"Ahh," Namun, dia sepertinya tidak ndengarkan sama sekali. Sebaliknya, dia natap tubuh Leah yang tidak miliki bekas luka sedikit pun dan njilat bibirnya.
"Ayo kita lakukan sekali lagi."
Dia mbuka mulutnya dengan heran. Berbeda dengan Leah yang seluruh tubuhnya pegal-pegal, dia tidak nunjukkan tanda-tanda kelelahan. Kilatan tajam mulai terlihat di matanya, yang beberapa saat yang lalu redup.
Leah nggelengkan kepalanya dengan jijik saat dia rasakan panas terik yang familiar di ruangan itu.
Pria itu tertawa kecil. Namun, dia masih lingkarkan lengannya di pinggang halus wanita itu, njebaknya untuk selamanya. Tanpa henti, Leah nendang dan lepaskan diri dari genggamannya tetapi tiba-tiba berhenti saat nyadari sesuatu.
Matanya ngamati tubuhnya. Tadi malam, reka lakukan pertukaran panas dalam kegelapan. Oleh karena itu, dia lewatkan detail aneh ini.
Tubuh pria itu bersih, tanpa tato apa pun.
Semua orang Kurkan yang pernah dilihat Leah sebelumnya?ditato. Baik di wajah, leher, dan lengan bawah, kulit reka miliki tato besar. Pria ini, yang baru-baru ini dia bagikan keintimannya, adalah Kurkan pertama yang kulitnya bersih dari tinta...
Mata emasnya, fisiknya yang ndominasi, dan kekuatan yang tak terukur—dia yakin dia adalah anggota klan barbar, tapi dia tidak ngerti ngapa dia tidak miliki satu tanda pun.
Pria itu, yang mperhatikan dia lihat tubuhnya dengan alis berkerut, luknya lebih dekat.
"Apa yang mbuatmu penasaran?"
Sambil ngerutkan kening, dia natap wajahnya, "Kau tidak punya tato... njauhlah sedikit agar aku bisa lihat."
Dengan lengannya yang bebas, dia ndorongnya njauh, tapi dia tetap dekat dengannya. Untuk ngalihkan perhatiannya, dia ninggalkan jejak ciuman di pipi dan hidungnya.
"Mari kita bertukar informasi satu per satu. Jika kau njawab pertanyaanku, aku akan njawab pertanyaanmu."
Sebelum Leah setuju, dia lontarkan pertanyaan pertamanya.
"ngapa kau mbuang pengalaman pertamamu dalam semalam dengan musuh?"
Di kerajaan Estia, kemurnian pengantin wanita adalah yang terpenting. Ini adalah masalah yang lebih penting lagi bagi para bangsawan karena kesucian dapat ncerminkan kehormatan keluarga. Oleh karena itu, pengantin perempuan yang tidak suci dapat diceraikan secara sah dan, dalam kasus terburuk, dibunuh.
Belum lagi Leah adalah seorang putri kerajaan yang akan segera berpartisipasi dalam pernikahan politik penting. Jika ditemukan tidak murni, kehormatannya akan rosot, begitu pula kehormatan keluarganya.
Ada banyak alasan dia ngambil jalan ini. Dia tidak ingin mberikan kesuciannya kepada pria tua yang 25 tahun lebih tua darinya—pria yang belum pernah dia temui, pria yang ncari daging segar dan lebih muda untuk nuhi kebutuhannya.
Kehidupan pernikahan yang nantinya juga tidak lebih baik. Sama seperti kebanyakan istri bangsawan berkuasa seperti Byun Gyongbaek, dia akan njalani kehidupan yang nyedihkan di istananya yang biasa-biasa saja. Dia akan nyia-nyiakan masa mudanya. Baginya, ini adalah kematian yang lebih nyakitkan.
Keluarga kerajaan njualnya seperti produk kelas atas, oleh karena itu, dia akan dengan senang hati rusak reputasi reka. Yang terpenting, dia ingin lepaskan kehidupannya yang nyusahkan dan nyakitkan.
Namun, dia tahu pria itu, jadi Leah nghindari tatapannya dan hanya nggigit bibirnya.
"....."
rasakan keengganannya, pria itu tidak bertanya lebih lanjut. Dia tersenyum, berbaring miring dengan satu tangan gang dagunya yang dipahat. Dia mandang Leah dan berkata, "Apakah kau tidak ingin larikan diri?"
Pemikiran itu njanjikan dan benar-benar nggoda. Saat hampir dibujuk, Leah sadar. Kedengarannya hal itu bisa nyelesaikan semua masalahnya, tapi dia tahu hal itu tidak akan pernah terjadi.
Dia nghela nafas, nyadari bahwa jika dia lengah sedikit lagi, dia akan terbongkar oleh pria itu.
Sejujurnya, jika dia benar-benar nginginkannya, dia bisa dengan mudah larikan diri. Keluarga kerajaan sudah lama mbusuk, dan Leah sendiri yang ngambil tanggung jawab atas sebagian besar pekerjaan istana. Sedikit bantuan, keberanian, dan keberuntungan, dia bisa ninggalkan Estia.
Namun, dia tidak mau lakukan itu. Dia tidak ingin seumur hidupnya dikejar seperti penjahat. Sebaliknya, dia ingin ninggalkan dunia ini dan ninggalkan keluarga kerajaan dalam kesengsaraan reka. Dan di atas segalanya...
Dia rasa kosong.
Sejak dia nyadari bahwa dia telah ditinggalkan sepenuhnya oleh keluarganya, dia telah kehilangan keinginan untuk hidup. Dia tidak ingin hidup lagi. Kebenciannya tidak ditujukan pada keluarga kerajaan saja, tapi juga pada dirinya sendiri. Dia mbenci dirinya sendiri karena dengan bodohnya ngabdikan hidupnya kepada keluarga yang mperlakukannya dengan buruk.
Untuk mbalas dan ngakhiri hidupnya, inilah yang paling diinginkan Leah. Dia perlahan nutup dan mbuka matanya. Pria itu diam-diam nunggu jawabannya.
Stand satu malam. Seseorang yang tidak akan pernah dilihatnya lagi. Percakapan yang bebas dari kesopanan, formalitas, dan identitas.
"AKU..."
Secara ndadak, Leah ngucapkan sesuatu yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun.
"Aku ingin mati."
Reviews
All reviews (0)