Setelah beberapa nit terdiam sambil mikirkan pilihan yang tepat, aku pun mutuskan untuk lewati orang-orang yang ncurigakan itu tanpa lakukan apa-apa kepada reka. Alasannya karena aku tidak tahu siapa identitas reka yang sebenarnya. Bisa saja reka adalah orang-orang dari gereja Sancta Lux yang nyamar sebagai orang biasa. Jika aku lakukan sesuatu kepada reka seperti nyerang reka secara tiba-tiba, hal itu hanya akan nambah masalah saja. Apalagi Duke Louis juga sudah mperingatiku agar aku tidak mbuat masalah kepada reka.
Lalu, aku pun kini terus berjalan nuju gerbang belakang kediaman Duke Louis. Ketika aku sedang berjalan, aku rasakan kalau orang-orang ncurigakan yang sedang berada di sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis sedang lihat dan mperhatikanku. Untungnya saat ini aku sedang ngenakan jubah panjang dan aku pun juga berjalan sambil nundukkan sedikit kepalaku, jadi reka tidak akan ngenali siapa aku kecuali reka mutuskan untuk ndekatiku dan lihat wajahku dari dekat. Tetapi hingga aku sudah sampai di gerbang belakang akademi, orang-orang ncurigakan itu untungnya hanya lihat dan mperhatikanku saja tanpa ndekatiku.
Lalu, ketika aku sudah sampai di gerbang belakang akademi, aku lalu minta tolong kepada para prajurit yang njaga gerbang itu untuk segera mbuka gerbang itu.
"Tuan prajurit, aku minta tolong untuk mbuka buka gerbang ini," ucapku.
Para prajurit yang sedang njaga gerbang itu pun noleh ke arahku setelah ndengar suaraku. reka terlihat bingung ketika lihatku yang berada di balik gerbang belakang kediaman Duke Louis.
"Siapa kamu ?," tanya salah satu prajurit itu.
Prajurit itu sepertinya tidak ngenali aku. Yah itu masuk akal karena saat ini aku masih nundukkan sedikit kepalaku yang mbuat wajahku tidak terlihat jelas. Setelah prajurit itu nanyakan itu, aku pun langsung kembali naikkan kepalaku agar wajahku terlihat jelas oleh para prajurit itu.
"Ini aku," ucapku.
Para prajurit itu pun lalu lihat ke wajahku. Setelah itu, barulah reka ngetahui siapa aku setelah lihat wajahku dengan jelas.
"Rupanya itu kamu, R-," ucap salah satu prajurit itu.
Tetapi belum sempat prajurit itu nyelesaikan perkataannya, aku dengan cepat langsung ndekatkan jari telunjuk tangan kananku ke arah bibirku sebagai kode agar prajurit itu diam. Prajurit itu untungnya ngerti dengan kode yang aku buat. Prajurit itu pun langsung ngangguk dan dia pun tidak lagi berbicara. Setelah itu, beberapa prajurit yang njaga gerbang belakang kediaman Duke Louis pun langsung mbuka gerbang belakang itu. Setelah gerbang itu terbuka, aku pun langsung masuk lewati gerbang yang terbuka itu. Lalu, setelah lewati gerbang itu, aku lalu ndekati beberapa prajurit yang njaga gerbang kediaman itu dan aku pun mulai berbicara dengan suara yang pelan.
"Maafkan aku karena sebelumnya telah nyuruh anda untuk diam, tuan prajurit. Itu karena di luar sana ada beberapa orang ncurigakan yang sedang lihat dan mperhatikan kediaman ini. reka kemungkinan adalah orang-orang yang ngincarku, maka dari itu aku minta anda untuk diam ketika anda hendak nyebut namaku sebelumnya. Tetapi bisa juga reka bukan ngincarku, lainkan ngincarkan orang lain yang tinggal di kediaman ini. Intinya, tuan prajurit sekalian harus hati-hati dan waspada. Orang-orang ncurigakan itu seharusnya bisa dilihat oleh kalian dari sini. Beberapa dari reka ada yang sedang ngobrol ataupun sedang njalani aktivitas lainnya. Tolong waspadailah reka," ucapku.
Para prajurit yang ndengar perkataanku pun langsung noleh ke luar gerbang belakang kediaman Duke Louis untuk lihat orang-orang ncurigakan yang aku bilang.
