Font Size
15px

"Alasannya karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Duke Louis.

Setelah ngatakan itu, Duke Louis pun mbungkuk.

"Sebelumnya aku tidak sempat ngatakan ini karena perasaanku sedang sangat emosional begitu lihat istriku yang sudah bangun kembali. Terima kasih karena telah nyembuhkan dan mbangunkan istriku dari tidur panjangnya, Rid. Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu kapan istriku akan terbangun dari tidur panjangnya itu. Sekali lagi, terima kasih, Rid," ucap Duke Louis.

Tidak hanya Duke Louis saja, komandan Asier dan semua anggota keluarga San Lucia yang ada di ruangan itu terlihat juga mbungkuk ke arahku. Aku pun terkejut lihat sikap reka.

"Tolong jangan mbungkuk seperti itu, tuan Duke. Saya nghargai rasa terima kasih anda, tetapi saya bukanlah orang yang pantas untuk diperlakukan seperti ini. Kalian juga, tolong jangan mbungkuk seperti itu," ucapku.

Namun reka tidak mperdulikan perkataanku, reka masih tetap mbungkuk ke arahku.

"Tolong biarkanku untuk ngungkapkan rasa terima kasihku seperti ini, Rid. Selain itu, aku sebelumnya mang sudah berterima kasih atas kontribusimu yang mbuat terungkapnya rencana pembunuhan terhadap seluruh keluarga kami. Namun seluruh anggota keluarga San Lucia yang lainnya belum sempat untuk ngucapkan terima kasih kepadamu. Maka dari itu, karena kebetulan kamu sedang berada di kota San Lucia, aku langsung ngumpulkan anggota keluarga San Lucia yang lain untuk hadir di kediamanku dan berkumpul di ruangan ini. Mungkin tidak semua anggota keluarga San Lucia hadir di ruangan ini karena ada beberapa dari reka yang berhalangan hadir, ski begitu tolong terima ucapan terima kasih dari anggota keluarga kami, Rid," ucap Duke Louis.

"Terima kasih, Rid Archie," ucap para anggota keluarga San Lucia.

reka semua ngatakan itu dengan serentak dan dalam posisi yang masih mbungkuk. Aku pun terkejut lihat reka yang ngatakan itu. Aku juga terkejut lihat tingkah reka karena sebelumnya aku tidak pernah ngalami hal seperti ini.

"Saya nghargai dan nerima ucapan terima kasih dari tuan Duke dan anggota keluarga San Lucia yang lain. Tetapi tolong jangan mbungkuk seperti itu, saya bukanlah orang yang pantas untuk nerima sikap kalian itu. Dan juga, sikap kalian itu mbuat saya sedikit tidak nyaman, jadi tolong berhentilah untuk mbungkuk," ucapku.

Duke Louis dan anggota keluarga San Lucia yang lain terdiam setelah ndengar perkataanku. Lalu tidak lama kemudian, Duke Louis pun mulai berbicara.

"Baiklah, Rid. Kami akan berhenti untuk mbungkuk. Kalian semua, berhentilah untuk mbungkuk dan kembali berdiri tegap," ucap Duke Louis.

Duke Louis pun mulai berdiri tegap kembali diikuti oleh anggota keluarga San Lucia yang lain. Kini reka semua pun sudah tidak mbungkuk ke arahku dan kembali berdiri tegap.

"Sekali lagi, terima kasih, Rid," ucap Duke Louis.

"Sama-sama, tuan Duke," ucapku.

"Aku penasaran kenapa sejak tadi kamu manggilku dengan sebutan ’tuan Duke’, bukankah sebelumnya kamu manggilku dengan sebutan ’paman Louis’ ? Dan juga, kenapa kamu sejak tadi berbicara formal denganku ? Padahal sebelumnya kamu selalu berbicara santai denganku," ucap Duke Louis.

