Beberapa hari kemudian, pada siang harinya, di halaman White Palace yang rupakan istana kediaman Ratu Kayana.
Aku baru saja turun dari kereta kuda yang ngantarku ke White Palace.
"Kami tunggu disini, Rid. Kamu langsung masuk saja ke kediaman Yang Mulia Ratu," ucap senior Nadine yang sedang berdiri di samping kereta kuda yang ngantarku.
Tidak hanya senior Nadine saja yang berdiri di samping kereta kuda yang ngantarku, tetapi ada juga 3 orang prajurit Duke San Lucia yang berdiri di samping kereta kuda itu. 3 prajurit itu dan senior ditugaskan oleh Duke Louis untuk ngantarku ke kediaman Ratu Kayana.
"Baik," ucapku.
Setelah itu, aku pun berjalan ninggalkan kereta kuda itu untuk nuju ke pintu masuk White Palace.
Alasan kenapa aku sekarang ada di kediaman Ratu Kayana karena pagi hari tadi Ratu Kayana tiba-tiba nghubungiku secara langsung lewat kristal komunikasi yang aku punya. Aku sedikit terkejut karena Ratu Kayana nghubungiku secara langsung, biasanya jika beliau ada perlu denganku, beliau akan nghubungi Duke Louis atau Duchess Arlet. Saat Ratu Kayana nghubungiku, Ratu Kayana mintaku untuk datang ke White Palace hari ini.
Setelah panggilan dari Ratu Kayana berakhir, aku pun langsung bersiap untuk berangkat ke White Palace. Aku mberitahu Duke Louis dan Duchess Arlet terlebih dahulu kalau Ratu Kayana nghubungiku dan mintaku untuk datang ke White Palace. reka berdua pun ngizinkanku untuk pergi ke White Palace. Lalu reka nugaskan senior Nadine dan 3 orang prajurit Duke San Lucia untuk ngawal dan nemaniku pergi ke White Palace.
Awalnya aku sudah bilang ke reka berdua kalau aku tidak perlu ditemani atau dikawal oleh siapapun. Tetapi reka berdua tetap bersikeras, jadi aku pun hanya ngiyakan saja. Irene tidak ikut bersamaku karena dia sedang fokus njalani latihan bersama komandan Mina. Karena Irene tidak ikut, Leandra dan Lily yang rupakan asistennya pun juga tidak ikut. Jadi hanya aku, senior Nadine dan 3 orang prajurit yang nemaniku saja yang pergi ke White Palace.
Lalu tidak lama kemudian, aku pun sampai di pintu masuk White Palace. Di depan pintu masuk White Palace itu, aku lihat Caroline dan beberapa prajurit yang sedang njaga di pintu masuk itu.
"Kakak Rid!," ucap Caroline.
Caroline pun langsung nyapaku begitu aku telah tiba di pintu masuk White Palace.
"Lama tidak jumpa, Carol. Bagaimana kabarmu?," tanyaku.
"Aku baik-baik saja, kakak Rid. Bagaimana dengan kakak Rid?," tanya Caroline.
"Aku juga baik-baik saja. Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada disini, Carol? Apa kamu sedang kebetulan berada disini atau kamu mang sedang nungguku?," tanyaku.
"Aku mang nunggu kakak Rid. Tadi pagi, aku ndengar kalau ibunda minta kakak Rid untuk datang kesini. Karena aku tahu kalau kakak Rid akan datang kesini, jadi aku nunggu disini," ucap Caroline.
"Jadi kamu mang sedang nungguku ya," ucapku.
"Iya. Ah ngomong-ngomong, aku sudah mbaca surat kabar yang mberitakan tentang insiden penyerangan di kerajaan ini beberapa hari yang lalu. Kakak Rid terlihat sangat keren di surat kabar itu. Tidak hanya berhasil ngalahkan tuan Duke Remy yang telah berubah njadi iblis saja, kakak Rid juga telah nyembuhkan banyak orang yang terluka di akademi. Pokoknya kakak Rid benar-benar keren," ucap Caroline.