"Begitu ya. Kami semua sebelumnya juga rasa kalau orang-orang itu adalah orang-orang ncurigakan karena reka sudah lama terus berada disitu. Terima kasih atas peringatannya, Rid Archie, kami akan terus waspadai reka dan ncegah reka apabila reka berniat untuk lakukan hal yang berbahaya di gerbang belakang ini seperti berniat untuk maksa masuk ke dalam kediaman ini," ucap prajurit itu.
"Iya, sama-sama, tuan prajurit. Kalau begitu aku masuk ke dalam kediaman dulu, tuan prajurit. Terima kasih karena sebelumnya telah mbukakan gerbang untukku," ucapku.
"Iya, sama-sama," ucap prajurit itu.
Setelah itu, aku pun langsung berjalan untuk nuju ke pintu masuk kediaman Duke Louis.
Sentara itu, disaat Rid sedang berjalan nuju pintu masuk kediaman Duke Louis, para prajurit yang njaga gerbang belakang kediaman Duke Louis pun mulai mbicarakan tentang Rid.
"Rid Archie itu, selain kuat ternyata dia adalah orang yang baik dan ramah,"
"Iya, dia bahkan juga berbicara dengan sopan kepada kita,"
"Tidak ngherankan kalau putri Irene yang terkenal dingin jatuh hati kepadanya dan mbuat reka kini berpacaran,"
"Tidak hanya putri Irene saja yang luluh, tuan Duke dan nona Duchess pun juga luluh kepada Rid Archie. Terlihat dari perlakuan reka kepada Rid Archie di kediaman ini,"
"Kamu benar. Yah itu wajar setelah lihat secara langsung bagaimana sifat dan sikap Rid Archie. Yah sudahlah, lebih baik kita sudahi mbahas tentang dia, sekarang lebih baik kita fokus untuk ngawasi orang-orang ncurigakan itu," ucap para prajurit itu.
-
Sentara itu, di dalam kediaman Duke Louis.
Setelah masuki kediaman Duke Louis, aku milih untuk tidak langsung pergi ke kamarku karena aku ingin nemui Duke Louis terlebih dahulu. Sepertinya Duke Louis sedang berada di ruangan kerjanya. Karena aku sudah tahu lokasi ruang kerjanya, aku mutuskan untuk langsung pergi ke ruangan itu. Lalu tidak lama kemudian, aku pun telah tiba di depan pintu ruang kerja Duke Louis. Setelah itu, aku pun langsung ngetuk pintu ruang kerja Duke Louis.
*Tok *Tok *Tok
"Siapa disana ?," tanya Duke Louis yang ada di dalam ruangan.
Terdengarnya suara Duke Louis nandakan kalau Duke Louis ada di dalam ruangan itu.
"Paman Louis, ini aku," ucapku.
"Rid ?!," ucap Duke Louis.
Setelah itu, aku ndengar suara langkah kaki yang tergesa gesa di dalam ruang kerja Duke Louis. Tidak lama kemudian, pintu ruang kerja Duke Louis pun tiba-tiba terbuka. Setelah pintu itu terbuka, terlihat Duke Louis yang baru saja mbuka pintu itu. Tidak hanya Duke Louis saja, Duchess Arlet pun juga ada di dalam ruangan itu bersama dengan Duke Louis.
"Akhirnya kamu pulang juga, Rid. Kami berdua begitu khawatir karena kamu belum pulang-pulang juga sejak kamu pergi dari pagi hari untuk berlatih," ucap Duke Louis.
"Itu benar. Apa kamu sejak pagi hari terus berlatih atau kamu pergi ke suatu tempat terlebih dahulu yang mbuat kamu baru pulang sekarang ?," tanya Duchess Arlet.
"Aku sejak pagi terus berlatih di tempat yang aku sebutkan sebelumnya, bibi Arlet. Aku tidak pergi kemana-mana dan tetap berada di tempat itu untuk berlatih. Aku minta maaf karena telah mbuat kalian khawatir," ucapku.
"Begitu ya. Jadi kamu terus berlatih di tempat itu sejak pagi tadi hingga njelang malam hari. Ngomong-ngomong, apa latihanmu di tempat itu berjalan lancar, Rid ? Apa ada orang lain seperti orang-orang yang ngincarmu yang datang ke tempat itu ?," tanya Duke Louis.
"Tidak ada, paman. Tidak ada orang lain yang datang ke tempatku latihan," ucapku.
"Begitu ya. Itu mbuatku lega," ucap Duke Louis.
"Tetapi, soal orang-orang yang ngincarku itu, aku ingin mberikan sebuah laporan kepada anda, paman," ucapku.
