Font Size
15px

Keesokan paginya, di tempat yang dulunya dikenal sebagai desa Aston.

Setelah desa Aston hancur akibat diserang oleh orang-orang suruhan Duke Remy, desa Aston tidak dibangun ulang kembali. Ratu Kayana awalnya mberikan tawaran kepada Rid untuk mbangun ulang desa Aston. Tetapi Rid minta Ratu Kayana untuk tidak perlu mbangun ulang desa Aston. Lagipula, seluruh penduduk desa Aston telah tewas akibat diserang oleh orang-orang suruhan Duke Remy. skipun desa Aston dibangun kembali, reka yang sudah tewas tidak akan pernah kembali lagi. Jika desa Aston dibangun kembali, yang njadi penduduknya hanyalah orang-orang baru karena orang-orang lama yang Rid kenal sudah tidak ada lagi. Suasana desa pun pastinya akan jauh berbeda dari yang sebelumnya. Jadi Rid minta kepada Ratu Kayana untuk tidak mbangun desa Aston lagi.

Sekarang, desa Aston yang telah hancur telah berubah njadi padang rumput yang cukup luas. Persawahan dan perkebunan yang ada di desa Aston pun juga telah berubah njadi padang rumput karena persawahan dan perkebunan itu juga ikut hancur setelah diserang oleh orang-orang suruhan Duke Remy. Di tengah-tengah padang rumput itu, ada sebuah taman bunga yang berukuran sedikit luas. Di taman bunga itu, ada papan pengingat yang cukup besar. Papan pengingat itu mberitahu kalau di tempat itu dulunya ada sebuah desa yang bernama desa Aston.

-

Sentara itu, di pemakaman desa Aston.

Aku saat ini sedang berdiri di depan makam kakekku.

"Aku sudah lulus dari akademi, kek. Sayang sekali kakek tidak bisa nyaksikan secara langsung setelah aku lulus dari akademi,"

"Setelah ini aku akan lakukan persiapan sebelum wujudkan impianku. Aku benar-benar akan wujudkan impianku yaitu mbuat dunia ini njadi damai. Kakek sebelumnya juga berharap kalau aku bisa wujudkan kedamaian bukan hanya di kerajaan ini saja, lainkan juga di seluruh dunia. Saat ini, di kerajaan ini bisa dikatakan telah njadi damai. Sistem perbudakan telah dihapuskan dan kebijakan diskriminasi pun telah diubah njadi kebijakan anti diskriminasi. Sayang sekali, kakek tidak bisa nyaksikan secara langsung perubahan yang terjadi di kerajaan ini,"

"Karena kerajaan ini telah njadi damai, maka tinggal seluruh dunia ini saja. Aku berjanji kepadamu kalau aku akan wujudkan kedamaian di seluruh dunia ini. Untuk lakukan itu, aku akan pergi ndatangi semua kerajaan atau negara yang ada di dunia ini, baik itu di benua utara ataupun di benua selatan. Karena aku akan ngelilingi dunia ini, mungkin aku akan sekalian ncari kedua orang tuaku. Kakek bilang reka berdua masih hidup kan? Maka aku akan sekalian ncari reka sambil wujudkan impianku,"

"Itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu, kek. Sekarang, aku harus kembali dulu. Tetapi sebelum itu, aku akan ngunjungi reka semua terlebih dahulu,"

"Sampai jumpa, kek. Aku berjanji kalau aku akan datang kesini lagi nanti," ucapku.

Setelah itu, aku secara perlahan mulai pergi ninggalkan makam kakekku. Aku lalu berjalan ke bagian pemakaman yang lain. Bagian pemakaman yang aku datangi ini rupakan makam-makan dari penduduk desa Aston yang telah dibunuh oleh orang suruhan Duke Remy. Aku lalu berdiri di hadapan makam-makam itu.

