Font Size
15px

Tangan kanan Duke Remy yang manjang telah nusuk dada bagian tengah komandan Oliver hingga nembus ke belakang dadanya.

"Anda lemah sekali, tuan Oliver. Apa cuma segini saja kekuatan komandan tertinggi di kerajaan ini ?," tanya Duke Remy yang sedang nusuk komandan Oliver.

Saat dadanya telah ditusuk oleh Duke Remy, disaat yang sama sihir listrik yang nyelimuti tubuhnya secara perlahan mulai nghilang. Komandan Oliver hanya terdiam saja saat ditusuk oleh Duke Remy. Komandan Oliver tidak berbicara ataupun berteriak saat Duke Remy nusuk dadanya. ski begitu, komandan Oliver tetap terlihat terkejut begitu ngetahui kalau dadanya telah ditusuk oleh Duke Remy. Hal itu bisa dilihat dari tatapan matanya saat ini yang sedang lihat ke dadanya yang telah ditusuk. Setelah itu, mulut komandan Oliver mulai muntahkan darah dalam jumlah yang cukup banyak dari mulutnya itu. Setelah muntahkan darah itu, komandan Oliver lalu lihat ke arah Duke Remy.

"Tuan...Remy....," ucap komandan Oliver.

Duke Remy yang berada tidak begitu jauh dengan komandan Oliver, lihat komandan Oliver seperti sedang berusaha ngatakan sesuatu. Namun Duke Remy tidak bisa ndengar apa yang komandan Oliver katakan skipun jarak di antara reka tidak begitu jauh. Komandan Oliver ngatakan sesuatu itu dengan suara yang sangat pelan. skipun begitu, Duke Remy bisa ngetahui kalau komandan Oliver sedang ngatakan sesuatu dengan lihat gerak bibirnya.

lihat komandan Oliver yang sedang ngatakan sesuatu, Duke Remy kemudian nyusutkan tangan kanannya yang manjang. Duke Remy nyutuskan tangan kanannya itu untuk ndekatkan tubuh komandan Oliver yang masih tertusuk oleh tangan kanannya agar Duke Remy bisa ndengar apa yang dikatakan oleh komandan Oliver.

"Ada apa, tuan Oliver ? Apa anda sedang ngatakan sesuatu tentang kekalahan anda ini ?," tanya Duke Remy.

"Saya mang...telah kalah.....tetapi setidaknya.....saya berhasil nggores.....armor milik anda.....dengan serangan yang....saya gunakan barusan," ucap komandan Oliver dengan terbata-bata.

Setelah ndengar perkataan komandan Oliver, Duke Remy lalu lihat dan mperhatikan armor kayu yang nyelimuti badannya. Terlihat ada goresan yang sangat besar pada armor kayu yang nyelimuti badannya itu. Goresan itu manjang dari pinggang bagian kirinya hingga ke bahu kanannya. Duke Remy sedikit terkejut ketika lihat goresan itu.

"Serangan yang dilancarkan oleh tuan Oliver sebelumnya sampai mbuat armor kayu milikku tergores hingga seperti ini. Jika aku tidak ngenakan armor ini, tubuhku pastinya akan ndapatkan luka tebasan yang sangat besar. Atau mungkin saja tubuhku bisa langsung terbelah njadi dua. Seperti yang diharapkan dari komandan tertinggi kerajaan ini, aku sudah terlalu rehkannya," pikir Duke Remy.

Setelah lihat dan mperhatikan armor kayu yang nyelimuti badannya, Duke Remy kemudian kembali lihat ke arah komandan Oliver yang ada dihadapannya.

"Anda mang berhasil nggores armor kayu yang saya kenakan, tetapi anda tetap tidak bisa nembus armor ini dan lukai tubuh saya. Ini adalah kenangan saya, tuan Oliver,"

"Saya awalnya ingin ngambil julukan ’orang tercepat di kerajaan San Fulgen’ milik anda, tuan Oliver. Tetapi saya nyadari kalau saya masih kalah cepat dibandingkan anda disaat anda nggunakan teknik yang mbuat tubuh anda diselimuti oleh sihir listrik. Teknik itu mbuat pergerakan anda njadi lebih cepat, bahkan pergerakan saya pun kalah cepat dibandingkan pergerakan anda. Jadi saya tidak akan ngambil julukan anda," ucap Duke Remy.