"Itu karena di ruangan ini ada banyak anggota keluarga San Lucia yang hadir. Saya pikir akan tidak sopan apabila saya tidak berbicara formal dengan anda dan tidak sopan juga apabila manggil anda dengan panggilan ’paman Louis’," ucapku.

"Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Lagipula para anggota keluarga San Lucia yang hadir di ruangan ini sudah tahu kalau kamu itu akrab denganku karena kamu rupakan pacar dari Irene saat ini. Jadi kamu tetap boleh berbicara santai denganku dan manggilku ’paman Louis’. Tidak akan ada yang nganggapmu tidak sopan skipun kamu berbicara denganku disaat sedang ada anggota keluarga San Lucia lainnya di sekeliling kita," ucap Duke Louis.

"Baiklah, tu- maksudnya paman Louis. Aku akan berbicara santai seperti biasanya," ucapku.

"Baguslah. Lalu, selain ingin ngucapkan terima kasih kepadamu, aku miliki alasan lain kenapa aku ngundangmu untuk datang ke ruangan ini yang mana di ruangan ini sedang ada banyak anggota keluarga San Lucia. Alasannya adalah karena aku ingin mperkenalkanmu kepada para anggota keluarga San Lucia yang hadir di ruangan ini. reka mungkin sudah ngetahuinya dari surat kabar yang muat tentang kamu, tetapi reka belum lihat dan ngetahui tentang kamu secara langsung. Aku ingin para anggota keluarga San Lucia yang lain ngetahui tentang kamu secara langsung karena kamu suatu saat nanti akan njadi bagian dari keluarga San Lucia," ucap Duke Louis.

"Hmmm jadi begitu ya, paman Louis. Tetapi sepertinya masih lama buatku untuk njadi bagian dari keluarga San Lucia. Aku saat ini mang sedang njalin hubungan dengan Irene, tetapi aku belum terpikirkan untuk njalin hubungan yang lebih jauh lagi," ucapku.

"Hahaha santai saja, Rid. Lagipula tadi aku sudah bilang kalau kamu akan njadi bagian dari keluarga San Lucia itu ’suatu saat nanti’, bukan ’sebentar lagi’. Jadi tidak masalah buatku apabila kamu baru njadi keluarga San Lucia setelah 5 atau 10 tahun dari sekarang,"

"Aku juga tidak mpermasalahkan apabila suatu saat nanti hubungan kalian berdua tiba-tiba berakhir karena suatu alasan. Lagipula aku juga tidak maksamu untuk terus njalin hubungan dengan Irene. Jadi apabila suatu saat nanti kamu rasa sudah tidak cocok lagi dengan Irene, kamu bebas untuk ngakhiri hubungan dengannya. Lagipula hubungan seperti itu tidak bisa dipaksakan. Tetapi, selama kamu masih njalin hubungan dengan Irene, aku mohon kepadamu untuk jangan pernah mbuat Irene bersedih dan jangan pernah kecewakan dia. Lalu, aku mohon kepadamu untuk selalu lindunginya karena kamu adalah pacarnya saat ini," ucap Duke Louis.

Setelah ndengar perkataan Duke Louis, aku langsung nanggapi perkataannya itu.

"Paman Louis tenang saja. Aku berjanji kalau aku tidak akan mbuat Irene kecewa dan bersedih selama aku njalin hubungan dengan Irene. Aku juga akan selalu lindungi dia," ucapku.

"Terima kasih, Rid. Itu saja hal yang ingin kubicarakan denganmu. Tetapi kamu jangan dulu pergi dari ruangan ini, begitupun juga dengan yang lainnya. Karena aku sudah nyiapkan jamuan sebagai acara terakhir di perkumpulan ini. Para pelayan, silahkan masuk!," ucap Duke Louis.

