Font Size
15px

Begitu nemukan Morga, Haban lempar penyihir itu ke bahunya dan lesat lagi dengan kecepatan luar biasa, tanpa berhenti sejenak untuk minta penjelasan. skipun diculik di tengah malam, Morga tidak lawan. Ekspresi wajah Haban sudah cukup untuk njelaskannya.

Di vila yang diterangi cahaya bulan di kebun buah persik, semua orang masih tidur. Haban bergegas naiki tangga dan lewati koridor untuk nurunkan Morga di depan pintu. Lalu dia berhenti, ncengkeram gagang pintu.

Haban rasa takut.

Perlahan, ia mbuka pintu, mperlihatkan sebuah ruangan yang remang-remang oleh cahaya bulan dan lampu minyak. Semuanya sunyi, dan Leah berbaring di tengah ruangan yang pengap itu. Wajahnya pucat dan tampak seolah-olah ia bahkan tidak bernapas, tubuhnya terbaring diam seperti boneka. Ishakan duduk di sampingnya, nggenggam tangannya seolah-olah ia takut Leah akan ninggalkannya jika ia lepaskannya.

Perlahan, dia ngalihkan pandangannya ke arah Morga. Warna emas cerah itu telah redup.

"Dia...berdarah..." kata sang raja dengan suara parau.

Jantung Morga berdebar kencang. Sambil berjalan ke tempat tidur, dia mbungkuk untuk riksa Leah. Ada denyut nadi di sana, skipun lemah.

Namun ada yang aneh. Morga ngeluarkan ramuan dan minumnya, lalu ngucapkan mantra sederhana untuk ningkatkan indranya. Matanya berkedip saat ia lanjutkan periksaannya.

Dia tidak yakin bagaimana dia harus njelaskannya. Ini akan njadi pembicaraan yang sulit.

"Dia tampaknya berdarah karena aborsi," katanya. Mata Haban, Genin, dan Mura mbelalak.

"Kalau begitu, kalau begitu...dia sedang hamil..." Mura mulai berkata dengan putus asa.

Tanpa bersuara, Morga ngangguk, dan seluruh orang Kurkan mbeku.

"Untungnya, Leah dan bayinya selamat," imbuhnya segera.

Tak seorang pun bergembira. Hanya keheningan berat yang terjadi hingga Mura berbalik, nutup mulutnya dengan tangannya, dan Haban nahan tangisnya, jamkan mata. Genin hanya ngangguk.

"Ini adalah keajaiban," pungkas Morga. Aborsi akan berakibat fatal bagi bayi normal mana pun, bahkan bayi Kurkan. Hanya bayi Ishakan yang bisa bertahan hidup. "Tapi kita tidak bisa berharap lebih banyak keajaiban. Kita harus lakukan hal lain sekarang."

Leah dalam kondisi serius. Dia tidak bisa tidur atau makan dengan baik, dan dia telah nelan obat aborsi itu entah sudah berapa lama. Sungguh luar biasa bahwa tubuhnya bisa bertahan begitu lama. Dia pasti bisa bertahan hidup hanya karena kemauannya yang kuat.

"Sepertinya dia berjuang keras," lanjut Morga. "Dia mungkin tidak nyadarinya, tetapi mungkin dia secara naluriah berusaha lindungi bayinya. Kurasa..." Morga ncoba berbicara dengan tenang. "Kurasa sebaiknya rahasiakannya darinya."

Ia tidak ngingat apa pun dari masa lalu. Berita tiba-tiba bahwa ia hamil akan njadi kejutan yang ngerikan, dan ia sudah sangat lemah. Itu akan mbahayakan tubuhnya dan bayi dalam kandungannya. Bahkan mungkin saja Leah, yang masih diselimuti begitu banyak mantra, akan mberi tahu Cerdina tentang kehamilannya.

Bagaimanapun, pernikahan itu akan segera tiba. reka dapat nyimpan rahasia itu sampai saat itu dan ngatakan yang sebenarnya kepadanya setelah ia kembali ke padang pasir. Morga nghitung tanggalnya. Tidak seperti bayi manusia yang berusia sembilan bulan, bayi Kurkan lahir setelah delapan bulan.

Untungnya, tampaknya mungkin bagi bayi ini untuk ncapai tahap stabilisasi.

"Aku akan nyiapkan penawarnya terlebih dahulu," kata Morga. Ishakan tidak njawab. Morga ragu-ragu, bibirnya ngerucut, lalu nunjuk ke arah Mura. Dia ngerti maksudnya.

"Saya akan nyiapkan makanan lain yang bisa dimakan Ratu saat ia bangun," katanya cepat. "Makanan ringan."

Dengan lembut, dia narik lengan Haban, dan dia nyenggol Genin.

"Kita akan pergi...untuk sentara waktu," imbuhnya sambil ragu-ragu. Ishakan masih belum njawab. Ia hanya duduk, natap Leah. Bahkan setelah semua orang Kurkan lainnya nutup pintu dan nghilang, ia tetap di tempatnya dengan mata tertuju pada ratunya, tak bergerak.

***

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 223: Hamil on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.