"Saya tidak peduli...dengan julukan itu. Jika.....anda ingin ngambil julukan....itu, silahkan saja. Lagipula....sebentar lagi....saya sepertinya akan mati," ucap komandan Oliver.

"Saya tidak akan mbiarkan anda mati, tuan Oliver. Saya mbutuhkan kekuatan anda. Saya akan mbuat anda njadi salah satu prajurit saya setelah saya berhasil mbuat kerajaan ini njadi milik saya," ucap Duke Remy.

"Jadi itu....alasan kenapa anda.....rencanakan pembunuhan.....terhadap Yang Mulia Ratu....dan seluruh keluarga San Lucia, anda berniat...untuk mbuat kerajaan ini.....njadi milik anda. Saya tidak akan layani anda.....dengan njadi prajurit anda, saya.....hanya akan layani Yang Mulia Ratu Kayana," ucap komandan Oliver.

"skipun anda bilang tidak mau, saya bisa maksa anda untuk njadi prajurit saya. Saya akan ngubah anda njadi iblis. Setelah anda berubah njadi iblis, anda akan berada dalam kendali saya sepenuhnya. Anda tidak akan bisa nolak apapun yang saya perintahkan kepada anda, termasuk untuk njadi prajurit saya," ucap Duke Remy.

Komandan Oliver terlihat terkejut setelah ndengar perkataan Duke Remy. Selain terkejut, wajahnya juga terlihat marah.

"Saya lebih baik mati.....daripada njadi iblis, apalagi.....njadi iblis yang dikendalikan oleh anda!!," ucap komandan Oliver.

Duke Remy pun tersenyum setelah ndengar perkataan komandan Oliver.

"Silahkan saja jika anda mau mati, tetapi saat ini, nyawa anda sedang berada di tangan saya. Saya yang berhak nentukan apakah anda harus mati atau tidak. Jika anda mau mati, satu-satunya cara yang anda punya adalah lakukan bunuh diri. Tetapi apakah anda mampu untuk lakukannya ?," tanya Duke Remy.

Komandan Oliver pun terdiam setelah ndengar perkataan Duke Remy. Setelah itu, Duke Remy nusuk armor kayu yang nyelimuti badannya dengan tangan kirinya. Duke Remy nusuk armor yang nyelimuti badannya itu untuk ngambil sesuatu. Tidak lama kemudian, Duke Remy ngeluarkan tangan kirinya yang sebelumnya nusuk armor kayu miliknya. Setelah ngeluarkan tangan kirinya, tangan kiri Duke Remy terlihat sedang gang sesuatu. Sesuatu yang dipegang oleh Duke Remy adalah sebuah alat suntik yang di dalamnya terdapat cairan berwarna rah. Komandan Oliver terlihat terkejut saat lihat Duke Remy sedang gang alat suntik itu. Komandan Oliver tahu alat suntik itu digunakan untuk apa. Sentara itu, Duke Remy yang kini telah gang alat suntik itu, kini bersiap untuk nyuntikkan alat suntik itu kepada komandan Oliver.

"Saatnya ngubah anda njadi iblis, tuan Oliver," ucap Duke Remy.

Duke Remy lalu mulai ndekati alat suntik yang dia pegang ke leher komandan Oliver. Komandan Oliver yang saat ini masih tertusuk oleh tangan kanan Duke Remy terlihat sedang mberontak. Tetapi gerakan berontak komandan Oliver terlihat sangat lemah, jadi gerakan berontak itu tidak berarti apa-apa bagi Duke Remy.

"Hentikan.....,tuan Remy," ucap komandan Oliver sambil mberontak.