Setelah itu, aku langsung njelaskan tentang orang-orang ncurigakan yang aku lihat di sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis. Duke Louis pun terkejut setelah ndengar perjelasanku. Tidak hanya Duke Louis saja, Duchess Arlet pun juga terkejut.
"Apa ?! Ada beberapa orang ncurigakan di sekitar gerbang belakang kediamanku ?! Dan kamu berasumsi kalau orang-orang ncurigakan itu adalah orang-orang yang ngincarmu ?," tanya Duke Louis.
"Iya, paman. Tetapi ada juga kemungkinan kalau reka sebenarnya bukan ngincarku, lainkan ngincar orang lain yang tinggal di kediaman ini seperti paman Louis atau bibi Arlet," ucapku.
"Kenapa para prajurit yang berjaga di gerbang belakang kediamanku tidak laporkan tentang hal ini kepadaku ?," tanya Duke Louis.
"Aku baru mberitahu reka setelah aku lewati gerbang belakang kediaman anda untuk masuk ke kediaman anda, paman. Setelah aku mberitahu reka, aku pun langsung pergi untuk nemui paman. Sepertinya reka saat ini sedang ngawasi orang-orang ncurigakan itu dan tidak sempat untuk mberitahu paman. Aku yakin beberapa saat lagi reka juga akan mberitahu kepada paman," ucapku.
"Begitu ya. Yah kamu ada benarnya juga," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis pun terdiam. Beliau terdiam seperti sedang mikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, beliau pun mulai berbicara kembali.
"Orang-orang ncurigakan itu, kemungkinan akan muncul kembali di sekitar gerbang belakang kediamanku. Setelah ngetahui kalau orang-orang ncurigakan itu ada di sekitar gerbang belakang kediamanku, apa kamu besok akan pergi untuk latihan lagi dengan lewati gerbang belakang kediamanku, Rid ?," tanya Duke Louis.
"Iya, paman. Aku akan tetap pergi untuk latihan di tempat itu dengan lewati gerbang belakang. Untuk sampai di tempat latihan rahasiaku, akan lebih cepat dengan lewati gerbang belakang kediaman anda daripada gerbang depan. Selain itu, pergi dengan lewati gerbang belakang mbuatku tidak terlalu ncolok karena biasanya tidak ada banyak orang yang berada di sekitar gerbang belakang kediaman anda, berbeda dengan gerbang depan kediaman anda," ucapku.
"Begitu ya. Ya sudah jika kamu besok mau tetap latihan lagi di tempat itu. Tetapi tetaplah waspada dan hati-hati, Rid. Selalu gunakan jubahmu itu untuk nutupi identitasmu ketika lewati orang-orang ncurigakan itu. Lalu, apabila orang-orang ncurigakan itu mutuskan untuk ngikutimu, kaburlah secepat mungkin dan jangan lakukan apapun terhadap reka karena jika orang-orang ncurigakan itu adalah orang-orang yang berasal dari gereja Sancta Lux, maka masalahnya akan njadi sangat repotkan apabila kamu lakukan sesuatu kepada orang-orang itu," ucap Duke Louis.
"Baik, paman. Aku akan selalu ngenakan jubah milikku ketika aku pergi ke tempat latihan rahasiaku. Aku juga tidak akan lakukan apapun kepada reka apabila reka ngikutiku," ucapku.
"Baguslah. Ngomong-ngomong, besok pagi aku dan istriku akan pergi ke White Palace yang rupakan istana kediaman Yang Mulia Ratu. Mungkin kami berdua akan kembali sore atau malam hari, jadi kami hampir seharian tidak ada di kediaman ini. Jika besok terjadi apa-apa, baik di dalam kediaman ini ataupun di luar kediaman ini, tolong segera hubungi kami, Rid," ucap Duke Louis.
"Baik, paman. Tetapi, aku tidak tahu bagaimana cara untuk nghubungi kalian apabila terjadi sesuatu," ucapku.
"Ah benar juga. Apa kamu miliki kristal komunikasi ? Jika punya, aku akan nyambungkan kristal komunikasi milikmu dengan milikku agar kita bisa saling berhubungan dengan nggunakan kristal komunikasi itu," ucap Duke Louis.
