Font Size
15px

"Mundur!"

Tom dengan keras nyuruh semua mundur, sisa dari para anggota Black Mamba pun mundur bersamaan. Untuk rekan-rekan reka yang mati ataupun pingsan, reka mbuangnya tanpa rasa peduli.

Para pembunuh bayaran mang seperti itu, kematian rupakan resiko dari pekerjaan reka. Lagipula, reka tidak bisa mbawa reka dengan keadaan seperti ini. Namun, keenam anggota yang masih hidup ini mbuat sumpah di dalam hati reka bahwa reka akan mbalaskan dendam ini.

Anna dan Tom kabur bersama dengan para anggota Black Mamba. Dengan adanya tabir asap dari granat asap, reka nghilang dengan cepat.

Randika hanya berdiri di tempatnya tanpa ekspresi.

Boneka ginseng langsung pura-pura ngejar reka dan bertindak seolah ngusir penjahat.

"Randika." Inggrid njadi tenang kembali, sedangkan Maria langsung berlutut lemas karena rasa senang bahaya telah berakhir.

Kali ini, hidup reka telah diselamatkan oleh Randika.

Ketika kedua perempuan ini bersuka cita, reka lihat bahwa Randika hanya berdiri diam di tempatnya.

"Ran, ada apa?"

Inggrid sedikit khawatir, namun ketika dia nghampiri Randika, mata dan hidungnya ngeluarkan darah!

Pada saat ini, Randika roboh ke belakang!

"Randika!!" Inggrid hanya bisa njerit ketakutan.

...

"LARI!!"

"Indra, lari!"

"TIDAAKKKK!"

Dalam keadaan terkejut, Randika berteriak keras ketika dia terbangun dari tidurnya. lihat dirinya tidur di atas kasur, dia tidak tahu di mana dirinya berada.

Setelah lihat sekelilingnya, dia tidak nemukan sesuatu yang spesifik yang bisa dijadikan petunjuk. Yang dia ketahui adalah seseorang telah mbalut tubuhnya yang terluka itu dengan perban.

Tidak tahu siapa yang rawatnya, tetapi Randika yakin bahwa orang itu tidak jahat. Oleh karena itu, Randika milih untuk tiduran kembali dan nenangkan dirinya.

Mimpi yang dia alami benar-benar seperti nyata. Dia lihat Indra ditebas njadi dua oleh Bulan Kegelapan. Yang mbuatnya benar-benar marah adalah dia tidak sempat lindungi Indra baik di dalam mimpi ataupun dunia nyata. Dia hanya berharap bahwa semua itu adalah mimpi dan Indra masih baik-baik saja di luar sana.

Ketika dia masih lamun, terdengar suara langkah kaki.

Ketika Inggrid masuk ke dalam, dia langsung luk Randika yang sudah terbangun.

"Akhirnya kamu bangun! Bagaimana perasaanmu? Apakah baik-baik saja?"

"Tenang saja, aku baik-baik saja kok." Kata Randika sambil tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu, ini minumlah air. Kamu pasti haus kan setelah 3 hari tidak minum."

"Tiga hari?" Randika terlihat bingung.

"Iya, kamu tidak sadarkan diri selama 3 hari." Inggrid njelaskan.

"Lalu siapa yang nolong kita? Lalu di mana kita ini?"

"Itu."

Ketika Inggrid mau njelaskan, pintu ruangan kembali dibuka. Sosok Dion yang terlihat lega langsung dapat dilihat.

"Tuan, untung Anda baik-baik saja."

"Dion!"

"Teman-temanmu nemukan kita satu jam setelah kamu pingsan, reka mbawa kita keluar dari tempat itu dan kita nginap di markas reka."

ndengar hal ini, Randika rasa bersyukur dan mulai ngingat kejadian di dalam labirin misterius itu. Setelah dia layangkan serangan demi serangan, sepertinya kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu nguasai dirinya dan matikan fungsi otaknya. Karena Randika sudah terluka parah, tubuhnya tidak bisa ngimbangi dan akhirnya dia pingsan selama 3 hari.

