Font Size
15px

Kaori terus natap sosok Randika yang ada di paling depan, hatinya njadi lega ketika lihat para polisi mbuang senjata reka. Namun, sosok Randika sama sekali tidak bisa lepas dari ingatannya.

Randika berjalan dengan santai nghampiri para bawahannya yang datang tersebut.

lihat sosok Randika yang berjalan lewati reka, para polisi ini tidak berani berbuat macam-macam.

Randika tentu saja ncueki para polisi tersebut, dan ketika para bawahan yang baru datang itu lihat Randika, reka masang tatapan penuh kagum.

Orang-orang inilah pasukan yang larikan diri atas perintah Dion sebelumnya, reka bersembunyi dan nunggu sinyal untuk berkumpul. reka yakin suatu saat nanti, tuan reka akan datang dan mbalaskan saudara-saudara reka yang telah gugur.

Dan tentu saja, ketika reka dipanggil, reka ngetahui bahwa rumah aman Randika sedang dikepung. reka langsung nuju rumah tuan reka berada.

lihat sosok kriminal yang tampaknya tidak peduli dengan dirinya, pemimpin para polisi ini rasa lega. Dia rasa lega bahwa penjahat ini tidak akan ngapa-apakan reka.

Namun, sepertinya dia salah sangka. Tiba-tiba Randika berhenti berjalan dan nghadap ke arahnya. Ini mbuat jantungnya tidak bisa berhenti berdebar.

"Berikutnya kalian semua tidak akan seberuntung ini." Kata Randika dengan santai lalu berjalan pergi.

Para pria yang mbawa M240 itu natap dingin para polisi lalu masuk ke dalam mobil reka dan pergi.

Ketika semua mobil hitam itu semuanya pergi, jantung para polisi ini masih berdebar-debar. reka rasa bahwa reka baru saja berhasil nghindari sabitan dewa maut.

.........

Ketika kelompok Randika ini tiba di rumah aman yang berikutnya, reka segera berkumpul di ruang tamu. Dengan lokasinya yang sebelumnya sudah ketahuan, Bulan Kegelapan berarti sudah ngerti bahwa Randika sudah bergerak.

Pada saat ini, salah satu dari bawahannya nyampaikan pesan yang dia terima pada Randika. Dengan hati-hati dia ngatakan. "Tuan, kami nemukan beberapa petunjuk."

"Petunjuk tentang apa?"

"Bulan Kegelapan."

Tangan Randika terlihat ngepal dan tatapan matanya njadi dingin.

"Bulan Kegelapan miliki anak buah yang bernama Jason. nurut informasi kami, Jason ngetahui lokasi Bulan Kegelapan."

Randika berpikir sebentar dan miliki ide. Karena Bulan Kegelapan telah nguasai Tokyo, seharusnya dia miliki pengaruh di jajaran perintahan maka seharusnya gubernur Tokyo ini ngetahui sesuatu.

Dia telah mutuskan untuk ngunjungi Gedung Perintahan tropolitan Tokyo.

Bersama dengannya adalah Raihan, Frank dan Catherine sentara yang lain akan terus ngumpulkan informasi dan pasukan yang lain.

Namun, Randika tetap mbawa puluhan orang bersamanya untuk ikut bersamanya. Sepertinya kunjungannya ini akan disambut dengan baik oleh polisi.

Pada saat ini di Gedung Perintahan tropolitan Tokyo.

"BODOH!" Orang paruh baya yang makai jas hitam itu lempar asbak yang ada di atas janya. Dia lototi Komisaris kepolisian Tokyo tersebut dengan tatapan tajam, dia tidak berhenti marahinya. "Apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar? Buat apa aku nggaji kalian selama ini hah? Nangkap satu orang saja kalian tidak bisa!"

Komisaris ini juga sama kesalnya dengan sang Gubernur. Dari hari pertama Randika tiba di Tokyo, dia ndapatkan perintah untuk nangkapnya dan ngerahkan seluruh orang-orang terbaiknya untuk nangkapnya. Tanpa diduga, sampai detik ini buronan tersebut belum tertangkap dan penjara paling ketat reka yaitu penjara Shinra telah hancur.

Bisa dikatakan bahwa nama besar kepolisian Tokyo sudah tercoreng.

Namun, Komisaris ini aslinya tidak berdaya. Dia hanya mberikan perintah dari atasannya dan nyampaikannya pada bawahannya. Dia sendiri tidak ngerti ngapa anak buahnya itu tidak bisa nangkap satu orang.

"Aku akan mberimu satu minggu lagi. Kalau aku tidak lihat wajah orang itu di penjara, aku sendiri yang akan njebloskanmu ke penjara!" Kata sang Gubernur.

Komisaris ini ngangkat kepalanya dan mberi hormat. "Baik!"

"Maafkan anak buahku yang tidak becus." Sang Gubernur nampak berkeringat ketika dia mbungkuk minta maaf pada sosok yang duduk di kursinya itu.

