Font Size
15px

"Bagaimana jika aku ncari ’Divine Elental Spirits’ yang lainnya dan ngajaknya untuk bergabung dengan kita ?," tanya Undine.

"Apa kamu bisa nemukan reka, Undine ?," tanya tuan Raven.

"Kami mang tidak bisa berkomunikasi lalui telepati ataupun ngetahui keberadaan kami masing-masing, namun sebelumnya aku sudah pernah bilang kalau aku sebagai ’Divine Elental Spirits’ dianggap sebagai ’Bencana Berjalan’. Begitupun juga ’Divine Elental Spirits’ yang lainnya. Jika ada suatu bencana yang terjadi di suatu wilayah di benua utara, apalagi jika bencana itu berkaitan dengan suatu sihir elen, maka sudah dipastikan kalau yang nyebabkan bencana itu adalah ’Divine Elental Spirits’. Setelah ngetahui itu, aku bisa segera bergegas nuju tempat itu untuk nemukan reka," ucap Undine.

"Sepertinya tidak mudah untuk nemukan reka karena akhir-akhir ini tidak terdengar ada bencana dahsyat satupun yang terjadi di benua utara ini, kecuali karena ulahmu yang nghancurkan beberapa kota," ucap tuan Raven.

"Itu kan karena tuan yang nyuruhku. mang tidak terdengar ada bencana lain yang terjadi akhir-akhir ini. Kelihatannya reka berdiam diri di suatu tempat atau reka nyamar dan nikmati hidup reka sebagai makhluk lain," ucap Undine.

"mangnya ada berapa ’Divine Elental Spirits’ yang berada di luar ?," tanya tuan Raven.

"Sebelum aku pergi ninggalkan ’Geestenland’, sudah ada ’Divine Elental Spirits’ yang pergi dari ’Geestenland’ yaitu ’Divine Fire Elental Spirits, Magran’, ’Divine Wind Elental Spirits, Sylph’ dan ’Divine Earth Elental Spirits, Terra’. Lalu setelah aku pergi ninggalkan ’Geestenland’, sepertinya ada ’Divine Elental Spirits’ lainnya yang pergi ninggalkan ’Geestenland’ karena mungkin tidak senang dengan kepemimpinan ’Spirit Queen’ yang baru," ucap Undine.

"Begitu ya. Para Spirit yang telah ninggalkan Negeri Roh juga tidak diperkenankan untuk kembali lagi ke Negeri Roh. Bukan begitu, Fee ?," tanya tuan Raven.

Tuan Raven bertanya kepada Fee karena Fee yang seorang peri sebelumnya tinggal di sebuah hutan yang bernama ’Himnaskogur’. Negeri Roh ’Geestenland’ berada tepat di tengah hutan tersebut. Lebih tepatnya bukan Negeri Rohnya, lainkan jalan masuk nuju ’Geestenland’ karena ’Geestenland’ seperti sebuah Negeri yang berada di dunia yang terpisah dengan dunia ini.

"Itu benar, tuan. Sebelum saya pergi dari hutan tersebut, saya lihat ada beberapa roh yang berkeliaran di hutan tersebut. reka sebelumnya pergi dari ’Geestenland’ dan berniat untuk kembali kesana. Tapi tidak diperbolehkan untuk kembali lagi ke ’Geestenland’. Makanya reka hanya bisa berkeliaran di hutan ’Himnaskogur’ atau pergi ke wilayah lain. Lalu saya bertanya dengan tetua peri dan reka berkata kalau ’Spirit King’ telah mbuat keputusan agar para Roh tidak diperbolehkan keluar dari ’Geestenland’. Jika reka keluar dari ’Geestenland’, reka tidak diperbolehkan untuk kembali lagi," ucap Fee.

Undine sangat terkejut ketika ndengar penjelasan Fee.

""Spirit King’ ?," tanya Undine.

"Itu benar, nona," ucap Fee.

"Sebelumnya aku sudah bilang kalau pemimpin yang mimpin kami adalah seorang Ratu, ’Spirit Queen’ kan ?," tanya Undine.

"Itu benar, Undine. Tapi bukankah wajar apabila ada Ratu, maka ada Raja juga ?," tanya tuan Raven.