"Sebelumnya aku mpunyai kristal komunikasi, paman. Kristal komunikasi itu adalah pemberian dari nona Karina. Tetapi saat ini kristal komunikasi yang diberikan oleh nona Karina itu telah hilang. Sepertinya kristal komunikasi itu terjadi tanpa aku sadari ketika aku sedang bertarung dengan orang-orang yang telah berubah njadi iblis yang nyerang akademi kemarin,"
"Kemarin, aku sudah laporkan tentang hilangnya kristal komunikasi milikku kepada nona Karina. Setelah laporkannya kepada nona Karina, nona Karina berniat untuk mberikan kristal komunikasi yang baru kepadaku. Tetapi sayangnya nona Karina belum mpunyai kristal komunikasi yang baru yang bisa langsung diberikan padaku saat itu juga. Jadi aku diminta untuk nunggu sampai nona Karina ndapatkan kristal komunikasi yang baru untuk diberikan kepadaku. Maka dari itu, apabila nona Karina ada perlu denganku, nona Karina akan nghubungi paman Louis atau bibi Arlet karena nona Karina tidak bisa nghubungiku langsung karena aku belum miliki kristal komunikasi yang baru," ucapku.
"Begitu ya. Jadi awalnya kamu miliki kristal komunikasi tetapi sekarang sudah hilang. Lalu apabila kepala akademi ada perlu denganmu, kepala akademi akan nghubungiku atau istriku. Tetapi sejauh ini, kepala akademi belum nghubungiku sama sekali. Bagaimana denganmu, sayang ?," tanya Duke Louis.
"Aku juga belum dihubungi oleh kepala akademi sama sekali, sayang," ucap Duchess Arlet.
"Itu berarti sejauh ini kepala akademi belum ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu, Rid," ucap Duke Louis.
"Mungkin nona Karina saat ini masih sibuk untuk ngurus dan ndata kerusakan atau kerugian yang terjadi di akademi setelah terjadinya penyerangan di akademi, paman. Lagipula penyerangan yang terjadi di akademi baru terjadi kemarin, wajar kalau nona Karina masih sibuk untuk ngurus segala sesuatu di akademi setelah terjadinya penyerangan. Mungkin beliau akan nghubungiku setelah keadaan di akademi sudah tenang kembali atau njelang dimulainya aktivitas di akademi lagi," ucapku.
"Yah, kamu ada benarnya. Ngomong-ngomong, soal kristal komunikasi, aku miliki beberapa kristal komunikasi yang belum terpakai, aku akan mberikan satu kristal komunikasi kepadamu agar aku dan kamu bisa saling berkomunikasi, Rid," ucap Duke Louis.
"Terima kasih, paman," ucapku.
"Tetapi karena kristal komunikasi ini adalah kristal komunikasi yang baru, kristal komunikasi ini belum bisa dipakai untuk nghubungi atau dihubungi oleh kepala akademi karena kristal komunikasi ini belum disambungkan dengan kristal komunikasi milik beliau. Kristal komunikasi ini baru dapat digunakan untuk nghubungi atau dihubungi oleh kami berdua karena kristal komunikasi milikmu nanti akan kami sambungkan dengan kristal komunikasi milik kami berdua," ucap Duke Louis.
"Tidak apa-apa, paman. Aku tetap ngucapkan terima kasih karena anda telah mberikan sebuah kristal komunikasi kepadaku," ucapku.
"Iya, sama-sama, Rid. Aku akan ngantarkan kristal komunikasinya ke ruanganmu nanti karena aku harus nyambungkan kristal komunikasi itu ke kristal komunikasi milik kami berdua terlebih dahulu, Rid. Lalu, karena besok kami berdua akan pergi ke istana kediaman Yang Mulia Ratu, setelah dari sana mungkin kami akan pergi ke San Fulgen Akademiya terlebih dahulu untuk minta kepala akademi nyambungkan kristal komunikasi miliknya ke kristal komunikasi milikku yang baru. Setelah kristal komunikasi itu sudah disambungkan dan begitu kami telah kembali ke kediaman ini, aku akan mberikan kristal komunikasi yang telah disambungkan dengan kristal komunikasi milik kepala akademi kepadamu, Rid," ucap Duke Louis.
"Jika besok paman Louis mberikan kristal komunikasi lagi kepadaku, bukankah itu berarti aku jadi miliki 2 kristal komunikasi ?," tanyaku.