Untungnya saja pasukan yang ngikuti dirinya ke dalam hutan itu sudah manggil Dion dkk untuk masuk ke dalam labirin dan nyelamatkannya. Sepertinya dewi keberuntungan mihak dirinya setelah rangkaian kesialan sebelumnya.

"Ran, ada yang ingin kusampaikan"

Karena informasi yang masuk terlalu banyak, Randika tidak ndengar omongan Inggrid tersebut. Dia langsung bertanya. "Indra Di mana Indra?"

ndengar hal ini, Dion dan Inggrid saling natap. Dion lalu keluar dan mbiarkan Inggrid yang nceritakannya.

Setelah pintu tertutup, Inggrid mulai bercerita. "Sebelum nemukan kita, teman-temanmu itu nemukan Indra dan sudah mberinya pertolongan pertama. Tetapi kondisinya sangat kritis jadi reka hanya bisa pasrah. Ketika kita dibawa ke markas ini, makhluk kecil itu sepertinya mberikan Indra beberapa tetes manik-manik. Setelah Indra nelan manik-manik itu, kesehatannya kian mbaik dan sekarang dia berada di rumah sakit."

ndengar hal ini, Randika benar-benar lega. Dia berulang kali nghela napas lega dan sedikit ngeluarkan air matanya.

Setelah itu, Inggrid pergi ke dapur dan hendak mbawakan makanan untuk Randika. Randika yang ditinggal sendiri itu renung sambil berbaring.

Bulan Kegelapan, Anna, Tom.

Sepertinya hidupnya tidak akan tenang selama reka semua masih hidup. Lalu dalam sekejap, aura mbunuhnya rembes keluar dengan luar biasa. Dengan penuh tekad, dia berdiri dan makai bajunya. Dia siap masuk kembali ke dalam labirin dan mbantai reka semua sekaligus.

Ketika Randika bersiap-siap, Inggrid masuk mbawa bubur di atas nampan. lihat Randika yang siap berperang itu, Inggrid langsung berteriak. "Kamu ngapain? Mau ke mana?"

"Aku akan mastikan bahwa kita bisa hidup dengan tenang, aku akan mbunuh reka."

"Dengan luka seperti itu? Kamu sudah gila?"

"Diam, apa kamu tidak lihat aku lakukannya untuk kita?" Randika ndorong Inggrid sedikit hingga dia berlutut di lantai.

Ketika Randika berjalan nuju pintu, Inggrid ngeluarkan sebuah kalimat. "Aku hamil."

Seketika itu juga, Randika berhenti berjalan dan noleh ke belakang. Dengan wajah tercengang, dia natap Inggrid dengan wajah heran. "Apa?"

"Aku hamil Ran, aku tidak ingin anak kita hidup tanpa ayahnya. Coba kamu pikir dengan kepala dingin, apakah kamu yang seperti ini bisa lawan reka? Randika yang kucintai tidak akan pernah mbuat keputusan yang bodoh seperti itu."

ndengar hal ini, Randika tiba-tiba sadar. Sepertinya amarahnya dan nafsu mbunuhnya ngaburkan keputusannya.

Bukan hal bijak untuk bertarung dengan kondisi tubuh seperti ini. Kalau beneran dia adalah Randika yang dikenal sebagai Ares, dia pasti akan ngumpulkan informasi terlebih dahulu dari Dion. Sepertinya dia mang salah.

Tanpa bersuara, Randika nghampiri Inggrid dan nciumnya.

Sambil berurai air mata, Inggrid rasa bahwa suami yang dicintainya telah kembali ke dalam pelukannya.

.....

Setelah berhubungan badan, Inggrid tertidur di lengan Randika.

Setelah ndengar bahwa dia akan njadi seorang ayah, Randika mikirkan tentang hidupnya.

Bagaimana dia selalu hidup rantau dan waspada seumur hidupnya, bertarung dan mbentuk pasukan sehingga njadi salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus, hingga pertemuan pertamanya dengan Inggrid ketika dia njadi tukang mie ayam.

Seluruh kejadian di dalam hidupnya mbawa dirinya kepada Inggrid Elina, istri pertamanya yang paling spesial di dalam hatinya.

mang tujuannya adalah njadi raja harem apalagi kandidatnya cantik-cantik dan montok. Sebut saja Viona yang sudah mberikan hatinya padanya, lalu ada Christina yang sudah nganggap dirinya sebagai pacarnya, belum lagi Safira yang siap njadi istrinya juga.

