Rentetan pisau yang terlempar itu benar-benar padat. Serangannya ini benar-benar tidak bercela, apalagi Leo juga ikut nerjang maju.
Jelas bahwa lawannya harus nghentikan laju pisau-pisau itu terlebih dahulu. Dan ketika lawannya sibuk nghindari dan nangkis, Leo akan ncari titik buta untuk nyerangnya.
Namun, Randika hanya berdiri diam sambil njulurkan tangan kanannya. Lalu dia tampak sedang ngayunkan tangannya seakan-akan sedang mandu paduan suara. Setelah itu, seluruh pisau tersebut tergeletak di tanah.
Pada saat ini, tangan kanan Randika bergerak secepat kilat dan berusaha nangkap pergelangan tangan Leo.
skipun terkejut, Leo berhasil nghindari tangkapan itu dengan lompat sedikit ke belakang. Namun, inilah mon yang ditunggu Randika. Dengan cepat sebuah pukulan layang ke dada Leo dan mbuatnya terpental jauh ke tembok.
Pertarungan ini berakhir dengan cepat, bahkan tidak sampai 5 detik sejak Leo bergerak duluan.
"Sudah kubilang, kau bukan tandinganku. Orang lemah sepertimu cukup aku tangani dengan satu tangan." Kata Randika sambil tertawa, dia lalu noleh ke arah Elva dan ngatakan. "Sudah selesai!"
"Awas!" Ekspresi Elva segera berubah, Leo sudah layangkan pisaunya sekali lagi.
Namun, lagi-lagi Randika nangkapnya dengan jari telunjuk dan tengahnya.
"Serangan diam-diam seperti itu sama sekali tidak jantan." Randika lalu lempar pisaunya itu pada Leo. Pisau berhasil nancap dengan kuat di lengan atas tangan kanannya.
Leo ndengus dingin, dia rasa bahwa pisau itu nancap di tulangnya. Rasa sakit dari lengannya itu mbuatnya tidak bisa nggerakannya sama sekali.
lihat hal ini, Elva njadi tenang. "Leo, kau benar-benar tidak bisa lari lagi."
Leo sama sekali tidak mperhatikan Elva. Malahan dia natap Randika dalam-dalam. "Kamu benar-benar kuat!"
"Kau saja yang terlalu lemah." Randika nggelengkan kepalanya. Dia lalu berjalan ke samping Leo dan ngeluarkan jarum akupunturnya. Setelah dia nancapkan ke titik tertentu, Leo segera raung kesakitan.
"Jangan coba-coba lari." Kata Randika sambil tertawa.
Leo nggertakan giginya kuat-kuat. Tatapan matanya masih dipenuhi dengan tatapan kebencian pada Randika. Kalau bukan karena pria ini, dia sudah berhasil lari jauh dari tempat ini.
Dengan tenaga terakhirnya, dia ngambil pisau terakhirnya dengan tangan kirinya. Namun, Randika segera nginjaknya, sama sekali tidak mberikan kesempatan untuknya berbuat macam-macam.
"Ah!" Raungan kesakitan ketika tangannya diinjak benar-benar kakan telinga. Randika lalu mukul Leo hingga pingsan.
"Baiklah kalau begitu." Randika lalu berdiri dan noleh ke arah Elva. "Maaf aku mbuatnya pingsan, dia tidak bisa diam daritadi."
Elva sendiri masih terkejut dengan hal ini. Dia tahu bahwa Randika mang kuat, tapi dia tidak nyangka bahwa dia akan sekuat ini. Pertarungannya dengan Leo tidak makan waktu lebih dari 5 detik.
Elva rasa bodoh karena sempat ingin mbahas rencana dengan orang ini. Sepertinya di hadapan kekuatan absolut, manusia tidak bisa apa-apa.
"Hmm? Kenapa kau mandangiku terus?" Randika sedikit bingung dengan Elva yang berdiri diam. lihat tatapan mata Elva, Randika tidak bisa tidak nggodanya. "Jangan-jangan kamu terpesona dengan kemampuan dan ketampananku? Apakah kau suka dengan otot-ototku ini? Aku tidak nyangka kamu mpunyai fetish seperti itu. Mungkin perjalananmu ncari pasangan telah berakhir di sini. Kemarilah dan rasakan ototku ini secara langsung!"
Tatapan mata Elva berubah njadi jijik. Kenapa bajingan ini tidak bisa serius satu nit saja?
Elva lalu nghampiri Leo dan mborgolnya dengan borgol khusus. Dia lalu nghubungi markas ngenai situasinya.
lihat Elva yang sedikit sibuk itu, Randika nghampirinya dan ngatakan. "Hei, kau ingat tidak malam di mana kita berdua berada di hotel?"
ndengar hal ini, Elva segera nutup teleponnya dan noleh dengan wajah serius.
