Font Size
15px

"Apa yang reka berdua katakan ? reka punya bukti tentang insiden yang terjadi di hutan Hevea ?," tanya Duke Jas.

"Tidak hanya itu, reka juga punya bukti tentang aktivitas ncurigakan kita berdua. Dan yang terpenting, reka punya bukti tentang percobaan dan para ’subjek’ ?," tanya Duke Darwin.

Duke Jas dan Duke Darwin sangat terkejut ndengar apa yang dikatakan kedua wanita itu. Wajah reka pun nampak pucat. Sentara itu, hakim Roswald lihat ke arah kedua wanita itu. Terlihat kedua wanita itu mbawa beberapa barang dan dokun yang sepertinya adalah bukti-bukti yang ditemukan.

"Begitu ya, jadi kalian datang kesini untuk ngantarkan bukti-bukti kepada komandan Asier dan Duke San Lucia. Kalau begitu, aku izinkan kalian untuk masuk ke ruang pengadilan ini dan mberikan bukti-bukti itu kepada komandan Asier dan Duke San Lucia," ucap hakim Roswald.

"Terima kasih, Yang Mulia," ucap kedua wanita itu.

Kedua wanita itu pun mulai berjalan ke arah tempatku duduk. Tapi reka tidak nuju ke arahku, lainkan nuju tempat komandan Asier dan Duke Louis yang duduk di depanku. Aku ngenal salah satu dari kedua wanita itu karena salah satu dari kedua wanita itu adalah wakil komandan Sara. Aku ngenalnya saat dia datang ke hutan Hevea dan nginterogasiku setelah kejadian itu terjadi. Tetapi aku tidak ngenal wanita yang satunya, tetapi jika dilihat dari seragamnya yang ngenakan seragam mirip prajurit kerajaan, sepertinya wanita itu rupakan prajurit milik Duke Louis. Lalu kedua wanita itu pun akhirnya sampai di tempat komandan Asier dan Duke Louis. Kedua wanita itu langsung nyerahkan beberapa barang dan dokun kepada komandan Asier dan Duke Louis.

"Aku tidak nyangka kalau kamu yang akan datang sendiri kesini, Sara," ucap komandan Asier sambil nerima barang yang diberikan wakil komandan Sara.

"Ketika prajurit yang kamu perintahkan untuk ncari bukti-bukti sudah kembali. reka mintaku untuk ngantarkan bukti-bukti ini," ucap wakil komandan Sara.

"Begitu ya. Terima kasih karena telah ngantarkan bukti ini, Sara," ucap komandan Asier.

"Sama-sama, komandan," ucap wakil komandan Sara.

Lalu komandan Asier mbuka wadah plastik yang berisi bukti-bukti yang dibawa wakil komandan Sara. Komandan Asier mperhatikan bukti-bukti itu dengan teliti.

"Ini bukti yang sangat narik," ucap komandan Asier.

"Jika ada yang ingin kamu tanyakan terkait bukti-bukti itu, tanyakan saja kepadaku, komandan. Aku sudah diberi penjelasan ngenai bukti-bukti itu dari reka yang nemukannya," ucap wakil komandan Sara.

"Oke, Sara," ucap komandan Asier.

Disaat yang sama wanita prajurit yang bersama wakil komandan Sara juga mberikan wadah plastik yang berisi bukti-bukti kepada Duke Louis.

"Terima kasih karena telah ngantarkan ini, Mina," ucap Duke Louis.

"Sama-sama, tuan Duke," ucap wanita prajurit itu.

"Jadi nama wanita itu adalah Mina ya," pikirku setelah ndengarkan percakapan reka.

Duke Louis lalu mulai mbuka wadah plastik itu untuk lihat bukti-bukti yang sudah ditemukan.

"Jika ada yang mau tuan Duke tanyakan ngenai bukti-bukti itu, bisa ditanyakan kepada saya," ucap wanita itu.

"Baik, Mina," ucap Duke Louis.

