Keesokan harinya.
Hari ini rupakan hari pertama di bulan Juli dan hari ini juga rupakan hari pertama di tahun ajaran baru ini. Pagi harinya, seperti biasa kami lakukan latihan di tempat latihan. Karena kami belum secara resmi njadi murid tahun kedua karena belum datang dan nempati kelasnya, maka kami masih lakukan latihan di tempat latihan tahun pertama untuk kelas kami sebelumnya. Bisa dibilang, ini rupakan hari terakhir kami berlatih di tempat latihan ini.
Setelah cukup lama kami berlatih, kami pun mutuskan untuk nyudahi latihan hari ini.
"Ayo kita segera sudahi latihan hari ini, kita harus bersiap-siap untuk pergi ke kelas baru kita. Lagipula hari ini kita sudah njadi murid tahun kedua," ucapku.
"Kamu benar. Sepertinya ini adalah hari terakhir bagi kita untuk latihan di tempat latihan ini," ucap Charles.
Kami lihat sebentar ke sekeliling tempat latihan itu.
"Ayo kita kembali ke asrama," ucapku.
Setelah lihat ke sekeliling tempat latihan itu, kami pun pergi ninggalkan tempat latihan itu. Sepanjang perjalanan nuju asrama, kami pun saling ngobrol.
"Nanti kamu jangan pergi duluan ke akademi, Rid. Tunggulah kami dan berangkatlah bersama," ucap Noa.
"Aku tidak bisa janji soal itu. Tapi akan aku usahakan," ucapku.
"Kamu ini," ucap Noa.
Setelah itu, kami pun sampai di gedung asrama. skipun kami seharusnya sudah njadi murid tahun kedua, tetapi asrama kami tidak berpindah dan kami tetap nempati asrama kami yang sebelumnya. Kami pun langsung pergi ke asrama kami masing-masing untuk bersiap-siap. Aku mutuskan untuk langsung mandi setelah sampai di asramaku. Setelah mandi, aku pun pergi ke kamarku untuk ngenakan pakaianku. Ketika aku sedang berada di kamarku, aku ndengar suara kunci pintu yang baru saja dibuka. Suara kunci pintu itu berasal dari pintu depan asramaku. Lalu setelah itu, terdengar suara pintu yang dibuka dan suara langkah kaki seseorang yang masuki asramaku. Tetapi aku tidak khawatir akan hal itu karena aku tahu kalau itu adalah Irene yang baru saja masuk ke asramaku. Aku bisa rasakan itu dari auranya dan aku sudah hafal dengan aura Irene.
Aku pun keluar dari kamarku setelah ngenakan pakaian kasualku. Lalu aku lihat Irene yang bersiap untuk mbuat sarapan dan dia juga ngenakan pakaian kasualnya. Sepertinya dia baru saja selesai mandi dan tidak sempat ngeringkan rambutnya karena aku lihat rambutnya masih basah. Aku juga lihat ada 2 buah tas berukuran sedang yang ada di sudut ruang tengah, tas yang satunya aku tahu kalau itu rupakan tas yang dibawa Irene saat belajar di akademi, tapi untuk tas yang satu lagi, aku tidak tahu. Tapi aku yakin kalau tas yang satu lagi juga rupakan milik Irene.
"Kamu sudah selesai mandi ya, Rid ? Tunggu sebentar ya, aku akan segera nyiapkan makanannya," ucap Irene.
"Kamu juga kelihatannya baru saja selesai mandi, Irene. Rambutmu masih kelihatan basah," ucapku.
"Ah soal itu, aku buru-buru kesini jadi aku belum sempat ngeringkan rambutku," ucap Irene.
"Padahal kamu tidak perlu buru-buru seperti itu. Jika kamu rasa tidak enak karena tidak mbuatkanku sarapan, aku tidak masalah akan hal itu. Lagipula aku juga bisa mbuat sarapan sendiri," ucapku.
"Tapi ini rupakan perjanjian di antara kita. Karena kamu sudah latihku, maka aku akan mbuatkanmu makanan," ucap Irene.
"Ya sudah kalau begitu," ucapku.
Kemudian, aku ngarahkan tangan kananku ke arah Irene.
~Wind Magic : Soft Breeze~
Aku ngeluarkan hembusan angin yang pelan ke arah Irene.
"Aku akan ngeringkan rambutmu, jadi kamu fokus saja untuk mbuatkan makanan, Irene," ucapku.
"Baiklah...Terima kasih," ucap Irene.
"Sama-sama," ucapku.
