"Aku berada di dekat kolam renang kemarin kak. Cepatlah ke sini!" Suara Hannah benar-benar seperti orang yang nangis sedih.
"Tunggu aku!" Randika langsung nutup teleponnya dan langsung berlari nuju lokasi.
Tak lama kemudian, Randika sudah berada di tempat pertemuan dan Hannah nunggu di depan pintu.
"Han, kamu baik-baik saja? Siapa yang labrakmu?" Randika bertanya sambil terengah-engah. Mana bajingan yang berani ngganggu keluarganya?
Namun, aksi ini hanya agar dia terlihat keren dan peduli saja. Mungkin teman-teman perempuannya akan kepincut dengan kepedulian dirinya itu.
Sudah, sudah, hentikan khayalanmu Randika!
"Kak!" lihat Randika, muka Hannah bukannya terlihat nangis malah terlihat seperti orang kesal.
"Jangan khawatir, aku sudah di sini! Sekarang kasih tahu aku kejadiannya." Randika sebenarnya sedikit cemas dengan adik iparnya ini. Bunga cantik seperti dirinya itu bisa jadi bahan penindasan oleh perempuan lain ataupun jadi rebutan para lelaki.
"Kak, aku tadi dipukul orang." Namun, muka Hannah sekarang terlihat ingin nangis.
"Tenanglah, kakakmu ini akan ngurus orang itu." Sambil ngelus kepala adiknya, Randika bertanya. "Jadi, ceritakan apa yang terjadi sebenarnya."
"Jadi begini." Hannah nenangkan dirinya dan nceritakan apa yang terjadi.
"Jadi setelah titip absen untuk kelasku itu, aku pergi ngunjungi klub karateku. Namun, orang dari klub taekwondo ndatangi kita dan nantang kita. Tentu saja kita nerimanya! Tapi Kami kalah dan kami diejek habis-habisan oleh reka. Jadinya aku langsung nelepon kak Randika."
Hannah lalu mperhatikan ekspresi Randika yang semakin lama semakin terlihat malas tersebut.
Adik iparnya ini mang licik, karena dia tidak bisa nang maka dia ncari seseorang yang bisa njadi ujung tombaknya.
Terlebih, Hannah ngatakan bahwa dia dilabrak untuk mancing Randika untuk datang ke tempatnya. Adik iparnya ini bahkan pura-pura nangis agar Randika semakin percaya.
Kemampuan akting Hannah benar-benar patut diacungi jempol.
Randika sudah nebak arah pembicaraan ini ke mana. "Terus apa hubungannya kau dilabrak?"
"Tentu saja ada." Hannah langsung njawab. "skipun aku ikut karate hanya untuk poin saja, tetapi setelah ditantang begitu masa kita diam saja? Jadi kita lawan reka dan ternyata."
"Dan ternyata kalian kalah? Terus kamu nghubungiku untuk balas dendam pada reka? Sejauh ini apakah aku salah?" Randika nghela napas dalam-dalam.
"Benar! Ah! Maksudku bukan begitu, mana mungkin gadis secantik diriku ini nyimpan dendam? Aku hanya ingin ngenalkan reka pada kakak. Nanti kak Randika tahu sendiri kalau reka itu nyebalkan." Kata Hannah sambil tersenyum lebar.
"Tunggu sebentar!" Randika dengan cepat nghentikan Hannah. "Han, biar aku jelaskan padamu kenapa aku tidak bisa mbantumu. Pertama, aku bukan klub karatemu. Kedua, aku bukan mahasiswa sekolah ini. Terus buat aku mbantumu?"
"Kak Randika tunggu!" Hannah kembali nggunakan jurus mautnya. Dia dengan erat gang tangan Randika dan letakannya di antara belahan dadanya. Lalu suaranya njadi sangat las bagaikan suara kucing, dia juga narik-narik tangan Randika itu. Selain rasa nikmat itu, Randika juga rasa tangannya mau copot.
Randika dengan cepat lepas dari cengkraman adiknya itu dan ngatakan. "Maaf, aku tidak bisa mbantumu kali ini. Sudah itu saja yang ingin kau bicarakan? Aku masih ngantuk dan ingin tidur lagi."
lihat Randika yang mau pergi itu, dengan cepat Hannah nghalanginya.
Jika tidak bisa dengan sifat manja, saatnya nggunakan cara yang lebih keras!
"Ayolah kak, tolong bantu aku." Hannah nyeret Randika.
"Aduh sudahlah." Randika tidak habis pikir dengan adik iparnya ini, dikira dirinya ini ada untuk nyelesaikan semua masalahnya?
"Ayolah kak, kali ini saja aku minta tolong. Bagaimana kalau nanti aku akan mujimu di depan kak Inggrid?" Hannah ngedipkan matanya dan ngatakan. "Aku juga berjanji tidak akan njebakmu ataupun njelek-jelekanmu di depan kak Inggrid lagi. Jadi tolonglah kak, nanti klub karateku bubar gara-gara klub taekwondo bagaimana?"