"Terima kasih atas pujiannya, Carol," ucapku.
Setelah itu, Caroline pun kembali berbicara kepadaku.
"Ngomong-ngomong, kakak Rid, mungkin aku telat untuk ngucapkan ini tetapi selamat atas kelulusanmu dari akademi," ucap Caroline.
"Iya, terima kasih, Carol. Ngomong-ngomong, Carol, dimana Charles dan Chloe? Apa reka ada di dalam?," tanyaku.
Caroline pun langsung njawab pertanyaanku.
"Iya, kakak Charles dan kakak Chloe ada di dalam tetapi saat ini reka sedang latihan. Setelah kakak Charles dan kakak Chloe telah lulus dari akademi, reka selalu njalani latihan tiap harinya," ucap Caroline.
"Begitu ya," ucapku.
"Iya, kakak Rid," ucap Caroline.
Aku pun terdiam setelah ngatakan itu.
Setelah itu, di lorong yang nghubungi pintu masuk White Palace dengan ruangan-ruangan yang ada di dalam White Palace, aku lihat ada 2 orang yang sedang berlari ke arah pintu masuk tempatku dan Caroline berada. 2 orang itu yang sedang berlari itu ternyata adalah Charles dan Chloe.
Tidak lama kemudian, reka yang sedang berlari itu pun kemudian langsung berhenti setelah sampai di tempatku dan Caroline berada. reka berdua terlihat berkeringat dan nafas reka pun juga terengah-engah. Sepertinya yang Caroline katakan itu benar kalau reka sebelumnya sedang berlatih.
"Haaaahh...Haaahhhhh, maaf Rid. Padahal kami berdua sudah tahu kalau kamu mau datang kesini, tetapi kami sampai hampir lupa untuk nyambutmu karena kami sedang fokus untuk latihan," ucap Charles dengan nafas yang terengah-engah.
"Haaaah...haaaahhhhh, tetapi sepertinya kita belum terlambat untuk nyambut Rid, kak," ucap Chloe dengan nafas yang terengah-engah juga.
"Sudah kalian jangan berbicara terlebih dahulu. Sekarang, lebih baik kalian ngatur nafas kalian terlebih dahulu," ucapku.
Aku nyarankan hal itu karena nafas reka terengah-engah. reka pasti sedang sangat kelelahan, maka dari itu aku nyarankan reka untuk ngatur nafas terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, nafas reka pun kembali normal. reka tidak lagi terengah-engah seperti sebelumnya.
"Maafkan kami, Rid. Kami harus nyambutmu dalam keadaan berkeringat dan kelelahan begini," ucap Charles.
"Tidak apa-apa, santai saja, Charles. Justru aku harus ngucapkan terima kasih karena kalian berdua sampai repot-repot untuk nyambutku, padahal kalian berdua sedang fokus untuk latihan," ucapku.
"Sebagai tuan rumah yang baik, sudah sepantasnya kami nyambut tamu yang akan datang ke kediaman kami. Apalagi tamu yang datang ini rupakan teman kami," ucap Chloe.
"Itu benar," ucap Charles.
Aku pun tersenyum setelah reka ngatakan itu. Setelah itu, Charles dan Chloe tiba-tiba terdiam. Tidak lama kemudian, reka berdua tiba-tiba mbungkuk ke arahku.
"Kami berdua minta maaf, Rid," ucap Charles.
Aku sedikit terkejut ketika lihat reka tiba-tiba mbungkuk dan minta maaf. Tidak hanya aku saja, Caroline dan para prajurit yang ada di pintu masuk White Palace pun juga terkejut.
"Ada apa? Kenapa kalian berdua tiba-tiba mbungkuk dan minta maaf?," tanyaku.
"Kami belum minta maaf dengan benar setelah kami bilang kalau impianmu itu adalah hal yang mustahil," ucap Charles.
"Kami benar-benar minta maaf karena telah ngatakan hal itu, Rid," ucap Chloe.
