Font Size
15px

Saat itu, Leah mulai tertarik dengan perdagangan budak karena aktivitasnya yang semakin ningkat. Sebuah pertempuran telah terjadi, di mana para pedagang budak yang bersaing berusaha untuk nempatkan diri reka secara strategis di Estia, lokasi yang paling nyaman untuk penculikan. Dalam upaya untuk nekan gangguan yang terjadi, Leah telah terbiasa dengan perbudakan suku Kurkan, dan hal itu nyebabkan rasa sakit yang ndalam.

Dia mbenci kenyataan kejam dan nasib para budak Kurkan, dan nyimpan kebencian pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa, skipun dia adalah putri Estia.

Semakin dia mikirkannya, Leah semakin marah. Kehidupan orang Kurkan sama dengan kehidupannya. Dia bahkan bisa ngidentifikasi sebagian diri reka dengan cara tertentu. Leah terpaksa nanggung upaya berlebihan Cerdina yang ncoba nghancurkan seluruh hidupnya. Dia tidak bisa nentang Cerdina, dan hidup tertindas olehnya, terikat pada kerajaan sejak lahir. Darah bangsawannya lambangkan kematiannya, hampir seperti darah orang Kurkan, yang darah dan rasnya nentukan keberanian reka.

「Kamu pasti njadi putri yang sempurna, Leah.」

Saat Leah ngingat mon-mon tertentu di masa lalu, sepertinya dia ndengar suara Cerdina. Leah nggigit bibirnya agar tidak mikirkannya. Dia tidak berada dalam situasi di mana dia bisa ngingat hal-hal yang nyedihkan. Dia miliki tugas yang harus diselesaikan dan orang-orang yang harus diselamatkan.

Satu tugas terakhir yang harus dilakukan untuk negaranya. Beban masa depan Estia sangat mbebani pundaknya.

Laki-laki Kurkan di sebelah Leah ncondongkan tubuh ke depan dan berbisik sambil dengan hati-hati nurunkan gelas anggurnya.

"Aku penasaran ingin tahu wajah apa yang ada di balik topeng ini... Seberapa cantiknya kamu?"

Sebuah jari kurus nyentuh bahu Leah. Seketika, dia bergidik dan nariknya njauh, dengan santai nyentuh tangan budak itu. Dia nghirup napas dalam-dalam.

Budak itu hanya tersenyum. Mungkin dia sengaja mbuatnya minum terlalu banyak, dengan tujuan mbuatnya mabuk. Setelah natapnya saat dia luknya erat, Leah berbisik, "Dengarkan aku baik-baik."

"Ya?"

"Aku tidak punya niat lakukan apa pun denganmu, jadi bersikaplah nahan diri," katanya. Lalu dia nambahkan dengan pelan, "Saya di sini untuk nyelamatkanmu."

Tatapan si Kurkan mulai goyah, tapi dia dengan terampil nahan emosinya. "Leluconmu terlalu berat untuk ditanggung," jawabnya.

"Anda akan segera ngetahui apakah saya bercanda atau tidak. Bisakah kamu lari? Jika kamu tidak bisa, beri tahu aku sekarang."

Leah nanyakannya terlebih dahulu karena dia tahu bahwa ada kasus di mana budak ngalami pemotongan otot tertentu sehingga nyulitkan reka untuk larikan diri. Hal ini ncegah reka untuk larikan diri jika reka ingin atau telah ncoba sebelumnya.

Kurkan laki-laki tersenyum lembut dan kar, tapi cahaya di matanya bersinar.

"Tentu saja." Leah bisa ndeteksi niat mbunuh yang samar-samar di bawah suaranya yang lembut. Kemungkinan ndatangkan malapetaka mbuatnya senang. "Aku bisa lakukan lebih dari itu," bisiknya di telinganya.

skipun situasi Leah dan orang Kurkan tampak serupa, ada perbedaan utama di antara keduanya. Orang-orang Kurkan bisa saja diperbudak sepanjang hidup reka, namun reka tidak akan ragu ngambil kesempatan untuk larikan diri, bahkan jika itu berarti harus nanggung pemukulan dan penganiayaan.

Budak laki-laki Kurkan ini misalnya, telah ngatasi pencucian otak yang telah dilakukan padanya sepanjang hidupnya. Di dalam dirinya, darah orang Kurkan ngalir tak terkendali. Yang, lalui pengalaman, njadikan reka pejuang yang tangguh dan lawan yang tak terhentikan.

Tidak peduli seberapa muda, sakit, atau lemahnya seorang Kurkan, sifat asli reka ada di pihak reka. Tidak peduli apakah reka budak, pejuang, anak-anak, atau orang tua. Jika reka dilahirkan sebagai Kurkan, reka mati sebagai Kurkan.

reka berbeda dengan Leah, yang hanya terus-nerus ragu...

Di balik topengnya, Leah kembali nggigit bibirnya dengan keras. Banjir emosi yang datang saat nyaksikan harapan dan keberanian budak laki-laki itu mbuatnya lengah. Sesaat, dia rasakan perbedaan di antara keduanya sebesar bumi dan langit. Namun, dia dengan cepat ngesampingkan perasaan ini dan kemudian ngangkat suaranya agar semua orang dapat ndengarnya.

"Saya ingin ndiskusikan pembagian manfaat."

ndengar kata 'manfaat', para pedagang budak langsung fokus padanya. Keserakahan ada di mata reka. reka mberi perhatian penuh pada Leah.

"Pembagian manfaat?" tanya seorang pedagang budak sambil ngangkat gelas anggurnya dan nyesapnya. Itu adalah pria bertubuh kekar, yang tampaknya miliki posisi tertinggi di antara reka. Leah ngetahui pengaruh besar pria ini. "Masing-masing dari kita akan ngambil bagiannya masing-masing," ujarnya. "Kemudian kita akan mbagi 30% sisanya di antara kita."

"Itu benar. Dan, karena kita akan mbagi 30%, saya ingin riksa Kurkan yang Anda tawarkan. Saya harus teliti. Lagi pula, bukan hanya kami yang akan nderita jika kami njual produk berkualitas buruk."

Leah nundukkan kepalanya dan lanjutkan dengan yakinkan.

"Tentu saja untuk nghindari kerugian."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 76: Kurkan yang Berharga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.