"Kenapa kamu seyakin itu?" Randika tidak tahu apa serunya lihat orang berjudi.
"Kak, ini bukan hanya sekedar masalah uang." Richard lankan suaranya. "Kompetisi kali ini nyangkut wajah dari beberapa keluarga aristokrat."
ndengar hal ini, Randika juga ikut njadi penasaran. Keluarga aristokrat di negara ini jarang muncul di depan publik, biasanya reka bekerja di balik layar.
"Sejujurnya, keluarga yang berasal dari utara sepertinya miliki masalah dengan yang di selatan dan sudah beberapa kasus perselisihan dari reka. Tetapi jika reka berperang secara terang-terangan, reka akan nyeret sekutu-sekutu reka dan negara bisa kacau. Jadi reka setuju untuk nyelesaikan ini di ja judi ini. reka telah bermain sebelumnya dan sekarang seharusnya adalah yang terakhir. Akhir dari pertarungan reka ditentukan oleh hasil hari ini."
Mata Randika sudah berbinar-binar, apa yang dikatakan Richard benar-benar narik. Jika sudah libatkan keluarga aristokrat maka kejadiannya pasti sangatlah narik untuk dilihat.
"Bagaimana bisa kamu tahu semua hal ini?" Randika bertanya pada Richard.
Richard mbalasnya sambil tersenyum. "Aku ndengarnya ketika ayahku mbahasnya bersama kliennya. Dan kebetulan juga, aku pernah datang ke kasino bawah tanah ini jadi aku bisa mbawamu ke sini."
"Kak, kompetisi reka masih lama, bagaimana kalau kita bermain dulu?" Richard ngeluarkan chip taruhan dan mberikannya pada Randika.
Randika tidak tahu harus berbuat apa beberapa saat, dia rasa diajak berdosa oleh Richard.
"Baiklah." Akhirnya Randika ngangguk. Kebetulan chip taruhannya juga gratis jadi dia tidak perlu sungkan apabila habis.
"Kamu tidak perlu ikut aku." Kata Randika.
Richard ngangguk. "Jika butuh uang lebih, kabari saja."
Kemudian Randika berjalan-jalan sambil ngagumi kasino bawah tanah yang luas ini. Banyak ja permainan di tempat ini, mau itu kartu, roulette, slot machine dll.
Randika pernah pergi ke kasino di Arika, tempat itu mbawa kenangan yang nyenangkan baginya. Dan baginya roulette adalah sin uang sebenarnya. Cara kerjanya sangat sederhana, petugas akan mutar papan yang berisikan angka 0-36 yang miliki warna berbeda, biasanya ganjil akan berwarna rah, genap berwarna hitam dan angka 0 berwarna putih.
Roulette miliki berbagai macam taruhan, pemain bisa bertaruh angka berapa bola akan jatuh, warna, ganjil atau genap dll. Jadi bisa dikatakan bahwa permainan ini sangat nguntungkan para pemain karena miliki persentase hampir 50% untuk nang.
Banyak orang yang bermain di ja ini, Randika mutuskan untuk mperhatikannya terlebih dahulu. Para pemain yang sudah bertaruh sudah nahan napas reka ketika bola kecil itu berputar.
"Ayo hitam!" Teriak salah satu orang. Matanya sudah hampir copot ketika lihat bola yang bergulir itu makin lambat, sepertinya dia bertaruh besar untuk hitam.
"Bodoh, kenapa kamu bertaruh di warna? Jelas daritadi itu sudah 3x genap, bolanya sudah pasti ganjil sekarang!" Teriak temannya, tangannya juga sudah berkeringat.
Akhirnya, bola itu mulai lambat dan berhenti di angka 0. Kejadian ini mbuat semua pemain di ja benar-benar sedih dan nghela napas reka dalam-dalam.
Perlu diketahui, angka 0 tidak termasuk berwarna hitam ataupun rah dan juga bukan genap. Dan juga, persentase bola berhenti di angka 0 benar-benar kecil jadi orang tidak pernah bertaruh untuk angka 0 skipun imbalannya sangatlah besar.
