Font Size
15px

Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat Randika dan Inggrid tiba di kota Cendrawasih.

"Tidak ada yang lebih nyaman daripada rumah sendiri." Kata Inggrid sambil nghirup napas dalam-dalam.

Randika lalu luk Inggrid dan berbisik di telinganya. "Kita akan selamanya berada di kota ini dan anak-anak kita juga akan tumbuh besar di sini."

Wajah Inggrid njadi rah padam, dia lalu berkata dengan nada sedikit cemberut. "Aku cuma ingin punya anak 2."

"Hahaha semakin banyak semakin banyak rejekinya."

"Tidak mau! Terlalu banyak juga tidak bagus." skipun terlihat marah, dia senang ketika mikirkan dirinya nggandeng anaknya.

"Baiklah, baiklah, terserah kamu mau punya anak berapa." Randika lalu berbisik di telinganya. "Tapi nafsu suamimu ini besar, jangan salahkan aku jika aku nginginkan tubuhmu setiap hari."

"...."

Inggrid sudah tidak bisa lihat wajah Randika lagi saking malunya. "Kamu ingin laki atau perempuan?"

Randika lalu mbalas. "Dua-duanya sama saja. Kalau laki nanti dia akan tumbuh tampan sepertiku dan kalau perempuan akan secantik ibunya."

ndengar kata-kata Randika itu, Inggrid makin berharap semakin cepat mpunyai anak. Randika nyadari ini dan langsung ncuri kesempatan. "Sayang, bagaimana kalau kita segera mbuatnya setelah kita sampai rumah? Untuk mastikan kita ndapatkan bayi yang sehat, kita akan lakukannya siang dan malam sampai berhasil."

Bagaimanapun juga, Inggrid bukanlah tandingannya Randika. skipun sifatnya yang kuno dan pemalu itu, di bawah serangan Randika, dia sekarang njadi perempuan yang siap lakukannya kapan saja dan dengan cara apa saja.

"Oh iya, bukannya perusahaanmu itu mau tutup? Bukankah lebih baik kamu manggil semua karyawanmu kembali sebelum reka ncari pekerjaan baru?"

"Tidak masalah, sesampainya di rumah aku akan nelepon sekretarisku dan mintanya untuk ngatur panggilan kerja kembali. Lagipula ini baru beberapa hari jadi seharusnya sebagian besar dari reka akan kembali."

Ketika reka sampai di rumah, Hannah sangat senang bertemu dengan kakaknya. Akhirnya keluarga bahagia ini kembali bersatu.

"Kakak!"

Hannah luk Inggrid dengan erat. Wajahnya sudah penuh oleh air mata. "Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi."

"Han, aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Inggrid juga ikut nangis bersama Hannah.

Hubungan kakak beradik ini sangat dekat. Ketika Inggrid pergi ninggalkan Jakarta, Hannah mutuskan untuk bersekolah di universitas Cendrawasih untuk nyusul kakaknya itu. Dengan nilainya, dia bisa pergi ke sekolah yang jauh lebih bagus. Dari hal ini saja sudah cukup untuk mbuktikan betapa dekatnya reka.

"Aku tidak ingin kakak pergi ninggalkanku lagi seperti itu." Kata Hannah sambil tersedu-sedu.

"Iya, iya, kakak tidak akan ke mana-mana kok." Inggrid lalu tersenyum. "Sudah berhentilah nangis, wajahmu yang cantik itu jadi jelek lho."

Hannah yang nghapus air matanya itu natap Randika. Randika sendiri berkedip padanya dan mbuka kedua tangannya.

"Ngapain kak?" Hannah terlihat bingung.

Randika lalu berkata dengan santai. "Bukankah aku mbawa pulang kakakmu itu? Seharusnya aku ndapatkan pelukan juga bukan?"

"Hah? Logika macam apa itu?" Hannah malingkan wajahnya, sifatnya berubah kembali njadi nakal. "Atau kak Randika ingin rabaku lagi ya!"

Randika njadi muram, sejak kapan Hannah tahu rencananya? Yah ini cuma sebuah pelukan, seharusnya tidak perlu waspada seperti itu.

"Hahaha ada-ada saja kamu ini. Bukankah aku sudah punya istriku yang cantik? Buat apa aku rabamu?" Kata Randika sambil tertawa. Lalu tatapan mata Hannah dipenuhi oleh kelicikan, dia langsung narik lengan kakaknya itu.

