Bersamaan dengan bunyi sirene ini, di luar hotel, mobil polisi dalam jumlah besar mulai ngepung hotel.
Di antara mobil-mobil tersebut, sekumpulan orang bersenjatakan lengkap turun dari mobil reka. Dari salah satu mobil polisi tersebut, Liu Changhai dan Li Zhen juga ikut turun.
Sejak awal kedua pemuda ini sudah berteman dekat dan kejadian reka dengan Randika makin mpererat tali persaudaraan reka. Di belakang reka sudah ada kekuatan gabungan dari keluarga reka.
Liu Changhai dan Li Zhen natap Randika yang ada di lobi hotel. Jejak kemarahan dan kebencian terlihat jelas di tatapan mata reka. Bagaimanapun caranya, Randika akan mati hari ini!
Kemudian reka berdua mberi sinyal dengan tangan reka dan masuk ke dalam lobi bersama dengan para polisi. Ketika reka lihat kejadian yang ada di dalam hotel, reka sendiri terlihat bingung. reka lihat Randika berdiri di tengah-tengah banyak orang yang tidak sadarkan diri di lantai.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Di tengah-tengah kecanggungan ini, Liu Changhai berkata dengan lantang. "Hari ini kau akan masuk penjara!"
"Penjara?" Randika tertawa terbahak-bahak, dia seperti baru saja ndengar lelucon yang super lucu.
Li Zhen lalu nambahkan. "nyerahlah atau kami akan nembak!"
Randika ndengus dingin. "nyerah sama bocah ingusan seperti kalian? Apa kalian masih bermimpi?"
"Jangan berlagak sok kuat!" Liu Changhai ndengus dingin. "reka ini pasukan khusus milik kota ini, apa kamu pikir kamu masih punya kesempatan untuk lawan?"
"Satuan khusus kota Makau?" Randika tersenyum. Lalu tiba-tiba senyumannya itu berubah njadi tatapan tajam dan wajahnya berubah njadi dingin. "Aku hanya butuh 1 nit untuk nghabisi reka!"
Jelas yang ndengar kata-kata Randika njadi terkejut. Sebelum reka bisa sadar dari keterkejutan reka, beberapa orang pasukan Ares nerjang maju ke arah satuan khusus bagaikan angin. Kecepatan reka benar-benar cepat dan ninggalkan hembusan angin yang kuat.
Ketika para satuan khusus ini nerobos masuk, reka nyadari sosok pasukan Randika ini. reka semua seperti diselimuti oleh aura gelap. Ketika reka nerjang maju, para anggota satuan khusus ini terkejut dan bersiap nembak reka.
Tetapi bahkan sebelum senjata reka bisa ditembakkan, pasukan Ares ini sudah berada tepat di hadapan reka. Dengan mudah, reka lucuti 'pasukan terkuat' kota Makau ini. Bahkan ada yang sampai motong kedua tangan para polisi ini!
Ketika senjata-senjata reka telah dilucuti, semuanya langsung beradu pukulan. Tetapi reka bukanlah apa-apa di hadapan pasukan Ares. Di mata para pasukan ini, anggota satuan khusus ini sudah bagaikan ayam dan bebek, benar-benar bukan tandingan reka.
Satu per satu dari pasukannya Randika ini nghajar dan lucuti semua anggota satuan khusus ini. Dan satu per satu para polisi ini terkapar tidak sadarkan diri. Semua orang yang lihat kejadian ini sudah tidak tahu harus berkata apa.
Lawan reka ini bukanlah orang sembarangan, reka adalah pasukan khusus kota ini.
Berbeda dengan polisi biasa, kemampuan dan keahlian reka jauh di atas para polisi. reka adalah ujung tombak kota Makau. Namun tanpa diduga, reka bagaikan orang-orangan sawah di hadapan pasukan Ares. Tidak ada satupun dari reka yang bisa lawan balik.
Kejadian ini berlangsung dengan cepat. Liu Changhai dan Li Zhen yang awalnya percaya diri dan penuh dengan semangat balas dendam itu njadi terdiam ketika lihat para polisi ini terkapar di lantai.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Wajah Liu Changhai dan Li Zhen seakan-akan tidak ingin mpercayai apa yang telah terjadi. Di hadapan reka sekarang ini, seluruh anggota polisi yang reka bawa masuk itu telah terkapar tidak sadarkan diri.
Sebelum ini para pengawal Li Weilong bukanlah apa-apa dan sekarang anggota pasukan khusus Makau juga bukanlah rintangan berat bagi reka, siapa orang-orang ini sebenarnya? Dan siapa pemimpin reka itu?
