Pagi hari pukul 4.00 pagi.
Aku seperti biasa berlatih tanding dengan nona Violetta. Saat ini, aku sedang nyerang nona Violetta dengan cepat nggunakan pedangku. Nona Violetta kelihatan cukup kesulitan untuk nahan serangan pedangku yang cepat. Setelah cukup lama nyerang nona Violetta dengan cepat, aku mutuskan untuk ningkatkan kekuatanku untuk lancarkan serangan terakhir dari rentetan serangan yang cepat itu. Setelah itu, aku pun langsung nyerang nona Violetta dengan pedangku. Nona Violetta kembali berhasil nahan seranganku itu. Namun, skipun berhasil nahan seranganku, nona Violetta langsung terdorong beberapa ter ke belakang setelah nahan seranganku itu.
"Kamu benar-benar sudah ningkat pesat ya, Rid. Yah itu wajar karena sekarang kamu sudah njadi murid tahun keempat," ucap nona Violetta.
"Aku mang nyadari kalau aku ngalami peningkatan, tetapi aku tidak ningkat pesat seperti yang nona kira. Saat aku nyerang nona barusan, bukankah nona tidak banyak nggunakan kekuatan nona saat aku nyerang nona ? Makanya nona bisa sampai terdorong ke belakang," ucapku.
"Aku mang tidak banyak nggunakan kekuatanku, tetapi aku nggunakan kekuatanku sama seperti biasanya ketika kita berlatih tanding. Sebelumnya saat aku nahan seranganmu, seranganmu tidak bisa mbuatku terdorong. Tetapi kali ini, seranganmu bisa mbuatku terdorong bahkan cukup jauh dari tempatku berdiri sebelumnya. Maka dari itu aku bilang kamu sudah ngalami peningkatan yang pesat," ucap nona Violetta.
"Mungkin apa yang dikatakan oleh nona itu benar kalah aku ngalami peningkatan pesat, ski begitu aku masih belum bisa ngalahkan nona," ucapku.
"Aku pun juga belum bisa ngalahkanmu. Sejauh ini, kita terus berimbang saat lakukan latih tanding. Aku penasaran siapa yang akan nang jika kita bertarung dengan kekuatan penuh," ucap nona Violetta.
"Tentu saja nona yang akan nang," ucapku.
"Itu belum pasti, bisa saja kamu yang nang, Rid. Tetapi kita tidak bisa nggunakan kekuatan penuh kita saat berlatih tanding karena bisa terjadi kerusakan di sekitar tempat kita bertanding. Makanya aku penasaran siapa yang akan nang jika kita sama-sama nggunakan kekuatan penuh. Sayangnya kita tidak bisa lakukan itu saat berlatih tanding," ucap nona Violetta.
Lalu nona Violetta terdiam seperti sedang mikirkan sesuatu. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara kembali.
"Aku tahu caranya agar kita bisa bertanding dengan kekuatan penuh kita. Karena kamu sudah njadi murid tahun keempat, bagaimana kalau kamu ngikuti ujian khusus lawan salah satu komandan prajurit kerajaan ? Aku ini juga rupakan salah satu komandan prajurit jadi kamu pasti akan lawanku jika ngikuti ujian itu. mang komandan prajurit yang akan njadi lawanmu akan dipilih secara acak, tetapi ada 20% kemungkinan kalau aku lah yang akan njadi lawanmu. Jika aku terpilih untuk njadi lawanmu, kita akhirnya bisa saling bertarung dengan kekuatan penuh kita untuk nentukan siapa yang akan nang," ucap nona Violetta.
"Hmmm ujian khusus lawan komandan prajurit kerajaan ya. Aku tidak akan ngikuti ujian itu, nona," ucapku.
"Kenapa kamu tidak mau ngikuti ujian itu ? Padahal nurutku kamu punya peluang untuk bisa nyelesaikan ujian itu. Jika kamu berhasil ngalahkan komandan prajurit yang njadi lawanmu, kamu bisa langsung lulus dari akademi ini tanpa harus nunggu sampai tahun ajaran selesai," ucap nona Violetta.