Setelah Duke Louis ngatakan itu, para pelayan pun langsung masuk ke ruangan itu sambil mbawa banyak makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang dibawa para pelayan itu pun langsung ditaruh di ja-ja yang ada di ruangan itu. Setelah semua makanan dan minuman yang dibawa para pelayan itu sudah ditaruh di ja, para pelayan itu pun langsung pergi ninggalkan ruangan itu.

"Kalian semua, silahkan nikmati semua makanan dan minuman yang telah disediakan. Kalian tidak perlu sungkan-sungkan, begitupun juga dengan kamu, Rid," ucap Duke Louis.

"Baik, paman," ucapku.

Setelah itu, aku pun langsung makan makanan dan minum minuman yang telah disediakan. Tidak hanya aku saja, para anggota keluarga San Lucia yang lainnya pun juga lakukan hal yang sama. Disaat aku sedang makan makanan yang telah disediakan, beberapa anggota keluarga San Lucia datang nghampiriku dan berbicara denganku. Di antara anggota keluarga San Lucia yang nghampiriku itu, ada senior Nadine dan juga ayahnya, yaitu tuan Irwin. Aku pun nanggapi reka semua yang ingin berbicara denganku. Komandan Asier dan Duke Louis pun juga ikut nghampiriku dan ikut berbicara denganku dan anggota keluarga San Lucia lainnya.

Lalu, saat aku sedang berbicara dengan Duke Louis, komandan Asier dan anggota keluarga San Lucia lainnya, ada seorang wanita yang datang nghampiriku. Wanita itu adalah wanita yang berpakaian seperti orang yang berasal dari luar kerajaan San Fulgen karena pakaian yang dikenakannya nampak asing.

"Aku sudah ndengar dan ngetahui kabar tentangmu karena surat kabar yang diterbitkan oleh Diganta sering kali muat kabar tentangmu. Namun baru kali ini kita bertemu secara langsung. Izinkan aku mperkenalkan diri, namaku adalah Ivana Shirayuki Erald. Salam kenal, Rid Archie," ucap komandan Ivana.

"Salam kenal juga, nona," ucapku.

Setelah itu, aku pun terdiam sambil terus lihat ke arah nona Ivana. Nona Ivana sepertinya nyadari kalau aku sedang lihatnya, beliau pun langsung ngatakan sesuatu.

"Kelihatannya kamu penasaran dengan pakaian yang aku kenakan ya ? Karena sejak tadi kamu terus mperhatikanku," ucap komandan Ivana.

"Iya, karena pakaian yang anda kenakan terlihat asing. Saya belum pernah lihat ada orang yang ngenakan pakaian itu selain anda saat ini. Maafkan saya jika saya telah bersikap tidak sopan karena terus lihat ke arah anda, nona," ucapku.

"Tidak apa-apa, santai saja. Pakaian yang aku kenakan ini bernama kimono, ini adalah pakaian yang sering dipakai oleh para penduduk dari negeri Kaminari," ucap komandan Ivana.

"Negeri Kaminari, negeri yang berada di seberang laut bagian timur kerajaan San Fulgen ya. Apa anda mbeli pakaian itu dari negeri Kaminari, nona ?," tanyaku.

"Tidak, aku tidak mbeli pakaian ini dari negeri Kaminari karena aku belum pernah sekalipun pergi ke negeri itu. Pakaian yang kupakai ini adalah pakaian yang dibuat oleh ibundaku sendiri. Itu karena ibundaku rupakan orang yang berasal dari negeri Kaminari," ucap komandan Ivana.

"Hmmm begitu ya," ucapku.

Setelah ngatakan itu, aku pun terdiam sambil mikirkan sesuatu.