"Tidak. Para roh sejak awal tidak mpunyai wujud yang tetap. Roh tingkat rendah biasanya hanya berbentuk seperti sekumpulan elen tertentu dalam bentuk kecil. Roh tingkat nengah biasanya berbentuk dalam sekumpulan elen dalam bentuk besar atau reka mbentuk diri reka njadi hewan-hewan atau bahkan ’Magic Beast’. Lalu Roh tingkat tinggi sepertiku biasanya ngambil wujud wanita yang berasal dari ras-ras lain, contohnya seperti aku yang ngambil wujud wanita manusia. ’Spirit Queen’ pun juga begitu, beliau juga ngambil wujud wanita maka dari itu beliau dipanggil sebagai ’Spirit Queen’,"

"Aku tidak pernah lihat atau bertemu Roh yang ngambil wujud laki-laki sekalipun dalam hidupku sejauh ini. Bahkan aku juga pernah mbaca sejarah tentang ’Geestenland’ ketika masih disana. Tidak ada sejarah yang ncatut kalau ada Roh yang ngambil wujud seorang laki-laki. Bahkan tidak ada yang namanya ’Spirit King’ yang tercantum di buku sejarah itu. Jadi kenapa bisa ada ’Spirit King’ saat ini ?," tanya Undine yang nampak bingung.

reka semua pun terdiam. Lalu tak berselang lama Fee pun mulai njawab.

"Aku tidak tahu kenapa, karena aku hanya ndapatkan informasi tentang itu saja, nona Undine," ucap Fee.

"Tidak apa-apa, Fee," ucap Undine.

Lalu Undine naruh tangan kanannya di dagunya seperti sedang berpikir.

"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan ’Geestenland’ setelah aku pergi dari negeri itu," ucap Undine.

"Apa kamu mau pergi kesana, Undine ?," tanya tuan Raven.

"Tidak, tuan. Karena saat ini aku masih mpunyai tugas dari anda yang harus diselesaikan. Jadi bagaimana dengan saranku untuk ncari ’Divine Elental Spirits’ yang lain ?," tanya Undine.

"Saranmu itu bagus, Undine. Tapi pencarian reka tidak akan kita jadikan prioritas karena kita tidak tahu keberadaan reka. Daripada mbuang-buang waktu untuk ncari reka yang belum tentu dapat ditemukan, lebih baik kita sekarang fokus pada tugas kita masing-masing. Undine, kamu tetap harus fokus untuk nghancurkan kota-kota kecil yang berada di wolayah Holy Kingdom. Jika kita nemukan keberadaan ’Divine Elental Spirits’, baru kita bergegas ke tempat itu," ucap tuan Raven.

"Baik, tuan. Dan untuk kalian semua, apabila kalian bertemu dengan ’Divine Elental Spirits’ sepertiku, aku harap kalian tidak nekat untuk lawannya. Jika tuan Raven atau tuan Nexus yang bertemu dengan Roh itu, aku yakin kalau reka berdua dapat ngalahkannya, tetapi aku ragukannya jika itu adalah kalian. Aku sarankan kalian untuk nghubungiku, tuan Nexus dan tuan Raven apabila bertemu dengan Roh itu. Jika kalian nekat lawannya, kalian sudah pasti akan mati dan organisasi ini pastinya akan mbutuhkan komandan baru setelah kalian mati," ucap Undine.

reka semua pun terdiam ndengar perkataan Undine. reka tidak ngiyakan dan juga tidak nolak.

"Nexus, sebelumnya kamu ndapatkan tugas untuk ngawasi pergerakan iblis yang berada di perbatasan darat yaitu di pegunungan Nebula Mortis. Setelah ini, bisakah kamu pergi ke perbatasan laut yaitu wilayah yang berada di dekat laut Sangu Mare ? Aku juga ingin kamu ncari informasi tentang cara masuki kerajaan Siren yang berada di bawah laut Sangu Mare," ucap tuan Raven.

"Baik, tuan. Saya akan laksanakan tugas dari anda," ucap Nexus.

