Setelah mberi pelajaran pada Bagus, Randika langsung nuju ruangannya.
Tentu saja, Randika tidak peduli efek apa yang akan timbul dari kejadian barusan. Baginya Bagus adalah sebuah batu kerikil, buat apa dirinya mpedulikan hal kecil seperti itu?
Kejadian di lantai 1 tadi sudah nyebar di seluruh perusahaan. Semua orang takjub bahwa suami dari pemimpin reka tidak nciut di hadapan perusahaan besar seperti perusahaan Galaksi. Hal seperti inilah yang mbuat reka semakin bersemangat bekerja.
Namun pada siang hari, reka semua terkejut dengan pemandangan di depan gedung reka.
Puluhan orang berjas hitam dengan kacamata hitam sedang berbaris rapi di depan gedung. reka seperti para FBI yang siap nangkap buronan internasional.
"Hei ada apa ini!" Semua orang penasaran dengan kehadiran para orang berjas hitam tersebut.
"Hush jangan lihat! Nanti kau terlibat masalah!" Dengan cepat temannya ngajak pergi dari gedung dan makan di luar.
Para petugas keamanan sudah bersiaga sejak tadi. Selama orang-orang tersebut bergerak, reka akan nelepon polisi.
Keamanan dari perusahaan Cendrawasih tidak terlalu bagus ditambah lagi reka tidak punya senjata jadi pilihan terbaik adalah manggil polisi untuk situasi berbahaya seperti ini.
Bagus, yang berdiri di paling belakang, natap gedung di hadapannya dengan tatapan penuh amarah. Mukanya masih bengkak parah.
"Jika aku tidak bisa mbuat orang itu mati, selamanya penghinaan ini tidak akan pernah hilang." Hanya dengan satu sapuan tangan dari Bagus, semua orang berbaju hitam itu segera bergerak nuju lobi gedung.
lihat barisan orang itu maju, para petugas keamanan segera ncegat. "Apa yang hendak kalian lakukan! Berhenti atau kami akan manggil polisi!"
Para pengawal Bagus ini tidak mpedulikannya dan masuk begitu saja. Para petugas keamanan ini tidak bisa ncegah reka, lebih tepatnya reka semua ketakutan.
Satu nit sebelum reka masuk, seorang resepsionis ncegat seorang pria tinggi besar dan gemuk yang hendak nuju lift. "Maaf, Anda tidak bisa masuk."
"Kenapa aku tidak boleh masuk?" Wajah Indra terlihat bingung. "Aku hanya ingin bertemu dengan kakak seperguruanku."
"Siapa nama dari kakakmu itu?" Perempuan itu tidak bisa mahami perkataan pria gemuk ini. Ini adalah gedung perusahaan Cendrawasih, bukan tempat latihan ilmu bela diri.
"Oh!" Indra nggaruk-garuk kepalanya. "Kalau tidak salah, panggilannya adalah kak Randika di kota ini."
"Pak, kami tidak bisa ngijinkan bapak lewat kalau alasan kehadiran bapak tidak jelas." Resepsionis perempuan itu masih nggeleng-geleng lihat wajah bodoh Indra.
Namun di saat ini, Bagus dan para pengawalnya sedang berjalan nuju dirinya. Aura mbunuh yang pekat dan orang-orang yang terlihat sangar itu mbuat si resepsionis ketakutan.
Pada saat ini, kebetulan Randika ingin keluar ncari rujak. Ketika dia sampai di lobi, dia lihat Bagus dan teman-temannya sedang berjalan nuju lift dan seorang pria gemuk sedang berdiri di resepsionis.
Kenapa ada Indra di sini?
Randika berdiri terbeku di tempat, Bagus dengan cepat nyadari kehadiran Randika dan nunjuknya sambil berteriak, "Itu dia!"
Dalam sekejap, seluruh pengawal Bagus nerjang ke arah Randika.
Tidak peduli siapa orang itu, bagi pewaris perusahaan Galaksi tidak akan ada orang yang selamat setelah mbuat dirinya malu!