Duke Louis dan komandan Asier pun terus mperhatikan bukti-bukti itu dengan serius. Sentara hakim Roswald terlihat sedang mbaca buku sambil nunggu Duke Louis dan komandan Asier mberikan bukti-bukti itu kepadanya. Ratu Kayana saat ini terlihat sedang berada di samping nona Karina setelah sebelumnya beliau berada di belakang Duke Jas dan Duke Darwin yang sedang duduk di kursi terdakwa. Ratu Kayana dan nona Karina terlihat sedang fokus ngobrol. Sentara Duke Jas dan Duke Darwin sejak tadi hanya terdiam dengan wajah pucat reka. Sesekali reka berdua saling berbisik.

Setelah cukup lama komandan Asier dan Duke Louis lihat bukti-bukti itu, komandan Asier pun mulai berdiri.

"Kalau begitu aku duluan yang akan mberikan bukti-bukti ini, ayahanda," ucap komandan Asier.

"Iya," ucap Duke Louis.

Lalu komandan Asier berjalan ke depan nuju hakim Roswald.

"Maafkan saya karena telah mbuat anda nunggu lama, Yang Mulia," ucap komandan Asier.

"Tidak apa-apa, lagipula sidang yang dilakukan hari ini mang dikhususkan untuk kasus yang berkaitan dengan Rid Archie. Jadi tidak ada sidang lain setelah sidang kasus ini," ucap hakim Roswald sambil nutup buku yang beliau baca.

"Kalau begitu terima kasih, Yang Mulia. Saya akan mberikan bukti ini kepada Yang Mulia. Sebelumnya saya minta maaf apabila saya mberikan bukti ini dengan cara yang tidak sopan karena saya akan lemparnya ke Yang Mulia," ucap komandan Asier.

"Tidak apa-apa, aku tidak mpermasalahkannya," ucap hakim Roswald.

"Baiklah. Kalau begitu tangkap ini, Yang Mulia," ucap komandan Asier.

Komandan Asier lalu lemparkan wadah plastik yang berisi bukti-bukti yang dia dapatkan ke hakim Roswald. Hakim Roswald pun berhasil nangkap wadah plastik itu dengan sempurna nggunakan tangan kanannya, padahal wadah plastik itu lumayan besar. Hakim Roswald lalu riksa bukti-bukti yang ada di wadah plastik itu.

"Ini kan....," ucap hakim Roswald.

"Ya, itu benar. Bukti-bukti yang ditemukan oleh para prajuritku adalah pakaian kotor yang berlumuran tanah dan darah. Pakaian kotor itu terlihat seperti semacam pakaian bandit. Pakaian itu ditemukan terkubur di wilayah hutan Hevea,"

"Sebelumnya saat diinterogasi oleh wakil komandanku, Rid bilang kalau dia dan putra Duke San Angela diserang oleh sekelompok bandit di hutan itu. Rid bilang kalau dia telah mbunuh bandit-bandit yang nyerang reka. Tentu wakil komandanku tidak percaya begitu saja dengan perkataannya itu, dia lalu mutuskan untuk ngecek kebenarannya sendiri dengan ngutus beberapa prajuritnya untuk ngecek di sekitar hutan itu untuk ncari tahu apakah benar ada mayat bandit di sekitar itu yang sudah dibunuh oleh Rid. Tetapi komandan Luka tiba-tiba ngajukan diri untuk lakukan pengecekan sendiri. Beliau lalu nyuruh beberapa prajuritnya untuk riksa sekitar hutan nggantikan prajurit yang diperintah oleh wakil komandanku. Tentu wakil komandanku setuju saja dengan usulan itu. Beberapa prajurit komandan Luka lalu riksa sekitar hutan dan reka berkata kalau reka tidak nemukan satu pun mayat bandit di hutan itu dan malah nemukan mayat prajurit Duke San Angela. Itu berarti Rid telah berbohong tentang alasannya itu. Tapi, kenapa sekarang prajuritku bisa nemukan pakaian bandit yang sudah berlumuran darah dan tanah ini terkubur di hutan itu ? Apakah itu berarti komandan Luka lah yang telah berbohong saat itu ? Kelihatannya beliau telah ngganti pakaian orang-orang yang berpakaian bandit itu dengan pakaian seragam prajurit Duke San Angela untuk njebak Rid," ucap komandan Asier.

