasana njadi sunyi.
Aura aneh nyelimuti reka. Suara air yang ngalir dari air mancur bergema di tengah kesunyian. Setelah keheningan yang redam, Blain akhirnya mbuka mulutnya.
"Aku tidak tahu kalau Raja Kurkan akan ada di sini."
Ishakan mbalas, "Apakah ini tempat yang dilarang untuk aku masuki?"
"Yah, aku tidak tahu seperti apa adat istiadat Kurkan itu." Blain ngertakkan gigi dan berkata, "Tapi di sini, di Estia, tidak baik lihat wanita yang belum nikah sendirian dengan seorang pria."
Dia kembali natap Leah sentara kata-kata dengki keluar dari mulutnya, yang terdengar seperti belati yang ditujukan padanya.
"Saudari."
Leah nggigit bibirnya saat dia manggilnya "saudara perempuan." skipun Blain adalah saudara tirinya, dia tidak pernah mperlakukannya dengan hormat. Sebaliknya, Leah dididik dengan keras untuk nghormati putra mahkota, Blain dengan sopan.
Dia biasa manggil Leah dengan namanya atau manggil saudara perempuannya kapan pun dia mau. Tampaknya dia secara resmi manggilnya karena raja Kurkan ada di sekitar. Lagi pula, tidak ada gunanya ngetahui bahwa keluarga kerajaan berantakan.
"Aku datang untuk mberitahumu sesuatu. Ayo pergi ke tempat yang sunyi."
Dia ngatakannya dengan nada marah yang tertahan. Dia pernah nghadapi situasi ini sebelumnya, dan tahu betul bagaimana kemarahan Blain akan ningkat jika dia nolak lebih lama.
Oleh karena itu, Leah njawab dengan patuh, "Ya, Yang Mulia."
Dengan itu, Blain raih pergelangan tangannya ke kanan dan dengan kasar nariknya bersamanya. Kakinya tersandung di tepi lempengan batu yang bergerigi, dan tubuhnya terhuyung, tapi Blain tidak peduli.
Sambil diseret, Leah kembali natap Ishakan. Dia sangat noleransi rasa sakit dan mampu natapnya dengan wajah tenang.
Mata reka bertemu. Mata Ishakan tidak pernah lepas dari wujud Leah. Dia tidak senang dan siap ncekik pria itu sampai mati. Namun, Blain adalah penguasa Estia berikutnya, dan berdebat dengannya hanya akan mbuat segalanya njadi rumit. Terlebih lagi, mbuat keributan seperti itu kemungkinan besar akan berdampak pada sang putri.
Tapi tetap saja, dia tidak bisa nahan mulutnya,? Butuh bantuan?
Mata emasnya ngharapkan jawaban. Namun dalam kekecewaannya, Leah nunduk nunjukkan penolakannya.
Ini njadi lebih baik, pikirnya.
Dia tidak ingin diseret oleh Blain. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat mbutuhkan bantuannya. Namun sudah lama sekali dia tidak nyadari bahwa ngikuti kata hatinya itu naif.
Pria itu adalah raja Kurkan yang datang untuk lahap Estia. Dia pasti sudah rencanakan semua rencana politiknya. ski niatnya belum jelas saat ini, lebih baik jangan terlibat dengannya.
Leah ngabaikan pikirannya, dan dengan tidak percaya nggelengkan kepalanya. Dia rasakan tatapan tajam Ishakan, tapi dia ngabaikannya dan mbiarkan Blain nyeretnya pergi.
Begitu reka sampai di sudut taman, jauh dari pandangan Ishakan, tubuhnya dengan kasar didorong ke pohon. Gaun pendeknya tergores dan robek oleh semak-semak kayu.
Dengan brutal, Blain narik rambutnya—nghancurkan surai indahnya yang keriting. Itu begitu kuat hingga kepalanya miring ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?"
Dengan kekuatan seperti itu, dia takut lehernya akan patah kapan saja. Dia diliputi rasa sakit, kata-kata Blain terdengar samar di telinganya.
Sambil ngguncangnya, Blain bertanya lagi.
"Aku bertanya! Apa yang kamu lakukan dengan pria itu?" Mata birunya berkilau karena kegilaan.
Seolah nganiayanya belum cukup, dia lakukan sesuatu yang jauh lebih ngerikan.
Rasa jijik terlintas di mata Leah begitu dia rasakan pria itu raba-rabanya. Dia secara intrusif nyentuh bahu, dada, dan pinggangnya... dan bahkan ncoba naikkan ujung roknya.
Dia nyaris tidak ngerahkan kekuatan saat dia nampar pipi Blain—dengan keras. Kekuatannya mungkin jauh lebih rendah daripada dia, tapi dia tidak bisa mbiarkan perilaku njijikkan seperti itu terus berlanjut.
Blain lepaskan rambutnya dan kemudian lemparkannya dengan paksa. Cukup jauh darinya, Leah rengut pada Blain, yang tampak kerasukan setan.
"Jangan goyangkan pinggulmu di depan orang Kurkan." njulang tinggi di atas Leah, dia dengan dingin mperingatkannya.
"ngerti, saudari?"
Reviews
All reviews (0)