Bagus nggertakan giginya. Sekarang dia mbawa begitu banyak orang, kita lihat seberapa besar keberaniannya.
Di saat ini juga, Indra telah lihat kehadiran Randika dan berlari ke arahnya sambil tersenyum. "Kakak seperguruan!"
Ketika dia berlari, seluruh gedung seakan bergetar.
Tidak peduli seberapa lambat Indra, dia masih lebih cepat daripada para pengawal Bagus. Dalam sekejap dia sudah berada di hadapan Randika dan luknya. "Kakak seperguruan!"
Randika yang layang tidak bisa berkata-kata. "Bukankah harusnya kau manggilku kak Randika?"
"Tapi aku rasa kakak seperguruan lebih enak didengar." Kata Indra sambil tersenyum dan letakkan Randika.
Pada saat ini para pengawal sudah hampir sampai dan semua pegawai yang ada di lobi sudah bersembunyi.
"Minggir dulu sebentar, orang-orang itu mau nghajarku. Biarkan kakakmu ini nghajar reka dulu." lihat salah satu musuhnya sudah berada tepat di belakang Indra, Randika mancarkan aura mbunuhnya.
Dia sudah mberikan muka kepada Bagus dan dia malah nghampirinya, jangan salahkan jika kau mati!
"Ada orang yang berani nghajar kakak?" Indra segera mbeku di tempat. "Kak, aku akan mbantumu."
"Baik! Itu ada satu di belakangmu." Randika langsung masang kuda-kuda nyerang.
Bagus, dari jauh, berteriak kencang. "Hei bocah gemuk! Minggir!"
Ketika Indra noleh, dia lihat seorang pengawal sudah ngayunkan tongkat logamnya. Dalam sekejap, Indra nahan pergelangan tangannya dan ngangkat seluruh tubuhnya.
Orang tersebut terkejut, bisa-bisanya dia diangkat dengan mudah oleh orang gemuk itu? Lalu dalam sekejap, badannya terlempar ke arah kerumunan.
DUAK!
Sekitar 5 orang tersungkur karena temannya itu.
Namun, seorang pengawal berhasil mukul Indra tepat di perutnya. Yang ngejutkannya adalah ketika pukulannya ndarat, sebagian perut Indra terbenam dan dalam sekejap langsung mantul kembali seperti semula. Orang tersebut langsung terpental kuat dan nabrak salah satu temannya.
Puluhan pengawal lihat beberapa temannya sudah terkapar dan berhenti sejenak. Bagi reka siapapun yang nghalangi tujuannya rupakan musuh, oleh karena itu reka juga nerjang ke arah Indra.
Indra juga tidak tinggal diam, dia sekarang ikut nerjang ke arah para manusia berbaju hitam tersebut.
Bagaikan banteng yang nyerbu, tidak ada orang yang bisa nahan terjangan Indra. Terlebih lagi, daging Indra sangat tebal yang mbuatnya tidak takut apa pun saat dia nerjang ke arah kerumunan tersebut.
Para pegawai Cendrawasih takjub lihatnya. reka semua lihat bahwa orang-orang kekar tersebut layang dengan mudahnya, benar-benar sebuah pemandangan nakjubkan.
Ketika Indra layangkan pukulan, seorang pasti terbenam di lantai ataupun layang jauh. Sedangkan taktik lautan manusia musuh sangat tidak efektif. Setiap pukulan reka tidak berpengaruh sama sekali malah justru reka terpental karena dorongan tenaga dalam Indra.
"Buset, orang gemuk itu ganas sekali!" Semua orang terkagum lihat Indra yang begitu kuat. Apakah dia manusia?
Si resepsionis justru yang paling terkejut lihatnya, mulutnya yang nganga bisa muat sebuah semangka. Orang gemuk itu ternyata seorang ahli bela diri? Dia benar-benar tidak nyangka.
Bagus yang berdiri di paling belakang juga terlihat pucat. Siapa orang gemuk itu yang nghajar pengawalnya?
Ketika orang terakhir berhasil dihajarnya, seluruh ruangan njadi sunyi. Yang terdengar sekarang adalah erangan kesakitan para pengawal yang tersungkur di lantai.