Pada saat ini, orang berjas putih yang sedang duduk di kursi sang Gubernur tiba-tiba ngambil gelas winenya dan minumnya.

"Aku tidak peduli cara apa yang dipakai anak buahmu itu untuk nangkap targetku itu." Jason natap si Gubernur. "Waktu yang tuanku berikan sudah hampir tiba. Jika kau tidak bisa nepati janjimu maka tuanku akan narik kembali uangnya dan kau tidak akan punya uang sama sekali untuk ncalonkan diri kembali."

Ketika ndengar kata-kata ini, si Gubernur makin berkeringat dan dengan cepat berjanji. "Tolong sampaikan pada tuan Bulan Kegelapan bahwa beliau tidak usah khawatir. Aku pasti nepati janjiku untuk nangkapnya. Aku hanya ingin beliau mberikanku sedikit waktu untuk nuntaskannya."

Jason nggelengkan kepalanya. "Aku tidak berani nyampaikan berita buruk ini pada tuanku. Aku hanya bisa mberimu saran untuk nyelesaikan tugasmu itu secepat mungkin."

Komisaris polisi ini masih berdiri di tempatnya. Ketika ndengar percakapan kedua orang ini, dia hanya bisa terdiam.

Setelah njilat Jason beberapa kali, si Gubernur lihat si Komisaris masih berdiri diam di tempatnya. Sambil marah dia mbentaknya. "Buat apa kau masih ada di sini? Kerja sana dan tangkap orang itu secepat mungkin!"

Komisaris polisi ini tampak ngerutkan dahinya, kenapa kau terus-terusan marahiku ketika kau marah?

Pada saat ini, seorang polisi tiba-tiba ngetuk dan masuk ke dalam ruangan.

"Kenapa kau lama sekali? Kau tidak digaji untuk malas-malasan." Atasannya itu langsung nampar polisi tersebut, dia rasa lega ketika bisa lampiaskan kekesalannya ini.

Setelah nenangkan diri, Komisaris itu bertanya dengan nada yang lantang. "Cepat katakan keperluanmu, apa kau tidak lihat bahwa kami sedang rapat?"

Sambil tersenyum pahit, polisi itu berkata dengan lantang. "Berdasarkan informasi lapangan, lokasi target telah ditemukan dan telah dipastikan bahwa dia sedang nuju ke tempat ini."

ndatangi Gedung Perintahan tropolitan Tokyo?

skipun awalnya terkejut, si Gubernur kemudian tertawa. "Itu berita bagus, kita tidak perlu repot-repot ncari keberadaannya lagi."

Si Gubernur lalu noleh ke arah Jason. "Tolong beritahu tuan Bulan Kegelapan bahwa aku sudah nuhi janjiku dan aku akan mberikan orang tersebut."

Jason hanya tersenyum. "Akan kuberitahu beliau apabila kau sudah nangkapnya."

Jason duduk dengan tenang. Dia bergabung dengan Bulan Kegelapan setelah tuannya itu berkhianat dan ninggalkan Randika jadi Jason sama sekali tidak tahu kehebatan Randika. skipun dia pernah ndengar kehebatan dan reputasi Ares, dia ikut nyerang istana dunia bawah tanah dan ngusir orang-orang yang ada di sana. ngingat betapa mudahnya dia rebut tempat tersebut, dia rasa bahwa nama Ares benar-benar terlalu ditinggi-tinggikan.

Dan sekarang Ares sedang nuju tempat dirinya berada, sepertinya misi kali ini akan selesai dengan cepat.

Komisaris polisi itu langsung rintahkan anak buahnya itu untuk segera turun dan ngumpulkan seluruh kekuatan kepolisian Tokyo. Sedikit ragu-ragu, polisi tersebut hanya bisa ngangguk.

lihat keraguan itu, atasannya itu bertanya pada dirinya. "Jika kau punya pendapat, katakan saja. Tidak ada salahnya ndengarkan pendapat para bawahan."

"Sebelum ini kekuatan target benar-benar tidak masuk akal dan sekarang dia mbawa beberapa orang bersamanya." Kata polisi tersebut.

"Hah? Aku punya seluruh polisi dan senjata di kota ini, kau kira ratusan orang tidak bisa nghadapi beberapa orang?"

Polisi tersebut rasa tidak berdaya dan akhirnya milih untuk tidak berdebat lalu berjalan keluar.

Saat si Komisaris nghela napas, suara dingin si Gubernur terdengar dari arah belakangnya. "Kau juga ikut keluar."

Dalam sekejap dia terkejut tetapi ketika lihat tatapan dingin sang Gubernur, dia langsung keluar dengan terburu-buru.

"Aku ngharapkan kau akan ngatakan hal-hal yang bagus ngenaiku pada tuan Bulan Kegelapan. Aku ingin kerja sama kita ini berlangsung lama." Kata si Gubernur.