"Halo, semuanya. Aku datang kesini untuk ngunjungi kalian semua. Aku ingin mberitahu kepada kalian kalau kemarin aku telah lulus dari akademi. Jika saja kalian semua masih hidup, mungkin kemarin sampai sekarang kalian masih rayakan kelulusanku di desa ini. Pesta perayaannya pasti sangatlah riah, aku bisa mbayangkannya,"

"Tetapi sayang sekali, kalian tidak bisa rayakan kelulusanku secara langsung. Namun, kalian saat ini pasti sedang rayakannya ’disana’. Kalian tidak perlu ngkhawatirkanku. Aku sudah rayakan kelulusanku di kediaman tuan Duke Louis yang rupakan Duke San Lucia. Aku saat ini tinggal di kediaman beliau,"

"Sekarang, setelah lulus, aku akan mpersiapkan diri untuk wujudkan impianku yaitu untuk mbuat dunia ini njadi damai. Aku masih ngingat dengan jelas ketika waktu dulu aku mberitahukan tentang impianku, kalian langsung nertawakanku terutama Eric dan yang lainnya. Saat ini pun aku yakin kalau kalian sedang tertawa ’disana’. Tetapi aku akan mbuktikannya, aku akan mbuktikan kalau aku bisa wujudkan impianku. Lalu setelah aku berhasil wujudkan impianku, aku akan datang kesini dan mbanggakannya di depan kalian," ucapku sambil tersenyum.

Setelah itu, aku terdiam sambil lihat dan mperhatikan makam reka semua. Tidak lama kemudian, aku mulai berbicara kembali.

"Itu saja yang ingin aku katakan kepada kalian. Sekarang aku harus kembali ke kediaman tuan Duke Louis. Aku akan ngunjungi kalian lagi nanti. Sampai jumpa, kalian semua," ucapku.

Setelah itu, aku pun berbalik dan mulai ninggalkan makam reka semua. Namun, baru beberapa langkah aku ninggalkan makam reka semua, aku kembali noleh ke makam kalian.

"Aku lupa untuk nyampaikan ini. Tuan Duke Remy yang rupakan dalang dari penyerangan desa Aston dan juga dalang dari pembunuhan kalian semua, telah mati. skipun bukan aku sendiri yang mbunuhnya tetapi setidaknya aku sudah mbuatnya babak belur terlebih dahulu. Sekarang kalian semua bisa tenang karena orang yang njadi dalang pembunuhan kalian telah mati," ucapku.

Setelah itu, aku lanjutkan langkahku kembali untuk ninggalkan makam reka. Tidak hanya ninggalkan makam reka saja, aku terus langkah untuk ninggalkan pemakaman desa Aston.

Tidak lama kemudian, aku pun sampai di taman bunga yang dibangun di atas tanah yang dulunya rupakan desa Aston. Terlihat ada Irene, Leandra, Lily dan senior Nadine di taman bunga itu. reka bisa ada di taman bunga itu karena reka ikut bersamaku ketika aku mutuskan untuk pergi ke pemakaman desa Aston. Awalnya hanya Irene saja yang ingin ikut, lalu diikuti oleh Leandra dan Lily dan selanjutnya senior Nadine juga diperintahkan ikut oleh Duke Louis untuk ngawal dan njaga kami. skipun reka ikut denganku, reka mutuskan untuk nunggu di taman bunga itu ketika aku ingin ngunjungi pemakan desa Aston. Saat ini, reka semua sedang lihat-lihat bunga di taman bunga itu.

Ketika aku sampai di taman bunga itu, Irene yang sebelumnya sedang lihat-lihat bunga di taman bunga itu lalu noleh ke arahku.

"Kamu sudah kembali, Rid. Apa kamu sudah ngunjungi makam kakek dan orang-orang yang ada di desamu?," tanya Irene.

"Iya, aku sudah ngunjungi reka semua," ucapku.

"Begitu ya. Karena kamu sudah ngunjungi reka semua, apa kamu ingin kembali sekarang?," tanya Irene.