Randika dalam hati tertawa, penjudi yang baik itu ngerti batasan diri dan tidak langsung mpertaruhkan seluruh uangnya dalam satu permainan.
Ketika Richard sedang asyik bermain blackjack, dia ndengar suara dari belakang yang manggilnya. "Wah, wah, bocah yang selalu nurut sama ayahnya ini ternyata nakal juga sampai berjudi di tempat ini."
Ketika ndengar suara itu, badan Richard njadi kaku. Ketika dia noleh ke belakang, dia lihat beberapa orang sedang tertawa.
Yang ngejek dirinya adalah Anthony, musuh bebuyutannya.
Keluarganya Anthony juga rupakan keluarga penting di kota Cendrawasih, oleh karena itu kedua keluarga ini sering berselisih. Dalam aspek bisnis, keduanya saling bersaing terus nerus. Dari generasi kakeknya hingga ayahnya reka sekarang, reka terus bertarung secara terbuka dan secara diam-diam.
Namun, Anthony mandang rendah Richard. Dalam hal pengalaman dan berbagai bidang, Anthony ngalahkan Richard.
Richard natapnya dengan dingin. "Bukan urusanmu jika aku ingin berada di tempat ini untuk bersenang-senang. Lagipula ngapain kamu ada di sini?"
"Tentu saja aku datang untuk berjudi, kalau tidak ngapain aku ke kasino?" Anthony tertawa dengan pertanyaan bodoh Richard.
"Bukannya bocah penurut sepertimu tidak cocok berada di tempat seperti ini? Bagaimana kalau kamu segera keluar dari sini? Aku sedikit kasihan dengan uang ayahmu yang terbuang percuma seperti ini." Anthony lalu tertawa bersama teman-temannya.
"Benar kata Anthony, bagaimana kalau kamu pergi dan minum saja di bar dekat sini? Aku dengar reka baru saja ndatangkan perempuan dari Thailand. Kamu pasti nyukai perempuan berbatang seperti itu bukan?" Dengan ini Anthony dan teman-temannya tertawa sekali lagi.
"!!" Wajah Richard benar-benar dingin, amarahnya sudah luap-luap. Dia ingin nghajar Anthony dan teman-temannya dengan keras. Tetapi dia tidak berani lakukannya karena hari ini dia hanya datang berdua dengan Randika, para pengawalnya tidak dia bawa sama sekali jadi dia ragu bisa nang dari Anthony.
Para pengunjung di kasino ini tidak tertarik dengan pertunjukan para bocah. Bagaimanapun juga, tidak ada orang yang berani langgar peraturan di kasino bawah tanah ini. Jika ada yang berani lakukannya, maka orang tersebut harus bersiap-siap babak belur.
"Kenapa? Tidak terima?" Anthony ndengus dingin. "Apa kamu ingin mbunuhku? Aku tahu bahwa kamu sendiri juga sudah sadar bahwa kamu sama sekali tidak bisa nyentuhku. lihatmu yang seperti anjing ketakutan ini benar-benar sedap dilihat." Anthony kembali tertawa bersama teman-temannya.
"Kalau tidak terima, bagaimana kalau kita nyelesaikannya di atas ja? Kebetulan juga kita sudah berada di tempat yang tepat. Jadi bagaimana? Berani lawanku?"
Richard yang sudah panas itu tidak langsung nerima tantangan ini, dia mikirkan pro dan kontra dari tantangan Anthony ini. Tetapi Anthony nambahkan minyak pada api. "Tapi tentu saja, aku tahu kamu tidak akan berani nantangku. Bocah ingusan sepertimu tidak punya keberanian dan kemampuan untuk lawanku. Hahaha."
"Siapa bilang aku tidak berani lawanmu?" Richard terpancing oleh hinaan Anthony yang kali ini.
