Leah tersenyum getir saat mbayangkan pemakaman ayahnya, dengan semua bangsawan di Estia berkumpul. Tak seorang pun akan berduka. Ia tak bisa protes; bahkan putrinya sendiri tak neteskan sedikit pun air mata. Namun setidaknya jasadnya akan dimakamkan dengan layak.
Sekarang Blain akan naik takhta. Ia khawatir tentang apa yang akan dilakukan pria kejam dan kejam itu untuk nyiksa para pegawai di istana, tetapi ia nggelengkan kepala dan nyingkirkan pikiran itu. Ia seharusnya tidak mikirkan Estia di hari pernikahannya.
Sambil makan sebagian kurma yang ditinggalkan Mura untuknya, Leah mbiarkan pikirannya terisi dengan hal-hal lain.
Setelah beberapa saat, Mura kembali dengan nampan kecil berisi bunga rah tanpa tangkai. Leah masukkan bunga itu ke dalam mulutnya sehingga bunga itu tampak kar dari bibirnya. Sampai dia bertemu Ishakan, dia harus mbawa bunga itu ke sana.
ngikuti Mura keluar, dia naik ke kursi sedan yang gah. Kursi itu tampak berat, tetapi dayang-dayangnya ngangkatnya tanpa kesulitan dan mbawanya ke sebuah bangunan kecil di bagian belakang istana, nghindari para tamu yang berisik. Bangunan tambahan kecil di sana hanya digunakan untuk acara-acara penting. Sebuah dinding kecil ngelilingi bangunan batu putih itu sehingga hanya atap kubahnya yang terlihat.
"Kau harus pergi sendiri dari sini," kata Mura saat reka ninggalkannya di depan pintu lengkung. "Ishakan sudah nunggu di dalam..."
Leah ngangguk dan masuki halaman berdinding itu, terkesan dalam hati. Lingkungan di balik tembok itu benar-benar berbeda, dengan ubin-ubin kecil berpola rumit di lantai dan saluran-saluran air yang ngalir ke empat arah. Bunga-bunga kecil ngapung di permukaan air yang jernih, mperlihatkan ubin-ubin di dasar saluran.
Lentera-lentera kecil tersebar rapi untuk nerangi seluruh area. Jalan yang dilalui Leah ditutupi karpet sutra rah yang mbentang hingga ke gedung. Lonceng-lonceng berdenting di pergelangan kakinya saat ia ndekati pintu.
Sambil narik napas dalam-dalam di depan pintu kayu gelap itu, dia ndorongnya hingga terbuka. Bagian dalamnya remang-remang, dengan tirai di setiap jendela, cahaya redup bersinar di dalam. Cahaya bulan masuk lalui lubang lingkar di langit-langit.
Leah natap bulan purnama di balik awan tipis, lalu berbalik untuk lihat ke dalam kamar. Kamar itu berbeda dari tempat mana pun yang pernah dilihatnya sebelumnya. Di tengahnya ada tempat tidur bundar, diletakkan di bawah jendela di langit-langit sehingga cahaya bulan nyinari seprai putihnya. Di sampingnya ada ja kecil dan kursi berlengan.
Namun, ke mana pun ia mandang, ia tidak lihat Ishakan. Di balik tempat tidur, Leah nemukan sebuah tempat yang ditutupi kain tipis. Dengan hati-hati, ia ndekat.
"Lea."
Sebuah suara berbicara dari balik kain. Dengan cepat ia nyingkirkannya, ncium bau alkohol. Leah otomatis mundur selangkah.
"...!"
Dia hampir njatuhkan bunga itu ke mulutnya, berkedip karena bingung. Dia teringat apa yang dikatakan Mura.
— Kami akan netapkan langkah-langkah keamanan.
Leah sudah nduga bahwa wanita itu akan lakukan sesuatu karena dia begitu khawatir, tetapi dia tidak pernah mbayangkan hal ini.
Pilar besi besar di hadapannya tidak cocok dengan apa pun di bangunan kecil itu. Ishakan duduk di depannya dengan lengan terikat dan tubuh bagian atasnya dililit rantai berat. Ketika dia ngangkat kepalanya, dia lihat bahwa matanya ditutup dengan kain rah. Tiba-tiba, dia tersenyum. Ketika dia berbicara, suaranya hangat.
"Halo, istriku."
Reviews
All reviews (0)