"Ivana Shirayuki Erald ya. Pantas ada nama ’Shirayuki’ di antara nama beliau dan nama ’Erald’ yang selalu dipakai di setiap nama anggota keluarga San Lucia, jadi beliau adalah anggota keluarga San Lucia berdarah campuran ya. Lalu, negeri Kaminari, negeri itu rupakan kampung halaman Kotaro karena kedua orang tuanya rupakan penduduk asli dari negeri itu. Jadi ibunda dari nona Ivana juga berasal dari negeri itu ya," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku pun lihat kembali ke arah nona Ivana. Aku nyadari kalau nona Ivana ngenakan sebuah jubah yang lapisi pakaiannya itu. Pada bagian depan jubah itu, aku lihat ada sebuah lambang bergambar burung hantu berwarna putih. Aku tahu tentang lambang itu, lambang itu rupakan lambang yang dimiliki oleh pasukan pasukan ’Snow Owl’, pasukan yang ditugaskan untuk berjaga di wilayah bagian timur kerajaan San Fulgen, yaitu wilayah San Quentine. Jika nona Ivana makai jubah yang miliki lambang pasukan ’Snow Owl’, itu berarti nona Ivana rupakan bagian dari pasukan itu. Tetapi aku tidak tahu apa posisi nona Ivana di pasukan itu. ski begitu, aku bisa nebak posisi nona Ivana di pasukan itu.

"Nona Ivana, apa anda rupakan seorang komandan prajurit ?," tanyaku.

"Iya, aku adalah seorang komandan prajurit pasukan ’Snow Owl’. Seperti yang kamu bisa lihat pada lambang burung hantu yang ada di jubahku ini. Darimana kamu tahu tentang itu ? Padahal aku belum mberitahumu kalau aku adalah seorang komandan," ucap komandan Ivana.

"Saya hanya nebak saja, nona. Saya rasa kalau anda itu sangat kuat, maka dari itu saya nebak kalau anda mungkin adalah seorang komandan prajurit," ucapku.

"Hmmm begitu ya, jadi kamu bisa rasakan kekuatan orang-orang yang kamu lihat," ucap komandan Ivana.

"Iya, nona," ucapku.

"Hmmmm narik," ucap komandan Ivana.

Setelah itu, aku dan komandan Ivana pun lanjutkan berbicara. Duke Louis, komandan Asier dan anggota keluarga San Lucia yang lain pun juga ikut berbicara denganku. Disaat sedang berbicara itu, aku baru nyadari tentang sesuatu di ruangan itu.

"Aku baru sadar, nona Duchess tidak ada di ruangan ini. Apa beliau sedang beristirahat di ruangannya ?," tanyaku.

"Tidak, Arlet mang sedang ada di ruangannya tetapi dia tidak sedang beristirahat. Alasan aku tidak mbawa Arlet ke ruangan ini karena Arlet saat ini sedang kedatangan tamu yang sangat penting. Tamu itu adalah Yang Mulia Ratu, beliau datang kesini untuk njenguk Arlet," ucap Duke Louis.

"Yang Mulia Ratu datang kesini ? Aku tidak ngetahui tentang itu skipun saat ini aku sedang berada di kediaman anda, paman," ucapku.

"Yah itu karena saat Yang Mulia Ratu datang, kamu dan para murid lainnya sedang laksanakan ujian di tempat latihan. Wajar kalau kamu tidak nyadari kedatangan Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.

"Jadi begitu ya, Yang Mulia Ratu datang disaat kami sedang lakukan ujian. Apa Yang Mulia Ratu masih berada di ruangan nona Duchess, paman ?," tanyaku.

"Sepertinya masih, mangnya ada apa ?," tanya Duke Louis.

"Tidak ada apa-apa, paman," ucapku.

Setelah itu, aku pun terdiam sambil mikirkan sesuatu.

"Jadi Yang Mulia Ratu datang kesini ya," pikirku.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 328 : Permohonan Duke Louis on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Sword God Reborn cover
Similar genre

Sword God Reborn

InkQuillWrites ·Action

Reincarnationistiresome.Thistime,IwillsurelyattaintheUltimateoftheSwordandfindeternalrest.“SwordGodReborn”Throughcountlessreincarnations,Ilivedagai...

On the Path to the Great Dao cover
Similar genre

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.