Font Size
15px

Cerdina natap wanita pirang yang nangis tersedu-sedu itu dengan tatapan dingin. Selama beberapa waktu, wanita itu terus mbasahi sapu tangannya dan ngulang-ulang kata-kata yang sama.

"Yang Mulia. Hck , bagaimana mungkin Yang Mulia lakukan ini padaku...bagaimana ini bisa terjadi..."

Saat Lady Mirael nangis tersedu-sedu, Cerdina ngerutkan kening karena kesal. Dia mbiarkan wanita ini ndekati Blain karena dia cantik dan bodoh, tetapi terkadang tindakannya tidak masuk akal.

Tak satu pun dari hal ini terlihat dalam ekspresi Cerdina saat Lady Mirael akhirnya ndongak, nyeka air matanya. Wajah Ibu Suri tampak ramah dan tersenyum.

"Maukah kau mbantuku...?" tanya Lady Mirael. Matanya rah.

"Tentu saja." Cerdina ngelus pipinya seolah-olah dia adalah hewan peliharaan yang nggemaskan. "Aku akan bicara dengan Blain."

Lady Mirael berseru kegirangan, dan Cerdina tersenyum tipis. Dia tidak mbenci orang yang jujur ​​dalam keinginannya. Malah, dia nyukai reka. Hidup ini begitu singkat, dan keinginan untuk mberikan segalanya demi kejayaan dan kekayaan bagaikan api yang nyala-nyala, indah, gah, skipun itu cepat berlalu.

"Saya harap Anda akan terus layani saya dengan tekun," katanya kepada Lady Mirael.

"Ya! Ya...!"

Wanita pirang itu berseri-seri karena puas, lalu pergi, sambil berjanji akan berusaha lebih keras untuk njaga Yang Mulia dan njaga tempat tidurnya tetap hangat. lihat kereta kuda itu nghilang di kejauhan, Cerdina tertawa terbahak-bahak.

Dia sangat senang ketika ndengar apa yang telah dilakukan Blain. Lady Mirael telah lama ndapatkan perhatiannya, tetapi dia tetap njambak rambutnya dan lemparkannya ke lantai. Begitulah cara Cerdina ingin Blain mperlakukan wanita. Barang sekali pakai.

Banyak raja sepanjang sejarah yang jatuh karena seorang wanita. Ia tidak ingin putranya terjerumus dalam cinta.

Namun sayangnya Blain masih bersikap lembut pada Leah, dan tidak mperlakukannya seperti wanita lain. Beberapa hari lalu ia ngabaikan ibunya dan nunggu di luar di tengah hujan hingga Leah kembali. Itu sangat nyakitkan. Cerdina nyaris tidak bisa nahan keinginan untuk mbunuhnya.

Sejak awal, Cerdina telah berencana untuk mberikan Leah kepada Byun Gyeongbaek karena sejumlah alasan, tetapi obsesi Blain telah rusaknya.

lalui jendela ruang tamunya, ia mandang ke taman yang layu, di mana beberapa daun kering masih tergantung di pepohonan. Daun-daun itu kini berguguran.

Awalnya, dia berpikir bahwa jika dia ngubah semua bangsawan njadi boneka, maka dia sendiri yang harus nangani semua urusan negara. Namun, dia bisa mbuat Leah lakukan semua pekerjaan itu, dan dia berguna dalam banyak hal lainnya. Blain setuju. Dia juga tidak suka bekerja.

Cerdina tertawa jahat, sambil letakkan tangannya di ambang jendela.

"...Sangat puas."

Sejak mantra pertama yang diucapkannya, dia tahu Leah miliki tekad yang kuat. Tidak akan mudah untuk nghancurkannya. Jadi Cerdina telah masukkan mantra yang kuat ke dalam ramuan cinta yang diminum Leah, yang dibuat dengan helaian rambut Leah dan Blain. Namun, bahkan saat itu, mantra itu hanya setengah efektif dari yang dia duga. Bahkan tanpa ingatannya, Leah tidak mberikan seluruh hatinya kepada Blain.

Hebatnya, Cerdina harus mpertimbangkan kemungkinan bahwa Leah hamil.

Darah kaum barbar cukup kebal terhadap sihirnya. Jika Leah entah bagaimana bisa ngandung, bayinya mungkin bisa lindunginya dari ramuan itu.

Namun itu mustahil. Leah seharusnya mandul setelah semua mantra yang diberikan Cerdina padanya selama bertahun-tahun. Namun untuk nghilangkan kemungkinan itu, Cerdina telah rintahkan dayang-dayang Leah untuk mberinya teh yang akan mbuatnya keguguran.

Obat itu juga ngandung penekan nafsu makan, karena Cerdina tidak dapat ngendalikan pola makan sang putri dengan pengawasan ketat dari Blain. Jika Leah berdiri di samping Blain, dia harus terlihat sempurna.

"..."

Terlambat, Cerdina rasakan darah dan nyadari bahwa ia telah ngunyah bibir bawahnya. Jarinya ngetuk ambang jendela dengan gelisah.

Ia harus nggunakan mantra baru untuk naklukkan Leah sepenuhnya. Ada sihir yang digunakan kaum barbar untuk ngikat jiwa reka selama upacara pernikahan reka. Cerdina tidak berniat ngikat jiwa Leah pada Blain, tetapi ia dapat nggunakan pernikahan reka untuk nggunakan mantra yang lebih kuat padanya.

Tolong tepati janjimu, Ibu.

Suara Blain bergema di tangannya. Cerdina ngepalkan kedua tangannya yang getar.

"Aku dewa," katanya dengan gugup. "Tuhan..."

Jadi tidak ada yang tidak bisa dilakukannya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 215: Teh on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.