Mata orang-orang tertuju pada Randika, rasa kagum sekaligus bercampur takut mulai tumbuh di hati orang-orang.
Liu Changhai dan Li Zhen jelas tidak nduga bahwa situasi akan berjalan seperti ini. Untuk mbalaskan dendam reka ke Randika, reka berdua sampai ngerahkan satuan khusus kota ini. Namun tanpa diduga reka, semua orangnya telah kalah!
Liu Changhai natap mata Randika. Ketika dia lihat senyuman Randika, tubuhnya tidak bisa berhenti rinding.
Dia kembali ngingat malam hari itu, hari di mana lengannya dipatahkan dengan mudah.
Kedua pemuda itu langsung ketakutan setengah mati ketika Randika natap dan tersenyum ke arah reka.
"Aku rasa kalian berdua masih ingat dengan kata-kataku sebelumnya." Randika berjalan nghampiri reka berdua.
Wajah Liu Changhai dan Li Zhen benar-benar pucat seperti kertas. Tentu saja reka ingat kata-kata terakhir Randika pada reka. Jika reka ngganggu Randika lagi, dia akan mbunuh reka!
lihat kejadian di depan mata reka sekarang, sepertinya kata-kata Randika tersebut bukanlah sebuah lelucon. Di hadapan reka sekarang bukanlah Randika lainkan malaikat pencabut nyawa yang siap mbawa reka ke alam baka.
"Aku ingatkan kau sekali lagi agar tahu posisimu. Ayahku adalah penguasa kota ini. Jika kau mbunuhku, ayahku tidak akan lepaskanmu begitu saja!" Li Zhen mberanikan diri untuk lawan.
Tentu saja, ayah yang dimaksud adalah Li Weilong. Apa pun masalahnya, ayahnya itu selalu mbantu dirinya.
Sepertinya bocah ini tidak tahu bahwa orang-orang yang terkapar sebelumnya adalah ayahnya dan anak buahnya.
Randika ndengus dingin. "Yang kau sebut ayah itu tua bangka yang itu?"
Setelah berkata seperti itu, Randika nunjuk ke arah Li Weilong berada. Li Zhen dapat lihat bahwa ayahnya yang berlumuran darah itu berusaha untuk berdiri. Tatapan matanya langsung berubah. "Ayah!"
"Apa yang kamu lakukan pada ayahku!" Li Zhen njadi marah. Tetapi tiba-tiba anak buah Randika ngarahkan moncong senjatanya pada Li Zhen jadi dia tidak bisa bergerak seenaknya.
"Benar-benar ayah dan anak." Randika nghela napasnya. "Jangan khawatir, aku akan mastikan kalian berbaring di tempat tidur untuk 3 tahun ke depan."
ndengar kata-kata ini, Li Zhen langsung teringat bahwa di depannya ini sudah bukan manusia lagi lainkan malaikat pencabut nyawa. Dan di bawah tatapan mata Randika, Li Zhen tiba-tiba pingsan.
Pingsan?
Randika jelas terkejut, anak buahnya langsung nghampirinya dan nendangnya. Ternyata Li Zhen benar-benar pingsan saking takutnya. Hal ini mbuat Randika geleng-geleng dan nghela napasnya.
Sekarang tatapan mata Randika tertuju pada Liu Changhai, dia tersenyum lebar pada pemuda itu. "Jangan pingsan seperti teman baikmu itu."
Wajah Liu Changhai benar-benar pucat pasi, seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti getar. "Jika kau berani lawanku. Keluargaku tidak akan tinggal diam!"
"Ya ampun." Randika nggaruk-garuk kepalanya. Bocah-bocah seperti ini apa tidak capek ngandalkan keluarga reka?
"Jadi kamu mau bilang kalau keluargamu itu benar-benar kuat?" Randika nghela napasnya. mang anak-anak manja seperti Liu Changhai seperti ini selalu ngandalkan kekuatan keluarganya apabila sedang kesulitan. Hal seperti ini mbuat muak Randika.
ntal-ntal seperti inilah yang mbuat sebuah warisan keluarga yang sudah susah payah dibangun akan runtuh dengan mudah. Kalau dia mang lelaki sejati, hadapi dan bertanggung jawablah terhadap semua tindakanmu.
"Tunggu saja pembalasanku!" skipun tubuhnya getar, Liu Changhai berhasil ngeluarkan HPnya dan nelepon ke sebuah nomor.