Setelah komandan Asier berbicara seperti itu, tiba-tiba komandan Luka langsung berdiri dari kursinya.

"Beraninya kau mfitnahku seperti ini, komandan Asier. mang kamu mbawa pakaian bandit yang sudah kotor dan berlumuran darah, tetapi bisa saja pakaian itu adalah pakaian dari bandit yang baru saja sudah prajuritmu bunuh dan bukan bandit yang terlibat langsung di hutan Hevea," ucap komandan Luka.

"Ya, kamu ada benarnya, komandan Luka. Bisa saja bukti pakaian bandit yang kubawa berasal dari bandit yang baru saja prajuritku bunuh. Tetapi aku masih punya bukti lainnya. Bisakah anda nunjukkan bukti itu, Yang Mulia ? skipun bukti itu sedikit tidak nyaman untuk dilihat," ucap komandan Asier.

"Baiklah, aku akan nunjukannya," ucap hakim Roswald.

Lalu hakim Roswald ngambil bukti yang dibilang oleh komandan Asier di dalam wadah dan mulai nunjukannya. Sebagian besar orang yang berada di ruang pengadilan itu pun terkejut ketika hakim Roswald nunjukan bukti itu. Sebagian besar orang yang lihat bukti itu pun ketakutan dan bergidik ngeri. Karena bukti yang ditunjuk oleh hakim Roswald adalah potongan lengan dari bahu hingga tangan yang sedang gang pedang. Potongan lengan itu dilumuri oleh banyak darah dan tanah, beberapa bagian dari potongan lengan itu pun ada yang sudah mbusuk tetapi yang anehnya potongan lengan itu sama sekali tidak berbau busuk. Mungkin bau busuk di potongan lengan itu sudah dihilangkan oleh suatu sihir.

"Maaf karena mbuat kalian tidak nyaman dengan bukti yang prajuritku temukan ini," ucap komandan Asier.

"Apa-apaan kau, komandan Asier ? Kenapa kau mbawa bukti seperti itu ?," tanya komandan Luka.

"Bukti ini ditemukan terkubur di hutan Hevea. Tentu saja bukti yang ditemukan ini untuk mbuktikan kalau apa yang terjadi di hutan Hevea adalah perbuatan kalian. Apa kamu tidak lihat kalau di bagian bahu pada potongan lengan itu masih terdapat potongan pakaian yang masih lekat di potongan lengan itu ?," tanya komandan Asier.

"Iya, aku lihatnya. Tapi potongan pakaian yang masih lekat itu tidak terlihat seperti pakaian seragam prajuritku, malah terlihat seperti pakaian biasa yang sepertinya dikenakan oleh bandit. Apa kau ingin mfitnahku lagi dengan berkata kalau ucapan Rid Archie lah yang benar dan aku lah yang berbohong ? Tapi bukti yang kamu punya itu tidaklah berarti karena bisa saja potongan lengan itu berasal dari bandit yang baru saja dibunuh dan bukan yang terlibat pada insiden di hutan Hevea," ucap komandan Luka.

"Itu mang benar, bisa saja kalau potongan lengan ini berasal dari bandit yang baru saja dibunuh. Tetapi tidakkah kamu ngamati pedang yang sedang dipegang oleh potongan lengan ini ?," tanya komandan Asier.

ndengar perkataan komandan Asier, komandan Luka pun mulai mperhatikan pedang yang dipegang potongan lengan itu.

"Apa ?!?! Bagaimana bisa ?!?!?," ucap komandan Luka yang terkejut.

Komandan Luka pun terkejut setelah lihat pedang yang dipegang potongan lengan itu.