"Aku cuma bilang apa adanya." Anthony tersenyum. "Bukankah aku sering ngalahkanmu di berbagai kesempatan? Aku hanya takut bahwa nyalimu sudah sekecil semut sekarang. Bagaimana kalau begini, kita jangan mpertaruhkan uang lainkan perjanjian kontrak bisnis atau tanah keluarga kita, bukankah itu lebih seru?"
Richard kembali ragu-ragu. Anthony kembali nambahkan minyak. "Kalau kamu takut tidak masalah, jangan ragu-ragu untuk ngakuinya. Seperti kura-kura, sebaiknya kamu masukan kepalamu itu ke lubang kecilmu."
"Siapa bilang aku takut?" Richard kembali terpancing, kali ini Anthony langsung nyambar kesempatan ini. "Baguslah kalau begitu!"
"Cepat kita pilih ja yang kosong." Anthony berjalan duluan.
Kemudian keduanya berjalan nuju ja kosong, lalu Anthony berkata pada Richard. "Kita main yang gampang saja, kita bergantian ngocok kartunya dan setelah itu masing-masing dari kita ngambil 4 kartu secara bergantian. Setelah ndapatkan kartunya, kita hanya boleh nukar 1 kartu dengan kartu baru. Setelah itu kita njumlahkan kartunya dan siapapun yang lebih besar adalah penangnya. As adalah 1 dan King adalah 13."
"Baiklah." Richard sudah tidak bisa mundur lagi. skipun sebelumnya dia pernah ke kasino, dia tidak terlalu suka bermain. Dia hanya suka nonton orang bermain dan ncari sensasi kesenangan saja. Namun, demi njaga wajah sekaligus namanya, dia harus nerima tantangan Anthony.
Anthony tersenyum kemudian ngocok kartunya dan mberikannya pada Richard. Setelah selesai dikocok, kartu tersebut ditaruh di tengah dan reka ngambilnya satu per satu secara bergantian.
"Apa yang kita pertaruhkan." Kata Anthony sambil ngambil kartu dengan santai. Sebagai catatan, reka boleh ngambil kartu secara acak jadi tidak harus ngambil yang paling atas.
ndengar hal ini, keringat dingin mulai mbanjiri dahi Richard. Dia bukan bertaruh dengan uang miliknya sendiri lainkan uang keluarganya.
"Sebelum kita mbuka kartunya, sebaiknya kita mutuskan apa yang dipertaruhkan terlebih dahulu. Oh ya, aku juga ngusulkan best of 5 jadi siapapun yang nang 3x, dialah penangnya. Aku akan mpertaruhkan tanah keluargaku yang ada di dekat distrik pembangunan kota baru. Bagaimana kalau kamu mpertaruhkan tanahmu yang ada di distrik perbelanjaan di tengah kota?"
Sepertinya taruhan ini cukup oke, tetapi arah pertaruhan ini sebenarnya disetir oleh Anthony.
Kota Cendrawasih sudah rupakan ga kota di Indonesia. Perkembangannya sangat pesat dan sebentar lagi akan nyamai Jakarta dan Indonesia. Bisa dibayangkan betapa mahalnya tanah di tengah kota saat hal itu terjadi? Terlebih lagi, tanah yang dipertaruhkan oleh Richard rupakan tempat berkumpulnya toko emas dan perhiasan. Setiap hari ratusan juta berputar di tempat tersebut.
Pada awalnya, keluarga Richard mbangun kekuatannya dari distrik perbelanjaan itu. Anthony nyadari ini dan berusaha rebutnya.
Richard nggigit lidahnya. Tentu saja dia tahu apa yang dipertaruhkan hari ini sangat krusial, tetapi dia tidak bisa mundur.
"DEAL!"
"Baiklah, buka kartumu." Anthony ndengus dingin sambil mbuka kartunya. Setelah mbuang satu kartu, keempat kartunya adalah 10 wajik, jack sekop, 6 hati dan queen hati dengan total 39 poin. Sedangkan kartu Richard hanyalah angka dengan perolehan tidak sampai 25 poin.
