Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta
Polisi yang ndapatkan info ngenai kedatangan pesawat ini langsung ngevakuasi seluruh bandara. Ratusan polisi sudah madati bandara ini lengkap dengan senapan serbu reka.
reka ndapatkan konfirmasi bahwa pesawat yang dibajak itu akan ndarat di bandara ini. ndengar hal ini kebanyakan orang njadi lega karena target para teroris itu bukanlah istana kepresidenan.
Jadi dengan cepat bandara ini sudah dikepung oleh polisi dan salah satuan khusus Indonesia yaitu Densus 88.
Para karyawan bandara juga ikut tegang ketika ndengar kabar ngejutkan ini. Bukankah ini sudah seperti film layar lebar?
"Hei, mangnya ada apa sih ini kok ribut-ribut?" Tanya seorang karyawan yang baru keluar dari toilet.
Di sebelahnya sudah ada temannya yang telah ndengar berita pembajakan itu.
"Kamu dari mana saja mangnya? Tadi diumumkan ada pesawat yang dibajak dan sebentar lagi reka akan ndarat di bandara ini."
"Serius?" Karyawan yang lupa nutup resleting celananya itu sudah nganga, dia baru pertama kali ngalami kejadian seperti ini.
Namun lihat banyaknya satuan hukum yang berjaga di tempatnya bekerja ini, sepertinya ini bukanlah mimpi.
Di luar pintu bandara, para penumpang yang hendak berangkat itu sama sekali tidak berdaya. Tanpa penjelasan apa-apa, puluhan mobil polisi tiba-tiba datang dan para polisi itu langsung ngevakuasi reka semua. Pada saat yang sama, semua keberangkatan ataupun kedatangan pesawat ditunda.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Seorang penumpang terlihat kebingungan. Evakuasi total seperti ini sangatlah jarang terjadi.
lihat banyaknya polisi yang berjaga di bandara ini, semua orang rasa penasaran. Terlebih lagi para dia berita sudah mulai bermunculan satu per satu.
Tetapi ketika para reporter itu berniat ncari tahu apa yang terjadi, reka segera diusir oleh para polisi yang berjaga di pintu masuk. Pada saat yang sama, salah satu pimpinan para polisi itu larang adanya kara yang rekam kejadian ini.
Tidak peduli teori atau tebakan apa yang dikembangkan para dia itu, para polisi tidak peduli. Keadaan di dalam bandara masih tegang dan para pimpinan polisi ini tidak tahu keinginan para teroris tersebut. Di tengah keadaan genting seperti ini, ada salah satu orang yang nguap karena bosan.
"Cih, markas ngirimku ke tempat ini dan tidak ada dia yang akan rekam aksiku nanti?" Orang yang berbadan tegap dan kekar ini dilengkapi oleh peralatan dan persenjataan polisi yang lengkap, Wajahnya yang tertutup oleh sebuah kain hitam itu hanya mperlihatkan matanya saja. Namun, semua itu tidak bisa nutup aura mbunuhnya yang sangat pekat.
Orang di sampingnya langsung negurnya.
"Pak Bruno jangan begitu, markas juga ditekan oleh banyak pihak. Lagipula yang terpenting adalah nyawa 100 orang yang ada di pesawat, sampai saat ini kita juga tidak tahu kondisi reka bagaimana. Kita dikirim hari ini untuk numpaskan semua teroris yang berani nginjakan kakinya di ibu kota ini, tetapi kami harap bapak bisa nangkapnya agar kami bisa nginterogasinya."
"Iya, iya kamu tidak perlu ngol seperti itu." Bruno rupakan salah satu ujung tombak dari Arwah Garuda. Sejak dia bergabung, belum pernah ada teroris yang bisa lepas dari genggamannya.
Selain Densus 88, presiden rintahkan Arwah Garuda untuk ikut dalam misi kali ini.
Bruno berani bersikap sombong seperti itu karena dia mang mpunyai kemampuan. Selama ini dia berperang dengan teroris internasional dan sudah mupuk pengalaman yang tidak terhitung jumlahnya. Setelah sekian lama di luar negeri, minggu kemarin dia baru saja kembali ke Indonesia dan sudah diberikan tugas sepenting ini.
Tentu saja dia tidak kenal siapa Randika. Orang Arwah Garuda yang ngerti Randika hanyalah Safira, Elva dan bawahan reka saja, terlebih pengaruh reka tidak sampai ke Jakarta.
