skipun ia telah ncoba secara pribadi untuk nemukan seorang Tomari yang dapat nangkal ramuan aneh itu, sejauh ini ia kesulitan. Semua orang ncoba nipunya dengan penawar racun palsu. Sambil natap ke luar jendela, Byun Gyeongbaek ndecakkan lidahnya.
"ngapa langit begitu gelap...?"
Awan gelap nutupi matahari, nambah suasana muram bahkan hingga tengah hari. Langit kelabu cocok untuk pemakaman. Keadaan seperti ini sudah berlangsung sejak Byun Gyeongbaek tiba di ibu kota.
Setelah pemakaman, ia harus matuhi perintah sang Putri dan segera kembali. Ia telah nulis surat kasar dan ngikatkannya pada burung pembawa pesan yang datang dari Kurkan, lalu mbiarkannya terbang.
ngenakan jas hitam, ia pergi ke istana untuk nghadiri pemakaman Raja.
Semua bangsawan di Estia berkumpul di lokasi pemakaman, sebidang tanah kosong di pemakaman di belakang istana, tempat hanya keluarga kerajaan yang dimakamkan. Pemakaman itu tampak sempurna, di antara para bangsawan yang berpakaian hitam dan cuaca yang suram. Setelah beberapa upacara, persembahan bunga untuk Raja pun dilakukan.
Byun Gyeongbaek adalah bangsawan pertama yang mpersembahkan bunga. Dengan krisan putih di tangannya, ia ndekati peti jenazah tempat jenazah Raja dibaringkan.
Anehnya, jasad Raja yang terbaring di tengah bunga-bunga putih itu tampak lebih hidup sekarang daripada sebelum kematiannya. lihat mayat yang ngenakan jubah upacara dan mahkota di kepalanya, dia rasakan firasat buruk.
"..."
Byun Gyeongbaek nyembunyikan kerutan di dahinya saat letakkan bunga di samping Raja dan kembali ke tempat duduknya. Saat para bangsawan lainnya mpersembahkan bunga reka sendiri, dia lihat ke deretan kursi pertama. Ratu ngenakan gaun hitam. skipun wajahnya tersembunyi di balik kerudung dan topi hitam, dia tidak tampak begitu sedih.
Ia tidak pernah nyangka Ratu akan nangisi kematian Raja. Ia tergila-gila pada putranya. Ia mungkin hanya senang dengan kenyataan bahwa Putra Mahkota akhirnya akan naik takhta.
Namun, tidak ada tanda-tanda kehadiran Putra Mahkota. Persembahan bunga hampir selesai, dan sebentar lagi akan tiba saatnya pidato pemakaman. Di mana dia?
Tepat saat ia mulai ngeluh dalam hati, gumaman-gumaman terdengar di belakangnya. Ia noleh ke belakang secara otomatis dan tidak dapat mpercayai matanya.
Putra Mahkota perlahan ndekat. Di tengah kerumunan orang berpakaian hitam, ia ngenakan jubah kerajaan yang gah dengan perhiasan emas berkilauan, dan jubah rah panjang yang terseret di rumput di belakangnya.
Tetapi ada sesuatu yang lebih ngejutkan.
"Rambut pirang?" Byun Gyeongbaek bergumam sambil nggigit giginya.
Alih-alih rambut perak yang njadi ciri khas keluarga kerajaan Estian, rambut Putra Mahkota justru pirang. Sentara semua orang berdiri terpaku dan bingung, ia akhirnya ncapai peti mati.
Sambil natap jenazah ayahnya dengan mata nyipit, Putra Mahkota lemparkan bunga krisan putih ke dalam peti jenazah. Kemudian, ia ngambil mahkota dari kepala Raja yang telah ninggal dan letakkannya di kepalanya sendiri. Sambil berbalik, ia natap para bangsawan yang lumpuh.
"Dengar, Estia," katanya.
Byun Gyeongbaek nggigil ketakutan. Asap hitam ngepul dari kaki sang pangeran. Suaranya tadinya jelas, tetapi sekarang terdengar aneh dan aneh.
Begitu dia selesai berbicara, asap hitam ngepul dan nutupinya sepenuhnya, tepat di depan mata para bangsawan yang nonton. Rambut pirangnya telah berubah njadi perak.
"Oh...!"
Terdengar teriakan kebahagiaan, dan semua mata tertuju pada sang ratu. Asap hitam yang nyelimuti sang pangeran bergerak ke arahnya, berputar-putar, dan nyibakkan kerudung, nampakkan wajahnya yang gembira.
"Ah, akhirnya..." Wajahnya rah saat ia mulai nghirup asap rokok. Ketika semua asap rokok itu nghilang tanpa jejak, ia mulai tertawa terbahak-bahak.
Para bangsawan yang nyaksikan berteriak dan berbalik untuk lari.
"Ahhhhhhh!!!"
Byun Gyeongbaek larikan diri bersama para bangsawan yang panik. Namun, saat dia rasakan sesuatu rayap di punggungnya dan noleh ke belakang, matanya terbelalak.
Asap hitam nyebar dari tubuh Ratu ke segala arah. Siapa pun yang tersentuh asap itu langsung berhenti. Semua emosi lenyap dari wajah reka, dan tanpa ekspresi seperti boneka, reka berbalik untuk berlutut di tanah, mbungkuk kepada Ratu.
"Apa ini, sialan...!" Byun Gyeongbaek berlari nyelamatkan diri, tetapi dia juga tidak bisa nghindari asap hitam itu. Rasanya seolah-olah seseorang ncengkeram otaknya dan ngguncangnya, lalu kesadarannya pun terputus.
Tak lama kemudian, semuanya njadi sunyi. reka berteriak-teriak sambil berlari, tetapi sekarang semua orang berlutut di tanah dengan pandangan kosong.
Dalam keheningan yang ncekam, bahu Cerdina bergetar karena tawa.
"Hm, hahaha, hahaha...." Di hadapan semua bangsawan yang mbungkuk, dia tertawa terbahak-bahak. Dia telah nciptakan rumah boneka yang sempurna. Baru setelah tawanya yang gila itu akhirnya berhenti, Blain berbicara.
"Sekarang kamu harus nepati janjimu, Ibu."
Cerdina tersenyum lebar pada putranya, yang berdiri di hadapannya dengan mahkota di kepalanya.
"Aku tidak lupa, Blain." Sambil berjalan ke arahnya, dia mbungkuk untuk ncium kakinya dan berbisik manis, "Rajaku tercinta."
Reviews
All reviews (0)