"Iya, ayo kita kembali sekarang," ucapku.

"Baiklah," ucap Irene.

Setelah itu, kami semua pun langkah pergi dari taman bunga itu untuk nuju kereta kuda yang ngantarkan kami sebelumnya. Setelah kami sudah naiki kereta kuda itu, kereta kuda yang kami naiki pun mulai bergerak mbawa kami untuk kembali ke kediaman Duke Louis.

-

Sentara itu, di gereja Angelica Castitat.

Di salah satu ruangan yang ada di dalam gereja itu, terlihat ada Holy Maiden yang sedang sebuah kursi. Di depan Holy Maiden, ada seseorang yang juga sedang duduk di kursi. Orang yang ada di depan Holy Maiden itu sedang mbaca surat kabar. Dia sedikit ngangkat surat kabar itu ketika mbacanya sehingga wajahnya tidak terlihat. Holy Maiden yang berada di hadapannya pun tidak bisa lihat wajahnya, dia hanya bisa lihat bagian atau halaman belakang dari surat kabar yang orang itu baca. Surat kabar yang dibaca oleh orang itu terlihat seperti surat kabar yang berasal dari kerajaan San Fulgen.

Di depan Holy Maiden dan orang yang sedang mbac surat kabar itu ada sebuah ja. Di atas ja yang berada di depan reka berdua, terlihat ada 2 cangkir yang berisi minuman dan juga beberapa cemilan seperti kue. Yang berarti Holy Maiden sedang njamu orang yang ada di depannya itu karena dia sampai repot-repot nyiapkan cemilan dan minuman. Selain cemilan dan minuman, di atas ja itu juga ada 2 buah buku catatan berukuran kecil. 2 buah buku catatan itu terlihat seperti buku catatan yang sebelumnya diberikan oleh Laviena kepada Holy Maiden.

Holy Maiden yang sedang duduk di kursi itu terlihat sedang tidak nutup kedua matanya dengan kain putih. Kedua bola matanya yang berwarna emas dan pupil matanya yang berwarna putih dengan bentuk ’ ’ pun jadi terlihat jelas. Holy Maiden saat ini sedang ngambil cangkir yang ada di hadapannya. Kemudian, Holy Maiden minum air dari cangkir itu. Setelah itu, Holy Maiden naruh cangkir itu lagi di atas ja yang ada di hadapannya.

"Haaaahhhh, berpura-pura njadi manusia itu ternyata sangat lelahkan," ucap Holy Maiden sambil nghela nafasnya.

Setelah Holy Maiden ngatakan itu, orang yang ada di depan Holy Maiden tiba-tiba berbicara.

"Iya, iya, sudah cukup ngeluhnya, Miraela. Kenapa kamu selalu ngeluh kepadaku ketika aku datang nghampirimu?," tanya orang itu.

Suara orang itu terdengar seperti suara wanita. Selain itu, ndengar orang itu manggil Holy Maiden dengan nama Miraela, dapat dipastikan kalau Miraela rupakan nama asli dari Holy Maiden.

"Karena hanya dengan anda saja saya bisa ngeluh, putri. Apalagi anda juga sering ngunjungi saya. Jika saya ngeluh kepada ’Archangel Commanders’ yang lain, entah apa yang akan terjadi kepada saya," ucap Holy Maiden atau Miraela.

"Hmmm mungkin reka akan langsung mberitahu Ibunda kalau kamu ngeluh tentang tugas yang diberikan langsung oleh Ibunda. Jika Ibunda tahu kalau kamu ngeluh, entah apa yang akan terjadi kepadamu. Bahkan aku pun tidak bisa mbantumu jika sesuatu terjadi kepadamu setelah Ibunda tahu kalau kamu ngeluh tentang tugas yang diberikannya," ucap orang itu.

Miraela terlihat sedikit takut dan khawatir setelah ndengar perkataan orang itu.

