Font Size
15px

Suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Tangan Leah remas dadanya yang sakit. Untuk njawab, ia harus nempelkan bunga di bibirnya terlebih dahulu.

Berlutut di hadapan Ishakan, dia nundukkan kepalanya seperti yang diperintahkan Mura, ndekatkan mulutnya ke mulut Mura. Kepala Mura sedikit miring dan dia ngambil bunga itu darinya dalam satu gigitan, nelannya. Lalu dia nerkam.

"Ah..."

Akhirnya dia bisa bicara, dan suara pertama yang dia keluarkan adalah erangan saat dia nerima ciuman penuh gairah dari Leah. Namun, Leah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena rantai yang ngikatnya. Bibirnya terbuka, mperlihatkan giginya karena tidak puas, dan dia nyandarkan kepalanya di leher Leah.

Dia berbau alkohol kuat.

"Kamu minum banyak?" tanya Leah sambil gang wajah lelaki itu dengan hati-hati.

"Ha..." Ishakan ndesah dalam. "Orang-orang Kurkan mbuatku minum alkohol. Seolah-olah reka ingin aku mabuk..." Sebagai tuan rumah, dia tidak bisa nolak minuman beralkohol yang ditawarkan oleh tamunya, jadi dia nghabiskan semua yang reka tawarkan kepadanya. Dia telah bertahan cukup lama sebelum akhirnya mabuk.

Leah ngamatinya dengan saksama. Jubah rahnya sewarna dengan gaunnya dan sangat pas di tubuhnya. Wajah Ishakan bergerak ke arahnya, ngganggu kekagumannya.

"Ayo kita lakukan lagi."

Duduk di pahanya, reka berciuman dengan dalam. reka mungkin akan terus berciuman jika saja Leah tidak terganggu oleh suara rantai yang terus-nerus berderak.

"Ishakan, tunggu sebentar..." Leah nahan napas, riksa rantai yang ngikatnya. "Kau baik-baik saja? Apa tidak sakit?"

Dia tidak hanya diikat, tetapi juga ditutup matanya. Mulutnya terbuka saat dia lihat semua ikatan itu. Apakah semua ini benar-benar perlu? Dia tidak ingin dia nderita.

Namun, saat dia berpikir demikian, dia tertawa pelan. Tentu saja dia telah mbiarkan reka ngikatnya. Bahkan dalam keadaan mabuk, reka tidak akan bisa ngikat Ishakan seperti ini jika dia tidak ngizinkannya.

Ishakan nggelengkan kepalanya seolah berusaha njernihkannya lalu njilati bibirnya.

"Apakah kamu ngenakan gaun rah?"

"Ya. Warnanya sama dengan jubahmu."

"Begitu. Aku bisa ndengar bunyi loncengnya."

"Loncengnya...ada di dalam perhiasan."

"Di mana? Di pergelangan tangan?"

"Di pergelangan tangan dan pergelangan kaki."

"Pasti terlihat indah."

Leah nyentuh kain rah yang nutupi mata Ishakan.

"Jika saya nghapus ini..."

"Sebaiknya jangan," kata Ishakan datar. Suaranya lembut. "Aku juga rindukanmu, Leah. Tapi aku ingin malam pernikahan pertama kita aman."

Kata-kata itu mbuatnya tersipu. Sambil ragu-ragu, Leah lingkarkan lengannya di bahu Ishakan, dan Ishakan ndesah.

Awan njauh. Cahaya bulan semakin terang. Ia teringat malam yang ia lalui bersamanya saat bulan purnama. Kenangannya tentang malam itu begitu penuh gairah, mbuatnya malu untuk ngingatnya.

Dan Ishakan tampak lebih bergairah daripada malam itu. Kejantanannya tegak, nonjol lalui kain jubahnya.

reka telah mperingatkannya bahwa dia tidak rokok tembakau selama seminggu. Itu untuk ngurangi efeknya sentara, sehingga dia akan lebih setia pada nalurinya. Antara bulan purnama dan alkohol, toleransinya nurun drastis.

Demi Ishakan, dia harus lakukan sesuatu.

Dia telah ngambil keputusan dan raih ujung korsetnya ketika dia berbicara.

"Bisakah kau lepas pakaianmu?" tanyanya, seolah-olah dia sudah tahu apa yang akan dilakukannya, bahkan dengan mata tertutup. "Bahkan hanya bagian atasnya saja. Aku akan njilati payudaramu."

longgarkan pita dan kancing kecil yang diikat dengan cekatan oleh dayang-dayangnya, korsetnya terlepas. Perhiasannya berdenting saat jatuh ke lantai. Dia rasa gugup karena udara nyentuh kulitnya yang telanjang, dan putingnya negang karena sedikit dingin.

Duduk di pahanya, dia nangkup payudaranya dengan tangannya untuk mudahkan Ishakan yang terikat, skipun malukan nyentuh dagingnya sendiri yang lembut dengan cara ini. Kepala Ishakan nunduk saat dia perlahan njilati lehernya. Dia ngusap wajahnya ke payudaranya dan putingnya ngeras karena antisipasi. Dia bisa rasakan dirinya semakin basah, skipun dia tidak nyentuhnya di sana.

Dengan berisik, ia mulai njilati dan ngisap putingnya, giginya yang tajam nggigit hingga terasa sakit. Di ruangan yang gelap dan sunyi itu, tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara bibir dan lidahnya.

"Sekarang, pakaian bawah," bisiknya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 179: Langkah-Langkah Keamanan (2) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.