"Iya, aku tahu itu, nona. Tetapi, jika aku berhasil ngalahkan komandan prajurit yang njadi lawanku dalam ujian khusus itu, aku mang akan langsung lulus dari akademi namun aku jadi tidak bisa berada di dekat Irene. Aku masih harus berada di dekat Irene untuk lindunginya karena bisa saja suatu saat nanti ada seseorang atau sekelompok orang yang nyerang Irene disaat aku tidak ada di dekatnya. Maka dari itu, aku tidak mau ngikuti ujian khusus itu, aku tidak mau langsung lulus dari akademi ini dan berpisah dengan Irene," ucapku.
"Hmmm begitu ya. Yah alasanmu itu masuk akal, karena putri Irene rupakan anggota keluarga San Lucia, ada kemungkinan kalau dia akan njadi target penyerangan dari orang yang rencanakan rencana pembunuhan kepada Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia. skipun sejauh ini tidak ada tanda-tanda penyerangan kepada Yang Mulia Ratu dan seluruh keluarga San Lucia, namun dengan belum terungkapnya pelaku utama yang rencanakan pembunuhan itu, kita masih harus waspada. Karena bisa saja reka tiba-tiba lakukan penyerangan kepada target reka," ucap nona Violetta.
"Aku juga berpikir begitu, nona. Aku masih waspada terhadap reka yang rencanakan pembunuhan itu skipun selama ini belum ada tanda-tanda pergerakan dan penyerangan dari reka. Penyerangan terakhir yang dilakukan oleh reka adalah saat penyerangan di desa Aston yang terjadi satu setengah tahun yang lalu. Sudah cukup lama tidak ada pergerakan atau penyerangan lagi yang terjadi setelah penyerangan itu," ucapku.
"Iya, aku curiga kalau para pelaku itu sedang rencanakan sesuatu yang besar ke depannya. Makanya reka tidak lakukan pergerakan dan penyerangan lagi selama satu setengah tahun ini. Pokoknya kamu tetaplah waspada, Rid. Aku juga akan terus waspada dan mperketat penjagaan di akademi ini," ucap nona Violetta.
"Baik, nona," ucapku.
"Hmmm, aku kepikiran sesuatu. Tadi kamu bilang jika kamu berhasil ngalahkan komandan prajurit, kamu pasti akan langsung lulus dari akademi. Bukankah itu berarti kamu cukup yakin kalau kamu bisa ngalahkan salah satu komandan prajurit yang akan njadi lawanmu ?," tanya nona Violetta.
"Itu hanya kalimat perandaian saja, nona. Aku tidak cukup yakin untuk ngalahkan salah satu komandan prajurit," ucapku.
"Jika kamu tidak yakin, bukankah tidak masalah apabila kamu ngikuti ujian khusus itu ? Lagipula kamu pastinya akan kalah nanti karena kamu bilang kamu tidak yakin bisa ngikuti ujian khusus itu," ucap nona Violetta.
"Aku tetap tidak mau ikut, nona. Aku ncegah terjadinya kemungkinan terburuk," ucapku.
Nona Violetta pun tersenyum setelah ndengar perkataanku.
"Ya sudah kalau kamu tetap tidak mau ikut, aku tidak akan maksamu. Sekarang, lebih baik kita lanjutkan latih tanding kita," ucap nona Violetta.
"Baik, nona," ucapku.
-
1 jam kemudian, di tempat latihan tahun ketiga.
Karena kami belum masuki kelas kami di tahun keempat, kami belum diakui sebagai murid tahun keempat skipun kami sudah mpunyai poin untuk njadi murid tahun keempat dan telah nukarnya njadi lencana platinum. Jadi, kami masih nggunakan tempat latihan tahun ketiga sebagai tempat latihan kami.
Setelah cukup lama kami berlatih di tempat latihan itu, kami pun mutuskan beristirahat sebentar.