Semua natap Indra dengan terkagum-kagum dan tidak nyangka orang segemuk itu bisa nghajar puluhan orang tanpa berkeringat!
"Kenapa kalian semua natapku?" Wajah Indra masih terlihat polos dan bodoh. Dia noleh ke sekelilingnya dan rasa resah ketika semua mperhatikan dirinya.
"Luar biasa!" Seseorang mulai bertepuk tangan dan semuanya juga ngikutinya. Dalam sekejap semua pegawai Cendrawasih bersorak dan bertepuk tangan sekaligus nghampiri Indra.
Indra tersipu malu, dia hanya bisa nikmati mon ini sambil nggaruk kepalanya. Dia lalu berkata sambil nahan malunya. "Kalian terlalu berlebihan mujiku, kakak seperguruanku jauh lebih kuat dariku."
"Hahaha siapa mangnya kakak seperguruanmu itu?" Suasana sukacita masih nuhi lobi gedung ini.
Indra hanya noleh dan nunjuk ke arah Randika sambil tersenyum. "Kakak seperguranku adalah kak Randika."
Dalam sekejap, semua pegawai lihat ke arah Randika.
Ha?
Semua orang terkejut sekali lagi. Orang gemuk ini saja sudah kuat seperti Dewa, suami Ibu Inggrid ini ternyata justru lebih kuat lagi?
Orang-orang yang sudah pernah lihat aksi Randika mulai nganggukan kepalanya. reka sudah tahu bahwa Randika mang bukan orang sembarangan tetapi reka tidak tahu seberapa kuat aslinya Randika. Namun setelah pria gemuk ini ngatakan bahwa Randika jauh lebih kuat darinya, seberapa ngerikannya suami pimpinan reka itu?
Namun, ekspresi para ahli parfum terlihat biasa saja. Sebelumnya reka telah lihat dengan mata kepala reka sendiri bahwa Randika telah lompat dari lantai 5 dan masih bisa berlari dengan cepat. reka sudah nganggap Randika bukan manusia biasa.
lihat tatapan kagum dan penasaran orang-orang, Randika sedikit tertawa puas di hatinya. Indra mang anak baik, dia tidak lupakan untuk ngagungkan kakak seperguruannya ketika dia sedang dipuji.
Perhatian semacam ini tidak buruk, bohong kalau Randika tidak nikmati perasaan ini.
Randika lalu berjalan sambil bertepuk tangan, "Hei Indra, aku tidak ingin njadi pusat perhatian. Seharusnya kau rahasiakan fakta itu."
Oh?" Indra tidak ngerti masalah rumit seperti itu dan hanya ngangguk.
Bagus yang berdiri diam masih tidak dapat percaya dengan semua ini.
Randika lalu natap Bagus yang tidak jauh darinya. Bagus juga ndengar perkataan Indra barusan, seberapa kuat mangnya pria yang nghajarnya sampai babak belur itu?
Sekarang, ketika tatapan Randika jatuh di matanya, Bagus tidak bisa berhenti bergetar. Dia segera berputar dan ingin larikan diri secepatnya.
"Berhenti!" Randika tiba-tiba berteriak keras.
Hal ini mbuat Bagus yang sudah langkahkan kakinya berhenti dan dia sudah nangis dalam hati.
Berjalan lewati banyak orang yang ringkuk kesakitan di lantai, Randika sampai di belakang Bagus dan berkata dengan nada datar. "Apakah aku nyuruhmu untuk pergi?"
"Ti dak " Bagus sudah tidak bisa berhenti getar. Jika dia tahu bahwa pria yang sedang dihadapinya sekuat ini, dia lebih baik bermain-main dengan perempuan Rusia yang dia bayar kemarin.
Para pengawal elitnya saja tidak bertahan 5 nit lawan pria gemuk itu, apabila reka lawan Randika apakah akan jauh lebih cepat lagi?
Kemungkinan tersebut terus nuhi benak Bagus, apakah hari ini dia akan mati?
"Hadap ke aku." Kata Randika dengan santai. "Semut sepertimu tidak pantas berdiri dan mbelakangiku."
