Di saat Randika nginjakan kakinya di halaman rumah bagian tengah, beberapa pembunuh sudah narget Randika dari berbagai sisi! Serangan reka benar-benar tidak mpunyai celah.
Cepat dan akurat!
Aura mbunuh reka sudah nyebar ketika reka nunjukan diri reka. Jika aura ini miliki wujud, mungkin aura itu sudah nyelimuti dan ncekik Randika. Terlebih lagi, tim pembunuh dari keluarga Laibahas ini sudah nganggap mbunuh adalah cemilan sehari-hari. Oleh karena itu, hari ini reka akan makan di atas mayat para penyusup ini.
Para pembunuh ini sudah nutup jalur kabur Randika, jika penyusup ini orang biasa maka reka sudah ngompol di tempat.
Tetapi, tiba-tiba tubuh Randika mancarkan aura mbunuh yang jauh lebih kuat daripada gabungan para pembunuh tersebut. Bahkan langit bisa terguncang olehnya. Di bawah ancaman aura mbunuh ini, para pembunuh itu berhenti nerjang Randika dan ngambil langkah mundur.
Bersembunyi di kegelapan, beberapa dari reka rinding bahkan ada yang ingin kabur. Semua tatapan mata reka tertuju pada Randika. reka harus ncari kesempatan emas untuk mbunuh lawannya kali ini.
Tetapi, siapa penyusup ini sebenarnya?
Penyusup itu masih muda, namun kenapa aura mbunuhnya begitu kuat?
Yang tidak reka ketahui adalah penyusup ini adalah salah satu 12 Dewa Olimpus dengan kode nama Ares.
Ares sang Dewa Perang!
Dia pernah mbunuh 1000 orang suruhan mafia Italia hanya dalam satu malam dengan bermodalkan tinjunya saja!
Randika kembali langkah, sedangkan Indra terus ngikutinya. Ketika Randika ncapai tengah halaman, dia berhenti dan ngatakan. "Keluarlah."
Namun tidak ada respon sama sekali.
"Keluarlah atau akan kupaksa kalian keluar satu per satu." Kata Randika dengan nad dingin.
Kemudian dia noleh ke arah bangunan yang ada di samping kirinya. Di lalu natap tajam pada orang yang sedang nyatu dengan genteng. rasakan tatapan tajam Randika, orang itu sudah tidak tahan dan lompat keluar. Dia ndarat tepat beberapa langkah di hadapan Randika.
Indra natap orang yang tiba-tiba ndarat itu, orang itu adalah kakek-kakek jenggotan yang natap Randika dan dirinya dengan tatapan tajam.
Randika tidak natapnya balik, justru tatapannya jatuh pada gudang di samping kanannya. Di balik barang-barang yang bergeletakan itu, seorang laki-laki terlihat sedang bersembunyi.
Orang itu sudah rasa dirinya ketahuan, lalu sambil ngambil pedangnya dan nyusul temannya yang sudah nampakan dirinya.
Setelah itu Randika noleh ke arah taman yang miliki batu besar di antaranya. Dari balik batu tersebut muncul seorang kakek dengan tongkat jalannya. Matanya dipenuhi dengan keterkejutan.
"Satu lagi." Kata Randika dengan nada dingin.
Randika sama sekali tidak bergerak. Tangan kanannya tiba-tiba mbentuk sebuah pistol dan nembakan tenaga dalamnya itu ke arah sebuah pintu rahasia yang tertutup oleh tanah di arah serong kanan belakangnya. Tenaga dalamnya itu dengan mudah ngenai sosok pembunuh yang ada di dalamnya. Tak lama kemudian pintu rahasia itu terbuka dan pembunuh tersebut berkumpul dengan temannya.
Total ada empat pembunuh!
Bisa dikatakan bahwa empat pembunuh ini adalah pertahanan terakhir dan terkuat dari keluarga Laibahas. ski terlihat tua, kekuatan reka bukan main-main.
Indra terlihat nggaruk-garuk kepalanya ketika lihat 4 penatua ini. Dia rasa bahwa dirinya lebih lemah daripada 4 kakek tersebut.
Keempat pembunuh ini natap Randika yang berdiri diam, reka sama-sama diam. Untuk sesaat, keenam orang ini hanya saling natap.
Akhirnya, orang yang mbawa tongkat jalan itu cah keheningan. "Siapa kalian? Kenapa kalian nerobos tempat ini?"
