Font Size
15px

"Mati!" Tom raung keras, tetapi tatapan mata Randika acuh tak acuh. Tangan kanannya ngulur ke atas dan nangkap Tom yang berada di udara?

APA!?

Tom yang tercekik itu terkejut setengah mati ketika lihat sosok Randika. Hatinya tidak bisa berhenti getar ketakutan.

Apa dia masih manusia?

Mata rah seperti darah, nafsu mbunuh bagaikan binatang buas, dia rasa bahwa Randika yang sekarang adalah orang yang baru saja keluar dari lautan darah.

"Kamu Mati!"

Tangan kanan Randika dengan keras lempar Tom kembali ke udara. Dalam sekejap, Tom sudah bagaikan bola yang terlempar jauh. Tubuhnya tidak bisa berhenti berputar dan layang nuju pintu kuil.

Hati Tom sudah dikuasai oleh ketakutan, kenapa rencananya ini njadi berantakan? Kenapa Randika tidak terpengaruh oleh racunnya?

Mustahil, barusan saja Randika njadi lemah. Kenapa dia ndadak njadi seperti ini?

Pada saat ini, ketika Tom masih berputar di udara, hanya dengan satu hentakan kaki, Randika tiba-tiba sudah berada di bawah Tom!

Tom rasa bahwa hidupnya dalam bahaya, tetapi dia sama sekali tidak berdaya karena dia sendiri masih berputar di udara.

Randika layangkan sebuah pukulan ke atas. Tom hendak nahannya tetapi kekuatan yang besar terus berusaha nembus dirinya.

DI bawah serangan ini, tulang Tom rasa bahwa dirinya hendak patah.

Tom benar-benar terkejut. Tangannya sudah kehilangan kekuatannya, dia sudah tidak bisa rasakan apa-apa.

Ya Tuhan, kekuatan apa ini?!

Tom tidak punya waktu untuk mikirkannya, setelah serangan pertama Randika, dia nggenggam erat tangan Tom dan lemparkannya ke arah tembok.

Sama seperti ketapel, Tom lesat cepat dan nembus ke dalam tembok.

Kepala Tom sudah bersimbah darah dan seluruh tubuhnya sudah penuh dengan debu. Topengnya sudah lama copot dan mperlihatkan wajahnya yang kesakitan. Tetapi sebelum dia bisa bereaksi, Randika sudah nangkapnya dan berdiri di atasnya.

Sama seperti bola pingpong, Randika mbanting-banting Tom berkali-kali.

Ini sangat gawat!

Hati Tom sudah dikuasai oleh ketakutan dan perasaan ngeri. Kekuatan Randika benar-benar ngerikan, jika ini terus terjadi, dia sudah pasti akan mati!

Tom terlempar sekali lagi, Randika terlihat berhenti dan sedang nunggu lawannya ini untuk berdiri. Ketika Tom berusaha berdiri, Randika sudah lesat dan lancarkan sebuah tendangan matikan.

Dia berputar-putar seperti tornado, kakinya seolah-olah siap nyedot nyawa lawannya dengan sekali sapuan.

Tom ingin nghindar, tetapi semua sudar terlambat.

KRAK!

Suara tulang yang patah dapat terdengar keras, serangan Randika telah ngenai kaki kanan Tom. Dalam sekejap, Tom yang berusaha berdiri itu langsung terkapar di lantai. Dia rasa bahwa tulang kakinya sudah patah njadi 2.

Rasa sakitnya mulai nyebar ke seluruh tubuh, bahkan sebelum dia bisa ngerang kesakitan, dia sudah nerima pukulan Randika yang berikutnya.

DUAK!

Suara ledakan teredam dapat terdengar, Tom dipukul dengan keras saat dia ringkuk di lantai. Randika berdiri di atas tubuh Tom dengan wajah yang datar.

Tom tidak bisa berhenti terbatuk, topengnya benar-benar sudah hancur lebur. Wajah tampannya sudah dipenuhi oleh darah dan air mata ketakutan mulai ngalir dari kedua sisi matanya. Dia dapat rasakan bahwa serangan barusan telah matahkan tulang rusuknya.

Dengan kaki kanan yang patah, baju compang-camping, dia terkapar tidak berdaya di lantai.

Kenapa?

KENAPA!!!

Hati Tom benar-benar tidak rela nerima kekalahan ini. Dia sudah nyusun rencana ini dengan sempurna bahkan lakukan pendekatan yang penuh dengan kesabaran. Kenapa dia masih bisa terkapar di lantai?

"Sudah kubilang, kamu terlalu lemah." Kata Randika dengan santai.

Kedua mata Tom masih ngandung rasa terkejut. "Mustahil, kenapa kamu bisa tidak terpengaruh oleh racunku?"