Bagaimanapun juga, Indonesia mang terlalu luas dan Arwah Garuda tidak hanya mantau aktivitas Randika saja. Oleh karena itu, Arwah Garuda terbagi-bagi di seluruh wilayah Nusantara.
Pada saat yang sama, nara bandara mberi sinyal dan semua personel natap ke langit.
Di bawah tatapan mata reka, sebuah pesawat dapat terlihat dan bersiap untuk ndarat.
Semua orang njadi tegang, para personel langsung nempati posisi reka masing-masing dan para penembak jitu sudah mbidik pesawat.
Pesawat tersebut ngeluarkan roda reka dan mulai ndarat di landasan. Pendaratan reka mulus dan akhirnya berhenti dengan sempurna.
lihat kejadian ini, semuanya nahan napas reka. reka nantikan tindakan para teroris itu berikutnya. Yang paling sulit adalah ketika teroris tersebut berbaur di antara para penumpang, bisa-bisa korban yang tidak diinginkan akan mulai berjatuhan.
Seluruh senjata sekarang ngarah pada pesawat dan semuanya natap dengan penuh waspada.
"Untuk semuanya yang ada di dalam pesawat, kami telah ngepung kalian. Selama kalian tidak lukai para penumpang, permintaan kalian akan kami dengar." Salah satu polisi ngambil alat pengeras suara. Pada saat yang sama, para penumpang di pesawat bisa ndengar kata-kata tersebut.
Bruno natap tajam ke arah pesawat, tidak ada satu ekor lalat pun yang bisa lolos dari tatapan matanya itu. Pada saat ini, tiba-tiba ada seorang pria yang muncul di pintu pesawat yang terbuka.
"Target terlihat, seorang pria muda berumur sekitar 24 tahun makai baju berwarna biru dan berambut pendek." Seorang penembak jitu nginfokan target reka.
Tetapi semua personel ini nahan napas reka, reka tidak tahu apakah Randika ini adalah teroris atau penumpang pesawat.
Para petugas polisi minta pada seorang staf bandara untuk mpersiapkan tangga agar orang tersebut bisa turun. Ketika staf tersebut ngambil tangganya, semua orang lihat Randika lompat turun!
Dari pintu ke tanah ada sekitar 2-3 ter dari tanah dan Randika dengan santainya lompat turun.
Bruno terkejut ketika lihat kejadian ini.
"Dia sudah pasti pelakunya!"
Dalam sekejap insting Bruno ngatakan bahwa lawannya ini bukan orang sembarangan dan para polisi yang lain juga sudah siaga terhadap Randika.
"Berhenti atau kami akan nembak!"
Polisi yang mbawa pengeras suara itu kembali berteriak paa Randika. Tetapi Randika terlihat cuek dan berjalan ke samping!
Polisi tersebut tidak ragu-ragu, dia langsung rintahkan anak buahnya untuk nembak.
Dalam sekejap, semua personel termasuk penembak jitu lepaskan tembakan reka ke arah Randika!
Randika ngangkat kepalanya dan lihat hujan peluru yang padat itu. Pemandangan ini tidak sengerikan ketika dia lawan 1000 orang suruhan mafia Italia, saat itu dia harus nghadapi rudal, peluru, bom ranjau dll.
Terlebih lagi, setelah dia nyerap kekuatan misterius di dalam tubuhnya, apakah reka ngira peluru-peluru ini akan ngenainya?
Bisa dikatakan bahwa senjata paling tidak berguna ketika mbunuh seorang Dewa dari 12 Dewa Olimpus adalah peluru. Kenapa? Karena laju peluru mudah ditebak dan reka hanya tinggal ngalirkan tenaga dalam reka dan ncegah peluru itu nembus ke dalam kulit reka. mang terdengar tidak masuk akal, tetapi para ahli bela diri itu mang miliki kecepatan dan kekuatan yang tidak bisa dibayangi oleh orang awam. Bahkan para elit dari daftar Dewa saja sudah mustahil untuk dibunuh dengan peluru.
Oleh karena itu, ketika para ahli bela diri tingkat tinggi bertarung, reka tidak pernah nggunakan senjata api. Karena kekuatan reka adalah tubuh reka sendiri!
nghadapi hujan peluru ini, ekspresi Randika tetap terlihat tenang. Tetapi tiba-tiba, sosok Randika itu terlihat njadi 2 lalu njadi 4 dst dalam sekejap.
Randika mang terlihat mbelah diri ketika hujan peluru itu ngarah pada dirinya. Tetapi ajaibnya, tidak ada satu peluru pun yang bisa ngenai dirinya.