"Kak, kita sudah lama tidak tidur bersama-sama lagi. Hari ini aku ingin tidur bersama kakak."

ndengar kata-kata ini, Randika ingin muntah darah. Kakinya itu sedikit getar dan tangannya ngusap kepala Hannah. "Bisa saja kamu ini, sudah sana cepat belajar atau main sana."

"Ran, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Hannah jadi hari ini aku akan tidur di kamarnya. Kamu sesekali tidur sendiri tidak masalah kan?" Kata Inggrid.

Randika benar-benar terkejut, dia yang sekarang sama sekali tidak berdaya. Hari ini dia tidak bisa tidur dengan istrinya?

"Kamu ini ya." Inggrid nghela napas. lihat wajah kecewa Randika, dia berjalan nghampirinya dan ncium pipinya. "Besok saja ya."

"Kenapa harus besok?" Randika pura-pura marah.

"Karena besok" Inggrid nggigit bibirnya. "Kamu boleh lakukan apa saja pada tubuhku ini."

"Benarkah?" Tatapan mata Randika berbinar-binar.

Hannah yang cemburu nghentakan kakinya dan langsung narik Inggrid. "Kak, sudah lupakan kak Randika!"

Bersamaan dengan itu, Hannah nyeret Inggrid ke kamarnya. Randika sendiri tidak peduli karena besok akan njadi hari yang sangat nyenangkan.

Ketika hari mulai njelang malam, reka bertiga berkumpul di ruang tamu dan nonton TV. Ketika waktu makan malam hampir tiba, reka berencana masak.

Sebelumnya, siang hari tadi Hannah sudah san makanan tetapi karena Inggrid sedang hobi masak dia berniat untuk nambah beberapa lauk.

Randika terkejut ketika lihat Inggrid berjalan nuju dapur. skipun terakhir kali masakan Inggrid tidak gagal, itu pun aslinya berkat bantuan dirinya. Jika bukan karena Randika tentu makanan yang dibuat Inggrid akan seburuk makanan di neraka.

Randika tidak punya pilihan lain, dia harus nyelamatkan dirinya sendiri dengan ikut masak.

Ketika lihat Randika dan Inggrid berjalan nuju dapur, Hannah juga nyusul.

"Han, kenapa kamu ikut? Sudah duduk saja daripada nanti tambah kacau dapurnya." Kata Randika.

"Kenapa kakak rehkanku begitu? Aku tahu caranya masak!" Kata Hannah dengan wajah cemberut. Setelah makai celek dan ngikat rambutnya, dia sudah siap nolong kedua kakaknya ini. Namun, dia bingung harus berbuat apa. "Kak Randika, aku sekarang harus ngapain."

Randika sendiri tidak tahu harus nangis atau tertawa. "Bagaimana kalau kamu ncuci sayurannya dulu? Ingat tidak perlu pakai sabun cucinya."

Ketiga lalu mulai masak sambil bahu mbahu, tetapi semua acara masak ini masih dipimpin oleh Randika. Kalau tidak, hasil masakannya bisa-bisa mbuat reka mati keracunan.

Namun seiring berjalannya waktu, Randika nyadari sesuatu.

"Han, minyaknya kebanyakan."

"Han, taburin garamnya pakai sendok jangan dituang dari wadahnya begitu."

"Apinya jangan besar-besar! Tuh kan gosong."

"Sudah kamu duduk saja dan nonton TV."

Randika tidak punya pilihan selain ngusir Hannah dari dapur. Bukannya mbantu, proses masaknya itu malah makin kacau. Akhirnya Randika ngerti bahwa bakat tidak bisa masak itu ternyata faktor keturunan. Kemungkinan besar ibu dari Inggrid dan Hannah juga sama-sama tidak bisa masak, Randika yakin akan hal itu!

Pada akhirnya, setelah masak dengan susah payah bersama Inggrid akhirnya masakan reka telah selesai.

Ketiganya lalu duduk di ja makan dan Inggrid berniat ngambil botol wine yang dia simpan.

Setelah nuangkannya ke tiga gelas, Inggrid tersenyum. "Han, sebelum kamu makan bagaimana kalau kita bersulang untuk rayakan bersatunya keluarga kita lagi!"