Ternyata reka berdua minta maaf karena reka ngatakan kalau impianku adalah hal yang mustahil. Setelah ndengar perkataan reka itu, aku pun langsung nanggapinya.
"Jadi kalian minta maaf soal itu. Kalian tidak perlu minta maaf, lagipula aku tidak marah sama sekali setelah kalian bilang kalau impianku adalah hal yang mustahil. Aku sudah sering ndapatkan respon seperti itu setelah aku mberitahu tentang impianku. Aku sendiri pun juga tahu kalau impianku adalah hal yang mustahil. Jadi kalian tidak perlu minta maaf. Tolong berdiri kembali karena aku rasa tidak enak," ucapku.
"Tetapi, Rid, kami rasa tidak enak karena sudah ngatakan ini kepada teman kami sendiri. Kami benar-benar ingin minta maaf," ucap Charles.
Charles dan Chloe pun terus mbungkuk. Karena reka tidak berhenti mbungkuk, mau tidak mau sepertinya aku harus nerima permintaan maaf reka.
"Baiklah, aku akan nerima permintaan maaf kalian. Jadi aku minta tolong kalian segera berhenti mbungkuk," ucapku.
Setelah itu, Charles dan Chloe pun langsung berhenti mbungkuk.
"Terima kasih karena telah nerima permintaan maaf kami, Rid," ucap Chloe.
"Sama-sama, Chloe," ucapku.
"Jujur, setelah kami ndengarkan tentang impianmu dan kemudian ngatakan itu, kami jadi rasa canggung kepadamu. Setelah kita semua pergi dari akademi pun, rasa canggung masih landa pikiran kami. Kami ingin minta maaf dengan benar kepadamu, tetapi kami tidak tahu kapan bisa bertemu denganmu lagi. Kami bisa saja datang ke kediaman tuan Louis untuk minta maaf kepadamu, tetapi kami masih fokus untuk njalani latihan disini. Untungnya hari ini ibunda mintamu untuk datang kesini, jadi kami bisa minta maaf dengan benar kepadamu," ucap Charles.
"Jadi kalian rasa canggung setelah itu ya. Ini kesalahanku karena telah mberitahu impianku kepada kalian. Seharusnya aku tetap rahasiakan impianku kepada kalian," ucapku.
"Tidak, ini bukan kesalahanmu, Rid. Ini kesalahan kita yang penasaran tentang impianmu itu," ucap Charles.
"Itu benar, kamu tidak bersalah sama sekali, Rid," ucap Chloe.
"Ngomong-ngomong, Noa, Kotaro, Julie dan Lillian pastinya juga masih rasa canggung kepadamu. reka mungkin juga ingin minta maaf kepadamu tetapi reka tidak tahu kapan akan bertemu denganmu lagi. reka bisa saja tiba-tiba datang ke kediaman tuan Louis untuk minta maaf kepadamu," ucap Charles.
"Jika reka datang ke kediaman paman Louis, aku akan dengan senang nyambut reka," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, Caroline yang masih berada di dekat kami bertiga tiba-tiba berbicara.
"Kakak Charles dan kakak Chloe minta maaf karena telah ngatakan kalau impian kakak Rid adalah hal yang mustahil. mangnya impian kakak Rid itu apa?," tanya Caroline.
Setelah ndengar perkataan Caroline, aku lalu ndekatkan jari telunjuk tangan kananku ke bibirku dan kemudian ngatakan sesuatu kepada Caroline.
"Itu rahasia, Carol," ucapku.
ndengar jawabanku itu, Caroline terlihat sedikit kesal.
"Ih, aku juga ingin tahu," ucap Caroline.
Aku, Charles dan Chloe pun langsung tertawa setelah ndengar perkataan Caroline. Kemudian, kami pun berbincang sesaat. Setelah itu, Charles, Chloe dan Caroline mbawaku masuk ke dalam White Palace. reka bertiga ngantarkanku ke ruangan tempat Ratu Kayana berada.
