Elva lalu nuntun Randika ke tempat Leo bersembunyi.
Dalam perjalanan reka, Elva tidak mau berbicara apa pun ke Randika. Dia benar-benar marah terhadap pelecehan yang dilakukan Randika tadi. Namun, dia masih njawab pertanyaan ngenai Leo.
Setelah berjalan begitu jauh, reka akhirnya tiba di perumahan lama. Perumahan lama ini bisa dikatakan rupakan pusat kota yang dulu. Karena kemajuan ekonomi dan kota ini lakukan ekspansi, perumahan lama ini njadi rumah-rumah orang nengah ke bawah. Oleh karena itu, banyak orang berkumpul di area perumahan ini.
"Itu dia." Ekspresi Elva terlihat serius.
Randika lalu mperhatikan lingkungan yang sedikit ramai ini, orang-orang terlihat sedang nikmati hari reka dengan santai. Dengan banyaknya kerumunan orang ini, tidak heran tempat ini njadi tempat persembunyian. Targetnya kali ini terlihat cerdas.
Dengan adanya orang-orang ini, akan mudahkan Leo untuk bersembunyi di antara reka. Ketika Arwah Garuda ngintai tempat ini, reka benar-benar tidak berdaya. reka tidak bisa terlalu lebarkan sayap reka di antara kerumunan orang ini. Kalau keadaan njadi buruk, keberadaan Arwah Garuda akan terekspos dan korban akan berjatuhan.
"Jangan bilang kalian masih belum nemukan tempat dia bersembunyi?" Randika mulai pusing dengan orang yang lalu lalang lewatinya. Benar-benar padat penduduk.
"Jangan lihatnya secara langsung, coba kau perhatikan gedung di arah serong kananmu itu. Di lantai 3 dengan jendela terbuka, di sanalah Leo berada. Namun, Leo miliki kemampuan anti mata-mata yang hebat dan dia sangat ngenal Arwah Garuda hingga ke intinya. Jadi orang kami sama sekali tidak bisa ndekatinya."
"Sangat mudah ngetahui bedanya orang awam dan tidak." Randika tersenyum dan ndekati gedung Leo berada.
"Hei, ngapain kamu? Sabarlah dan jangan gegabah. Kita harus mbuat rencana terlebih dahulu." Elva benar-benar cemas dengan Randika. Leo bukan sembarangan orang, dia adalah salah satu orang terbaik di Arwah Garuda. Randika belum pernah lihat kemampuan Leo, terus kenapa wajahnya nampak begitu tenang?
Elva sudah pernah njalani misi bersama Leo sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa dirinya telah mahami kemampuan Leo. Misi tingkat tinggi yang berbahaya akan terlihat mudah apabila Leo yang ngerjakannya. Yang paling nempel di ingatan Elva adalah di mana Leo seorang diri nangani 5 ahli bela diri dari daftar Dewa.
Bisa dikatakan bahwa Leo adalah petarung yang kuat.
Tetapi, bajingan bernama Randika ini ncueki dirinya dan dengan santainya berjalan nuju target reka berada.
lihat sosok Randika yang semakin njauh, Elva hanya bisa nggigit bibirnya dan nyusulnya.
Pada saat ini Leo sedang duduk di jendela kamarnya sambil mangku laptop. Sepertinya dia sedang ngirim file. Namun, pengirimannya ini benar-benar lambat. Baru 30% setelah berusaha ngirimnya selama 15 nit. Di tengah-tengah hal ini, dia tetap naruh perhatian ke arah kerumunan orang di bawah.
Sambil ditutupi sebuah baju yang dia gantung, Leo selalu riksa keadaan dari balik baju tersebut. Dia pada dasarnya telah nghafal orang-orang yang daritadi berkeliaran di sekitar gedungnya. Jadi, jika ada orang yang tidak dia kenal tiba-tiba masuk ke gedungnya dia akan tahu detik itu juga.
Terlebih, dia harus mastikan file ini terkirim sebelum benar-benar kabur. Informasi yang dia curi ini benar-benar penting dan dia tahu bahwa Arwah Garuda tidak akan mbiarkannya kabur mbawa informasi ini. Oleh karena itu, dia terpaksa bersembunyi dan ngirimkan file ini ke tempat aman terlebih dahulu.
Pada saat ini, Leo nyadari bahwa ada seorang laki-laki sedang berjalan nuju gedungnya. Dalam sekejap dia rasa ada yang aneh. skipun dia tidak pernah lihat pria itu di Arwah Garuda, langkah kakinya ataupun cara dia bernapas berbeda dengan orang biasa.
