"Yah, itu..." Dia rasa wajahnya rah karena malu. Dia bilang dia ingin hamil, tetapi Ishakan sepertinya bermaksud lain. Namun karena dia tidak bisa mbantahnya, dia ndorong pinggulnya ke atas dengan ganas, kejantanannya yang tebal nabrak serviksnya. Setiap kali dia ndorong dalam-dalam, klitorisnya bergesekan di antara tubuh reka dan kenikmatan yang intens ngalir lalui tubuhnya.
Sensasinya lebih dari sekadar rangsangan biasa. Itu adalah kenikmatan yang ngerikan. Leah ngerang, nggigil.
"Kamu bilang kamu ingin punya bayi, kan?"
"Hmm, hck, ahh...!"
"Suamimu bekerja keras sekali..." gumamnya saat dia getar. "Bukankah seharusnya kau... ikut serta?"
Dengan kata-kata itu, dia ndorong dalam-dalam ke dalam dirinya, kejantanannya negang di semua dinding bagian dalam dan mbuatnya ngerang. Alis Ishakan berkerut saat dia nggeram kasar.
"Aduh..."
Cairan panas nyembur ke dalam dirinya. Dia bisa rasakannya dengan jelas. Kram njalar di sekujur tubuhnya dan jari-jari tangan serta kakinya regang dan lengkung, air mata ngalir di pipinya. Dan Ishakan terus ndorongnya perlahan-lahan seolah-olah dia nikmati semuanya.
Entah bagaimana, Leah berhasil ngangkat kepalanya. Mata emasnya natap tajam ke wajahnya yang berlinang air mata. skipun dia telah ejakulasi, matanya masih bersinar, dan tubuhnya ndidih panas, kekuatan dan semangat ngalir dalam tubuhnya.
"Kamu lelah, Leah..." Kata-kata itu terbata-bata dengan aneh. Dia terdengar mabuk. "Biar aku yang lakukannya untukmu..."
Kata-kata itu nyadarkannya kembali. Jika dia lepaskan rantai itu, dia mungkin akan mati pada malam pertama. Namun saat dia mulai nariknya seolah-olah akan mutuskannya, dia buru-buru berbicara.
"Aku akan lakukannya...!"
"TIDAK."
"Ishakan...aku b-bisa lakukannya dengan benar..." Dia tergagap, hampir mohon saat dia nyentuh dada Ishakan dan rantai dingin yang lilitnya.
"...."
Matanya nyipit. Dia bisa rasakan kejantanannya ngeras sedikit demi sedikit di dalam dirinya. Dia sudah dipenuhi dengan spermanya, lapisi setiap bagian dalam dirinya tanpa ada ruang yang tidak tersentuh. Sambil nutup matanya, dia ngangkat pinggulnya, rasakan cairannya ngalir keluar dari vaginanya, lapisi labia dan paha bagian dalamnya dengan licin. Dengan hati-hati, dia bergerak ke atas dan ke bawah lagi.
"Ah..." Erangan itu keluar tanpa disadarinya. Lonceng-lonceng berdenting saat dia bergerak. skipun semua ini malukan, dia tidak dulikannya. Wajahnya rah saat dia terus nggerakkan tubuhnya, dan Ishakan mperhatikan dalam diam.
"...Sentuh putingmu," katanya. Sebuah permintaan, bukan perintah.
niru gerakan tangannya, dia ngusap satu puting susu di antara jari-jarinya. Leah nggigit puting susu yang lain. Leah tersentak, tetapi terus bergerak.
"Lebih cepat," katanya di sela-sela jilatan, lidahnya nekan dan njentik dengan kuat. Leah bergerak lebih cepat. Ia rasa pusing seperti sedang mabuk, seolah-olah ia terhipnotis oleh mata emasnya. Ia terus bergerak dalam irama naluriah.
"Lagi..." erangnya, maksakan tubuhnya untuk muaskannya.
Napasnya semakin panas dan bibirnya bergetar saat air liurnya mbasahinya. Terhanyut oleh kenikmatan, dia natap mata pria itu saat pria itu natapnya dalam diam. Itu malukan. Apakah dia satu-satunya yang begitu mabuk kenikmatan?
"Ah, apakah ini terasa enak?" Dia terengah-engah. "Ahhh, hmm..."
Namun, dia tidak langsung njawab. Bibirnya terkatup rapat saat dia natapnya, penuh air mata dan berantakan, jantungnya berdebar kencang.
"Kau baik-baik saja," katanya akhirnya. "Itulah masalahnya."
"...!"
Reviews
All reviews (0)