Pernyataannya jelas. Kata-kata rahasia terucap, Leah nutup rapat-rapat bibirnya.
Pria itu, untuk pertama kalinya, terdiam—terkejut seolah-olah dia tiba-tiba lupa bagaimana cara berbicara. natap wajahnya, ngantisipasi reaksi, Leah tersentak kaget.
Dia lihat kegaduhan di mata emasnya—pupil matanya nyempit, dan warna rah ngelilinginya seperti korset.
Dia ketakutan sesaat, dan bulu-bulu di tubuhnya berdiri tegak. Pria itu, nyadari rasa takut yang dia timbulkan dalam dirinya, nghela nafas berat.
Dia ngacak-acak rambutnya, nyeka wajahnya, dan sejenak nutup matanya.
Dan ketika tatapan nakutkannya terungkap lagi, tatapan ngancam di matanya telah nghilang, ditutupi dengan raut wajah santai seperti biasanya.
Pria itu nyeret tubuh kecil Leah ke atas perutnya. Dia ngumpulkan rambut peraknya ke satu sisi, dan berbicara dengan bibirnya nempel ringan pada tengkuk putihnya yang terbuka.
"ngenai ceritaku—Kurkan yang tidak bertato—akan kuceritakan padamu saat kita bertemu lagi nanti," Senyum tipis muncul di bibirnya, matanya bersinar dengan kilatan nakal, "Ini akan sangat nyenangkan. "
Betapa tidak masuk akalnya? Tampaknya dia cukup yakin bahwa dia akan bertemu dengannya lagi. ngetahui kesombongan kata-katanya, Leah tertawa dalam diam. Senyuman penuh harap yang dia kenakan kemungkinan besar akan hancur kapan saja.
Dia bertanya lagi, mpersempit jarak di antara alisnya, "Pertahankan hidupmu sampai aku selesai nceritakan kisahku padamu, oke?"
Selama perjanjian itu tetap kosong dan tidak berarti, dia akan noleransinya. Leah ngangguk dengan gesit, ngawasinya saat dia nyeret tubuh besarnya dari tempat tidur, mbiarkan kepalanya bersandar di bantal.
"Mari makan sesuatu."
Otot punggungnya yang indah berputar dan regang, begitu pula bahunya yang bersudut, pinggul dan tulang belakangnya yang sempit. skipun tubuhnya besar, nurutnya bagian belakangnya agak lucu. Itu terlihat sangat ketat.
Dia natap kosong pada pria telanjang yang berkeliaran ketika tatapannya tanpa sadar ngarah ke selatan dan bertemu dengan anggota ereksinya. Dengan tergesa-gesa, dia narik selimut, nutupi tubuhnya seperti kepompong.
Dia tidak percaya reka berbicara telanjang begitu saja!
Spesin yang sangat bagus, dia percaya diri dengan kulitnya—terlalu percaya diri, maksudnya.?Pria ini tidak tahu kesopanan! Perilaku orang barbar yang tidak tahu malu.
skipun demikian, Leah tidak bisa ngalihkan pandangan darinya dan ndapati dirinya kesulitan ngintegrasikan citra lezatnya ke dalam kata "binatang".
Dengan nampan di satu tangan, dia natap Leah yang terbungkus selimut erat dan tertawa. ski begitu, dia tidak ngambil lembar itu darinya. "Dingin, ya?"
Sebaliknya, dia duduk dekat di sampingnya dan nyeimbangkan nampan di atas lututnya. Di atasnya diletakkan sup penuh daging dan sayuran serta sepotong roti gandum dengan kismis. Rebusannya sedikit suam-suam kuku karena disiapkan sebelum dia bangun.
Karena tidak nafsu makan, dia nolak dan malingkan wajahnya. Namun lelaki itu maksanya untuk gang sendok dan yang bisa dilakukan Leah hanyalah nerima nampan berisi sup dan roti, yang kini sudah njadi potongan-potongan kecil—pria itu robeknya terlebih dahulu untuknya.
Itu adalah hidangan yang enak untuk penginapan kumuh.
Rebusannya tidak berbau, dan roti gandumnya lembut. skipun dia tidak mau makan, nafsu makannya bertambah saat dia masukkan makanan ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya rasa kenyang, jadi dia ngetuk nampannya, dan pria itu natap matanya.
mahami apa yang diinginkannya, dia nggelengkan kepalanya. Alih-alih ngambil kembali nampannya, dia malah robek sepotong besar roti, ncelupkannya ke dalam rebusan, dan nyerahkannya padanya.
"Makan lebih. Kau lebih kurus dari cabang musim dingin."
Leah lahap apa yang diberikannya, dengan lembut ngunyah roti yang sudah dibasahi. Apakah karena dia lapar atau hanya perasaannya saja yang ngaburkan penilaiannya? Dia tidak yakin kenapa, tapi sup polos dan roti gandum terasa lebih lezat daripada makanan lezat istana kerajaan.
Sentara dia makan dengan lahap, pria itu rawatnya tanpa ngucapkan sepatah kata pun. Saat dia ngunyah, dia terus-nerus lirik ke arahnya saat dia robek roti dengan rajin.
Sepotong roti yang cukup besar di tangannya tampak kecil di tangannya. ski Leah bertubuh mungil dan kurus dibandingkan wanita seusianya, dia rasa seperti anak kecil saat bersamanya.
Dia ncuri perhatian pada lengannya yang nonjol. Tidak dapat dipungkiri, gabungan lengan bawah Leah hampir tidak bisa nyamai salah satu lengannya. Bahkan pahanya sangat tebal sehingga bisa terlihat seperti tunggul pohon.
Pengawasan ini mbuatnya ngingat gairah yang reka alami tadi malam. Setelah semua aktivitas berat itu, dia tampak jauh dari rasa lelah. Tidak heran, itu semua karena tubuhnya yang bugar—dan otot-ototnya yang terpahat bergetar saat dia bergerak.
Apa yang aku pikirkan?
Dengan cepat, dia ngenyahkan pikiran-pikiran yang nuhi kepalanya. Ketika pria itu rgokinya sedang ngukurnya, alisnya berkerut saat dia berkata, "Jangan lihat aku seperti itu."
Karena curiga, dia tidak tahu apa yang telah nyinggung perasaannya. Oleh karena itu, dia ngedipkan matanya pada kata-kata yang terdengar seperti teguran.
Dengan wajah datar, pria itu ngarahkan jarinya ke tubuh bagian bawah—di mana tubuhnya yang tinggi, tampak bersemangat seperti biasanya, minta perhatiannya.
Oleh karena itu, sejak saat itu, Leah berkonsentrasi makan makanan yang diberikannya tanpa liriknya sedikit pun.
Reviews
All reviews (0)