DUAK!
Bagus dengan cepat berlutut dan berurai air mata. "Tolong jangan bunuh aku! Masih ada cewek cantik lainnya yang sedang nungguku di luar sana, tolong ampuni aku!"
lihat Bagus yang nangis itu, semua orang terkejut. Dia berani nerobos masuk ke sini dengan mbawa pasukan dan sekarang dia minta ampun atas nyawanya. Sehat?
Para perempuan yang ndengarnya ingin segera ludahinya, orang ini benar-benar sum.
Randika juga jijik ketika ndengarnya. Rasanya pewaris dari Perusahaan Galaksi ini miliki IQ yang rendah.
"Berdiri." Randika mulai lelah ladeni orang ini.
Bagus ragu-ragu awalnya namun ketika lihat tatapan tajam Randika dia langsung berdiri.
"Tolong jangan bunuh aku."
Ketika reka sudah berhadap-hadapan, Randika lalu rogoh-rogoh sakunya sambil ngatakan. "Jangan khawatir, aku tidak akan mbunuhmu. Aku hanya akan mberimu pelajaran supaya tidak akan nggangguku lagi."
"Aku tidak berani!" Bagus dengan cepat mbantahnya, lawannya ini bagaikan setan jadi mana berani dia ndatanginya lagi.
"Itu perkataanmu tadi pagi tuan pewaris dari perusahaan Galaksi." Selesai ngatakannya, dia nusukkan jarum akupunturnya ke daerah dada Bagus.
Jarum tersebut langsung nyebarkan tenaga dalam Randika yang ada di dalamnya.
"Kau! Apa yang kau lakukan!" Bagus ketakutan, apakah ini mon terakhirnya?
"Jangan khawatir, kau tidak akan mati." Randika berkata dengan santai. "Hanya saja dalam sebulan ini kau akan rasakan sensasi tersengat ini beberapa kali dalam sehari."
Ketika dua jarum lagi tertusuk di dada Bagus, dalam sekejap dia rasakan sensasi tergigit semut rah di seluruh tubuhnya. Dalam sekejap dia berguling-guling kesakitan.
"AHHH!!"
Randika lalu ngangkat tubuh Bagus dan berbisik di telinganya. "Situasi ini akan berlangsung selama sebulan, jika aku tahu kalau kamu ataupun anak buahmu nggangguku, maka siksaan ini akan berlangsung selamanya."
Bagus yang masih kesakitan ngangguk dengan cepat. Ketika dia dilepas oleh Randika, dia dengan cepat berlari keluar dari gedung.
Hari ini benar-benar mimpi buruk baginya. Dia rasa bahwa ketika dirinya bertemu Randika di masa depan nanti, lebih baik dia bersembunyi saja.
"Kenapa kau bisa tahu tempat ini?" Randika nghampiri Indra dan mbawanya keluar dari gedung. Dia tidak nyangka Indra bisa lacak keberadaannya.
"Aku sendiri tidak ngerti. Aku hanya lacak tenaga dalammu saja kak. Ah aku ingat! Aku ingin bertanya sesuatu tentang perkembangan jurusku kak. Jadi aku mutuskan untuk ncarimu." Indra berusaha njelaskannya sederhana mungkin.
Tenaga dalam?
Randika lalu nampar dahinya. Dia nggunakan teknik ini untuk lacak keberadaan Brian, berarti Indra juga bisa lacak dirinya dengan cara yang sama.
Dengan begini, kedua murid seperguruan ini bisa lacak keberadaan satu sama lain.
"Apakah cuma karena itu saja kau ingin nemuiku?" Randika masih tidak habis pikir.
"Ah iya!" Indra teringat akan masalah terbesarnya. "Aku lapar kak, aku sudah tidak punya uang."
ndengar hal itu Randika langsung nampar dahinya lagi. Sepertinya Indra telah dibohongi oleh seseorang dan nyerahkan semua uangnya ketika dia pergi makan untuk pertama kalinya.
Kehidupan kota mang kejam!
Reviews
All reviews (0)