Leah nyingkirkan pikiran itu dan berkata, "Aku tidak nyangka akan nemukanmu di sini."
ski berharap Ishakan ikut serta dalam lelang ini, ia tidak nyangka reka akan bertemu satu sama lain. Dia awalnya berencana untuk pergi sebelum pelelangan dimulai, mpertahankan profil penyamarannya. Tindakan terbaik yang dia pikirkan adalah nyusup sebagai tamu. Tanpa diduga, dia akhirnya ngungkapkan dirinya sebagai pedagang budak.
"Bagaimana kamu bisa masuk?" dia bertanya.
Leah rasa sulit percaya bahwa dia telah langgar keamanan yang ketat. Ishakan bahkan berhasil sampai ke ruang resepsi.
Ishakan tertawa lihat keterkejutannya. "Nah, apakah kamu seharusnya lebih terkejut dariku?" Dia mberi isyarat sambil bercanda.
Setelah itu, keheningan ndominasi ruangan. Leah terlambat nyadari bahwa dia sudah terlalu lama duduk di pangkuan Ishakan. Tanpa disadari, hal ini tidak terasa aneh baginya. Faktanya, dia sudah terbiasa dengan kulitnya yang nyentuh kulitnya. Fakta bahwa dia rasa nyaman bersama Ishakan dalam posisi intim, ngejutkannya.
Seperti yang ditunjukkan oleh instingnya, dia mulai lepaskan diri dari kendalinya. Namun, lengan tebal Ishakan yang lingkari pinggangnya tidak nunjukkan niat untuk lepaskannya. Terjebak dalam cengkeraman baja, dia ngangkat kepalanya dan perlahan nemukan matanya.
"Apa yang aku tanyakan kemarin," ungkap Ishakan dengan rendah hati.
Leah tercengang begitu dia ndengar suaranya rendah dan lemah. Ishakan raih dagunya dan ngangkatnya saat dia nghindari tatapannya sehingga mata reka bertemu.
"Sudahkah kamu mikirkannya? Anda telah larikan diri tanpa mberi saya jawabannya."
Suara seraknya nggelitik telinganya. Ini terasa aneh baginya. Perasaan yang dibangkitkannya dalam dirinya, ski dia sudah mpersiapkan jawabannya sebelumnya, mbuatnya berhenti sejenak. Dia ingin mberitahunya untuk lupakan percakapan reka, bahwa dia telah nyebutkan topik itu dengan santai agar dia ninggalkannya sendirian. Namun, kata-kata itu enggan keluar dari mulutnya.
Di masa lalu, dia akan ngatakannya tanpa ragu-ragu. Tapi sekarang, kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Tidak peduli apa pun, dia tidak bisa lepaskan kata-kata itu skipun dia nginginkannya.
Ibu jarinya perlahan nyentuh bibirnya dan luncur ke bawah, sentara mulutnya tertutup rapat. Ishakan berbisik sambil ngusap hidungnya ke hidungnya.
"Kau tidak perlu hidup secara bertanggung jawab, Leah."
"..."
Kehangatan nafasnya, dan hidungnya yang mbelai wanita itu mbuatnya rasakan emosi yang tak terlukiskan. Kenapa dia bersikap begitu manis?
"Sepertinya Anda satu-satunya yang ingin lanjutkan negosiasi. ngapa kamu begitu terikat dengan keluarga kerajaan?"
Dia bisa njadi buronan. Buang semuanya ke laut dan hiduplah dengan bebas.
Kata-katanya yang mutarbalikkan terdengar begitu manis sehingga bahkan kurma berlapis madu pun tidak bisa nandinginya. Makna tersiratnya narik perhatiannya.
Leah mandangnya terpesona. Beban tanggung jawab di pundaknya hampir tak tertahankan, dan kebebasan yang dia pilih – kematian – akan njadi takdir yang akan dia jalani sebagai seorang putri. Ishakan nyuruhnya untuk mbuang semua beban yang ada di pikirannya.
Jika Ishakan, seperti yang dia janjikan, bertanggung jawab atas dirinya, dapatkah dia nyerahkan segalanya? Pria di depannya, sejak dia datang ke dalam hidupnya, telah njungkirbalikkannya.
Leah ninggikan suaranya tanpa daya.
"...ngapa kau lakukan ini untukku?"