Randika tidak berusaha ncegahnya, dia sendiri penasaran seberapa kuat kekuatan keluarga milik Liu Changhai.
Tidak lama kemudian teleponnya tersambung, di balik telepon terdengar suara orang tua. Wajah Liu Changhai langsung berubah njadi gembira. "Kakek!"
"Wah ternyata Xiao Liu, kenapa kamu tiba-tiba telepon?" Suara kakek Liu Changhai terdengar tenang dan lembut.
"Kek, aku ada masalah di Makau. Liu Changhai dengan cepat rengek. Karena dia rupakan anak tunggal, dia benar-benar dimanja. Hal ini juga berlaku dengan kakek yang sangat manjakan cucunya.
Setelah ndengar cerita milik cucunya itu, kakeknya njadi murka.
"Tunggu saja, kakek segera ngirim orang ke tempatmu!"
Hati Liu Changhai benar-benar hangat, tetapi tiba-tiba, HP miliknya itu direbut oleh Randika! Liu Changhai hanya bisa lihat dan tidak berani lawan.
Setelah rebut HP tersebut, Randika sama sekali tidak berbicara. Ketika si kakek tidak ndengar respon cucunya itu, dia langsung berkata di balik telepon. "Kenapa Xiao Liu?"
Randika lalu berkata dengan nada santai. "Ini bukan Xiao Liu."
"Siapa kamu?" Suara si kakek berubah njadi dingin.
Randika natap Liu Changhai dan nyengir. "Aku hanya ingin berkata 2 hal padamu. Yang pertama adalah namaku Randika."
Wajah si kakek terlihat bingung, entah kenapa dia rasa pernah ndengar nama itu. Tetapi dia berusaha mbuang pemikiran tersebut.
"Yang kedua." Tatapan mata Randika langsung berubah. "Apa kau ingin keluargamu aku musnahkan?"
Musnah?
Liu Changhai natap bingung Randika, pria ini benar-benar gila! Orang yang diajaknya bicara adalah kakeknya, kepala keluarga aristokrat yang masih aktif dan sekarang Randika berani berkata seperti itu tepat di telinganya? Pria ini sudah gila!
Keluarga besarnya bisa njadi keluarga aristokrat karena usaha kakeknya, mulai dari sektor perintahan, ekonomi, pembangunan, kakeknya miliki pengaruh di seluruh Cina! ncari gara-gara dengan kakeknya berarti siap lawan seluruh kekuatan yang dimilikinya.
mikirkan hal ini, wajah Liu Changhai benar-benar gembira.
Di balik telepon, si kakek masih penasaran dengan identitas Randika tetapi ketika dia ndengar kata-kata Randika yang berikutnya, dia terdiam. Lalu tubuh tuanya itu bergetar tanpa henti karena diselimuti oleh amarah.
musnahkan keluarganya? Berarti kau berniat mbunuhku?
Ketika si kakek baru saja mau luapkan amarahnya, tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu. Nama Randika langsung terdengar familier dan semua amarahnya itu segera nghilang. Wajahnya penuh keraguan dan ketidak percayaan.
Tidak mungkin. Apa dia tidak salah dengar?
Randika dan musnahkan keluarga, jika kedua kata-kata ini digabung dia langsung terpikirkan satu insiden. Si kakek ngingatnya dengan jelas karena dia ndapatkan undangan dari keluarga Alfred pada waktu itu. skipun beda negara, hubungan keluarganya dengan keluarga Alfred benar-benar erat. Tetapi karena acaranya terlalu ndadak, si kakek hanya bisa ngucapkan selamat dan mberikan hadiah.
Awalnya dia tidak percaya tetapi keesokan harinya dia ndapatkan kabar bahwa keluarga Alfred dari Jakarta telah dimusnahkan oleh satu orang. Dari laporan para keluarga aristokrat yang hadir, reka ngatakan bahwa jangan pernah nyinggung seseorang yang bernama Randika dari Cendrawasih.
Nama Randika bisa dikatakan bahwa sudah njadi nama sensitif di para keluarga aristokrat.
Orang ini benar-benar jelmaan iblis, jadi semua orang dihimbau jangan pernah nyinggungnya.
Keluarga Alfred yang berani nyinggungnya sekarang telah hancur tak bersisa. Keluarga besar yang sudah ngakar di Indonesia itu nghilang tanpa jejak, rasa teror seperti ini sangat mbekas di hati para keluarga aristokrat yang lain.
Reviews
All reviews (0)