"Kalau begitu untuk pertarungan pertama kita, akulah penangnya." Anthony tersenyum, sepertinya hari ini keluarganya akan berpesta.
Keringat dingin mulai mbanjiri punggung Richard, kemudian reka kembali ngocok kartu dan ngambil 4 kartu secara acak.
Kemudian setelah mbuka kembali kartu reka, Richard telah kalah kembali.
Skor sekarang 2 untuk Anthony dan 0 untuk Richard.
Pada saat ini, Randika yang berjalan-jalan lihat Richard dan berjalan nghampirinya. Dia terkejut ketika sadar bahwa Richard sepertinya sedang bermain lawan orang.
"Kenapa? Takut kalah?" Anthony sudah tertawa keras. "Kalau takut cepat kembali ke pelukan ayahmu itu, tidak usah datang ke sini lagi."
"Siapa bilang dia takut?"
Tiba-tiba, seseorang datang nghampiri ja reka dan berdiri di samping Richard.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur dengan urusanku, pergi sana!" Anthony tidak senang diganggu di tengah-tengah kenangannya.
Richard yang berwajah pucat itu bahagia ketika lihat Randika, seakan-akan dia telah lihat sang juru selamat.
Randika ncueki Anthony dan bertanya pada Richard apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum Richard njawab, dia sudah berdiri dan nyuruh Randika duduk nggantikannya.
lihat Richard yang berdiri dan mberikan kursinya, Anthony sedikit terkejut. Kemudian dia natap tajam pada Richard. "Kamu yakin digantikan sama orang ini? Aku ingatkan, skor tetap tidak berubah."
"Aku yakin."
lihat wajah Randika yang terlihat bodoh dan tenang itu, Anthony kemudian njelaskan permainannya kembali.
"Berarti King adalah yang tertinggi?" Tanya Randika.
"Benar."
Randika ngangguk dan mulai ngocok. Anthony lalu berkata dengan nada sarkas. "Aku akan mberikanmu kesempatan untuk milih 4 kartu duluan."
Randika tidak sungkan-sungkan, dia dengan cepat ngambil 4 kartu dari tumpukan. Dan tanpa nunggu Anthony ngambil kartunya, dia sudah mbuka keempat kartunya.
"Empat King?" Teman-temannya Anthony tidak percaya dengan apa yang reka lihat.
Anthony sendiri sudah terkejut ketika lihat kartu yang dimiliki Randika, wajahnya njadi muram. Sepertinya lawannya ini bukan sembarangan.
"Sekali lagi." Anthony berusaha nenangkan dirinya, kali ini dia ngocok dengan sungguh-sungguh. Sejujurnya, dia nang lawan Richard nggunakan trik-trik seperti Second Deal [1] dan peeking [2].
Setelah kartu telah dikocok dengan benar, reka bergantian ngambil kartu.
Tapi Anthony salah lawan orang, orang yang dihadapannya ini adalah Ares sang Dewa Perang, permainan kartu ini semudah dirinya mbunuh 100 orang.
Ketika Anthony berusaha ngambil kartu, tangan Randika bergerak dengan cepat dan ngambil satu kartu. Anthony yang terkejut noleh ke arah Randika, tetapi mon ini digunakan Randika untuk ngambil 3 kartu sisanya.
Cepat sekali!
Ketika dia berusaha ngambil kartu pertamanya, Randika sudah mbuka kartunya dan semua orang njadi terkejut kembali.
"Mustahil, empat King lagi?"
Semua orang terkejut dan Richard yang berdiri di samping Randika sudah tersenyum lebar.
[1] Pemain atau dealer terlihat seperti ngambil kartu seperti biasa, tetapi kenyataannya dia ngambil kartu di bawahnya.
[2] Pemain atau dealer ngintip kartu yang akan dibagikannya dengan bantuan alat seperti cincin selagi ngalihkan perhatian orang agar tidak ketahuan.
Reviews
All reviews (0)