Randika njawabnya dengan santai. "Kalian tidak perlu tahu siapa apa, aku hanya datang untuk Inggrid."
Datang demi nona muda reka?
Keempat orang ini langsung bertatap-tatapan.
Hari ini nona muda reka ndadak pulang. Sekarang dia sedang diceramahi oleh tuan reka. nilai dari wajah nona muda reka, seharusnya badai desar telah landa keluarga ini. Jadi reka masih ragu, apakah orang ini datang untuk mbantu atau berbuat jahat pada nona muda reka.
Untuk beberapa saat keempat orang ini hanya terdiam dan bertukar pandang. Akhirnya orang yang muncul dari dalam tanah itu ngatakan. "Tidak, kau tidak kami ijinkan bertemu dengan nona muda. Pergilah dan kembali ke tempatmu."
"Tidak ada yang bisa ncegahku." Kata Randika dengan santai.
"Kau bocah yang terlalu arogan."
Pembunuh yang ada di sebelah kiri marah ketika ndengar Randika. Pedang yang dipegangnya itu dia lemparkan nuju Randika! Ajaibnya pedang itu njadi serangan pisau yang tak terhitung jumlahnya!
Bersamaan dengan serangan pisau tersebut, ketiga pembunuh lainnya juga bergerak. Salah satu dari reka bergerak dengan posisi rendah, ngincar kaki Randika. Dia bermaksud mbuat Randika lompat. Kedua pembunuh lainnya bergerak ke arah samping Randika, reka bertugas nghalangi jalur kabur Randika.
Pria yang lemparkan pedangnya itu juga ikut nerjang ke arah Randika.
Pertarungan hidup dan mati dimulai!
Randika juga bergerak. Seluruh tubuhnya sudah dialiri oleh tenaga dalamnya khususnya tangan kanannya. Dengan tangannya itu, dia berhasil ngambil salah satu pisau yang lesat nuju dirinya dan nangkis seluruh pisau yang nuju dirinya. Namun, tangkisannya ini telah diaturnya agar lesat ke arah pembunuh yang ngincar kakinya!
Pembunuh itu ngerutkan dahinya dan langsung nghindar. Randika sudah nerjang maju dan bergerak ke arah pembunuh yang ada di kirinya. Kedua pembunuh yang lain masih berusaha nerjang.
Dengan tangan kirinya, Randika nangkis serangan tangan lawannya dan tangan kanannya berhasil nangkap pergelangan tangan lawannya.
Pembunuh itu terkejut, dia dengan cepat layangkan pukulan sebelum dia diapa-apakan oleh Randika. Randika sendiri juga bereaksi dengan cepat, dia lepas genggamannya dan layangkan pukulannya ke arah tinju lawannya. Kedua energi itu bertarung dengan ganas, tetapi pembunuh paruh baya ini tidak kuat nahan kekuatan Randika dan terpental.
Tetapi Randika terlihat tidak ingin lepas orang itu, dia ngejar lawannya yang terpental itu. Hal ini mbuat pembunuh yang datang dari arah kanan bahagia, Randika mpunggungi dirinya. Dia dengan cepat ngangkat tangannya dan nghantam belakang kepala Randika.
Tetapi, pembunuh ini rasakan aura mbunuh dari sudut mata Randika. Tatapannya yang super tajam itu mberikan rasa ngeri dan bahaya.
Pembunuh ini nggertakan giginya dan tetap neruskan serangannya. Tetapi, Randika dengan sigap lompat dan ndarat di belakangnya.
Habis sudah!
Pembunuh ini terkejut, firasatnya tadi benar bahwa ini adalah jebakan.
Pada saat ini, semua sudah terlambat. Ketika pembunuh itu ingin bereaksi, tinju Randika sudah ndarat di dadanya dan kesadarannya langsung nghilang. Dia layang jauh dengan mata yang terbelalak, muntahan darah dan suara tulang yang patah.
Sekarang tersisa satu pembunuh yang lempar pedangnya, dia sekarang sedang dihadang oleh Indra.
"Minggir!" Teriak pembunuh itu. Dia sudah nimbun montum kecepatan dan naikkan tinjunya. Tinjunya ngandung daya kekuatan yang dahsyat!
Muka Indra masih terlihat datar, dia sama sekali tidak berniat nghindarinya. Pembunuh itu lesat bagai panah dan nghantam perut Indra dengan kuat!