Aku ncampurkan sedikit sihir api ke dalam hembusan angin itu agar hembusan angin itu njadi hangat dan mbuat rambut Irene cepat kering. Setelah beberapa saat, rambut Irene pun sudah berhasil dikeringkan di saat yang sama Irene juga sudah nyiapkan makanannya. Setelah itu, kami pun sarapan bersama.
-
Setelah beberapa nit, kami pun sudah nyelesaikan sarapan kami.
"Rid, apa boleh aku minjam kamar tidur atau kamar mandimu ? Aku mau makai seragamku, kebetulan aku mbawanya di tas. Aku mbawa seragamku karena aku berniat untuk langsung pergi ke akademi setelah ini," ucap Irene.
"Silahkan pakai saja. Tapi kamu lebih baik makai kamar tidurku saja daripada makai kamar mandi. Takutnya saat kamu ngganti seragam dan seragammu itu jatuh ke lantai kamar mandi, seragam itu akan basah. Yah skipun bisa dikeringkan dengan sihir, tapi bisa saja seragam itu akan njadi kotor. Jadi lebih baik gunakan kamar tidurku saja. Lagipula saat di asramamu, kamu selalu nggunakan kamar tidurmu kan untuk ngganti pakaian ?," tanyaku.
"Yah itu benar. Aku lebih nyaman ngganti pakaian di kamar tidur daripada di kamar mandi. Baiklah, kalau begitu aku pinjam dulu kamar tidurmu," ucap Irene.
Irene pun ngambil salah satu tasnya yang berisi seragam akademi lalu mbawanya masuk ke kamar tidurku.
Setelah Irene selesai makai seragamnya, kali ini giliranku masuk ke kamarku untuk ngenakan seragam. Setelah beberapa saat kemudian, aku pun selesai ngenakan seragam. Tidak lupa juga aku masang lencana perak di seragamku sebagai bukti kalau aku sekarang sudah njadi murid tahun kedua. Setelah selesai ngenakan seragam dan masang lencana, aku pun keluar dari kamarku. Terlihat Irene masih berada di ruang tengah, dia sedang ngecek barang-barangnya di tas yang dia bawa.
"Kamu sudah selesai, Rid ? Apa kamu mau langsung ke akademi setelah ini ?," tanya Irene.
"Iya, aku akan langsung pergi ke akademi," ucapku.
"Kalau begitu, aku ikut. Tunggu sebentar," ucap Irene.
Irene masih ngecek barang-barangnya di tas. Beberapa detik kemudian, dia pun sudah selesai ngecek barang-barangnya.
"Aku titip tasku yang ini di asramamu ya, Rid. Tas ini berisi pakaian yang aku pakai tadi. Aku akan makainya lagi nanti saat nyiapkan makan malam disini," ucap Irene.
"Baiklah. Kalau begitu, ayo berangkat," ucapku.
Aku dan Irene pun berjalan nuju pintu depan asrama lalu mbukanya. Ketika aku sudah berada di luar asrama, aku lihat ke sekeliling dan kondisi di luar asrama tampak sepi.
"Sepertinya Charles, Chloe dan Noa belum bersiap," pikirku.
Karena reka belum terlihat di depan asrama reka, aku mutuskan untuk langsung pergi ke akademi. Irene pun hanya ngikutiku tanpa bilang sesuatu tentang reka.
Kami terus berjalan ninggalkan asrama dan akhirnya sampai di gedung lobi akademi. Ketika sampai di gedung lobi akademi, terlihat ada cukup banyak murid yang ada disana. reka semua kebanyakan rupakan murid tahun pertama karena aku tidak lihat lencana pada seragam reka. reka belum ngenakan lencana karena lencana reka baru dibagikan nanti saat kelas di hari pertama. Ketika aku dan Irene berjalan di antara murid-murid itu, murid-murid itu pun langsung heboh.
"Bukannya itu Rid Archie ? Dia yang muncul di surat kabar waktu itu kan ?,"
"Dia terlihat lebih keren dibandingkan dengan di foto yang ada di surat kabar,"
"Perempuan di sampingnya itu, bukannya itu putri es ?,"
"Jadi berita yang tercantum di surat kabar itu benar kalau Rid Archie dan putri es saat ini tengah njalin hubungan," ucap murid-murid itu.
reka terus natapku dan mbicarakanku ketika aku berjalan di tengah-tengah reka.
"Sepertinya kamu sangat populer di kalangan tahun pertama, Rid," ucap Irene.
"Itu semua gara-gara surat kabar yang muat tentang diriku. Bahkan surat kabar itu juga muat tentang hubungan kita," ucapku.
"Kamu benar. Aku tidak nyangka kalau hubungan kita akan tercantum di surat kabar itu. Darimana reka ndapatkan informasi tentang itu ?," tanya Irene.
