"Tidak mau." Randika bahkan tidak noleh ke arah Hannah.
"Maksudmu apa kak!" Hannah njadi marah. Kakak iparnya ini bahkan tidak mau noleh ke arahnya.
Ibu Ipah yang sedang sibuk masak secara tidak sengaja lihat muka cemberut Hannah, dia tertawa lihat reka berdua. Rupanya nona mudanya itu punya hubungan yang baik dengan nak Randika, pikirnya.
"Artinya aku tidak mau pergi, lagipula kenapa aku harus nemanimu pergi?" Randika akhirnya noleh.
"Jangan gitu dong kak, aku barusan saja selesai ujian lho. Kakak harus nemaniku pergi!" Hannah nghampiri Randika dan duduk di sampingnya.
"Kenapa kamu tidak pergi sama teman-temanmu?" Randika kehabisan kata-kata. "Bukankah reka juga senang pergi-pergi sepertimu?"
"reka tidak punya waktu, reka beda denganmu kak! Kakak kan setiap harinya terlihat santai dan nganggur." Kata Hannah sambil tersenyum. "Karena aku tidak tega lihat kak Randika bosan seperti itu, aku mutuskan untuk ngajak kak Randika pergi deh! Hehehe adik iparmu ini baik sekali bukan?"
Santai dan nganggur? Randika natap tajam ke mata Hannah, dia lalu nghela napasnya.
"Kak, kenapa kamu lototiku seperti itu?" Hannah terlihat bingung.
"Han, sudah jujur saja sama aku. Kamu cuma ingin belanja dan ingin aku mbawakan barang-barangmu bukan? Kamu kira kamu bisa nipuku?"
"Kak, tega-teganya kakak berbicara seperti itu." Hannah kembali cemberut. "Kalau aku mang ingin kakak mbawakan barang-barangku, aku akan jujur dan tidak mungkin nyiapkan siasat seperti itu."
Randika nggaruk kepalanya, adik iparnya ini mang tidak pintar berbohong.
"Han, kamu mang tidak pandai berbohong."
"Hehehe sepertinya percuma berusaha mbohongi raja pembohong." Hannah dengan cepat njadi ceria. Dia lalu nangkap tangan Randika dan nyeretnya. "Ayo kak, ayo! Apa enaknya malas-malasan di rumah? Ayo pergi dan temani aku main."
Randika benar-benar tidak berdaya. "Iya, iya, aku akan nemanimu. Sudah jangan tarik tanganku terus."
ndengar janji Randika, Hannah benar-benar senang. Dia kemudian ngajak Randika ke mall.
Sama seperti kota besar lainnya, terdapat beberapa mall di kota Cendrawasih. Hannah milih mall Pondok Indah, mall yang dulu dikunjunginya bersama Stella.
Karena baru saja selesai dengan ujiannya, Hannah sudah seperti anak kecil yang sangat bersemangat. Dia berlarian tanpa henti sambil narik Randika.
"Kak, sepertinya makanan itu enak!" Hannah nunjuk ke salah satu kedai makanan.
"Kak, aku ingin foto sama maskot itu!" Hannah benar-benar senang, sedangkan Randika tidak berdaya sama sekali dan hanya bisa nuruti kemauan adik iparnya. Dia benar-benar tidak ngerti bagaimana seorang perempuan bisa miliki energi yang banyak ketika waktunya reka belanja, benar-benar sebuah misteri.
reka lalu ngunjungi beberapa toko baju selama 1 jam, reka akhirnya ncapai lantai tempat jual makanan. Karena ini jam makan siang, lantai ini benar-benar penuh dan sedang ada pertunjukan-pertunjukan hiburan. Namun, pertunjukan yang ngundang orang adalah suatu kios yang berada di pinggiran gedung. Kios tersebut sedang ngadakan undian bagi para pengunjung, bagi yang beruntung akan ndapatkan hadiah yang sangat narik.