Tidak lama kemudian, kami pun telah sampai di depan pintu ruangan tempat Ratu Kayana. Charles kemudian ngetuk pintu ruangan itu.
*Tok *Tok *Tok
"Ibunda, ini aku. Aku sudah mbawa Rid untuk datang nemui ibunda," ucap Charles.
Setelah itu, suara Ratu Kayana tiba-tiba terdengar dari dalam ruangan itu.
"Tolong suruh dia untuk masuk, Charles," ucap Ratu Kayana.
"Baik, ibunda," ucap Charles.
Setelah itu, Charles mintaku untuk segera masuk ke dalam ruangan itu.
"Ibunda barusan nyuruhmu untuk segera masuk ke dalam, Rid. Aku dan Chloe hanya bisa ngantar sampai sini saja karena kami berdua harus lanjut latihan. Caroline pun juga sama, katanya dia juga ingin ikut latihan bersama kami," ucap Charles.
"Iya, itu benar. Aku akan ikut latihan bersama kakak Charles dan kakak Chloe, jadi kami hanya bisa ngantar kakak Rid sampai sini saja," ucap Caroline.
"Lagipula ibunda hanya ada perlu denganmu saja, Rid. ski kami sedang luang pun kami pasti tidak boleh ikut masuk ke dalam," ucap Chloe.
"Itu benar," ucap Charles.
"Ya sudah, terima kasih karena telah ngantarku sampai kesini," ucapku.
"Sama-sama, Rid. Ya sudah, kami pergi dulu ke tempat latihan. Setelah kamu sudah selesai berbicara dengan ibunda, datanglah ke tempat latihan kami untuk sekedar lihat-lihat," ucap Charles.
"Baiklah, nanti aku akan kesana," ucapku.
"Ya sudah, kalau begitu sampai nanti, Rid," ucap Charles.
"Sampai nanti, Rid," ucap Chloe.
"Sampai nanti, kakak Rid," ucap Caroline.
"Iya, sampai nanti, kalian bertiga," ucapku.
Setelah itu, Charles, Chloe dan Caroline pun langsung langkah pergi ninggalkanku. Setelah reka bertiga sudah langkah pergi, aku lalu ngetuk pintu ruangan tempat Ratu Kayana berada.
*Tok *Tok *Tok
Setelah ngetuk pintu itu, aku lalu mbuka pintu itu.
"Permisi," ucapku.
Setelah mbuka pintu itu, aku lihat Ratu Kayana yang sedang duduk di kursi yang ada di tengah ruangan itu. Di ruangan itu tidak hanya ada Ratu Kayana saja, tetapi ada juga komandan Oliver yang saat ini sedang berdiri di samping Ratu Kayana.
"Silahkan masuk, Rid," ucap Ratu Kayana.
Setelah itu, aku pun nutup pintu ruangan itu dan langkah nghampiri Ratu Kayana. Di tengah ruangan tempat Ratu Kayana duduk, ada 2 kursi lain. Di tengah 2 kursi itu dan kursi yang diduduki oleh Ratu Kayana ada sebuah ja yang sudah dipenuhi oleh banyak camilan seperti kue. Salah satu dari 2 kursi itu terlihat kosong, belum ada yang ndudukinya. Namun satu kursi lagi terlihat sudah ada yang ndudukinya. Orang yang ndudukinya saat ini sedang duduk mbelakangiku, jadi aku tidak tahu siapa orang yang sedang duduk itu. Namun tidak lama kemudian, orang yang sedang duduk itu lalu noleh ke belakang untuk lihatku. Ternyata orang itu adalah nona Karina.
"Nona Karina?," ucapku sedikit terkejut.
"Halo, Rid. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita berdua saling ngucapkan salam perpisahan dan berjanji untuk berjumpa lagi suatu saat nanti. Tetapi sekarang kita sudah berjumpa kembali saja," ucap nona Karina.
"Iya, aku tidak nyangka kalau aku akan kembali bertemu dengan anda secepat ini. Ngomong-ngomong, kenapa anda ada disini, nona?," tanyaku.
