Font Size
15px

Saat dia bercerita, Ishakan terdiam.

"Aku tidak suka ninggalkan serigala kecil itu sendirian," katanya saat nyelesaikan ceritanya. "Aku sangat khawatir..."

mikirkan bagaimana ia telah ninggalkan bayi serigala itu mbuatnya ingin nangis. Ia tidak ngerti ngapa ia begitu banyak nangis akhir-akhir ini. Emosinya begitu kuat, dan begitu sulit dikendalikan. Sambil ngernyitkan pangkal hidungnya, ia ngerjapkan mata untuk nahan air matanya.

"Saya rasa Anda tidak perlu khawatir," kata Ishakan.

"Tapi itu sangat kecil, dan banyak sekali lukanya!"

"Dia tidak akan mati dengan mudah." Ucapnya dengan penuh percaya diri, dan letakkan tangannya di perut wanita itu. "Terutama jika dia lindungimu."

Tidak ada sedikit pun keraguan dalam suaranya, dan Leah natapnya dengan penuh tanya.

"Darahku ada di sana, tentu saja itu akan lindungimu."

"...?"

Semakin dia njelaskan banyak hal, semakin bingung dia. Leah ncoba cahkan teka-teki ini dalam benaknya.

"Bisakah kamu...njadi serigala?"

"Kau pernah bertanya padaku sebelumnya." Dia tersenyum dan mbelai pipinya dengan lembut. "Tapi aku tidak bisa lakukannya."

Dia hendak ngatakan bahwa dia tidak pernah mbayangkan hal konyol seperti itu, tetapi nahan diri. Jelas ada yang salah dengan ingatannya, dan dia mutuskan untuk mpercayai kata-katanya. Itu hanya mimpi, dan mimpi yang tidak masuk akal, tetapi itu telah ngguncangnya sedemikian rupa sehingga sulit untuk fokus pada hal lain.

Berbagi cerita dengan Ishakan mang mbuatnya rasa lebih baik, seolah beban di pundaknya terangkat. Dan Ishakan ndengarkan dengan sangat serius, dan bahkan yakinkannya bahwa si bayi serigala akan baik-baik saja. Seolah-olah Ishakan akan ndengarkan pikiran-pikiran terkecil yang ngganggunya. Ishakan mbuatnya rasa bahwa skipun pikirannya terganggu, dan pikirannya layang ke laut lepas, Ishakan akan mbawanya pulang dengan selamat.

"Terima kasih sudah datang nolongku," katanya terlambat. Ia tidak bisa mbayangkan apa yang akan terjadi, jika bukan karena dia. Namun, dia nggelengkan kepalanya.

"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu," bisiknya, ngusap wajahnya di leher wanita itu. "Kau nanggung semua ini sendirian. Pasti sangat sulit..."

Suaranya penuh penyesalan, tetapi dia tidak bisa mbayangkan apa yang mbuatnya nyesal. Dengan lembut, dia nepuk punggungnya, dan tangannya sangat kecil, dibandingkan dengan punggungnya yang lebar. Butuh beberapa saat sebelum dia berbicara lagi.

"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini," katanya lembut.

Aneh sekali, bagaimana dengan kata-kata sederhana itu, semua kegelapan dalam pikirannya nghilang. Leah ngerjap, ngingat sesuatu yang telah ngganggunya sebelumnya.

"Apakah...dokternya sudah datang?"

"Ya. Dia sudah riksamu."

"Apa katanya?" Awalnya dia minta bantuan karena rasa sakit yang luar biasa di perutnya. "Akhir-akhir ini perutku terasa sakit..."

"...Akhir-akhir ini?"

"Ya, sejak aku harus minum teh yang diberikannya padaku..."

Mata Ishakan berubah dingin.

"Ratu pasti telah mberikannya kepadamu," katanya, dengan niat mbunuh yang begitu kuat, dia tidak dapat nyembunyikannya, bahkan di depan Leah. Itu mbuatnya sangat ketakutan, butuh beberapa saat sebelum dia dapat berbicara.

"Ya...ya, itu...Ibu Suri..."

"Kuharap dia siap dengan konsekuensinya," katanya dingin, lalu liriknya, seolah baru nyadari bahwa dia mbuatnya takut. Seketika, dia njadi tenang. "Tidak apa-apa, Leah. Kau tidak perlu minumnya lagi."

Untuk sesaat, dia mbelainya dengan nenangkan.

"Bagaimana dengan para penyusup itu?" tanyanya. "Apakah ada orang yang kau curigai?"

Leah mikirkannya. Ada beberapa bangsawan yang pernah berselisih dengannya, tetapi tidak ada satu pun dari reka yang berani lakukan hal seperti itu. Saat dia mperluas pencariannya dalam benaknya, hanya ada satu orang yang bisa bertanggung jawab.

Nyonya Mirael.

Terakhir kali reka berbicara, Leah telah nyelamatkannya dari kemarahan Blain. Namun, Lady Mirael bahkan tidak bersyukur atas hal itu.

Leah tidak akan berbelas kasihan lagi. Dia tidak berniat nunjukkan belas kasihan kepada orang yang tidak tahu berterima kasih. Dan ngingat kekejaman yang direncanakan Lady Mirael untuk dilakukan padanya...

"Saya rasa itu Lady Mirael," katanya terus terang, mutuskan untuk mbalas. Secara singkat, ia njelaskan bahwa Lady Mirael adalah istri Blain, dan mbenci Leah. Ishakan ndengarkan dengan diam.

"Ahh. Lady Mirael," katanya, ngulang nama itu, dan tersenyum.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 226: Serigala Kecil 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.