"Wah lihat kak, reka sedang mbagi-bagikan hadiah! Ayo coba kita lihat!" Hannah rasa bahwa keberuntungannya sedang tinggi, dia langsung narik Randika tanpa nunggu jawabannya. reka harus nerjang lautan orang yang berkumpul di tempat itu. Adik iparnya ini benar-benar luar biasa, Randika bingung dia ndapatkan tenaga dari mana.
"Berapa satu tiketnya?" Tanya Hannah sambil tersenyum.
"Untuk satu tiket cuma 10 ribu rupiah." Kata si penjaga kios. "Di undian kali ini ada beberapa hadiah yang ditujukan untuk beberapa orang penang. Hadiah pertama adalah uang sebanyak 20 juta rupiah! Dan tentu saja, hadiah-hadiah lainnya juga tidak kalah narik."
"Bagaimana? Apa nona muda tertarik untuk mbelinya? Kamu bisa nggunakan uang hadiah itu untuk berkencan dengan pacarmu itu atau mungkin kamu ingin boneka beruang besar itu? Tunggu apalagi, harganya juga murah kok!"
Orang-orang mulai tertarik ketika ndengar hadiah pertama sejumlah 200 juta rupiah. Dan si penjaga kios ini juga pandai rangkai kata-katanya hingga orang-orang njadi tertarik.
Hannah mulai bersemangat sedangkan Randika nghela napasnya. Sistem undiannya adalah masukan tangan ke dalam kotak yang sudah dipersiapkan dan ngambil sebuah kertas yang ada di dalamnya. Hal seperti ini sudah seperti ncari jarum di tumpukan jerami, benar-benar butuh sebuah keberuntungan untuk ndapatkannya.
Hannah dengan cepat mbayar 10 ribu rupiah dan masukan tangannya ke dalam kotak. Wajahnya njadi sedih ketika dia mbuka kertasnya yang berisi "terima kasih telah ncoba".
"Lagi!"
Hannah kembali ngeluarkan uang dan masukan tangannya lagi. Randika yang ada di sisinya sudah bosan, dia lihat Hannah berulang kali ncoba keberuntungannya namun tetap gagal. Dia cuma berharap bahwa adik iparnya ini segera bosan agar dia bisa segera pulang.
Namun, sudah 10x Hannah ncoba dan tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.
"Han, sudahlah. Permainan seperti ini mbutuhkan keberuntungan, jangan buang uangmu untuk hal tidak pasti seperti ini." Kata Randika.
"Kak, aku tidak mau nyerah!" Hannah rasa depresi, dia sudah 10x ndapatkan kertas yang berisikan "terima kasih telah ncoba".
Orang-orang di belakang Hannah akhirnya ndapatkan gilirannya. Beda dengan Hannah, reka hanya rela lakukannya 2-3x saja.
lihat Hannah yang mbawa 10 kertas itu, beberapa orang mulai nertawainya. "Hahaha kamu ngeluarin 100 ribu cuma untuk 10 kertas itu?"
"Sudah dengarkan saja pacarmu itu, tabung saja uangmu."
skipun sudah diperingati orang-orang dan Randika, Hannah masih tidak mau nyerah. Hannah kembali berbaris dan mbeli tiket baru. Kali ini Randika diseret untuk ikut ngambilnya. Namun, dia tiba-tiba terkejut ketika ndapatkan kertas berwarna emas.
Mustahil!
Bukankah ini.
Ya tidak salah lagi!
Di tangan Randika, kertas berwarna emas itu bertuliskan "selamat Anda ndapatkan hadiah nomor 1"!
Randika tidak percaya, dia ngusap matanya berkali-kali dan benar ini bukan mimpi!
Bisa dikatakan bahwa dia masukan tangannya dengan ogah-ogahan dan ngambil salah satu kertas. Tidak disangka-sangka ternyata dia justru ndapatkan hadiah pertama!
Hidup mang misteri, bahkan dia makai uang 10 ribu terakhir yang ada di dompetnya. Sejujurnya dia sedang bangkrut karena telah mbiayai Serigala dkk.