"Aku disini untuk mbahas segala sesuatu tentang akademi dengan kakak," ucapku.
Aku sedikit terkejut setelah ndengar nona Karina ngatakan ’kakak’. Aku tahu kalau nona Karina dan Ratu Kayana adalah adik-kakak, tetapi di ruangan ini saat ini sedang ada komandan Oliver. Jika nona Karina ngatakan itu dengan jelas, hubungannya yang sebenarnya dengan Ratu Kayana akan diketahui oleh komandan Oliver.
Namun, nona Karina sepertinya tahu kalau aku sedang khawatir tentang itu. Dia lalu kembali ngatakan sesuatu kepadaku.
"Kamu tidak perlu khawatir, Rid. Tuan Oliver tahu soal hubunganku yang sebenarnya dengan kakak. Lagipula beliau sudah cukup lama njadi komandan tertinggi. Beliau sudah tahu seluk beluk keluarga kami," ucap nona Karina.
Ternyata komandan Oliver sudah tahu kalau nona Karina dan Ratu Kayana adalah adik-kakak.
"Itu benar. Daripada itu, kelihatannya kamu sudah tahu kalau Yang Mulia Ratu dan putri Karina rupakan adik-kakak, tuan muda Rid. Kalau begitu, aku tidak perlu berpura-pura manggil putri Karina dengan panggilan ’kepala akademi’," ucap komandan Oliver.
"Berhenti manggilku dengan sebutan ’putri’, tuan Oliver. Aku saat ini sudah bukan bagian dari keluarga San Estella lagi," ucap nona Karina.
"ski begitu, hal itu tidak nutup fakta kalau anda tetap miliki darah bangsawan di tubuh anda. Anda tetap rupakan seorang putri bangsawan dari keluarga San Estella," ucap komandan Oliver.
Nona Karina langsung nghela nafas setelah ndengar perkataan komandan Oliver.
"Haaaahh...ya sudahlah, terserah anda saja. Anda boleh manggil saya seperti itu jika saya sedang bersama dengan orang-orang yang ngetahui hubungan saya dengan kakak. Tetapi tolong jangan manggil saya seperti itu jika saya sedang bersama dengan orang-orang yang tidak ngetahui hubungan saya dengan kakak," ucap nona Karina.
"Baik, putri Karina. Saya berjanji," ucap komandan Oliver.
Setelah itu, baik nona Karina dan komandan Oliver pun tidak berbicara kembali. Karena reka berdua sudah tidak berbicara, kini giliran Ratu Kayana yang berbicara.
"Kelihatannya kalian berdua sudah selesai berargun. Baguslah kalau begitu, karena jika kalian terus berargun seperti tadi, aku jadi tidak miliki kesempatan untuk berbicara dengan Rid," ucap Ratu Kayana.
Nona Karina dan komandan Oliver hanya terdiam setelah ndengar perkataan Ratu Kayana.
"Karena kalian sudah tenang, ini waktunya bagiku untuk berbicara dengan Rid. Sebelum itu, silahkan duduk dulu, Rid," ucap Ratu Kayana.
Ratu Kayana nawarkanku untuk duduk di bangku yang kosong.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Setelah itu, aku pun langsung langkah ke bangku yang kosong dan kemudian langsung duduk di bangku itu. Setelah aku duduk, Ratu Kayana mulai berbicara kembali.
"Awalnya aku hanya ditemani oleh tuan Oliver saja ketika ingin berbicara denganmu. Tetapi Karina mutuskan untuk ikut hadir juga di ruangan ini setelah aku mberitahunya kalau aku minta kamu untuk datang ke kediaman ini. Sepertinya dia sangat penasaran dengan hal yang ingin kubicarakan denganmu, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Iya, aku sangat penasaran dengan apa yang ingin kamu bicarakan dengan mantan muridku, kakak. Kamu bahkan minta Rid secara langsung untuk datang ke kediamanmu ini. Pasti ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan Rid," ucap nona Karina.
Ratu Kayana lalu tersenyum setelah ndengar perkataan nona Karina.