Jika dilihat-lihat, hidupnya penuh warna ketika dia datang kembali ke Indonesia. Tetapi yang paling mbuat hidupnya berarti adalah keberadaan Inggrid yang nerima dirinya apa adanya.

Selama ini dia tidak bertanya ngenai asal usulnya maupun ngapa dia miliki kekuatan yang lebihi manusia. Dia tidak bertanya ngapa ada orang yang nginginkan dirinya untuk mati. Perempuan itu sepertinya nunggu dirinya untuk nceritakannya sendiri ketika waktunya tiba. Oleh karena itu, Inggrid dengan setia nunggu dirinya dan terus ncintai dirinya.

"Hmm? Kamu tidak tidur?" Inggrid mandang wajah Randika yang terlihat serius.

"Maaf, apa aku mbangunkanmu?" Randika tersenyum hangat kepada Inggrid.

"Kenapa kamu terlihat serius begitu?" Inggrid bangun dan makai bajunya.

Dengan kebulatan tekad, Randika berkata padanya. "Aku ingin bercerita tentang siapa diriku yang sebenarnya."

.....

"Maaf aku telah nyembunyikannya darimu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka."

ndengar kisah hidup Randika, Inggrid terdiam beberapa waktu. Lalu dia nghampiri Randika dan luknya. "Apa pun masa lalumu, kamu yang sekarang adalah Randika yang aku cintai. Mau seberapa banyak dosa yang telah kamu buat, kamu yang sekarang adalah harapan di dalam hidupku. Mau kamu adalah seorang pembunuh di masa lalu, kamu yang sekarang adalah suamiku dan ayah dari anakku. Jadi kamu tidak perlu nyesal atas perbuatanmu yang dulu, yang terpenting sekarang adalah kita akan njalani ini semua bersama-sama. Oke?"

ndengar hal ini dan dipeluk dengan hangat oleh Inggrid, Randika tidak bisa rasa lebih bersyukur lagi di dalam hidupnya ini.

"Inggrid..."

Panggilan Randika mbuat Inggrid lepas pelukannya dan noleh ke arahnya.

"Maukan kamu berjanji padaku?" Tanya Randika.

"Apa itu?" Inggrid nunggunya dengan sabar.

"Bahwa kamu tidak akan ninggalkanku apa pun yang terjadi." Jawab Randika dengan suara yang tersipu malu.

Bagi Randika yang sekarang, kehadiran Inggrid jelas njadi pilar yang nyangganya selama ini. Jika Inggrid tidak ada, Randika yakin bahwa dirinya akan kembali ke dalam kehidupannya yang kelam.

Tiba-tiba Inggrid tertawa dan ncium Randika dengan penuh kasih sayang.

"Hei, jangan tertawa! Aku serius." Randika rasa malu.

"Tidak, hanya saja aku rasa lucu ketika seorang Dewa ngatakan seperti itu padaku."

Wajah Randika makin rah padam ketika dia ndengar hal itu.

"Tetapi jika ini bisa mberikan ketenangan pada hatimu, aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan ninggalkanmu."

Randika lalu raih tangan Inggrid dan ngecup punggung tangannya, layaknya seorang ksatria yang mbuat sumpah pada seorang putri.

"Aku berjanji untuk hidup bersamamu, dalam senang maupun susah, di waktu sehat maupun sakit. Aku berjanji untuk ncintai dan nghormatimu seumur hidup sampai maut misahkan kita."

Suara Randika yang jerni bergema di dalam ruangan yang sunyi itu. Ketika Inggrid nutup matanya, dia nyaris rasa bahwa reka berdua sekarang berada di depan altar dan bertukar sumpah pernikahan.

"Inggrid Elina, bersediakah kamu njadi istriku?"

Sebagai jawabannya, Inggrid luk pria itu erat-erat. "Iya, dengan senang hati."

Keduanya saling berpandangan dan tersenyum lebar.

"Sampai maut misahkan kita."

"Sampai maut misahkan kita."

THE END

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 420: Sampai Maut Memisahkan Kita on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.