Randika sedikit bangga terhadap apa yang baru dia capai ini, sedangkan Hannah masih bertarung dengan kotak undian. Namun, setiap kali dia ngambil selalu kertas yang berisikan hal yang sama.
"Sudah Han kamu tidak perlu ngambil undiannya lagi. Nih hadiah pertamanya untukmu." Kata Randika sambil pura-pura batuk.
Hannah noleh dan lihat kertas emas yang dipegang Randika, dia malingkan wajahnya.
"Kak, jangan bohong hanya untuk nghiburku. Aku tahu kak Randika pasti warnainya sendiri kan!"
Bagaimanapun juga, ndapatkan hadiah pertama dengan sekali coba? Keberuntungan macam apa itu?
"Han, kan sudah kubilang undian seperti ini tergantung keberuntunganmu. Bukankah keberuntungan kakakmu ini sangat besar sejak dulu?" Kata Randika sambil tertawa.
"Sudahlah kak, cukup berbohongnya." Hannah masih tidak percaya.
"Bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau kertas yang kupegang ini hadiah pertama maka kamu nanti malam harus nghangatkan kasurku." Kata Randika.
"Boleh." Kata Hannah dengan santai. "Lagipula mana mungkin kak Randika berhasil cuma satu kali coba."
Setelah ngatakan hal itu, Hannah ngambil kertas yang dibawa Randika dan mbaca isinya. Matanya langsung terbelalak ketika mbacanya!
Orang yang baris di belakangnya Hannah juga ndengar kata-kata Randika sebelumnya dan tidak percaya sama sekali. Ketika dia ngintip kertas yang dibuka Hannah, dia sendiri juga terkejut bukan main.
Namun, Hannah yang terdiam itu mbuat orang di belakangnya itu bingung. Apakah itu kertas undian atau kertas bohongan?
Hannah natap lekat-lekat kertas yang dipegangnya itu. Kata-katanya yang ada di dalamnya Tidak salah lagi!
Hannah benar-benar tidak percaya. Dalam sekejap, dia langsung luk Randika secara erat.
"WOW! Beneran hadiah pertama! Kak Randika mang luar biasa!"
Hannah lompat-lompat kegirangan, dia lalu lambai-lambaikan tiket emasnya itu dan berteriak dengan keras. "Aku nang!"
Randika sendiri senang ketika rasakan tangannya masuk di belahan dada adik iparnya itu. Sudah lama dia tidak rasakan kelembutannya!
Orang-orang di sekitar Hannah terkejut bukan main, lihat tiket emas itu mau tidak mau reka njadi percaya.
Hannah terus-terusan lambai-lambaikan tiket emasnya itu. Randika sendiri hanya berdiri diam ketika lihat Hannah nerima semua tepuk tangan orang-orang. Setelah rasa puas dengan perhatian orang-orang, Hannah narik Randika dan ncium pipinya.
"Kak Randika mang orang yang ngagumkan!"
Hannah benar-benar bahagia sedangkan orang-orang yang bertepuk tangan itu benar-benar iri. Hanya 10 ribu rupiah bisa ndapatkan 200 juta? Keberuntungan macam apa itu!
Si penjaga kios itu juga lumayan terkejut. Sudah tiga hari acara ini berlangsung dan dia sendiri tidak percaya bahwa akan ada yang berhasil ngambil hadiah utamanya.
Ah. Si penjaga itu nghela napasnya, dia berharap bisa seberuntung itu.
Randika yang natap Hannah itu berkata padanya. "Han, jangan lupa tentang taruhan kita tadi."
"Ah? mangnya aku janji apa? Perasaan aku tidak pernah janji apa-apa tuh." Kata Hannah sambil pura-pura polos.
Randika hampir muntah darah, dia lupa bahwa adik iparnya ini mang selicik itu. mang tidak ada bukti hitam di atas putih jadi Randika tidak bisa mbuktikan bahwa Hannah telah berjanji padanya.
Reviews
All reviews (0)