"Jangan pernah nyinggung hal itu lagi. Kata Elva dengan nada serius. "itu adalah mon malukan dalam hidupku, jangan pernah mbahasnya!"
"Baiklah." Randika lalu nyeringai. "Tapi malam itu aku nyelamatkan nyawamu. Jadi bukankah aku harusnya ndapatkan hadiah?"
Elva ngerutkan dahinya. "Aku kan sudah nolongmu di kota rak!"
"Hei, hei, jelas kurang lha. Aku telah nyelamatkanmu 2x yaitu ketika aku mbawamu ke rumah sakit dan malam itu di hotel. Jadi kalau dihitung dengan hari ini, kau masih hutang budi denganku sebanyak 2x." Wajah Randika terlihat serius.
Elva rasa pusing. Kenapa otak pria ini berputar kalau nyangkut masalah tidak penting?
"Jadi apa maumu?" Elva natap Randika.
"Tentu saja bibirmu itu." Randika dengan cepat bergerak ke depan Elva, luk pinggangnya dan ncium bibirnya.
Tindakan tiba-tiba ini mbuat Elva tidak bisa bereaksi sama sekali. Ketika dia ingin nepis tangan Randika yang ada di pinggangnya, Randika sudah terlebih dahulu nciumnya. Randika benar-benar nghisap habis bibir lembut itu.
Jelas bahwa Elva tidak ahli dalam berciuman, hal ini mbuat Randika tertawa dalam hatinya. Di tengah ciumannya itu, tangannya mulai njelajahi tubuh Elva.
rasakan tubuhnya dalam bahaya, Elva bereaksi dengan cepat. Dia ingin ndorong Randika tetapi kedua tangannya ditahan oleh tangan kiri Randika.
Bajingan!
Elva benar-benar marah, dadanya sudah diraba-raba oleh Randika.
Randika rasakan keempukan yang dipaksa bersembunyi di balik perban, dia rasa sayang bahwa Elva harus nyembunyikan kedua gunung ini.
Tangan Randika juga berenang-renang di punggung Elva, dia rasakan kelembutan yang luar biasa.
Di tengah mon panas ini, Elva akhirnya nemukan cara untuk lepas yaitu nendang kaki Randika!
Ah!
Tulang keringnya yang ditendang itu mbuatnya nghela napas dalam-dalam. Dia tidak nyangka bahwa Elva akan makai cara licik seperti itu.
Elva manfaatkan mon ini untuk kabur dari pelukan Randika. Lalu tanpa berkata apa-apa, salah satu kakinya sudah layang tepat ke arah wajah Randika!
Kaki putih itu bagaikan cambuk ngarah wajahnya. Namun, dengan mudah Randika nahannya dengan satu tangan.
"Jangan begitu, hadiahku belum selesai kunikmati." Randika tersenyum nakal pada Elva.
Elva, yang tidak peduli dengan kata-kata Randika, nggunakan kakinya yang tertangkap itu sebagai tumpuan untuk loncat dan nghantam kepala Randika dengan kaki kirinya.
Randika yang terkejut segera lepas genggamannya dan bersembunyi di dalam kamar.
"Hei, apa kau ingin mbunuhku?" Randika berteriak dari balik pintu, dia benar-benar lincah bagai monyet.
"Aku heran kenapa kau masih malu-malu seperti itu? Bukankah kita sudah pernah ngalami yang lebih intim daripada ini?" ndengar hal ini, Elva nggigit bibirnya dan ndobrak masuk. Tanpa berkata-kata, dia lalu layangkan tendangan lagi ke arah wajah Randika.
Kali ini Randika tidak bersembunyi lagi. Malahan dia nangkap kaki Elva itu dan ndorongnya hingga ke dinding. Sekali lagi Elva sama sekali tidak bisa bergerak.
Posisi reka benar-benar canggung, kaki Elva benar-benar layang tinggi.
"Wah, wah, wah." Randika tiba-tiba tertawa nakal dengan tatapan mata penuh makna. Elva yang ndengarnya rinding, dia tahu bahwa Randika akan aneh-aneh lagi,
Tetapi, suara benda jatuh dari luar pintu ngagetkan reka berdua. Saat reka lihatnya, reka lihat ada anak kecil yang natap reka. Ternyata suara itu berasal dari mainannya yang jatuh.
"Ma, ada orang yang lagi gulat seperti mama dan papa kemarin." Anak itu berteriak keras pada ibunya.
Reviews
All reviews (0)