"Untungnya saya hanya ngeluh kepada anda, putri," ucap Miraela.

"Kenapa kamu rasa untung? Setelah ini, bisa saja aku mberitahu kepada Ibunda," ucap orang itu.

Miraela pun semakin khawatir dan cemas setelah ndengar perkataan orang itu.

"T-tunggu, tolong jangan beritahu kepada Yang Mulia Ratu, putri," ucap Miraela.

Orang itu tiba-tiba tertawa setelah ndengar perkataan Miraela.

"Ahahaha, tenang saja, Miraela. Barusan aku cuma bercanda saja. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan mberitahu kepada Ibunda. Lagipula selama ini aku sudah sering ndengar keluhanmu dan aku tidak pernah satu kali pun mberitahu kepada Ibunda tentang keluhanmu itu," ucap orang itu.

Miraela yang sebelumnya sangat cemas dan khawatir pun kini terlihat lega.

"Syukurlah. Saya pikir anda akan benar-benar mberitahu Yang Mulia Ratu," ucap Miraela.

"Tidak akan pernah. Lagipula wajar bagimu untuk ngeluh. Kamu sudah cukup lama njalankan tugas yang diberikan oleh Ibunda. Kamu terus bekerja keras disini sentara reka yang ada di atas sana hanya bermalas-malasan saja. reka mungkin lakukan patroli ke setiap ’pulau langit’ tetapi reka tidak pernah lakukan patroli di daratan benua utara ini. reka jarang sekali turun kesini. Sekalinya reka turun, reka malah mbuat kekacauan dan mbuat reputasi ras Malaikat njadi buruk," ucap orang itu.

Miraela kembali cemas dan khawatir setelah ndengar perkataan orang itu.

"Saya tidak nyangka anda berani ngatakan hal seperti itu, putri," ucap Miraela.

"Yah faktanya mang seperti itu," ucap orang itu.

Miraela lalu nghela nafasnya.

*Haaaahhhhhh

Setelah itu, dia kembali ngambil cangkir yang ada di depannya dan kembali minum air yang ada di cangkir itu. Lalu, dia pun naruh cangkir itu kembali. Kemudian, Miraela lihat dan natap ke arah orang itu.

"Ngomong-ngomong, putri, mau sampai kapan anda lihat dan mbaca surat kabar itu?," tanya Miraela.

"Sampai aku puas. mangnya ada apa?," ucap orang itu.

"Tidak apa-apa. Saya hanya bingung saja anda sejak tadi terus lihat dan mbaca surat kabar itu. Dari awal anda datang kesini dan lihat surat kabar itu, anda langsung mbacanya. Bahkan ketika saya njelaskan tentang apa yang terjadi di kerajaan itu, anda terus mbaca surat kabar itu. Tetapi daripada mbaca, lebih tepat kalau anda hanya sekedar lihat surat kabar itu karena sejak tadi anda terus lihat halaman yang sama pada surat kabar itu. Anda sama sekali tidak beralih ke halaman yang lain," ucap Miraela.

Orang itu pun terdiam sambil terus lihat ke surat kabar yang sedang dipegangnya. Orang itu terdiam cukup lama sampai mbuat Miraela harus manggilnya lagi.

"Putri!," ucap Miraela.

Orang itu terus terdiam skipun telah dipanggil oleh Miraela. lihat orang itu yang terus terdiam, Miraela lalu berdiri dari duduknya. Kemudian, dia raih surat kabar yang dipegang oleh orang itu lalu nurunkan surat kabar itu ke atas ja.

"Putri Archiela!," ucap Miraela.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 492 : Papan Pengingat Sebuah Desa on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mercenary’s War cover
Similar genre

Mercenary’s War

Just Like Water ·Action

GaoYangwasamilitaryenthusiast,anordinaryone,wholovedknives,guns,andadventure. Inanaccident,GaoYangfoundhimselfinAfrica,whereheunfortunatelyexperien...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.