Leah berdiri di depan pintu besi besar yang sudah dikenalnya. Rantai dan kunci yang berat masih terpasang. Pintu besi itu terkunci rapat. Bagaimana dia bisa mbukanya?
Bahkan jika dia bisa nemukan kunci dan mbuka gemboknya, dia tidak tahu bagaimana dia bisa lepaskan rantai itu, atau bagaimana dia bisa mindahkan pintu besi besar itu. Tubuhnya sangat lemah, tugas itu tampak mustahil.
Saat dia ngamati pintu, dia ndengar suara dari dalam.
—Kau baik-baik saja, Leah.
Leah letakkan tangannya di pintu dan rasakan sensasi dingin yang aneh di telapak tangannya. Apakah dia benar-benar baik-baik saja? Bisakah dia lakukan ini?
-Kamu bisa.
Jawabannya penuh keyakinan. Leah berkedip. skipun suara itu miliknya, entah ngapa terasa sangat berbeda. Terasa seterang matahari.
ngapa suara reka terdengar sangat berbeda? Suara yang lain itu tertawa pelan, seolah ndengar pikirannya.
—Saya ngerti. Anda selalu ragu. Anda mpertanyakan segalanya.
Ketika ndengar kata-kata itu, seseorang muncul di benaknya. Begitu Leah mbayangkannya, Leah yang berada di balik pintu langsung berbicara.
—Pria itu benar. Pria itu...
Namun suaranya nghilang. Pintu besi itu tiba-tiba nghilang, dan ruang hitam yang kosong berubah njadi padang pasir yang luas.
Pasir keemasan mbentang seperti lautan. Leah lihat sekeliling, takjub. Ia belum pernah berada di tempat seperti ini sebelumnya. Ia tidak nyangka akan lihat gurun dalam mimpinya.
Tak percaya, ia mulai berjalan, pasir lembut nggelitik telapak kakinya yang telanjang. Setelah berjalan beberapa saat, ia lihat genangan darah kecil, dan di tengah genangan itu ada seekor anak serigala.
Leah bergegas nghampirinya. Makhluk itu berlumuran darah dan dalam kondisi yang ngerikan, dengan begitu banyak luka dan bekas luka. Mulutnya yang kecil terluka parah. Giginya patah seolah-olah telah nggigit sesuatu yang keras, dan cakarnya aus dan berdarah.
Tapi itu hidup.
Terdengar suara napas samar-samar, dan jantungnya berdetak kencang. Leah nggendong bayi serigala itu di tangannya dan rasakan dorongan untuk nangis.
"Aku sangat nyesal," bisiknya. Kata-kata aneh itu keluar begitu saja tanpa dia ngerti dari mana asalnya. "Aku seharusnya lindungimu...tapi aku tidak cukup berusaha..."
Serigala kecil itu nggigil ndengar kata-katanya, lalu mbuka matanya dan rintih.
Mata anak serigala itu berwarna emas cerlang.
Leah tersentak kaget. Mata emas itu bagaikan jiwa matahari dan pasir, dan tampak seperti mata seorang pria. Saat jemarinya dengan lembut nelusuri bagian bawah mata itu, ia ndengar suara gesekan logam.
...!
Matanya mbelalak. Rantai hitam berkumpul di sekelilingnya dari segala sisi, rayap di atas pasir seperti ular. Bulu kuduknya berdiri dan napasnya terhenti. Itu ngerikan, tetapi secara naluriah dia tahu bahwa dia harus nyembunyikan bayi serigala itu. Jika reka tetap bersama, reka berdua akan berakhir dengan rantai.
Sambil berdiri, dia lihat sekeliling, tetapi tidak ada apa-apa selain pasir. Tidak ada tempat untuk nyembunyikan bayi serigala itu, dan dia sudah terluka parah. Dia mungkin akan mati jika terluka lagi.
ndengar hal itu, ketakutannya sirna dan dia nguatkan dirinya.
Sambil ngangkat anak serigala itu ke atas kepalanya, dia lihat rantai itu ndekat. Ketika rantai itu ncapai kakinya, dia tidak dapat nahan teriakannya, keras dan darahnya mbeku.
"Tidak! Tidak!!!"
Dia nendang rantai itu sekuat tenaga saat rantai itu ncoba nempel pada tubuhnya.
"Jangan sentuh itu!"
Besi keras itu lilit tubuhnya, ncabik kulitnya yang lembut. Darahnya ngalir deras, tetapi dia bahkan tidak rasakan sakit. Yang dapat dia pikirkan hanyalah bahwa entah bagaimana dia harus lindungi bayi serigala itu.
Namun, dia tidak cukup kuat. skipun sudah berusaha sekuat tenaga, rantai itu lilit tubuhnya.
Anak serigala itu lolong, matanya yang keemasan bersinar dengan ganas. Sambil nggeliat bebas, ia lepaskan diri dari tangannya dan nyerang rantai itu. Dengan giginya yang patah, ia nggigit rantai itu, nyerang dengan cakarnya yang sudah usang.
Rantai itu ditarik mundur, mundur karena amarah serigala kecil itu. Serigala itu nggeram ngancam saat rantai itu perlahan mundur.
"Berhenti!" Suara Leah bergetar. "Kamu terluka parah..."
Darah sudah ngalir dari luka-luka baru dan luka-luka yang robek. robek kain dari pakaiannya, Leah mbungkuk untuk mbalut luka-luka anak serigala itu. Dan ketika perban kasar itu dengan cepat rah karena darah, dia akhirnya mulai nangis. Kemudian dia ndengar suara baru.
"Tidak apa-apa." Serigala kecil itu natapnya dengan mata emasnya. "Aku akan lindungimu."
Lea terbangun.
Reviews
All reviews (0)