"Kamu nyadarinya kan, komandan ? Pedang yang dipegang oleh potongan lengan itu rupakan pedang yang sering digunakan oleh prajurit Duke San Angela. Prajurit kerajaan ataupun prajurit Duke yang rupakan prajurit biasa tidak diberikan senjata kontrak dan hanya diberikan senjata tanpa kontrak. Tetapi desain senjata yang diberikan kepada para prajurit kerajaan ataupun prajurit Duke itu sama semua, yang mbedakan hanyalah warna dari senjata itu. Dan warna pedang yang dipegang oleh potongan lengan itu nunjukan kalau pedang itu rupakan pedang yang dipakai oleh prajurit San Angela. Kenapa pedang prajurit San Angela bisa dipakai oleh seorang bandit ? Apakah prajurit San Angela mberikan senjatanya kepada para bandit atau sebenarnya prajurit San Angela lah yang nyamar sebagai bandit dan micu terjadinya insiden yang terjadi di hutan Hevea ?," tanya komandan Asier.

ndengar penjelasan komandan Asier, komandan Luka pun terdiam dengan wajah pucat. Dia tidak berusaha mbantah penjelasan komandan Asier.

"Mungkin kamu beranggapan kalau bisa saja potongan lengan itu awalnya tidak nggenggam pedang itu dan nganggap kalau aku lah yang sengaja mbuat potongan lengan itu nggenggam pedang itu. Tetapi dilihat dari genggamannya yang kuat, sepertinya pemilik potongan lengan ini sedang bersiap untuk nyerang nggunakan pedang itu, tetapi lengannya lebih dulu terpotong. Lengan yang telah terpotong itu mbuat lengannya njadi kaku dan sudah tidak bisa digerakkan lagi, maka dari itu pedang itu masih berada dalam genggaman tangan itu. Jadi tidak mungkin aku yang mbuat potongan lengan itu nggenggam pedang karena sulit untuk mbuat potongan lengan yang sudah kaku itu untuk nggenggam pedang jika aku yang lakukan itu. Potongan lengan itu sudah nggenggam pedang itu sejak ditemukan. Jika kamu masih tidak percaya dengan adanya bukti sebuah potongan lengan ini, masih ada bukti potongan lengan yang lain yang juga sedang gang senjata. Dan tentu saja senjata yang potongan lengan itu pegang rupakan senjata para prajurit Duke San Angela," ucap komandan Asier.

Komandan Luka pun terdiam dengan wajah pucatnya. "Kenapa kamu hanya diam saja, komandan ? Apa kamu tidak mau mbantah apa yang aku ucapkan barusan ?," tanya komandan Asier.

Komandan Luka masih tetap terdiam ski ditanya oleh komandan Asier.

"Kelihatannya kamu masih akan tetap diam ya, komandan. Kalau begitu, bagaimana nurut anda, Yang Mulia ? Apakah dengan bukti-bukti yang saya berikan itu sudah cukup untuk mbuktikan siapa yang sebenarnya bersalah pada insiden yang terjadi di hutan Hevea ?," tanya komandan Asier.

"Iya, penjelasan yang kamu katakan tadi sangat masuk akal, komandan Asier. Senjata-senjata yang dipegang oleh potongan lengan ini mang rupakan senjata yang sering digunakan oleh para prajurit San Angela, tetapi pakaian yang masih lekat di potongan lengan ini bukanlah pakaian seragam prajurit San Angela. Dari penjelasan yang dikatakan Rid Archie saat di hutan Hevea, dia bilang kalau dia mbunuh bandit yang nyerang reka di hutan itu. Tapi prajurit komandan Luka tidak nemukan adanya mayat bandit di hutan itu dan hanya nemukan mayat para prajurit Duke. Itu berarti potongan lengan ini rupakan potongan lengan para bandit yang telah dibunuh oleh Rid Archie, karena pakaian yang lekat di potongan lengan ini rupakan pakaian biasa. Lalu, adanya senjata prajurit San Angela yang dipegang oleh potongan lengan ini, itu mbuktikan kalau prajurit San Angela nyamar sebagai bandit lalu nyerang Rid Archie di hutan Hevea. Bukti-bukti ini ndukung bukti percakapan yang berasal dari batu kristal milik kepala akademi. Pada bukti percakapan itu, disebutkan kalau mang Rid Archie lah yang diserang dalam insiden itu dan Rid Archie mutuskan mbunuh reka semua sebagai aksi perlindungan diri,"