"Bagus. Kali ini, aku yang akan pergi ke pegunungan Nebula Mortis dan pergi ke wilayah Iblis. Aku akan berusaha mbawa beberapa Iblis tingkat nengah dan tingkatbtinggi agar bisa digunakan oleh lgus dan Debora," ucap tuan Raven.

ndengar itu, reka semua pun terkejut.

"Bukankah itu terlalu berbahaya, tuan ?," tanya Feline.

"Jika anda ingin pergi kesana, maka kami akan nemani anda," ucap Irraldoi.

"Kalian tidak perlu khawatir, aku sendiri sudah cukup untuk pergi ke wilayah iblis. Lagipula kalian juga punya tugas masing-masing, jadi kalian fokuslah pada tugas kalian nanti," ucap tuan Raven.

"Baik, tuan," ucap reka semua.

"Nah karena kalian semua sudah laporkan tugas kalian sebelumnya, maka pertemuan ini akan segera aku akhiri. Namun sebelum itu, apa ada dari kalian yang mau nanyakan sesuatu ?," tanya tuan Raven.

reka semua pun terdiam sesaat, tapi setelah itu Fee ngangkat tangannya.

"Saya ingin bertanya, tuan," ucap Fee.

"Pertanyaan tentang apa itu, Fee ?," tanya tuan Raven.

"Ada beberapa dari kami yang belum ndapatkan rincian tentang tugas baru yang akan kami kerjakan, skipun tadi tuan Raven sudah bilang kalau kami akan ndapatkan tugas baru. Kapan kami akan ndapatkan penjelasan tentang tugas baru yang akan kami kerjakan ?," tanya Fee.

"mang sebelumnya aku sudah njelaskan tugas baru kepada beberapa dari kalian. Tapi untukmu, Ariu, Feline, Calla, Camia dan Saria, aku belum njelaskan tentang tugas baru kepada kalian karena aku masih perlu untuk mikirkan tentang apa yang harus kalian lakukan di tugas baru ini. Kalian tenang saja karena aku akan segera mutuskan tentang tugas baru apa yang akan kalian lakukan sebelum aku pergi ke Nebula Mortis. Selama nunggu keputusanku, kalian tetap tinggal di kota ini dan jangan pergi kemana-mana," ucap tuan Raven.

"Baik, tuan," ucap Fee dan yang lainnya.

"Ada pertanyaan yang lain ?," tanya tuan Raven.

Feline pun ngangkat tangannya.

"Saya ada pertanyaan, tuan. Tapi pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan tugas ataupun tentang organisasi ini," ucap Feline.

"Pertanyaan tentang apa itu, Feline ?," tanya tuan Raven.

"Apa tuan Raven miliki seorang anak laki-laki ?," tanya Feline.

ndengar pertanyaan Feline, Nexus dan Undine pun terkejut. Sentara itu, tuan Raven terlihat hanya diam. Tuan Raven hanya diam dan tidak njawab pertanyaan itu. Sikap tuan Raven mbuat Feline bingung.

"Tuan ?," tanya Feline.

"Tidak, Feline. Aku tidak miliki anak laki-laki, mangnya kenapa ?," tanya tuan Raven.

"Tidak apa-apa, tuan. Hanya saja saat saya mbantu Ariu untuk nyerang akademi di kerajaan San Fulgen, ada seorang murid laki-laki dari akademi itu yang nggagalkan kami dalam mbunuh pangeran dan putri kerajaan San Fulgen dalam penyerangan itu. Sekilas, saya rasakan kalau ada sesuatu hal yang mirip antara murid laki-laki itu dengan anda, skipun saya tidak tahu persis apanya yang mirip. Maka dari itu saya beranggapan kalau mungkin murid laki-laki itu miliki hubungan dengan anda," ucap Feline.

"Hmmm begitu ya. Apa kamu miliki foto murid laki-laki itu ?," tanya tuan Raven.

"Kebetulan saya mbawa surat kabar yang rilis di kerajaan San Fulgen setelah penyerangan kami ke akademi itu. Di surat kabar itu banyak terdapat foto murid laki-laki itu," ucap Feline.

Feline pun ngambil surat kabar itu dari kantung pakaiannya. Surat kabar itu sudah dia lipat hingga bisa masuk ke kantung pakaiannya. Lalu dia pun mberi surat kabar itu ke tuan Raven.

