Font Size
15px

Saat dia nggigil, otot-ototnya kram, Ishakan perlahan-lahan lepaskan jarinya dari lubang vaginanya. Saat erangannya akhirnya reda, dia lepas penutup matanya. Pemandangan yang nyambutnya mbuatnya ingin nangis. Tangan besar yang ngusap pahanya yang putih basah oleh cairan yang telah dia tumpahkan.

Begitu dia nyadari apa yang sedang dilihatnya, dia sengaja nggerakkan tangannya kembali di antara kedua kakinya, sambil tersenyum sambil nggunakan punggung tangannya untuk ngusapnya, nghasilkan suara basah itu lagi.

Tampaknya ia maksanya untuk nghadapi apa yang telah dilakukannya, tetapi Leah tidak dapat mikirkan apa pun untuk dikatakan. Bibirnya ngerucut. Ia pasti telah berhasil ncapai klimaks.

Tiba-tiba, dia teringat bahwa kejantanannya telah nekan di belakangnya, dan Leah berbalik nghadapnya, duduk di hadapannya di antara kedua kakinya. Bagian depan celananya nggembung, dan Ishakan tidak berniat nyembunyikannya. Dia natapnya dengan pandangan sum dan bersandar dengan nyaman. Mata emasnya dipenuhi dengan api gairah, tanpa malu-malu ngagumi tubuh Leah, dan dia perlahan tersenyum saat ngangkat matanya ke arah Leah. skipun dia tidak ngatakan apa yang dia inginkan, dia mbuatnya sangat jelas.

Matanya penuh dengan hasrat. Ia ingin ndorong kejantanan yang ngeras itu ke dalam dirinya hingga ia nangis, mohon, dan ncapai klimaks.

Namun, alih-alih rasa takut, ia justru rasa erotis. Ia nelan ludah, rasakan geli di tubuh bagian bawahnya. Ia duduk di antara paha pria itu, lalu letakkan tangannya di dada pria itu. Ia ngusap dadanya yang lebar, bahunya yang lebar, dan lengannya yang besar, lalu lepaskan bajunya untuk mperlihatkan kulitnya. Ishakan diam-diam mperhatikan.

"Ishakan." Leah nguatkan dirinya. "Aku ingin mbuatmu rasa senang juga."

Dia ingin mberinya kenangan tentangnya. Dia berharap agar dia mikirkannya sepanjang hari dan malam. Sambil mbelai tubuh bagian atasnya yang terbuka, dia ngajukan pertanyaan.

"Bagaimana aku bisa lakukan ini...?"

Mata binatang buas itu nakutkan, tetapi dia tidak nghindari tatapannya. Ishakan natapnya dan ndesah.

"...Ahh." Dia njilat bibirnya, suaranya gelisah. "Kau terus...ngatakan hal-hal secara gegabah."

Tangannya yang besar ncengkeram dagu Leah dengan lembut, masukkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dalam mulutnya. Matanya nyipit. Jari-jarinya nelusuri bagian dalam mulut Leah seolah-olah sedang ngujinya.

"Kau tahu apa yang baru saja kupikirkan?" gumamnya. "Jika kau bisa lihat ke dalam kepalaku, kau pasti sudah lari keluar dari kamar tidur sekarang."

Sambil narik jari-jarinya yang basah dari bibirnya, dia remas putingnya dan nyeringai nakal.

"Lakukan dengan mulutmu."

Dia terlambat mahami maksud perkataannya, dan Leah perlahan nundukkan pandangannya. Sebaliknya, kejantanannya bahkan lebih keras, negangkan kain itu.

Dengan ragu-ragu, dia mbuka ikat pinggangnya dan nurunkan celananya, dengan hati-hati nyingkirkan pakaian dalamnya, mperlihatkan batang kelaminnya yang lurus dan keras.

Ini...?

Bingung, dia natap kejantanan besar di hadapannya. Ujungnya basah dan berkilau karena cairan, dan entah bagaimana tampak... ganas. skipun dia telah nggosoknya di tangannya tempo hari, tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk masukkannya ke dalam mulutnya. Dia bertanya-tanya apakah itu akan muat. Dia tidak berpikir itu bisa, itu tampak lebih besar dari sebelumnya.

Ishakan tersenyum, sambil ngusap dagunya, mperhatikan Leah yang sedang terhuyung-huyung.

"Bisakah kau lakukannya, putri yang polos?"

Leah narik napas dalam-dalam, bertekad. naruh tangannya di paha yang keras, ia nggenggam kejantanan Ishakan yang panas dengan tangan lainnya, nundukkan kepalanya. Kejantanannya begitu besar sehingga ia hampir tidak bisa masukkannya ke dalam, bibirnya regang di sekelilingnya. skipun rasanya terlalu berat baginya, ia terus ncoba karena erangan yang keluar dari atas. Saat ia njilati penis Ishakan seperti kucing, Ishakan tersenyum lagi.

"Anda harus nusukkannya lebih dalam."

Dengan patuh, dia ndorongnya lebih dalam. Ujung penisnya baru saja ncapai tenggorokannya, dan dengan kejantanannya yang kaku nuhi mulutnya, dia tersedak, air mata nuhi matanya. Ishakan mbelai bahunya.

"Jangan berlebihan..." bisiknya.

Namun, ia tidak bisa nyerah saat ndengar api dalam suaranya. Leah ncoba lagi, ncoba masukkannya sedalam mungkin. Rambut peraknya jatuh di sekelilingnya seperti air terjun dan Ishakan ngumpulkannya untuk mperlihatkan wajahnya.

"Ahh, hmmm..." Dia ndesah pelan, napasnya terengah-engah. "Hmm, Leah... Kenapa kamu begitu seksi..."

Kepalanya tertunduk seolah dia tidak dapat diam lebih lama lagi, ngeluarkan teriakan yang dalam dan maskulin.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 115: Putri yang Tidak Bersalah on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.