"Oleh karena itu, dengan adanya bukti-bukti ini, Rid Archie kembali lagi dinyatakan tidak bersalah dalam insiden itu. Sentara itu, komandan Luka sebagai komandan prajurit Duke San Angela, karena telah rencanakan pembunuhan terhadap warga sipil, berbohong dalam interogasi dan telah nghilangkan beberapa bukti saat insiden berlangsung, maka aku nyatakan kalau komandan Luka dinyatakan bersalah dalam insiden ini. Beberapa prajurit yang terlibat dalam insiden itu akan diselidiki lebih lanjut untuk nentukan apakah reka bersalah atau tidak. Lalu hukuman untuk komandan Luka akan aku berikan setelah keseluruhan sidang ini selesai. Apabila komandan Luka keberatan dengan hasil ini, komandan Luka bisa ngajukan banding dengan mberikan bukti-bukti yang kuat,"

"Untuk sekarang, para prajurit sekalian, tolong bawa komandan Luka ke ruangan terdakwa terlebih dahulu karena setelah ini sidang akan berganti ke kasus lain. Jangan lupa untuk njaga dia agar tidak larikan diri," ucap hakim Roswald.

"Siap, Yang Mulia," ucap para prajurit yang ada di ruangan itu.

Beberapa prajurit itu lalu pergi ke tempat duduk komandan Luka, lalu reka pun bersiap untuk mbawa komandan Luka pergi ke ruangan terdakwa. Sentara komandan Luka hanya diam saja setelah ndengar perkataan hakim Roswald. Dia tidak berusaha untuk mbantah perkataan hakim Roswald. Bahkan sekarang dia tidak berusaha lawan saat mau dibawa oleh para prajurit itu.

"K-kenapa ini bisa terjadi ?," tanya komandan Luka.

Komandan Luka masih tidak percaya kalau dia dinyatakan bersalah oleh hakim Roswald. Lalu komandan Asier pun nghampiri komandan Luka yang sedang dibawa oleh beberapa prajurit.

"Sayang sekali ya, komandan. Aku yakin kamu sudah rintahkan para anak buahmu untuk nutupi atau nghilangkan bukti-bukti terkait insiden itu, tetapi tetap saja bukti itu dapat ditemukan oleh para prajuritku," ucap komandan Asier.

"B-bagaimana bisa kau nemukan bukti itu ? Padahal aku sudah nyuruh anak buahku untuk nghilangkan dan nghancurkan bukti-bukti itu," ucap komandan Luka.

"Entahlah, bukan aku yang nemukan bukti itu, lainkan prajurit yang aku perintahkan. Mungkin saja reka bisa nemukan bukti itu karena anak buahmu lalai dalam nghilangkan bukti itu, atau mungkin saja kalau ada salah satu anak buahmu yang berkhianat dan anak buahmu itu sengaja ngubur bukti itu agar mudah ditemukan. Jika mang begitu, sepertinya anak buahmu itu masih waras karena dia tidak mau terlibat dalam rencana jahat yang sedang kalian rencanakan," ucap komandan Asier.

Komandan Luka pun terdiam lalu dia pun perlahan berjalan ninggalkan komandan Asier untuk nuju ruang terdakwa. Sentara komandan Asier terus lihat ke arah komandan Luka.

"Jika saja saat insiden itu terjadi aku tidak ngambil libur, mungkin kamu sudah ’kalah’ saat itu juga, komandan," ucap komandan Asier.

Komandan Luka pun akhirnya telah dimasukan ke ruangan terdakwa, sentara komandan Asier kembali ke tempat duduknya. Aku yang lihat komandan Asier sudah duduk di tempat duduknya pun langsung ngucapkan terima kasih kepadanya.

"Terima kasih karena telah nolongku, kakak Asier. Bahkan sampai ngumpulkan bukti-bukti seperti itu," ucapku.

"Tidak apa-apa, Rid. Lagipula aku lakukan ini juga untuk adikku. Jika kamu ditahan atau ndapatkan hukuman mati, nanti Irene akan sedih," ucap komandan Asier.