"Entahlah," ucapku.
Setelah lewati bagian dalam lobi akademi, kami pun berhasil masuk ke wilayah dalam akademi. Biasanya kami pergi ke gedung yang berada di sebelah kiri dari lobi, tapi karena saat ini kami sudah njadi murid tahun kedua, maka kami pergi ke gedung sebelah kanan dari lobi. Kami pun masuk ke gedung itu dan ncari kelas kami. Kelas A tahun kedua yang rupakan kelas kami ternyata berada di ujung gedung ini, sama seperti di gedung tahun pertama. Lalu kami pun masuk ke kelas itu. Kelas itu masih sepi dan hanya ada beberapa murid saja yang sudah datang.
"Selamat pagi, wakil ketua," ucap murid-murid teman sekelasku.
"Selamat pagi juga," ucapku.
Sepertinya informasi tentang aku yang saat ini njadi wakil ketua Elevrad sudah tersebar di antara murid tahun kedua hingga tahun keempat. Tapi aku tidak terlalu mikirkannya.
Aku pun ncari tempat duduk yang akan aku duduki selama tahun kedua ini. Seperti biasa aku ngambil tempat duduk yang berada di paling belakang. Irene juga ngambil tempat duduk yang paling belakang dan tempat duduk dia berada di sampingku. Aku tidak tahu kenapa dia milih untuk duduk di sampingku, padahal saat tahun pertama, dia duduk di bangku yang berada di bagian tengah. Tapi aku milih untuk tidak nanyakan alasannya. Lalu aku pun terus duduk di bangku itu sampai jam belajar dimulai.
Murid-murid yang berada di kelas ini pun mulai berdatangan seiring jam belajar yang sebentar lagi mau dimulai. Pertama ada Julie, Lily, Leandra dan Kotaro yang datang ke kelas.
"Selamat pagi, nona. Aku tidak nyangka kalau nona sudah berada di kelas. Pantas saja saat aku manggil nona di asrama, aku tidak ndapatkan jawaban," ucap Leandra.
"Iya. Maaf ya kalau tidak mberitahumu terlebih dahulu kalau aku datang ke kelas duluan," ucap Irene.
"Tidak apa-apa, nona. Tidak usah dipikirkan," ucap Leandra.
"Hmmm, tumben sekali kamu duduk di belakang, nona. Biasanya kamu duduk di bangku bagian depan atau tengah," ucap Lily.
"Mau duduk dimanapun juga sama saja, Lily," ucap Irene.
"Apa mungkin kamu milih duduk di belakang karena kamu ingin duduk di samping Rid yang juga berada di belakang. Ya ampun, jangan bilang kalau kamu ingin terus berduaan dengan Rid bahkan saat berada di kelas," ucap Lily.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Lily," ucap Irene.
Wajah Irene tampak datar saat ngatakan itu. Setelah itu, Lily berbisik ke telinga Leandra.
"Aku berniat nggodanya, tapi dia tidak nunjukkan ekspresi sama sekali. Padahal aku ingin lihat ekspresi malunya," ucap Lily.
"Ahahaha, kamu salah jika ingin nggoda nona. Lagipula nona itu rupakan putri es," ucap Leandra.
"Kamu benar juga," ucap Lily.
Lalu reka pun pergi nuju bangku yang ingin reka tempati. Setelah itu, giliran Charles dan Chloe yang datang.
"Kamu sudah datang ya, Rid," ucap Charles.
"Iya. Maaf kalau aku datang duluan soalnya tadi saat aku sudah selesai bersiap, aku tidak lihat kalian di depan asrama kalian," ucapku.
"Tidak apa-apa, santai saja," ucap Charles.
"Dimana Noa ?," tanyaku.
"mangnya dia belum datang ? Aku kira dia sudah datang ke kelas ini," ucap Charles.
"Belum, dia belum datang. Sepertinya sebentar lagi dia akan datang sambil marah-marah karena sebelumnya dia ingin kita berangkat bersama tapi pada akhirnya dia malah berangkat sendiri," ucapku.
Tidak lama kemudian, Noa pun datang.
"Hei kalian, kenapa kalian pergi ninggalkanku ? Bukankah aku sudah bilang untuk datang ke kelas ini bersama-sama ?," ucap Noa yang tampak kesal.
"Tuh kan," ucapku.
"Sepertinya kamu bisa lihat masa depan, Rid," ucap Charles.
Lalu setelah itu, tuan Alan pun masuki kelas ini. Dan pelajaran pertama di tahun kedua ini pun dimulai.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)