"Tidak ada yang bisa mbunuhku." Tatapan mata Randika terlihat dingin. "Yang akan mati hari ini adalah kamu."

"Hahaha! Argh" Tom ndengus dingin. "Bahkan jika aku kalah, apakah kamu yakin kamu bisa mbunuhku?"

Randika ngerutkan dahinya, namun pada saat ini, ada suara yang berteriak ke arahnya. "Kak! Kakak!!"

Hannah?

Dalam sekejap, Randika noleh dan lihat ke arah pintu. Hannah lari nghampirinya sambil nangis. Dia terlihat berantakan tetapi setidaknya dia terlihat baik-baik saja.

"Hannah!" Randika benar-benar rasa lega, dia langsung berlari ke arahnya. "Han, kamu baik-baik saja?"

Wajah Randika penuh dengan kekhawatiran.

"Ah! Siapa kamu? Jangan dekat-dekat! Pergi sana!" Hannah berteriak dengan panik, dia berusaha nghindari Randika.

Randika panik. "Han, aku kakak iparmu Randika. Apa kamu lupa?"

skipun Randika tidak tahu apa yang telah terjadi pada adik iparnya ini, sepertinya dia mahami bahwa ntal Hannah sedang tidak stabil. Dia terlihat seperti anak kecil yang ketakutan.

Randika benar-benar rasa sakit hati, ini semua adalah salahnya.

"Kakak kamu di mana?" Hannah mulai nangis di tanah. Ketika Randika berusaha luknya, sekali lagi Hannah berteriak dengan keras. "Jangan sentuh aku! Aku tidak kenal kamu!"

Hannah ngambil langkah mundur, Randika benar-benar sakit hati.

"Han, ini aku. Aku itu kakak iparmu. Sudah kamu tenang dulu, semuanya sudah terkendali." Randika berhasil nangkapnya dan nenangkannya.

Setelah dipeluk oleh Randika, sepertinya Hannah mulai berhenti mberontak dan njadi tenang. Walaupun begitu, tubuhnya masih getar.

"Sudah, sudah, semuanya sudah berakhir." Randika ngelus rambutnya.

"Kakak Kakak" Hannah masih terus bergumam.

Ketika reka berdua masih berpelukan, pada saat ini, tiba-tiba sebuah pisau muncul di tangan Hannah. Tanpa disadari, pisau itu nancap di area jantung Randika.

Wajah Hannah mperlihatkan ekspresi dingin dan bengis, dia nusukkan pisau itu tepat di jantungnya.

Randika sama sekali tidak bisa bereaksi, rasa sakit mulai nguasai dirinya.

Hannah berusaha mbunuh dirinya?

Randika mbuka matanya lebar-lebar, dia tidak percaya Hannah akan lakukan hal seperti ini.

...

Di depan kuil ini, suasananya benar-benar sepi. Angin berhembus dengan bebas dan mbawa sensasi musim semi.

Pada saat ini, Randika masih luk Hannah dan pisau itu nancap di daerah jantungnya.

Namun, sepertinya pisau itu tidak bisa nancap lebih dalam lagi skipun Hannah sudah makai bobot tubuhnya untuk ndorongnya.

Untungnya saja, mode Berserk Randika masih aktif. Perlu diketahui bahwa kekuatan misteriusnya itu jauh lebih kuat daripada tenaga dalamnya. Jadi saat dalam mode Berserk, kekuatan misteriusnya ini lindungi inangnya dari serangan fisik maupun dari dalam tubuh.

Pisau itu masih nancap di dada Randika. skipun darah terus ngalir, sepertinya mode Berserknya masih lindungi dirinya.

"Han, kamu kenapa?" Ada jejak-jejak kesedihan di mata Randika. Namun wajah Hannah seakan-akan nunjukan bahwa dia sudah njadi gila.

"HAHAHAHA!"

Tawa yang keras dan liar dapat terdengar dari belakang. Tom berdiri dan terlihat sangat puas. "Aku tidak nyangka bahwa kamu masih belum mati karena serangan itu."

"Apa yang kamu lakukan padanya?" Nada suara Randika benar-benar dingin.

"Racun." Tom ngeluarkan sebuah pil dan nelannya. Dengan cepat luka-luka di tubuhnya mulai mbaik. "Tetapi berbeda dengan racunmu, aku berhasil nguasai otaknya. Otaknya sudah tidak tahu ngenal dirinya itu, aku lah yang ngendalikan dirinya sepenuhnya!"

"Tetapi aku mang tidak berharap banyak dengan perempuan bodoh itu. Kalau kamu mang bisa dibunuh semudah itu, aku tidak perlu repot-repot."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 392: Hati yang Tersakiti on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.