Sentara itu, wakil komandan Sara yang saat ini sedang duduk di samping kananku pun mulai ngajakku bicara.

"Aku ingin minta maaf, Rid Archie. Karena aku tidak teliti saat nginterogasimu, aku jadi mbuatmu ngalami hal seperti ini," ucap wakil komandan Sara.

"Tidak apa-apa, wakil komandan. Aku tidak terlalu mikirkan soal itu, jadi tenang saja," ucapku.

"Baiklah kalau begitu," ucap wakil komandan Sara.

Lalu sidang pun dilanjutkan kembali.

"Berdasarkan bukti-bukti pendukung yang diberikan oleh komandan Asier, maka bisa disimpulkan kalau bukti percakapan yang ada di batu kristal yang dimiliki oleh kepala akademi adalah bukti yang valid dan tidak terbantahkah. Dengan begitu, Duke San Angela dan Duke San Minerva telah terbukti sebagai orang yang rencanakan pembunuhan terhadap seluruh keluarga San Lucia dan Yang Mulia Ratu, dan rencana reka diawali dengan reka yang berniat untuk mbunuh Rid Archie terlebih dahulu. Tetapi sebelum itu, aku ingin lihat terlebih dahulu bukti-bukti yang dibawa oleh Duke San Lucia. Karena kelihatannya ada kejahatan lain yang telah dilakukan oleh reka," ucap hakim Roswald.

"Itu benar, Yang Mulia," ucap Duke Louis sambil berjalan nuju hakim Roswald.

"Maafkan aku karena mberikan bukti ini dengan cara yang tidak sopan tapi tolong terimalah ini, Yang Mulia," ucap Duke Louis.

Duke Louis pun lemparkan wadah plastik yang berisi bukti-bukti itu. Hakim Roswald pun nangkap wadah itu dengan sempurna nggunakan tangannya. Lalu hakim Roswald langsung lihat bukti-bukti itu. Beberapa bukti itu berisi dokun yang ngharuskan hakim Roswald untuk mbaca dokun-dokun itu. Ketika mbaca salah satu dokun, hakim Roswald pun terkejut.

"Tunggu, dokun ini....," ucap hakim Roswald.

Duke Louis pun lihat ke arah hakim Roswald. Duke Louis tahu dokun apa yang sedang dibaca oleh hakim Roswald.

"Itu benar, Yang Mulia. Dokun itu rupakan dokun tentang percobaan yang dilakukan oleh reka. Percobaan itu adalah sumber utama dari insiden tewasnya beberapa Elf yang mayatnya ditemukan di wilayah San Lucia. Elf yang tewas itu ditemukan dengan lubang di dada kirinya yang berarti jantung dari Elf itu telah diambil. Jantung Elf itulah yang njadi bahan dalam percobaan itu. reka ngambil jantung Elf itu agar dapat digunakan oleh manusia yang reka pilih sebagai ’subjek’ dalam percobaan itu. Dan orang yang bertanggung jawab karena telah mbuat percobaan itu adalah.....Marquess Rovinj, Marquess Marcelo Buston," ucap Duke Louis.

Sebagian besar orang yang berada di ruang pengadilan itu pun terkejut ndengar hal itu, termasuk dengan Marquess Marcelo yang namanya baru saja disebut. Marquess Marcelo sangat terkejut ketika ndengar namanya disebut.

"Apa ?!?! A-aku ?!?!," tanya Marquess Marcelo yang terkejut.

Sentara itu, Duke Remy justru tersenyum setelah ndengar itu apa yang dikatakan Duke Louis.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 262 : Rencana Kejahatan Besar Yang Terungkap part 3 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Similar genre

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

Grasping the Evil cover
Similar genre

Grasping the Evil

I'm Ink我是墨水 ·Action

Mastersaid,thewomanIheldinmyhands,ImustprotectfortherestofmylifeMastersaid,it’shardtocultivateasaDemon,andonceyouentertheDemonDao,youshouldneverloo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.