Font Size
15px

Tiba-tiba sebuah kekuatan narik bahunya dan tubuhnya berbalik. Leah nahan napas, natap mata emas yang berkilauan. Wajah Ishakan tidak terganggu, tetapi matanya yang tajam nusuk. Warna indah yang tidak akan pernah dilihatnya lagi terukir dalam ingatannya.

Ketika dia terlambat tersadar dan ngalihkan pandangannya, tangan besarnya ncengkeram dagunya, maksanya untuk natap mata Ishakan. Ishakan mbuka mulutnya untuk berbicara.

"Dengarkan aku baik-baik, Putri." Suaranya yang rendah dan nghantui mbuatnya rasa sedikit gugup. "Kehidupan mulia yang kau jalani sebagai seorang putri. Aku akan nginjak-injak dan nghancurkannya."

Jarinya nyentuh pipinya dengan lembut sambil berbisik, kata-katanya tertanam dalam di dalam dirinya.

"Aku akan mbuatmu berhenti berbicara seperti Putri Estia..."

Rasanya seperti ada cahaya keemasan nyala dalam hatinya.

"Tidak ada tempat untuk larikan diri."

Dan dengan itu, Ishakan nghilang, seolah-olah ia telah berkedip dan nghilang ke dalam kegelapan. Leah, yang ditinggalkan sendirian natap kekosongan, tersenyum pahit.

"..."

Ia tidak perlu lari. Jika ia ncarinya, yang akan ia temukan hanyalah mayatnya. Matanya tertuju pada bunga-bunga tuberose yang berserakan di tanah di hadapannya. Di tengah tumpukan itu ada satu bunga yang utuh, tetapi ia tidak dapat lihatnya sekarang. Sambil natap tanah yang kosong dan subur, Leah perlahan kembali ke kamar tidurnya.

Sekarang dia benar-benar sendirian.

***

Malam sebelum ninggalkan istana, orang-orang Kurkan sibuk bergerak, nyimpan barang bawaan, dan nyelesaikan tugas yang diperintahkan oleh Raja. Di depan istana tamu, sederet kereta dan gerobak berjejer. Tiba-tiba semua orang Kurkan berhenti bersamaan, lihat ke satu arah. Seorang pria berjalan pelan ke arah reka.

"Ishakan!"

Haban, yang ngawasi pemuatan, berlari nyambutnya, dan Genin letakkan kotak berat yang dibawanya. Semua orang Kurkan berkumpul dengan cepat dengan ekspresi gugup di wajah reka, dan Morga bertukar pandang dengan Genin dan Haban.

"Sang Putri..." Genin mulai dengan hati-hati.

"Dia bilang tidak. Dia nolakku dengan sangat baik."

ski bicaranya acuh tak acuh, Ishakan tidak bisa nyembunyikan perasaannya. Ia nutup matanya dengan tangannya dan teriakan kesakitan pun terdengar.

"...Ha." Dia lepaskan tangannya setelah beberapa saat untuk bertanya, "Dia tampak sangat tidak stabil, apakah kamu yakin dia baik-baik saja?"

Sang Raja tampak sangat rapuh. Morga berkedip karena terkejut ndengar pertanyaan itu, ternganga sampai Genin nyenggolnya pelan di sampingnya.

"Tidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini," katanya terlambat. "Akan lebih baik jika sang putri dibawa ke Kurkan sesegera mungkin."

"..."

Ishakan ndesah sambil ngetuk dagunya.

"Genin."

Genin njadi tegang begitu namanya dipanggil, dan njawab, "Semua persiapan sudah siap. Aku dan Haban akan mimpin dua sayap."

"Morga."

"Kita tidak bisa nghilangkan mantra pelacak, tapi bisa dihalangi. Aku bisa ngatasinya segera setelah aku ndapatkan sang Putri."

"Haban."

"Kami sudah nyiapkan peralatannya. ngenai lokasi, akan berada di dataran."

Ia rujuk pada dataran di pinggiran ibu kota, tempat eulalies tumbuh. Ishakan riksa muatan yang telah dikemas dengan tekun oleh orang-orang Kurkan sejauh ini. Ketika ia lepaskan kain yang nutupi kereta, sebuah tali dengan pengait besi muncul. Pengait yang kokoh, cukup kuat untuk beban yang berat. – Terjemahan dari NovelUtopia, jika Anda mbaca ini di situs web lain, ini telah dicuri.

"Kami pikir kami akan nggunakannya untuk mbalikkan kereta."

"Tidak buruk."

Dengan Haban di sampingnya, Ishakan ngangkat kait besi dan narik tali untuk mastikannya aman.

"Dia tidak perlu bertanggung jawab," gumamnya. Tidak juga. Dia tidak peduli jika dia disebut orang jahat. Dia masang kembali kait di kereta dan berbalik nghadap orang-orang Kurkan, sambil tersenyum dingin.

"Jadi..." Mata emasnya berbinar. "Kita akan nculik pengantinku."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 128: Tidak Ada Tempat Untuk Melarikan Diri on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.