Perayaan ini jelas ngacu pada pengalaman hidup dan mati reka sebelumnya. Pada saat itu ketiganya terjatuh dari atas tebing dan ajaibnya reka semua selamat dari kejadian ngerikan itu. Dan juga, jika Randika telat datang ke Jakarta, Inggrid mungkin sudah mati bunuh diri.

"Kalau begitu bersulang!" Hannah ngangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Bersulang!"

Ketiganya lalu minum wine reka masing-masing. Hannah baru pertama kali minum wine, ketika dia ngingat pengalamannya di dalam gua sebelumnya, dia langsung berkata dengan nada bahagia. "Nikmatnya hidup ini."

Ketika di dalam gua, Hannah berpikir bahwa dia tidak akan pernah keluar dari situ dan mati setelah beberapa hari.

"Han, apa yang terjadi setelah kalian berdua jatuh dari tebing?" Inggrid jelas penasaran. Dia lihat sendiri Randika dan Hannah terjun bebas ke bawah. Dia waktu itu berpikir tidak akan bisa bertemu dengan kedua orang ini lagi.

"Itu semua berkat kak Randika." Hannah tersenyum dan natap Randika, ternyata kakak iparnya itu sedang sibuk makan dan tidak nghiraukannya. Hannah yang kesal itu nendang kaki Randika.

"Ah! Apaan sih?" Randika jelas terkejut. Bukannya kalian ingin nikmati mon kakak adik? Jadi wajar kan aku makan selagi kalian bicara?

"Sudahlah Han, biarkan kakakmu itu makan. Dia siang tadi belum makan." Kata Inggrid.

"Huh." Hannah malingkan wajahnya. "Kak Inggrid terlalu manjakannya."

Setelah ngambil nasi dan lauk, Hannah lalu bercerita tentang kejadian di dalam gua.

Inggrid ndengarkan dengan seksama ketika Hannah nceritakan dia terjebak di dalam gua kurang lebih selama 2 minggu.

Ketika Hannah bercerita tentang kolam air yang sakral itu, Inggrid rasa semakin bersemangat. Ketika Hannah nceritakan tengkorak yang dia temukan, Inggrid rasa sedikit mual.

Ketika piringnya sudah tidak ada yang tersisa, Randika berniat untuk ngambil nasi dan lauk lagi. Namun tatapan dingin kedua perempuan itu ngejutkan dirinya.

"Kenapa kalian natapku seperti itu." Randika terlihat gugup, dia lalu berkata pada Hannah. "Han, jangan-jangan kamu suka sama aku?"

Hannah sendiri aslinya ingin bercerita bagaimana dia nyuapi Randika selama di gua, tetapi ndengar kata-katanya itu dia ngurungkan niatnya. "Huh, siapa yang suka sama lelaki rakus."

Hannah kemudian kembali natap Inggrid. "Sudahlah kak jangan pedulikan kak Randika lagi. Ceritakan bagaimana keseharian kakak setelah turun dari gunung."

Inggrid ngangguk dan nceritakan bagaimana dia dibawa kembali ke Jakarta oleh Ivan. Dia lalu nceritakan rencana balas dendamnya dan bagaimana Randika datang nyelamatkannya.

ndengarkan bagaimana Randika dengan gagah berani nyelamatkan kakaknya, Hannah njadi kagum. Tetapi ketika lihat kakak iparnya itu makan dengan rakus, dia hanya bisa nghela napasnya.

Setelah ndengarkan cerita kakaknya itu, Hannah lalu mbalasnya. "Kak, bagaimana kalau kita bersulang lagi? Sekarang kita bersulang agar kita bisa bersama-sama selamanya."

"Baiklah." Inggrid ngangkat gelasnya sekaligus nyenggol Randika yang masih makan. "Ayo angkat gelasmu."

"Bersulang!" Randika nelan makanannya dan ngangkat gelasnya.

"Bersama selamanya!"

"Bersama selamanya!"

"Bersama selamanya!"

Ketiganya lalu minum wine reka masing-masing.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 318: Bersama untuk Selamanya! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

All MILFs are Mine cover
Similar genre

All MILFs are Mine

Night_phantom ·Harem

*Caution* *TABOOCONTENT* *STRONGSEXUALCONTENT* THISCONTENTISVERYHARMFULFORANORMALPERSON'SMIND. __________________________________ LeonisaMILFlover,...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.