Randika nggeleng-gelengkan kepalanya. "Pegang kata-katamu itu ya."
lihat Randika yang sudah luluh itu, Hannah senang bukan main. "Kalau begitu, hajar reka semua kak!"
Dalam hatinya Hannah sudah tertawa licik, dia telah berhasil nipu kakak iparnya itu karena dia tidak ngatakan kapan dia akan nepati janjinya itu.
Akhir kata, Hannah mbawa Randika ke ruangan klub karate.
Ketika Randika masuk ke ruangan yang luas ini, terlihat kerumunan orang yang terpisah njadi dua. Sudah jelas bahwa satu adalah anggota klub karate dan satunya adalah si penantang yaitu anggota taekwondo.
Pada saat ini, reka terlihat sedang sparing dan semuanya dengan semangat nyoraki reka.
Hannah lalu nyeret Randika ke tengah-tengah anggota klub karatenya. "Lihat kak, ketua klub kami sedang bertanding!"
Randika lalu lihat arena sparingnya. Pada saat ini, klub taekwondo berada di posisi unggul. Anggota klub karate itu sudah di ujung tanduk, kemampuannya kalah jauh dengan lawannya.
"Bahkan ketua Felix tidak bisa apa-apa?"
"Ayo kak Felix! Kakak pasti bisa!"
"Habisi cecunguk itu!"
Kedua belah pihak saling nyemangati anggotanya. Ketua klub karate, Felix, bahkan turun tangan langsung sentara ketua klub taekwondo masih duduk dengan santai di pinggir. Lawannya Felix kali hanya rupakan anak sester 3, tetapi Felix tidak berdaya sama sekali.
Tiba-tiba anggota klub taekwondo itu nggunakan taktik nerjang untuk ngelabui Felix dan nendangnya tepat di dada. Dalam sekejap, Felix terkapar sambil gangi dadanya.
"Makan itu!"
"Cepat habisi!"
Sorakan para anggota taekwondo semakin keras dan senyuman ketua klubnya semakin lebar. Baginya sparing ini bukanlah hanya nentukan siapa yang lebih kuat. Kalau video di mana klub taekwondo nang dengan mudah tersebar, maka popularitas klub miliknya akan roket. Bisa dikatakan ini mbunuh dua burung dengan satu batu.
lihat ketua reka terkapar kesakitan, hati para anggota klub karate ngepal dan bisu seribu bahasa. Bahkan ketua reka sama sekali tidak berdaya?
"Ternyata reka begitu kuat." Kata salah satu anggota klub karate. reka seharusnya tidak lawan klub taekwondo.
"Kak, sekarang adalah waktumu bersinar!" Kata Hannah di telinga Randika.
Pada saat ini, semua anggota taekwondo sudah besar kepala. "Ternyata klub karate cuma segitu saja kemampuannya, tidak ada apa-apanya dengan kita!"
"...." skipun kesal, para anggota klub karate tidak bisa mbantahnya. Lalu salah satu anggota klub taekwondo maju dan berteriak. "Jadi apakah kalian ngerti ngapa klub kami adalah kebanggaan dari sekolah ini?"
Para anggota klub karate sudah mbantu ketua reka berdiri. Hannah yang lihat lawannya itu begitu arogan sudah ndorong-dorong Randika ke depan.
"Jangan sombong dulu!" Hannah berteriak dengan keras dan njadi pusat perhatian.
"Kak, sekarang kesempatanmu!" Hannah berbisik di telinga Randika.
Didorong maju oleh Hannah, Randika hanya bisa nghela napas. Lawan Felix tadi lototi Randika dan bertanya dengan nada arogan. "Apa? Kau juga ingin nantangku?"
Wah, nantang Ares si Dewa perang?
"Sudah jangan banyak bacot, sini maju." Randika juga tidak kalah arogan.
"Baiklah." Pemuda itu nyengir. "Orang macam kau cuma butuh 1 nit!"
"Maju!"
"Kau pasti bisa!"
skipun tidak tahu siapa yang wakili reka itu, anggota klub karate tetap nyoraki Randika. Tetapi, kata-kata Randika berikutnya ngejutkan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana kalau aku mberikan keringanan pada klub kalian? Aku hanya akan nggunakan satu tangan dan akan nghabisimu dan temanmu berikutnya dalam 1 nit." Randika lalu letakan tangan kirinya di belakang punggungnya.
Semua orang benar-benar dibuat linglung dengan Randika. Orang ini sombong sekali!
Lawannya ini justru marah ndengarnya, dia yang sudah berhasil ngalahkan ketua klub karate dianggap sampah oleh lawannya kali ini?
Reviews
All reviews (0)