Tatapan mata Bruno sudah berubah njadi serius, tidak heran markas besarnya itu sampai ngutusnya pergi, lawannya kali ini benar-benar kuat! Jika orang ini napakan kakinya di ibu kota ini, maka negara ini bisa hancur dalam 1 minggu!
Bruno sudah mbulatkan tekadnya, dia akan mbunuh penjahat tersebut. Sedangkan para polisi yang nembak itu sudah terheran-heran, kenapa penjahat itu masih bisa berdiri?
reka tidak pernah lihat orang bisa bergerak seperti ninja dan mbelah diri seperti itu.
Polisi yang gang alat pengeras suara itu terkejut bukan main, dia nolak untuk percaya terhadap kejadian di depan matanya ini. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri. "Banyak senjata seperti ini tetapi tidak ada satu pun yang kena? Orang itu sudah pasti setan!"
Bayangan Randika itu sudah ncapai 10 orang. Ketika peluru itu ngenai bayangannya, peluru hanya akan nembus.
Pada saat ini tiba-tiba suara tembakan itu berhenti total, ternyata semua senjata telah kehabisan pelurunya.
Semua yang gang senjata itu sudah terkejut bukan main, setelah dihujani peluru sebanyak itu tetapi orang itu masih bisa berdiri dengan tegak?
Pada saat yang sama, 10 bayangan itu tiba-tiba nghilang dan sebuah bayangan hitam nerjang ke arah reka.
Bayangan hitam itu adalah Randika yang asli.
"Cepat bunuh dia!" Kapten reka itu segera nyadarkan para bawahannya dari linglungnya.
Tetapi bagaimana mungkin para polisi ini bisa nghentikan Randika yang telah ngalami terobosan? Setelah nyerap 1/10 dari kekuatan misterius di dalam tubuhnya, Randika bukanlah sosok yang kita kenal lagi.
reka yang sibuk ngganti magasin tiba-tiba terkejut ketika nyadari bahwa sosok Randika telah nghilang. Namun, beberapa dari antara reka justru berteriak kesakitan. reka hanya sempat rasakan sebuah tinju yang ngenai wajah ataupun dada reka sebelum akhirnya terjatuh dan terkapar di tanah.
Randika tidak berniat untuk mbunuh reka, bagaimanapun juga reka adalah sebangsa dan setanah air.
Randika tidak berhenti berlari, dia berusaha ncari celah agar bisa kabur dari tempat ini. Sebentar lagi pernikahan Inggrid akan dilangsungkan, dia harus nyelamatkan istri tersayangnya itu!
Tetapi di tengah Randika sibuk mbuka jalan, Bruno muncul di dan pertempuran.
"Bruno dari Arwah Garuda akan njadi lawanmu, bersiaplah untuk mati!" Bruno berdiri di hadapan Randika dan segera nerjang ke arahnya.
Di Arwah Garuda Bruno miliki kemampuan setara dengan Elva, terlebih lagi dia baru saja njalani misi di luar negeri selama beberapa tahun jadi kemampuannya itu sudah pasti njadi lebih kuat. Oleh karena itu dia yakin bisa nghadapi Randika seorang diri!
Randika ngerutkan dahinya ketika dia dicegat oleh Bruno. Dia lalu berkata pada lawan barunya itu. "Kamu kira bisa nghentikanku? Jangan nyesal jika kamu sampai terbunuh."
Bruno tidak ngindahkan kata-kata Randika dan nerjang ke arahnya. Tetapi Randika yang sekarang tidak mpunyai waktu untuk ladeninya. Ketika Bruno sudah hampir nyerangnya, Randika lompat dan njadikan Bruno sebagai pijakannya.
"Sayang sekali aku tidak punya waktu untuk ladenimu." Kata Randika, dia sudah berhasil ncapai lobi bandara.
Bruno yang punggungnya dijadikan pijakan oleh Randika itu terjatuh tetapi tidak ngalami luka apa pun. ndengar kata-kata Randika tadi itu, dia njadi marah dan ngejar Randika.
Apa pun yang terjadi hari ini dia akan mbawa kepala penjahat itu kembali bersamanya.
Para polisi itu juga ikut ngejar Randika, reka tidak ngira bahwa Randika akan berhasil lewati garis pertahanan reka.
"Tersangka berhasil larikan diri, personel lain harap bersiap-siap." Salah satu pimpinan polisi langsung nyiarkan berita ngejutkan ini lalui HT reka. Para polisi yang bertugas njaga pintu keluar dan titik-titik penting lainnya sudah bersiaga penuh.
Reviews
All reviews (0)