Font Size
15px

Randika masuk dan lakukan check in, dan para pasukannya itu ninggalkan bandara.

skipun dengan perasaan sedih, Yuna dan yang lain harus relakan kepergian Randika dan fokus pada pekerjaan reka. skipun Bulan Kegelapan bukanlah ancaman lagi, reka tidak boleh lengah dan harus numpas si pengkhianat itu untuk selamanya.

Karena berbagai kejadian di Tokyo ini lelahkan jiwa dan raganya, Randika ingin tidur dengan tenang di pesawat jadi dia milih duduk di dekat jendela. Ketika dia hendak masukan barangnya ke bagasi atas, suara perempuan terkejut terdengar di depannya.

Randika noleh dan lihat senyuman lebar tertuju padanya. "Benar-benar sebuah kebetulan."

Perempuan itu adalah Serena yang sebelumnya nggoda dirinya di pesawat nuju ke Jepang. Benar-benar sebuah kebetulan bisa bertemu dengannya lagi dan terlebih reka duduk bersampingan! Sejujurnya, Randika sendiri sudah lupa dengan sosok bule satu ini.

Wajah Serena tersenyum lebar, dia tidak nyangka akan bertemu dengan pria tampan dan gagah ini kembali. Sehari sebelumnya dia masih ngol karena perusahaannya nyuruhnya kembali ke Indonesia dengan mbawa pekerjaan yang sangat banyak.

"Apa kamu sudah lupa janji kita sebelum ini?" ndadak, baju Serena terlihat longgar dan dia nggigit kedua bibir pinknya, mbuatnya terlihat makin nggoda.

lihat sosok yang nggoda ini, nafsu Randika makin nguasai dirinya. Setelah berkali-kali minum obat dari kakeknya itu, dia hanya ngeluarkan nafsunya itu sekali dengan Kaori. Dan sekarang, ada perempuan cantik dan montok nggoda dirinya, siapa yang bisa tahan!

Keduanya duduk dengan sangat dekat, kaki Serena mulai nggosok kaki Randika. Hari ini Serena makai celana pendek dengan stoking jala, ini ngingatkan Randika dengan bunny girl di bar saat dirinya di Jepang.

"Kenapa kamu tidak nghubungiku?" Jari Serena mulai berenang di puting Randika, berusaha mbuatnya bergairah.

Randika nerima undangan Serena ini dan naruh tangannya di paha perempuan satu itu. Keempukan dan sensasi ini sudah lama tidak dia rasakan.

ndadak, suara desahan kecil keluar dari mulut Serena. Seorang pria paruh baya yang duduk di depan reka tiba-tiba noleh ke belakang. lihat posisi kedua pasangan muda itu, pria itu tersenyum dan kembali mbaca korannya. Inilah ikatan persaudaraan antar pria!

Tidak bisa dipungkiri, nafsu adalah dosa terbesar para lelaki. Pria paruh baya itu aslinya juga kagum pada Randika, berani sekali reka lakukannya di tempat duduk? Bukannya ada toilet?

Randika sendiri sepertinya gugup dan takut. Nafsunya benar-benar sudah di ambang batas. Dia hanya nyentuh paha Serena dan adiknya sudah berdiri dengan kokoh. Jika dia benar-benar lakukannya dengan Serena, apakah perempuan ini bisa nerima seluruh nafsunya?

Serena natap Randika dan ketika lihat senyuman Randika, hatinya leleh dan luk lengan Randika sambil ngistirahatkan kepalanya di pundak Randika.

Pada saat ini, seorang pramugari lewati tempat duduknya. Ketika dia lihat sosok Randika, dia tidak bisa nahan rasa bersemangatnya. Dia nyadari bahwa pria itu adalah pahlawan yang telah nyelamatkan satu pesawat. Tetapi ketika lihat tangan Randika yang berenang-renang di paha Serena, hatinya langsung redup. Dia dengan cepat ngingatkan reka untuk masang sabuk pengaman dan pergi dari situ dengan hati yang kecewa.

Randika sendiri rasa nikmat ketika raba-raba paha Serena, tetapi karena ingin sensasi yang lebih, Serena ngarahkan tangan Randika ke sela-sela pahanya. Randika langsung dapat rasakan celana dalam Serena yang basah itu.