Tidak ngambil risiko, Leo dengan cepat ncabut flashdisknya dan nghancurkan laptopnya. Dia lalu bergegas lari ke arah pintu. Dia yakin bisa kabur sebelum pria itu masuk ke gedungnya. Setelah ini dia akan bersembunyi lagi dan mastikan nutupi jejaknya sehingga Arwah Garuda tidak bisa nemukannya lagi.
Ketika dia mbuka pintu kamarnya, Leo terkejut ketika lihat pria itu sudah ada di depan kamarnya.
"Maaf, aku hanya ingin ngecek AC kamar aja." Randika tersenyum pada Leo.
Leo justru terkejut lihat sosok Randika. Bagaimana bisa orang ini begitu cepat naik dan sudah berada di depan kamarnya?
Namun, reaksi Leo juga tidak kalah cepat. Dalam sekejap, tinju kirinya sudah ngarah pada perut Randika dan tangan kanannya masuk ke saku celananya dan lemparkan pisau!
Cepat dan terarah!
Namun, serangan tinju Leo seakan natap tembok dan pisaunya berhenti dan bersarang di kedua jari Randika.
"Kenapa buru-buru?" Randika tersenyum. Lalu, kedua jarinya itu dengan mudah nghancurkan pisau tersebut hingga beberapa bagian.
Leo juga tersenyum. "Aku ada kencan."
Setelah kata-kata itu terucap, hawa mbunuh Leo segera mancar dengan kuat. Tatapan matanya seakan-akan ingin ncabik Randika hidup-hidup.
Dalam sekejap, Leo njadi gumpalan asap dan nghilang.
Dia loncat tinggi dan nyerang Randika secara beruntun. Namun, pergerakannya ini sepertinya telah diprediksi oleh Randika. Ketika Leo lancarkan sebuah tendangan, Randika nahan kaki itu dan mberinya serangan sikut pada dadanya yang mbuatnya terpental.
Lawannya kali ini benar-benar hebat!
Tatapan mata Leo njadi dingin, lawannya kali ini bergerak dengan cepat dan bisa nahan seluruh serangannya.
Keduanya saling bertatap-tatapan. Randika terlihat tersenyum sedangkan Leo masang wajah sangarnya.
Pada saat ini, Elva tiba di lokasi. lihat sosok Leo yang masih ada di sana, Elva nghela napas lega. Targetnya tidak kabur dan nghilang seperti bayangannya.
"Leo, kau tidak bisa lari lagi. Kembalilah bersamaku, Arwah Garuda tidak akan mbunuhmu." Kata Elva dengan tenang.
"Hahaha, buat apa aku kembali?" Leo natap Elva sambil tersenyum. "Karena aku telah kabur bersama informasi penting, mustahil reka mbiarkan aku hidup. Kau pikir mbawa orang ini bisa nghentikan aku?"
Leo lalu natap Randika dengan tatapan mbunuhnya.
Elva berusaha nenangkan situasi dan berkata padanya. "Aku akan mastikan markas tidak akan bertindak apa-apa padamu. Lagipula kau adalah anggota kami, mana mungkin kami akan ninggalkanmu?"
"Aku sudah bukan bagian dari kalian lagi. Lebih baik aku njadi buronan daripada kembali ke tempat itu lagi." Leo lalu natap Elva dengan serius. "Elva, kau yakin ingin nghentikanku?"
Elva masang kuda-kuda nyerang. "Aku setia pada organisasi, aku akan mbawamu kembali!"
"Sayang sekali, kalau begitu reka akan nemukan 2 mayat di tempat ini." Leo nggelengkan kepalanya.
Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Oh ya? Kenapa kau miliki pemikiran seperti itu?"
"Kau sedikit kuat dari lawan-lawanku sebelumnya, tapi kau tetap bukan tandinganku." Leo regangkan tangannya, nunjukan bahwa selama ini dia belum serius.
"Yah kurang lebih sama sepertiku, aku juga nganggap kau bukan tandinganku." Setiap pertempuran, Ares jelas mandang rendah lawannya.
Leo ndengus dingin. "Lucu sekali, aku tidak nyangka kau begitu arogan."
Randika tidak mbalasnya. Suasana lorong gedung ini njadi dipenuhi niat mbunuh yang pekat.
Elva berdiri di tangga, nghalangi jalur kabur. Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara anak kecil nangis. Pada saat itu juga, Leo bergerak!
Leo, yang berkecepatan tinggi, ngeluarkan sejumlah pisau dari balik bajunya dan lemparnya ke arah Randika!
Dia sendiri gang pisau di tangan kanannya, ngincar tenggorokan Randika.
Reviews
All reviews (0)