Duke Remy terus ndekatkan alat suntik yang dia pegang ke leher komandan Oliver skipun komandan Oliver terus mberontak dan nolak. Tidak lama kemudian, alat suntik itu sudah berada sangat dekat dengan leher komandan Oliver. Alat suntik itu sudah bersiap untuk nyuntikkan cairan yang ada di dalamnya ke dalam tubuh komandan Oliver.

Namun sebelum alat suntik itu nyuntik leher komandan Oliver, tiba-tiba komandan Oliver bergerak dengan layang secara cepat ke belakang yang mbuat komandan Oliver kini tidak lagi tertusuk oleh tangan kanan Duke Remy. Duke Remy terlihat terkejut saat lihat komandan Oliver yang bergerak layang dan berhasil lepaskan diri dari tangan kanannya yang sedang nusuk komandan Oliver. Tidak hanya Duke Remy saja, komandan Oliver pun juga terkejut. Komandan Oliver terkejut karena dia tidak rasa sedang nggerakan tubuhnya sendiri, tubuhnya itu bergerak layang dengan sendirinya tanpa kehendaknya.

Kemudian, disaat Duke Remy sedang terkejut ketika lihat komandan Oliver, tiba-tiba Duke Remy terhempas dengan sangat cepat hingga nghantam dinding yang berada cukup jauh di belakangnya.

*BUMMMM

Suara benturan pun terdengar keras dan debu asap langsung nyelimuti tempat Duke Remy yang nghantam dinding. Komandan Oliver terlihat terkejut ketika lihat Duke Remy yang tiba-tiba terhempas. Ketika komandan Oliver sedang terkejut, tiba-tiba muncul seseorang di samping komandan Oliver. Komandan Oliver pun langsung noleh ke orang yang ada di sampingnya itu. Setelah noleh, rasa terkejut komandan Oliver langsung hilang. Komandan Oliver sepertinya sudah tahu tentang apa yang terjadi barusan setelah lihat orang itu.

"Jadi begitu ya....orang yang telah nggerakkan.....tubuh saya dan juga.....yang telah nghempaskan tuan Remy.....adalah anda, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Oliver.

Orang yang tiba-tiba muncul di samping komandan Oliver adalah Ratu Kayana. Ratu Kayana saat ini sedang layang di udara bersama dengan komandan Oliver yang juga layang di sampingnya. Komandan Oliver bisa layang di udara karena sedang berada dalam kendali sihir gravitasi milik Ratu Kayana.

"Iya, aku yang lakukan itu," ucap Ratu Kayana.

Setelah itu, Ratu Kayana dan komandan Oliver secara perlahan mulai turun ke permukaan lantai. Kemudian, Ratu Kayana kini telah berdiri di lantai, sentara komandan Oliver sedang terbaring di lantai sambil gangi dadanya yang terluka akibat ditusuk oleh Duke Remy.

"Kenapa anda.....kembali kesini, Yang Mulia Ratu ? Bukankah....lebih baik anda tetap bersama.....para prajurit dan beristirahat ? Luka tusukan.....yang ada di perut anda itu.....masih belum lah pulih," ucap komandan Oliver.

"Anda tidak perlu khawatir, aku saat ini sudah rasa baik-baik saja. Daripada ngkhawatirkanku, lebih baik anda ngkhawatirkan diri anda sendiri. Luka pada tubuh anda itu, terlihat sangat parah," ucap Ratu Kayana.

Ratu Kayana ngatakan itu sambil lihat ke arah komandan Oliver. Bagian dada dari komandan Oliver terlihat sudah dipenuhi oleh banyak darah akibat banyaknya darah yang keluar dari luka tusukan di dadanya. Darah juga terlihat masih ngalir keluar dari lengan kanan komandan Oliver yang sudah terpotong. Sentara itu, komandan Oliver secara perlahan terlihat mulai nutup matanya. Ratu Kayana yang lihat komandan Oliver sudah mulai nutup matanya langsung ngatakan sesuatu kepada komandan Oliver.

"Beristirahatlah, tuan Oliver. Kali ini, biar aku yang nangani ini," ucap Ratu Kayana.

