Font Size
15px

Leah senang ndengar pujiannya. Ketika dia ndongakkan kepalanya dan ngangkat bibirnya, Ishakan nciumnya seolah-olah dia sudah nduganya. Rasanya begitu nikmat, dia hampir tidak tahan ketika lidah Ishakan nyelinap masuk, njilatinya dalam-dalam.

"Ahh, hmm...."

Leah ndesah, nikmati kenikmatan saat Ishakan nciumnya. narik tangannya dari payudaranya, ia nggerakkannya ke kakinya, ngusap pahanya yang basah oleh keringat dan nyentuh pakaian dalamnya yang basah. Rasa malu yang muncul kemudian ngecilkan apa yang ia rasakan saat ia nyentuh payudaranya, dan Leah ncoba narik tangannya. Namun ia tidak bisa. Ishakan gangnya erat-erat di tempatnya.

Sambil gang tangannya, dia ngajaknya njelajahi pakaian dalamnya, lalu nyentuh bagian dalam dirinya, rasakan basah dirinya sendiri.

"Ah, Ishakan..."

Leah gelisah, kakinya getar. Setiap kali jarinya nyentuh dagingnya sendiri, pinggulnya tersentak, dan dia bisa rasakan pembengkakan klitorisnya. Setiap kali dia nyentuhnya dengan jarinya, wajahnya terasa panas.

Namun, itu belum berakhir. Ishakan nggerakkan tangannya untuk nyentuh tepian lubang basah Leah, dan Leah nangis tersedu-sedu.

"Sekarang, bisakah kau lakukannya sendiri, Leah?" Dia nggigit cuping telinganya dengan lembut, sambil berbisik pelan. "Aku akan ngurus bagian bawah, jadi kau usap bagian atas."

Jarinya yang tebal ndorong ke dalam dirinya dan wajahnya rah karena malu saat dia nurut, ngusap klitorisnya. Jari-jari Ishakan bergerak cekatan saat reka bergerak di dalam dirinya, mbelai dengan cepat dan dalam, dan nghasilkan suara basah yang malukan.

Tangan Leah bergerak, tetapi ski berusaha, dia rasa kesulitan untuk ngimbanginya.

"Sampai kapan...ahh...ini harus dilakukan?"

"Sampai kau datang sekali. Sentuh payudaramu juga."

Tangannya yang satu lagi diletakkan di payudaranya, dan berkat perhatian Ishakan, dia sekarang bisa nyentuh payudaranya dan klitorisnya secara bersamaan.

"Kau putri yang cerdas, jadi kau pasti bisa lakukan apa yang aku ajarkan, kan?"

Jika saja matanya tidak ditutup, dia pasti akan lotot ke arahnya. Namun Leah berada dalam kegelapan dan tampaknya tidak bisa nemukan arahnya. Tubuhnya bergetar saat dia ngusap klitorisnya dan jari-jari Ishakan terus nerus ndorongnya seirama dengan gerakannya. Pikirannya dipenuhi rasa malu dan senang, dan Ishakan njilati telinganya.

"Ya. Kau baik-baik saja," bisiknya.

Di balik punggungnya, dia bisa rasakan sesuatu yang manas, perlahan ngeras. Begitu dia rasakan gairahnya, Leah nggigil dan semua yang ada di dalam dirinya terbakar. Dalam kegelapan total, suara dan sensasi itu begitu kuat. Tanpa dia sadari, jari lain telah bergabung dengan jari pertama yang bergerak masuk dan keluar dari lubangnya, dan njadi sulit untuk nahan gerakan itu. Semakin suara basah itu nyiksa telinganya, semakin ningkat kenikmatannya.

Perutnya terasa geli, dan bagian dalamnya terasa panas.

"Hmm..."

Leah ngerang, ngusap klitorisnya lebih keras, tenggelam dalam respons naluriah. Ishakan nggerakkan kakinya terpisah dengan satu tangan, ngamati setiap mon dengan saksama.

"Ingatlah dengan jelas."

Jari lainnya luncur ke dalam dirinya. Kenikmatan yang nggetarkan ngguncang tubuhnya dan dia ngerang lagi. Jari-jari di dalam dirinya bergerak lebih cepat, lebih keras, dan lebih intens.

"Apa yang kau lakukan padaku di ranjangmu."

"Ahh, hmm, ah, Ishakan...!"

"Setiap kali kamu berbaring di tempat tidur dan nutupi dirimu dengan selimut... kamu akan ngingat apa yang telah aku ajarkan kepadamu saat ini." Suara lembutnya nuhi telinganya. "Jangan pernah lupakan itu, Leah."

Punggungnya lengkung karena semua sensasi yang dirasakannya ledak pada saat bersamaan, dan tubuh bagian bawahnya negang.

"Ahhhhhhh...!"

Leah nggigil saat ncapai klimaks pertamanya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 114: Ingat on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.