"Ini, tuan," ucap Feline.

Tuan Raven pun nerima surat kabar itu dan langsung mperhatikan surat kabar itu.

"Hmmmm, tidak. Aku tidak ngenalnya sama sekali," ucap tuan Raven.

Tuan Raven nampak tidak peduli sama sekali dengan apa yang dimuat di surat kabar itu.

"Begitu ya. Maaf karena telah nanyakan tentang ini, tuan Raven," ucap Feline.

"Tidak apa-apa, Feline," ucap tuan Raven.

"Maaf, tuan. Apa boleh aku lihat surat kabar itu ?," tanya Undine tiba-tiba.

Sepertinya dia penasaran dengan surat kabar itu.

Tuan Raven pun mberikan surat kabar itu ke Undine, Undine pun langsung mbaca dan mperhatikan surat kabar itu. Dia nampak fokus mbaca surat kabar itu.

"Hmmm, sepertinya aku pernah lihat wajahnya ini," ucap Undine.

"Apa kamu ngenalnya, Undine ?," tanya Feline.

"Tidak, karena aku belum pernah bertemu dengannya. Tetapi aku pernah bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya. Tapi sayangnya aku tidak bisa ngingatnya dengan jelas,"

"Sepertinya pertemuan itu terjadi berpuluh-puluh tahun atau mungkin ratusan tahun yang lalu karena aku tidak bisa ngingatnya dengan jelas. Yah, makhluk berumur panjang sepertiku tidak bisa ngingat dengan jelas sesuatu yang sudah terjadi dalam waktu yang lama," ucap Undine.

"Begitu ya," ucap Feline.

Pembicaraan antara Feline dan Undine pun terhenti.

"Apa pembicaraan kalian berdua sudah selesai ?," tanya tuan Raven.

"Sudah, tuan," ucap Feline.

"Baiklah. Apa ada dari kalian yang mau bertanya lagi ?," tanya tuan Raven.

reka semua diam. Tidak ada dari reka yang ingin bertanya.

"Tidak ada ya. Kalau begitu, pertemuan kali ini akan kuakhiri,"

"Aku ingatkan kepada kalian untuk jangan terburu-buru dalam nyelesaikan tugas yang aku berikan kepada kalian. Tidak apa-apa jika proses tugas kalian berlangsung lama dan juga tidak apa-apa jika kalian ngalami kegagalan pada tugas yang aku berikan kepada kalian. Aku masih tolerir kegagalan yang terjadi pada tahap ini, tapi aku tidak tolerir kegagalan yang terjadi di tahap selanjutnya,"

"Kita miliki 3 tujuan di tahap ini. Pertama, mperkuat pasukan dan kekuatan tempur organisasi kita. Kedua, naklukan semua kerajaan yang berada di benua utara. Dan ketiga, lemahkan kekuatan tempur Holy Kingdom dengan nghancurkan wilayah-wilayah yang berada di dekat Ibukota reka dan juga mbunuh para Holy Knights,"

"Jika ketiga tujuan itu sudah tercapai, maka kita bisa lanjut ke tahap selanjutnya agar bisa ncapai tujuan utama kita. Setelah ketiga tujuan itu tercapai, kita akan nyerang ibukota Holy Kingdom dan nghancurkannya. Dan setelah itu, kita, ’Engill Forstorelse’ akan ndeklarasikan perang dengan para Malaikat. Kita akan nghabisi para Malaikat itu dan njatuhkan reka ke bawah," ucap tuan Raven.

Tuan Raven nampak mbara ketika mbicarakan tentang itu. Terlihat kedua mata tuan Raven dari balik topengnya itu. Bola mata kirinya berwarna biru seperti bola mata pada umumnya, tetapi mata kanannya terlihat berbeda dengan mata kirinya. Bola mata kanannya berwarna emas dan terdapat bentuk nyerupai bulan sabit di dalam bola matanya itu. Ciri mata kanannya itu, sama seperti ciri mata yang dimiliki oleh para Malaikat.

"Tunggu saja kalian para Malaikat, aku pasti akan nghabisi kalian semua. Semua ini untuk mbalas perbuatan kalian karena telah nghancurkan kerajaan Framtida," pikir tuan Raven.