"Akhirnya kita telah njadi murid tahun keempat ya. Itu berarti kita njadi murid paling senior di akademi ini," ucap Charles.
"Iya. Tetapi dengan njadi murid tahun keempat, kita juga hanya tersisa satu tahun lagi di akademi ini. Setelah itu kita akan lulus dan kita semua pun akan berpisah," ucap Noa.
"Kamu benar, Noa. Setelah lulus nanti, aku pastinya akan kembali ke istana kerajaan. Bagaimana denganmu, Noa ?," ucap Charles.
"Aku mungkin akan ndaftar sebagai prajurit kerajaan setelah lulus nanti," ucap Noa.
"Aku harap saat kamu telah njadi prajurit kerajaan nanti, kamu ditempatkan di ibukota San Estella atau di istana kerajaan agar kita bisa sering ketemu dan berbincang, Noa," ucap Charles.
"Iya. Tetapi, jika aku tidak ditempatkan di ibukota San Estella atau di istana kerajaan, mungkin kita akan sangat sulit untuk bertemu. Karena hal itu, tolong jangan lupakan aku dan yang lainnya, Charles," ucap Noa.
"Tentu saja, mana mungkin aku lupakan kalian," ucap Charles.
Aku sejak tadi bersama dengan Noa dan Charles tetapi aku hanya diam saja ndengarkan pembicaraan reka berdua. Namun kali ini aku mutuskan untuk berbicara dengan reka berdua.
"Kenapa kalian berdua sudah mbicarakan tentang perpisahan seperti itu ? Padahal masih ada satu tahun lagi sebelum kita lulus. Lebih baik kita pikirkan apa yang akan kita lakukan selama satu tahun sebelum kita lulus, daripada mikirkan sesuatu setelah kita lulus. Jika kalian terus mikirkan sesuatu setelah kalian lulus, nanti akan njadi beban pikiran untuk kalian," ucapku.
"Yah, kamu ada benarnya, Rid. Lebih baik kita mikirkan apa yang akan kita lakukan selama satu tahun ini," ucap Charles.
"Kalau kamu apa yang akan kamu lakukan selama satu tahun ini, Rid ? Karena kamu sudah njadi murid tahun keempat, apa kamu akan ncoba untuk ngikuti ujian khusus untuk lawan salah satu komandan prajurit ?," tanya Noa.
"Tidak, aku tidak akan ngikuti ujian khusus itu. Aku akan tetap njalani keseharian di akademi ini sampai tahun ajaran berakhir," ucapku.
"Padahal jika kamu ngikuti ujian khusus itu dan nang lawan salah satu komandan prajurit yang njadi lawanmu, kamu bisa lulus dari akademi ini dengan cepat. Aku yakin dengan kekuatanmu itu, kamu bisa ngalahkan salah satu komandan prajurit," ucap Noa.
"Ya, aku juga yakin soal itu. Kekuatanmu itu sudah jauh di atas kekuatan seorang murid akademi. Aku tahu tentang hal itu karena selama ini aku sering berlatih tanding denganmu dan berakhir dengan kekalahan," ucap Charles.
"Kalian berdua terlalu berlebihan. Aku masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan komandan prajurit di kerajaan ini. Jadi aku tidak akan ngikuti ujian khusus itu," ucapku.
"Sayang sekali. Padahal jika kamu ngikuti ujian itu, aku pasti akan nontonnya. Tidak hanya aku saja, murid-murid yang lain pasti juga akan nontonnya. reka sangat antusias lihat pertandingan antara murid terkuat di akademi ini lawan salah satu komandan prajurit kerajaan San Fulgen," ucap Charles.
"Aku pastinya juga akan ikut nonton," ucap Noa.
Aku pun terdiam setelah ndengar perkataan reka berdua.
"Sebelumnya nona Violetta, lalu sekarang Charles dan Noa. Kenapa kalian sangat yakin sekali kalau aku bisa ngalahkan salah satu komandan prajurit kerajaan San Fulgen ?," pikirku.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)