"Iya, mang ada hal yang penting. Tetapi sebelum itu, izinkan aku untuk ngucapkan terima kasih lagi atas kontribusimu dalam insiden penyerangan di kerajaan ini beberapa hari yang lalu. ski bukan kamu yang telah ngalahkan tuan Remy, tetapi kamu berhasil lawan tuan Remy seorang diri sebelum tuan Remy tewas dibunuh oleh salah satu komandan pasukan iblis itu.
"Tidak hanya itu, kamu juga telah nyembuhkan semua orang yang terluka di akademi termasuk aku, Karina dan tuan Oliver. Kamu bahkan juga telah nyambungkan kembali lengan tuan Oliver yang telah terpotong. Aku sebagai Ratu kerajaan ini benar-benar ngucapkan terima kasih atas kontribusimu ini,"
"Aku akan mberikanmu hadiah atas kontribusimu ini. Aku minta maaf karena aku baru bisa mberikannya sekarang karena sebelumnya aku sedang sibuk untuk ngurus dan mulihkan seluruh wilayah kerajaan ini setelah terjadinya insiden penyerangan itu,"
"Apa kamu nginginkan sesuatu untuk hadiah kontribusimu itu? Katakan saja jika kamu nginginkan sesuatu," ucap Ratu Kayana.
Aku pun terdiam sesaat setelah Ratu Kayana ngatakan itu. Tidak lama kemudian, aku mulai berbicara kembali.
"Jika aku bilang kalau aku tidak mbutuhkan hadiah, pasti anda akan terus maksaku agar aku mau nerima hadiah yang diberikan oleh anda. Aku sebelumnya sudah nerima cukup banyak hadiah berupa uang. Uang yang kupunya dari hadiah itu pun masih tersisa sangat banyak. Jadi aku kali ini tidak akan minta hadiah uang lagi," ucapku.
"Lalu hadiah apa yang kamu inginkan, Rid?," tanya Ratu Kayana.
"Aku nginginkan sebuah pedang untuk hadiahku, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Ratu Kayana terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataanku. Tidak hanya Ratu Kayana saja, komandan Oliver dan nona Karina juga terlihaf sedikit terkejut.
"Sebuah pedang?," tanya Ratu Kayana.
"Iya. Aku nginginkan sebuah pedang untuk njadi senjataku dalam perjalananku untuk wujudkan impianku. Aku mang ndapatkan pedang dari akademi, pedang itu adalah pedang yang sering aku gunakan ketika di akademi. Tetapi pedang dari akademi berbeda dari pedang asli, baik itu dari ketahanan maupun ketajamannya. Aku nginginkan pedang yang asli yang miliki ketajaman dan ketahanan yang sangat kuat untuk njadi senjataku," ucapku.
"Hmmm sebuah pedang ya," ucap Ratu Kayana.
Ratu Kayana lalu terdiam sambil mikirkan sesuatu. Ketika Ratu Kayana terdiam, aku pun juga terdiam sambil mikirkan sesuatu.
"minta pedang sebagai hadiah bukanlah ide yang buruk. Pedang itu nanti akan njadi senjata utamaku dalam perjalananku untuk wujudkan impianku. Aku mang mpunyai dua buah pedang yang rupakan peninggalan kedua orang tuaku. Tetapi jika aku makai kedua pedang itu sebagai senjata utamaku, kedua pedang itu pasti akan narik perhatian banyak orang. Jadi aku mutuskan untuk tidak akan makai kedua pedang itu sebagai senjata utamaku. Aku akan njadikan kedua pedang itu sebagai senjata rahasiaku," pikirku.
Lalu tidak lama kemudian, Ratu Kayana pun kembali berbicara.
"Baiklah, aku akan mberikanmu sebuah pedang. Aku akan mberikanmu salah satu pedang yang rupakan harta kerajaan ini sekaligus harta keluargaku," ucap Ratu Kayana.
Nona Karina dan komandan Oliver terlihat terkejut setelah ndengar perkataan Ratu Kayana.