"Kamu bisa nukar kristal komunikasi yang nanti akan aku berikan dengan kristal komunikasi yang besok baru aku berikan. Kristal komunikasi yang aku berikan nanti hanya dapat digunakan untuk nghubungi atau dihubungi oleh kami berdua, sedangkan kristal komunikasi yang aku berikan besok dapat digunakan untuk nghubungi atau dihubungi oleh kepala akademi dan tentu saja kami berdua juga. Tentunya kamu pasti akan milih kristal komunikasi yang akan aku berikan besok karena dengan itu kamu bisa nghubungi atau dihubungi oleh kepala akademi. Tetapi apabila kamu tidak mau nukarnya pun aku juga tidak masalah. 2 kristal komunikasi yang akan aku berikan nanti dan besok boleh njadi milikmu," ucap Duke Louis.
"Satu saja sudah cukup untukku, paman. Aku tidak enak apabila diberikan 2 buah kristal komunikasi oleh anda, jadi besok aku akan nukar kristal komunikasi anda berikan nanti dengan yang anda berikan besok," ucapku.
"Ya sudah, terserah kamu saja, Rid. Ngomong-ngomong, apa ada lagi yang mau kamu laporkan atau kamu bicarakan, Rid ?," tanya Duke Louis.
"Tidak ada, paman. Cuma itu saja yang ingin aku laporkan dan bicarakan kepada paman," ucapku.
"Baiklah. Sekarang lebih baik kamu segera pergi ke kamarmu untuk beristirahat. Ah jangan lupa juga untuk makan malam terlebih dahulu sebelum beristirahat," ucap Duke Louis.
"Baik, paman," ucapku.
"Makanlah yang banyak, Rid, karena daritadi siang kamu belum makan sama sekali kan ? Soalnya kamu pergi latihan dari pagi hari hingga njelang malam hari," ucap Duchess Arlet.
"Untuk makan siang, aku sudah makan tadi di tempat latihanku, bibi Arlet. Aku makan sesuatu yang bisa dimakan yang ada di tempat latihan itu. Tetapi anda tidak perlu khawatir, aku tidak makan sesuatu yang berbahaya yang ada di tempat itu," ucapku.
"Hmmm baiklah jika kamu bilang begitu," ucap Duchess Arlet.
"Iya, bibi Arlet. Kalau begitu, aku izin untuk kembali ke kamarku dulu, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.
"Iya, Rid," ucap Duke Louis dan Duchess Arlet.
Setelah itu, aku pun langsung berjalan untuk ninggalkan ruangan tempatku berada saat ini. Lalu ketika aku sudah berada di depan pintu ruangan dan bersiap untuk pergi ninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Duke Louis berbicara kepadaku.
"Tunggu sebentar, Rid. Aku lupa untuk ngatakan tentang ini kepadamu," ucap Duke Louis.
Aku pun langsung berhenti setelah ndengar perkataan Duke Louis.
"ngatakan tentang apa, paman ?," tanyaku.
"Sebelum kamu beristirahat, alangkah baiknya kamu pergi nemui Irene terlebih dahulu, Rid. Karena, sejak tadi Irene terus nanyakan tentang keberadaanmu kepada kami berdua. Kami berdua tentu saja bilang kepadanya kalau kami tidak tahu keberadaanmu karena kami telah berjanji untuk rahasiakan keberadaanmu. ski kami sudah mberitahu Irene kalau kami tidak ngetahui keberadaanmu, Irene tetap saja terus nanyakan tentang keberadaanmu kepada kami. Sepertinya Irene ngkhawatirkanmu, Rid," ucap Duke Louis.
Setelah ndengar perkataan Duke Louis, aku pun terdiam.
"Ah benar juga, aku pergi latihan dari pagi sampai sekarang dan aku pun juga pergi latihan tanpa mberitahu Irene. Wajar saja jika dia ngkhawatirkanku," pikirku.
Setelah terdiam sambil mikirkan itu, aku pun mulai berbicara kembali.
"Baiklah, paman. Aku akan pergi untuk nemui Irene terlebih dahulu," ucapku.
"Terima kasih, Rid," ucap Duke Louis.
"Anda tidak perlu berterima kasih kepadaku, paman. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai nanti, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.
"Iya, sampa nanti, Rid," ucap Duke Louis.
"Sampai nanti, Rid," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, aku pun langsung bergegas pergi ninggalkan ruangan tempat Duke Louis dan Duchess Arlet berada untuk nuju kamar Irene. Aku berjalan nuju kamar Irene sambil mikirkan sesuatu.
"Sekarang, alasan apa yang harus aku buat untuk yakinkan Irene tentang aku yang sejak pagi pergi tanpa mberitahunya," pikirku.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)