"Tidak masalah, kau tidak perlu khawatir." Jason juga tersenyum.

Setelah beberapa saat, Komisaris kepolisian Tokyo tersebut kembali ke dalam ruangan dengan wajah panik.

"Ada apa? Bukannya kau kusuruh pergi untuk nangkap orang itu?" Si Gubernur terlihat marah.

"Ah Anu Orang itu berhasil masuk."

Berhasil masuk?

lihat keringat dingin dan wajah panik bawahannya itu, si Gubernur rinding dan rasakan firasat buruk.

Kali ini, Jason juga ikut bertanya-tanya. Musuh berhasil nerobos masuk tempat ini?

Gedung Perintahan tropolitan Tokyo rupakan tempat terpenting di kota Tokyo, penjagaan dan pertahanan yang ia miliki seharusnya setara dengan Gedung Putih di Arika. Dan sekarang musuh berhasil masuk ke gedung ini?

"Ulang lagi kata-katamu itu." Si Gubernur masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Saking marahnya, dia mbentak tepat di wajah bawahannya itu.

"Dia yang ngatakannya." Si Komisaris sudah muak dibentak-bentak jadi dia ngarahkan kemarahan Gubernur ke anak buahnya.

Gubernur berdiri di hadapan si polisi tersebut dan dengan cepat dia ngatakan. "Maafkan kami pak, tidak ada orang yang bisa nghentikan reka."

Kali ini si Gubernur benar-benar pusing.

Bagaimana bisa musuhnya itu masuk ke gedung ini? Ini semua berbeda dengan apa yang dia bayangkan.

"Cepat kita ke ruangan CCTV." Kata si Gubernur dengan cepat.

Semua yang ada di ruangan itu, termasuk Jason, segera nuju ke ruangan CCTV untuk lihat apa yang telah terjadi.

Pada saat yang sama, orang-orang yang dibawa oleh Randika sepertinya ngamuk secara mbabi buta. Semua kekuatan yang nghalangi reka akan dibunuh tanpa ampun.

Orang-orang yang dilatih oleh Serigala ataupun Dion itu sama sekali tidak ngenal takut. reka nyerang polisi yang bersenjatakan lengkap itu dengan gagah berani. Seluruh staff perintah yang nglihat invasi ini sudah ringkuk ketakutan. reka nyaksikan para polisi terbunuh oleh para setan tersebut.

"Siapa kalian!?" Seseorang mberanikan diri untuk nghalangi laju Randika dkk. "Ini adalah gedung perintah, kalian telah."

Bahkan sebelum dirinya selesai berbicara, sebuah pedang sudah layang dan kepala orang tersebut sudah berguling di lantai.

AH!!!

Semua orang yang lihat adegan ini makin ketakutan dan lari tidak karuan.

"Lantai mana Gubernur kalian itu berada?"

"Lantai 10, lantai 10 Tolong lepaskan aku." Orang yang ditanyai oleh Raihan itu sudah ketakutan, pedang yang ada di samping lehernya itu mbuatnya berkata sejujur-sejujurnya.

Pada saat ini, terlihat banyak pasukan polisi dengan tang anti ledakannya datang nghampiri Randika dkk.

"Aku akhir-akhir ini nyempurnakan jurus baru, kamu mau lihatnya?" Kata Raihan pada Randika sambil natap pasukan semut itu.

"Boleh." Jawab Randika.

Setelah itu, pedang yang dibawa Raihan itu berdengung dan nghasilkan suara yang nggetarkan hati. Ketika Raihan langkah, sosoknya bagaikan petir dan sudah nghilang.

Ketika dirinya muncul kembali, Raihan sudah berada di bagian paling belakang dari pasukan polisi tersebut. Pedangnya yang berdengung itu sudah bersimbah darah.

Dalam sekejap dia mbelah semua orang tersebut!

Orang-orang yang ikut nyerang gedung ini natap Raihan dengan tatapan kagum. Raihan, sang crownless king, sangat jarang nunjukan kemampuannya tetapi ketika dia lakukannya, kemampuannya selalu mbuat kagum orang-orang.

Randika ngangguk ketika lihat jurus tersebut, sepertinya kemampuan berpedang Raihan ningkat lagi. Benar-benar orang jenius!

Untuk ncegah kaburnya si Gubernur, Randika mbagi pasukannya njadi beberapa kelompok. reka akan ngawasi lift, tangga dan pintu keluar.

lihat orang-orang itu mulai naik dari CCTV, tubuh si Gubernur mulai bergetar. Polisi yang ada di sampingnya sudah berkeringat deras. reka semua tidak nyangka bahwa lawannya itu benar-benar ngerikan. Seharusnya dia tidak ncalonkan diri sebagai Gubernur.

"Bapak tenang saja, aku sudah ngirim semua orang untuk nghentikan reka." Komisaris polisi itu berkata dengan nada yang serak.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 212: Berkunjung on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.