Indra tidak tinggal diam ketika dirinya diserang. Tanpa perlu ngeluarkan teknik ataupun nggeser kakinya, dia hanya ngangkat tangan kanannya.
Ternyata kedua tinju reka saling berhadapan!
Kedua pukulan itu bertemu dan nghasilkan daya ledakan yang besar. Pembunuh itu sampai terpental beberapa ter dari tempatnya berdiri. Kekuatan reka yang bertabrakan itu benar-benar dahsyat.
Tetapi, tatapan matanya terlihat ngeri dan ketakutan. Ketika dia lihat Indra, dia hanya berpindah setengah langkah ke belakang!
Orang gendut itu benar-benar kuat!
Di lain sisi, orang yang nghindar dari serangan pisau Randika sudah kembali nerjang Randika. Dia dibantu oleh temannya yang terluka pertama kali.
Kedua ini terlihat bagaikan seekor serigala yang nerjang, tetapi hal ini tetap tidak mbuat takut Randika. Salah satu pembunuh itu ngeluarkan serangan telapaknya dan nghantamkannya ke dada Randika. Namun, yang tidak diketahui oleh Randika adalah terdapat panah beracun dari balik lengan panjang bajunya itu.
Untuk mbuat Randika tidak lihatnya, pembunuh lainnya lompat ke atas untuk ngalihkan perhatian Randika. Serangan kombinasi sangat berguna untuk mbereskan lawan yang sendirian.
Randika hanya natap dingin reka berdua, dia lakukan split dengan sempurna dan berhasil nghindari serangan reka berdua. Dalam sekejap, Randika mutar tubuhnya di tanah dan berhasil berada di belakang reka.
Tangannya berubah njadi cakar dan nggenggam erat salah satu dari reka. Tanpa mberi kesempatan, Randika langsung matahkan kedua kaki lawannya itu.
Teriakan kesakitan segera nggema di telinga semua orang. Tetapi, orang ini masih berusaha mbidik Randika. Namun di hadapan Randika serangan licik ini tidak berguna, Randika hanya nghindarinya dan matahkan lengannya juga.
ringkuk kesakitan di tanah, Randika nghabisinya dengan nendangnya hingga terpental.
Semua itu terjadi dengan cepat, saat temannya itu sudah ndarat dan noleh ke belakang, dia sudah lihat temannya terluka parah dan amarahnya njadi muncak.
"Bajingan!"
Amarahnya sudah benar-benar di ambang batasnya, dia ingin nguliti Randika hidup-hidup.
Randika masih tetap berekspresi datar sambil mpertahankan postur nyerangnya. Tidak nunggu lama, akhirnya reka berdua saling nerjang satu sama lain.
Tetapi, tiba-tiba Randika rasa malas dan mbiarkan lawannya berlari ke arahnya. reka berdua bertukar pukulan dan Randika berhasil nangkis semunya. Di suatu titik, Randika lihat celah dan berhasil nghantam dada lawannya. Pembunuh itu dengan cepat tersungkur di tanah.
Randika lalu natap Indra. Adik seperguruannya itu ternyata berhasil ndominasi dengan mudah. Setelah bertukar pukulan sebanyak 3x, lawannya itu sudah tidak kuat lagi. Tetapi Indra masih rasa darahnya ndidih dan ngharapkan pertarungan yang lebih sengit.
"Ayo berdiri!"
Indra benar-benar haus darah. Dia berlari dengan perut besarnya itu dan nghantam ke bawah. Pembunuh itu harus nghindarinya atau dia akan terbunuh olehnya. reka lalu kejar-kejaran beberapa waktu.
"Kau ngaku laki? Jangan nghindar dan hadapi aku." Teriak Indra sambil ngejar.
Randika tidak peduli dan berjalan nuju gedung rumah. Tetapi pada saat ini beberapa petugas keamanan telah tiba.
reka semua terkejut, keempat pembunuh andalan keluarga Laibahas telah tergeletak dan salah satu dari reka lari ketakutan sambil dikejar seekor gajah. Kemudian reka natap Randika yang masang ekspresi dingin.
Bagaimana mungkin penyusup ini bisa nang?
lihat Randika yang langkah maju, semua orang tanpa sadar ngambil langkah mundur.
Tidak ada yang berani nghalanginya!
Reviews
All reviews (0)