-

Pertemuan reka pun telah berakhir. reka yang sudah diberikan tugas baru langsung pergi untuk ngerjakan tugas baru itu. Sentara reka yang belum ndapatkan detail tentang tugas baru, mutuskan untuk pergi berkeliling kota itu, salah satunya adalah Feline.

Terlihat Feline dan Fee sedang berjalan di lorong bangunan dan berniat pergi berkeliling di kota setelah nghadiri pertemuan itu. Saat reka sedang berjalan nyusuri lorong itu, tiba-tiba Undine nghampiri reka dari belakang.

"Tunggu, Feline," ucap Undine.

"Undine ?," tanya Feline.

Feline dan Fee pun berhenti.

"Ada apa, Undine ? Dan tumben sekali kamu datang nghampiriku dari belakang, biasanya kamu tiba-tiba muncul dan ngagetkanku," ucap Feline.

"Sepertinya kamu lebih suka jika aku muncul tiba-tiba dan ngagetkanmu ya," ucap Undine.

"Aku akan nghancurkan tubuhmu jika kamu lakukan itu," ucap Feline.

"Ahahaha. Yah lupakan soal itu, aku disini mau mbicarakan tentang murid laki-laki yang kamu bilang mpunyai sesuatu hal yang mirip dengan tuan Raven. Aku sedikit penasaran dengannya, bisakah kamu nceritakan tentang murid laki-laki itu ? Kamu pasti sempat berhadapan dengannya kan ?," tanya Undine.

"Untuk apa aku nceritakannya padamu ? Jangan-jangan kamu berniat untuk pergi ke kerajaan San Fulgen dan ncari murid laki-laki itu ?," tanya Feline.

"Tidak, tidak, mana mungkin aku pergi ke kerajaan itu seenaknya tanpa perintah dari tuan Raven. Aku hanya penasaran saja dengan murid laki-laki itu karena wajahnya mirip dengan seseorang yang pernah aku temui dulu, skipun aku tidak tahu detailnya. Jadi bisakah kamu nceritakan tentangnya, Feline ?," tanya Undine.

-

Kembali ke kerajaan San Fulgen.

Pada malam harinya di depan gerbang San Fulgen Akademiya, terlihat seorang perempuan yang mbawa tas lumayan besar dan sebuah pedang sedang berdiri di depan gerbang San Fulgen Akademiya. Perempuan itu rupakan perempuan yang muncul di pelabuhan San Quentine kemarin malam.

"Sudah lama sekali ya. Senjak aku lulus dari akademi ini, aku belum pernah sekalipun datang lagi ke akademi ini. Sepertinya akademi ini tidak banyak yang berubah,"

"Terakhir kali aku berada di akademi ini, aku adalah seorang murid, dan kini aku akan njadi seorang prajurit yang njaga akademi ini. Yah sepertinya pekerjaan ini lebih cocok untukku," ucap perempuan itu.

Perempuan itu lalu mperhatikan kalau kedua tangannya sedang getar. Tapi perempuan itu hanya mbiarkannya saja.

"Nah sekarang, aku harus bertemu dengan kepala akademi terlebih dahulu," ucap perempuan itu.

-Bersambung

*Note : Halo para pembaca setia Peace Hunter. Saya ingin mberitahukan kalau mulai Chapter selanjutnya, cerita akan masuki tahun kedua akademi bagi Rid Archie dan teman-temannya. Karena semua ’event’ seperti ujian, turnan dan festival sudah diceritakan dengan rinci di tahun pertama, untuk tahun kedua ini saya berniat untuk ngskip beberapa dari ’event-event’ itu. Saya hanya akan ngskip ’event-event’ yang tidak ada suatu ’hal yang penting’ di ’event’ tersebut. Tidak hanya tahun kedua, tapi juga dengan tahun ketiga dan tahun keempat nantinya.

Tidak hanya itu, di kelanjutan cerita di akademi ini, saya berniat untuk mbunuh beberapa karakter yang sudah muncul sebelumnya untuk perkembangan cerita selanjutnya. Nantikan terus kelanjutan ceritanya ya.

Itu saja yang ingin saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

You are reading Peace Hunter Chapter 227 : Engill Forstorelse on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Similar genre

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.