Jari-jari tebal masuk, dengan kejam lakukan perjalanan cepat ke dalam dindingnya.
Panasnya yang bergetar nelan jari-jari pria itu sebagai respons. Saat ncapai beberapa tempat, dia njadi semakin basah.
Sensasi yang njalar dari perutnya mulai nuhi dirinya seperti api. Bingung dengan kenikmatan yang semakin besar, dia ndorongnya dengan tergesa-gesa.
Sayangnya, pria itu sekeras batu dan tidak bergeming sedikit pun. ngangkangi dia, Leah nggeliat dan nggelengkan kepalanya. Dia luk pria itu dan nggaruk punggungnya dengan kuku jarinya. Namun gelombang sensasi yang muncul tidak reda, dan pria itu tidak goyah dengan pencariannya.
Dia sepertinya didorong ke tepi tebing. Saat jari-jarinya mulai nggosoknya dengan rit, masuk dan keluar dari area yang berdenyut-denyut, kembang api lesat di depan matanya.
"...!"
Leah mbuka matanya lebar-lebar, mulutnya ternganga. Dia mbungkuk, nekuk punggungnya.
Jika mungkinkan, lipatannya njadi semakin basah kuyup. Napas kenikmatannya bergema, diikuti dengan sensasi yang nyaris tak tertahankan yang nyiksa tubuhnya.
"Oh, eh, ah..!" Dia ngerang keras. Ketika dia sadar kembali, Leah nyadari bahwa dia sedang bergantung pada pria itu dan getar. Lututnya yang hampir tidak bisa dia rasakan kehilangan kekuatannya. Dia rosot ke dalam dirinya, berantakan total sentara tubuhnya bergetar.
"Ahhh!"
Itu adalah puncak dari pengalaman pertamanya sepanjang hidupnya. Sensasi baru kehilangan kendali atas tubuhnya sejenak mbuatnya mati rasa.
lihat Leah terisak-isak, diliputi rasa malu dan senang yang masih ada, sudut bibir halus pria itu sedikit terangkat.
"Bukankah itu terasa enak?" Dia nggambar, sentara jari-jarinya yang nakal rangkak untuk nggoda klitorisnya, ngeras karena sentuhannya.
Saat dia lakukannya, inti sensitifnya lonjak njadi perhatian. Dia kemudian nyadari bahwa itulah sumber dari semua denyutan itu.
"Berhenti, berhenti..." dia mohon, tetapi pria itu lakukan sebaliknya. Dia mbaringkan Leah di tempat tidur dan mbuatnya ncapai klimaks sekali lagi.? Dia ncengkeram seprai begitu kuat hingga buku-buku jarinya mutih.
Saat lidah kecil terungkap lalui bibirnya yang terbuka, pria itu nangkap mulutnya dan nghisapnya hingga nyerah.
Di tengah perpecahan antara klimaks dan ciuman kasar, dia tidak nyadari celana dalam tipisnya perlahan terkelupas. Segera setelah Leah nyadari bahwa itu telah terlepas, mbuatnya terbuka dan rentan terhadap lelaki itu, dia secara refleks ngumpulkan kakinya, tetapi sekali lagi, terbentang lebar oleh tangan tak berperasaan lelaki itu.
Itu adalah sikap yang tidak canggih. Dia belum pernah begitu terbuka di depan siapa pun. Dan yang nambah rasa malunya, pria itu natap terang-terangan ke arah v*ginanya.
"Apa yang terjadi di sini?" Suaranya yang ngejek mbuat wajahnya rah lagi.
Tidak seperti yang lain, bagian bawahnya hampir tidak miliki rambut. Jari-jarinya yang panjang mijat kelopak bunga kerahan.
Leah nyaris tidak njawab sambil ngerang.
"Begitulah adanya...."
"Sejak lahir?"
ngangguk kepalanya, pria itu raih pergelangan tangannya, ngangkat lengannya dengan tajam. Ketika dia riksa ketiak mulusnya, dia ngerang sebentar, dan bergumam dengan nada yang sangat bermasalah.
"Aku tidak pernah berpikir aku akan nyukainya sejauh ini."
"...." Kenapa dia seperti ini? Dia sepertinya ingin njilatnya di semua tempat! Naik turunnya dadanya njadi bergejolak.
Dia mulai lepas celananya.
Ya Tuhan... Rahang Leah ternganga saat dia lihat ke sela-sela kaki pria itu. Dia sudah nduga itu akan njadi besar karena fisik pria itu penting. Tapi itu tidak normal. Tanpa berlebihan, itu lebih tebal dari lengan Leah. P*nisnya, yang kaku saat nyentuh pusarnya, miliki ujung yang lembab, dan tendonnya yang nonjol nonjol.
Orang Kurkan warisi darah binatang itu, dan anggota tubuhnya tidak lain adalah binatang buas.
Pria itu tertawa seolah dia tahu apa yang dipikirkan Leah. Dia nghela nafas dengan lesu dan ngusapkan panjangnya ke paha Leah.
"Apakah kau terkejut?" Area yang digosok terasa panas seperti terbakar.
"Tapi itu karena kau. Kamu harus ngambil tanggung jawab dan nenangkannya."
Leah raih selimut, kata-kata ketakutan keluar dari mulutnya. "TIDAK. Bagaimana aku bisa ngakomodasi hal itu?!"
"Kau harus ncobanya."
Sebuah kepala bundar masuk lalui celah sempit. Tekanannya cukup besar, ski hanya tip.
Bagian dalam tubuhnya cukup basah tetapi masih kencang dan sempit. Pria itu bernapas dengan kesakitan, bibirnya mbentuk garis rapat.
"Kau sangat ketat..."
Namun berbeda dengan suaranya yang kasar, mata pria itu setenang laut yang tenang. Tanpa sepengetahuan Leah, anggota tebalnya mbelah njadi dua dan perlahan masuk.
Dia percaya dan hanya berhenti ketika dia lihat wajah Leah yang berlinang air mata.
Dia hampir tidak bernapas, tapi setelah rasakan sesuatu masuk ke dalam dirinya, dia bertanya padanya dengan penuh semangat.
"A—apakah kau masukkan semuanya...?"
"Kau rehkanku, bukan?"
Pria itu njawab dengan senyum nakal.
"Perjalanan masih panjang."
Dan dengan itu, dia ndorong panjangnya hingga ke akar.
Reviews
All reviews (0)