"Apa anda serius, Yang Mulia Ratu?,"
"Apa kamu serius akan mberikan salah satu harta kerajaan kepada Rid, kakak?," tanya nona Karina.
"Iya, aku serius. Lagipula pedang yang rupakan harta kerajaan ini saat ini sedang tidak terpakai. ski salah satu dari pedang itu telah njadi milikmu, masih ada beberapa pedang lagi yang belum terpakai. Daripada tidak terpakai, alangkah baiknya aku mberikan salah satu pedang itu kepada Rid. Lagipula aku mberikan pedang itu sebagai hadiah atas kontribusi Rid dalam insiden penyerangan beberapa hari yang lalu. Tentu kalian tidak keberatan kan kalau aku mberikan pedang itu sebagai hadiah kontribusi?," tanya Ratu Kayana.
Komandan Oliver dan nona Karina pun terdiam sesaat setelah ndengar perkataan Ratu Kayana. Tidak lama kemudian, reka berdua kembali berbicara.
"Jika anda mang ingin mberikan salah satu dari pedang itu, maka saya tidak keberatan," ucap komandan Oliver.
"Aku juga tidak keberatan apabila kakak mau mberikan pedang itu. Aku sebelumnya terkejut karena aku tidak nyangka kalau kakak akan mberikan pedang yang rupakan harta kerajaan itu," ucap nona Karina.
"Karena kalian berdua setuju, maka sudah diputuskan kalau aku akan mberikan salah satu pedang yang rupakan harta kerajaan kepada Rid. Setelah obrolan di ruangan ini selesai, kamu ikutlah bersama kami ke ruangan penyimpanan harta kerajaan untuk milih salah satu dari pedang itu, Rid," ucap Ratu Kayana.
Setelah Ratu Kayana ngatakan itu, kini giliranku untuk berbicara.
"Apa tidak apa-apa bagiku untuk nerima pedang yang rupakan salah satu harta kerajaan, Yang Mulia Ratu? Aku mang minta sebuah pedang sebagai hadiah kontribusi yang aku lakukan, tetapi aku tidak nyangka kalau aku akan diberikan pedang yang rupakan harta kerajaan," ucapku.
"Tidak apa-apa. Seperti yang aku bilang sebelumnya, pedang-pedang ini saat ini sedang tidak terpakai. Daripada tidak terpakai, lebih baik aku mberikannya kepadamu. Lagipula pedang itu lebih baik digunakan sebagai senjata daripada hanya dipajang saja," ucap Ratu Kayana.
"Baiklah, Yang Mulia Ratu. Aku nanti akan ikut ke ruangan penyimpanan kerajaan untuk milih salah satu dari pedang itu dan nerimanya," ucapku.
"Baguslah kalau kamu akan nerimanya. Daripada itu, Rid, aku penasaran dengan perkataanmu sebelumnya. Kamu bilang kamu mbutuhkan sebuah pedang sebagai senjata dalam perjalananku untuk wujudkan impianmu. mangnya apa impianmu, Rid?," tanya Ratu Kayana.
"Aku juga penasaran soal itu. Sebelumnya aku belum sempat untuk nanyakan tentang impianmu atau apa yang akan kamu lakukan setelah lulus dari akademi," ucap nona Karina.
Aku pun terdiam setelah ndengar perkataan Ratu Kayana dan nona Karina.
"Yang Mulia Ratu nanyakan tentang impianku. Apa Charles dan Chloe tidak mberitahu tentang impianku kepada Yang Mulia Ratu sehingga beliau belum tahu? Atau mungkin beliau sudah tahu tetapi beliau ingin nanyakannya lagi?,"
"Apapun itu, sepertinya aku harus tetap mberitahu tentang impianku itu kepada Yang Mulia Ratu," pikirku.
Tidak lama setelah mikirkan itu, aku lalu kembali berbicara.
"Impianku adalah nyatukan dunia ini dan mbuat seluruh dunia ini njadi damai, Yang Mulia Ratu," ucapku.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)