Komandan Oliver lalu langsung nutup kedua matanya. Kini kedua mata komandan Oliver telah terpejam. Ratu Kayana terlihat masih lihat ke arah komandan Oliver hingga mata komandan Oliver terpejam. Setelah lihat ke arah komandan Oliver, Ratu Kayana lalu lihat ke arah dinding yang dihantam oleh Duke Remy. Debu asap terlihat masih nyelimuti sekitar dinding itu. Di dalam debu asap yang masih nyelimuti tempat itu, terlihat ada bayangan seseorang.

"Tolong bertahanlah sebentar, tuan Oliver. Aku akan segera mbawa anda untuk disembuhkan setelah aku ngalahkan orang itu," ucap Ratu Kayana sambil lihat ke arah dinding yang dihantam oleh Duke Remy.

Setelah Ratu Kayana ngatakan itu, Duke Remy pun keluar dari debu asap yang masih nyelimuti sekitar tempat dia nghantam dinding.

"Saya tidak nyangka kalau anda akan kembali lagi kesini, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Remy.

"Tentu saja aku harus kembali kesini, karena aku harus mbunuh anda dengan tanganku sendiri. Selama aku masih hidup, aku akan terus kembali untuk mbunuh anda," ucap Ratu Kayana.

"mbunuh saya ya, seharusnya anda beristirahat saja karena skipun anda telah nutup luka pada perut anda itu, luka pada perut anda itu cukup parah. Jika anda terlalu banyak bergerak lagi, mungkin luka itu akan terbuka lagi. Luka pada perut anda itu, mungkin saja akan mbunuh anda secara perlahan,"

"Tetapi lihat anda datang kembali kesini dengan luka itu, sepertinya ini akan njadi sebuah keuntungan bagi saya. Dengan luka pada perut anda itu, anda mungkin akan njadi lemah. Dengan begitu saya akan dengan mudah dapat mbunuh anda dan setelah itu, saya bisa mbuat kerajaan ini njadi milik saya," ucap Duke Remy.

Setelah Duke Remy ngatakan itu, tiba-tiba tekanan udara yang ada di sekitar tempat itu berubah njadi sangat berat. Duke Remy terlihat terkejut ketika nyadari kalau tekanan udara di sekitar tempat itu telah berubah.

"Tekanan udara ini...aku belum pernah rasakan tekanan udara sekuat ini sebelumnya," pikir Duke Remy.

Duke Remy mikirkan itu sambil lihat ke arah Ratu Kayana. Sentara itu, Ratu Kayana terlihat hanya diam saja sambil lihat ke arah Duke Remy setelah Duke Remy ngatakan hal itu. Tidak lama kemudian, Ratu Kayana pun mulai berbicara.

"Apa nurut anda luka seperti ini sudah cukup untuk mbunuhku ? Aku adalah Ratu dari kerajaan ini, aku tidak akan mbiarkan orang seperti anda rebut kerajaan ini!! ucap Ratu Kayana dengan nada yang sangat keras.

Wajah Ratu Kayana terlihat marah ketika Ratu Kayana ngatakan itu. Setelah itu, Ratu Kayana gang tongkat sihirnya dengan kedua tangannya. Lalu, Ratu Kayana nghentakkan bagian bawah tongkat sihir itu ke lantai dengan sangat keras.

~Wahai gravitasi, luapkanlah amarahmu dan ngamuklah. Berikanlah tekanan yang sangat berat ke tempat ini~

~Gravity Magic : Wrath of Gravity~

Setelah itu, guncangan yang besar tiba-tiba muncul di tempat Ratu Kayana dan Duke Remy berada. Guncangan besar itu juga terasa hingga ke seluruh gedung tengah akademi. Tidak hanya gedung tengah akademi saja, guncangan itu terasa hingga ke gedung tempat belajar para murid, gedung staf dan pengajar akademi dan gedung lobi akademi. Guncangan itu terus luas hingga ke seluruh wilayah akademi. Seluruh wilayah akademi kini sedang berguncang akibat sihir yang dilancarkan oleh Ratu Kayana.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 367 : Ratu Kerajaan San Fulgen on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.