"...Untuk saat ini, katakanlah... Kita serasi di ranjang."
ndengar kata-katanya yang kurang ajar, dia mberinya tatapan tajam. Ishakan tertawa terbahak-bahak lihat tatapannya. Tawanya berangsur-angsur mudar, mbuat suasana kembali ke keheningan yang nyaman.
Mata emasnya natap tajam ke mata ungu Leah. Dia nurunkan pandangannya, nelusuri hidung kecilnya, ke lekuk lembut bibirnya. Ibu jarinya, yang sebelumnya nyentuh bibirnya, perlahan masuk ke dalam mulutnya.
Yang mbuatnya takjub, lidah lembut dan lembut itu njilat jarinya. Bulu mata Leah bergetar, instingnya ngkhianatinya.
Cahaya di mata Ishakan bersinar lebih terang. Aneh. Dia tidak dapat nemukan kata-kata yang tepat untuk nggambarkannya dengan jelas, tetapi mata emasnya, hari ini, dia nganggapnya istiwa.
Seolah-olah dia telah nyihirnya, nariknya ke dirinya sendiri.
Raja perlahan ndekatkan wajahnya ke wajahnya. Ibu jarinya luncur perlahan di sepanjang giginya. Ishakan nyipitkan matanya sambil tersenyum dan berbisik nggoda.
"Tahukah kau bahwa hari ini adalah bulan purnama?"
MBANTING!
Detik berikutnya, pintu terbuka lebar, ngganggu pasangan yang tenggelam dalam gelembung reka sendiri. ndengar ini, Leah terkejut dan segera njauhkan diri dari Ishakan.
Genin-lah yang muncul, raih leher Count Valtein yang berdiri di sampingnya. Mulut Genin terbuka sedikit. Kata-katanya tercekat di tenggorokannya saat dia nunjuk ke arah Leah, tertegun.
Count Valtein yang masuki ruangan bersama Genin sangat terkejut saat lihat Ishakan dan Leah bersama.
Suasana yang agak tegang dan aneh pun tercipta.
Saat Count Valtein ngutuk dalam pikirannya, seseorang muncul di belakang kepala Genin.
"Ahhh!"
Orang yang berseru itu pun kaget saat lihat Leah. Kurkan tampan itulah yang mbawa Leah ke istana kerajaan beberapa hari yang lalu. Dia mbuka mulutnya dan bergumam.
"Apa ini...? ngapa sang putri ada di sini...?"
Ishakan ndecakkan lidahnya, ketidakpuasan terlihat di wajahnya.
Pria bernama Haban segera masuk, jadi Ishakan ndekati Leah. Ishakan bertindak seolah-olah yang lain adalah wabah yang tidak bisa ngarahkan pandangan reka pada Leah.
"Kamu bilang kamu punya pengendalian diri!" Seru Haban, diagungkan.
"Ya. Itu tidak berjalan dengan baik." Ishakan nanggapi dengan tenang sambil nurunkan Leah dari pangkuannya. Kemudian, dia raih bagian belakang lehernya, dan narik kepalanya ke dadanya. Tangannya yang lain turun ke pinggangnya, dan ibu jarinya mbuat lingkaran kecil di atasnya. "Sepertinya aku berbohong, Haban."
Haban natap wajah Leah yang rah dan bertanya, "Apa yang Ishakan katakan padamu?"
"Dia tidak ngatakan apa-apa, kecuali hari ini adalah bulan purnama..."
Jawab Lea bingung. Ishakan njadi marah dan mbentak Haban.
"Kamu banyak bicara omong kosong!"
Genin lepaskan leher Count Valtein dan perlahan ndekatinya. Kemudian, dia dengan hati-hati ncuri Leah dari Ishakan, nempatkan Leah di belakangnya dan mastikan tubuh besarnya nyembunyikannya.
Karena tidak ngetahui perselisihan reka, Leah bertanya apa yang sedang terjadi. Genin berbalik dan natapnya. Suaranya terdengar tegang saat dia njawab.
"Saat orang Kurkan nyebut bulan purnama, biasanya itu miliki arti seksual."
"Hah?" Lea mbuka mulutnya karena terkejut.
"Hari ketika bulan purnama terbit..."
Genin mandang Count Valtein sambil berbisik pelan, mastikan hanya Leah yang ndengarnya.
"Ini musim kawin."
Reviews
All reviews (0)