Seorang pria yang baru saja mau duduk, lihat Serena yang seperti layang ke awan itu dan mberikan jempol pada Randika. Untuk ndapatkan perempuan secantik itu bukan lagi hanya bermodalkan uang namun bermodalkan kemampuan dan kecakapan. Apalagi si perempuan berani foreplay seperti itu di tempat umum, benar-benar gila. Apa pemuda itu mau ngajariku?

Namun, Randika tidak berani berbuat lebih. Bagaimanapun juga, dia berada di tempat umum.

Tidak lama kemudian akhirnya pesawat reka lepas landas. Serena sudah tidak terlalu bernafsu lagi, dia sudah mutuskan bahwa ketika ndarat dia akan nyeret Randika ke hotel.

Karena perubahan tekanan udara yang secara tiba-tiba, seorang bayi terbangun dan mulai nangis.

Awalnya pesawat ini tenang dan beberapa orang mulai tidur. Tetapi ketika suara tangis itu terdengar, ketenangan itu langsung hancur. Suara tangisnya benar-benar nggema.

Sang ibu langsung berusaha nenangkan bayinya, tetapi semua usahanya percuma. Bayinya terus nangis dengan keras.

rasa jengkel, seseorang berdiri dan noleh ke arah ibu dan anak itu.

"Bisa cepat buat anakmu itu berhenti nangis tidak?" Kata orang itu sambil ngerutkan dahinya.

"Maaf, maaf." Ibu itu dengan cepat nundukan kepalanya, dia semakin cemas. ndengar suara bentakan itu, nangis si bayi makin njadi-jadi.

lihat situasi tidak terkendali, Randika berjalan nghampiri si ibu.

"Bu, ijinkan aku nenangkan bayimu." Kata Randika sambil tersenyum. Lalu Randika minjam uang kertas dari si ibu dan mperlihatkannya di depan si bayi.

Orang-orang juga mperhatikan aksi Randika, tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.

"Coba kamu perhatikan kertas ini." Randika tersenyum lebar. skipun masih nangis, bayi itu mperhatikan jari Randika yang gang uang kertas.

"Dalam hitungan ketiga kertas ini akan hilang. Satu Dua Tiga!" Randika ndorong masuk uang kertas itu ke dalam genggaman tangannya dan mbukanya secara perlahan, uang itu sudah tidak ada di sana.

"Tuh hilang kan." Randika mperlihatkan tangannya pada si bayi dan kelima jarinya bergerak-gerak tanpa henti. Adegan sulap ini sepertinya mbuat si bayi tertarik, tangisannya mulai reda. Kedua bola matanya yang besar itu mulai mperhatikan Randika.

Orang-orang yang lihat Randika juga terkejut, orang itu bisa sulap?

Randika sekarang njadi fokus semua orang.

Kemudian Randika pura-pura lafalkan mantera dan dia nggenggam erat tangan kirinya. Secara perlahan dia mbukanya dan uang kertas yang sebelumnya nghilang muncul kembali.

Adegan ini benar-benar mukau semua orang, bahkan si bayi sudah berhenti nangis.

Randika tersenyum sambil terus nggerakan tangannya. Uang itu nghilang lagi dan berpindah ke tangan satunya, terus nerus seperti itu.

lihat adegan sulap ini, orang-orang mulai terkagum-kagum.

Randika mperhatikan bayi yang mulai tertawa ini. Kemudian di bawah penglihatan semua orang, dia makan uang kertas itu secara utuh.

"Eh!"

Orang-orang terkejut ketika lihat Randika ngunyah. Ketika lihat hal ini, si bayi njadi bersemangat dan ronta-ronta seperti tidak sabar lihat mon ajaibnya.

Randika tersenyum, dan di depan semua penglihatan orang-orang, dia ngulurkan tangannya dan raba saku celana si bayi dan ngambil kembali uang kertas sebelumnya.

"Luar biasa!"

Orang-orang kembali kagum dengan atraksi Randika, lalu seseorang mulai bertepuk tangan.

Semuanya mulai bertepuk tangan dan bersorak pada Randika.

Bayi itu juga tersenyum dan tertawa sambil luk jari Randika. Dia sepertinya ingin rebut uang itu dari dirinya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 238: Atraksi Sulap on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.