Font Size
15px

Nada suaranya begitu nakutkan, Leah nggigil. Namun, perlahan-lahan aura dingin dan matikan itu reda, dan baru setelah ia tenang kembali, ia nyadari kesedihan Leah.

"Apakah kamu kesakitan?" tanyanya, terkejut. Suaranya yang lembut tidak nunjukkan sedikit pun keganasan.

"Agak dingin," katanya, ngarang alasan alih-alih ngatakan kebenaran. Ishakan nanggalkan tuniknya dan nariknya ke tubuhnya yang hangat, nghangatkan tubuhnya dan narik selimut nutupinya.

Sekarang dia tentu tidak bisa ngaku kedinginan; cuaca cukup panas sehingga dia mulai berkeringat. Namun dia suka dipeluk olehnya, jadi dia hanya bersandar padanya saat reka berbicara pelan-pelan, puas dalam pelukan masing-masing. reka tidak mbicarakan masa depan. Sudah cukup untuk bersama-sama, dan mbicarakan hal-hal kecil.

ndengarkan suaranya, dia mulai rasa ngantuk lagi, dan tak lama kemudian Leah tertidur di tengah percakapan reka.

Jadi dia tidak lihatnya, saat mata emas yang baik itu ngeras karena marah.

***

Leah tertidur cukup lama dan baru terbangun saat matahari mulai terbenam. Sehari penuh telah berlalu sejak ia tertidur. Butuh beberapa saat untuk nyadari bahwa ia masih berada di vila di kebun buah persik.

Suasana rumah telah berubah total.

Sebelumnya, ruangan itu sedikit berbau apek, tetapi sekarang ruangan itu dipenuhi aroma yang nyenangkan. Tirai tebal telah dibuka untuk mbiarkan cahaya senja masuk lalui jendela, nghilangkan kesuraman yang ada di mana-mana. Di atas ja ada sebuah tungku emas, yang mbakar dupa segar dan manis, dan Leah berbaring di tempat tidur sambil nghirupnya sebentar sebelum dia bangkit.

Begitu dia bergerak, pintu terbuka. Leah terkejut lihat seorang Kurkan yang asing masuk. Dia ngira salah satu pembantunya yang biasa.

"Akhirnya kau bangun juga," kata si Kurkan sambil tersenyum, seorang wanita berkulit sawo matang dan berambut panjang diikat di belakang kepalanya. "Namaku Mura. Ini kedua kalinya aku mperkenalkan diriku padamu."

Dia pasti salah satu orang dari ingatan Leah yang hilang. Leah ncarinya, ncoba ngingat, tetapi tidak ada apa-apa. Dia khawatir Mura akan kecewa, tetapi wanita Kurkan itu tampaknya tidak keberatan. Dia hanya ndesak Leah untuk duduk kembali di tempat tidur dan mberinya segelas kecil.

"Minumlah," katanya. "Morga ngerahkan seluruh tenaganya untuk mbuat ramuan ini. Ramuan ini akan mbantu ngeluarkan racun dari tubuhmu."

Leah minumnya, dan saat habis, Mura mbawakan makan malamnya. Leah ternganga.

Nampan di tangan Mura tampak cukup untuk dua puluh orang, tetapi semuanya untuk Leah. naruh nampan kecil di depannya, Mura mulai nyajikan makanan, dan Leah narik selimut lalu mulai makan.

Dia telah ncicipi makanan Kurkan tempo hari, dan rasanya sangat lezat, dia selalu berpikir betapa dia nginginkan lebih. Mura tampak senang lihatnya nghabiskan setiap suapan, yang mbuatnya lebih mudah untuk makan. Saat Leah tersadar, dia nyadari bahwa dia telah makan tiga atau empat kali lebih banyak dari makanan biasanya.

Rasanya seperti perutnya akan ledak jika dia nggigitnya lagi. Leah letakkan peraknya.

"Di mana Ishakan?" tanya Leah, ncoba ngalihkan perhatian wanita Kurkan yang jelas-jelas kecewa.

"Yah, Ishakan...pergi bersama beberapa orang lainnya. Dia mungkin akan kembali besok. reka semua sangat marah," Mura nambahkan sambil tersenyum, dan kemarahan dingin terlihat di matanya sendiri. "Semua orang harus bersabar untuk waktu yang lama."

Leah tidak dapat mbayangkan ngapa reka begitu marah. Saat dia mikirkannya, mata Mura mbelalak.

"Oh, aku tidak mbawa cemilanmu!"

Mura bergegas ngambil nampan lain dan mbawanya kembali ke Leah. Nampan itu penuh dengan makanan ringan.

"Itu baklava," Mura njelaskan, dan nunjukkan kepada Leah bagaimana camilan itu dibuat dengan lapisan tipis kue yang dilapisi kacang yang dihancurkan dan sirup lemon madu. Camilan itu sangat manis, tetapi sangat cocok dengan secangkir teh hangat yang diseduh Mura untuknya. Si Kurkan senang lihat Leah makan dengan penuh semangat.

"Yang perlu Anda lakukan adalah beristirahat sambil nunggu," katanya.

Leah mandang ke luar jendela sambil minum teh, mperhatikan langit yang semakin gelap. Sepertinya malam ini akan panjang.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 227: Peringatan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.