Kabut awan ngaburkan malam. Kabut nutupi bulan, sehingga tidak ada seberkas cahaya pun yang mampu nembus langit. Kegelapan pekat nyelimuti Estia, nyelimuti tempat itu dalam misteri. Itu adalah malam di mana seseorang rasa tidak nyaman untuk pergi keluar sendirian.
Sebuah lampu kecil nerangi jalan di depan gerbong. Nyala apinya berkobar, namun tidak cukup untuk mbuat jalurnya terlihat.
Penunggang kuda yang berada di depan barisan gerbong, mutar kepalanya, dengan hati-hati ngawasi sekelilingnya dengan matanya. Setelah bertahun-tahun pengalaman ngembara, dia cukup tahu untuk ngenali kapan seseorang tidak boleh ngabaikan intuisinya.
Hari ini, penunggang kuda itu rasa sangat terkejut. Dia rasakan dorongan yang tak tertahankan untuk larikan diri dari kereta dan larikan diri ke dalam malam. Ia ingin segera keluar dari hutan suram yang reka lewati, namun pepohonan lebat seakan tak terhingga.
Sejak beberapa waktu yang lalu, tentara bayaran yang ngawal kereta, telah rasakan suasana tidak nyenangkan di sekitar hutan. reka terus-nerus gang sarung pedang reka, jika terjadi serangan tiba-tiba.
"Sialan!"
Penunggang kuda itu ngumpat sambil narik kekang kudanya hingga berhenti. Dia ncoba ncambuk reka beberapa kali, tetapi kudanya tidak lambat. reka terus rengek seolah ketakutan oleh makhluk ngerikan.
Dia tidak berdaya, hanya mampu lihat ke depannya, ketakutan. Tiba-tiba, peluit tajam terdengar di udara. Mata penunggang kuda itu lotot ndengar suara itu, terlambat nyadari apa itu.
"Ahhh, itu orang barbar!"
Dia berteriak sepersekian detik kemudian, namun bayangan hitam jatuh dari langit. reka naik ke atas gerbong, seperti binatang gila, dalam serangan yang licik. Mata cerah reka bersinar ngerikan dalam kegelapan, dan dari cahaya di mata reka, gigi seringai reka yang nonjol bisa terlihat. Seringai puas terpampang di wajah reka.
Para tentara bayaran njerit dan ngeluarkan pedang reka. Namun, reaksi reka tidak nentang orang-orang Kurkan, yang, seperti kilat, lompat turun dari kereta. Secepat reka datang, pada detik berikutnya suara daging yang terkoyak dan tubuh yang tersungkur ke tanah langsung terdengar. Retakan tulang terjadi, saat orang-orang Kurkan nghancurkan mandi darah di antara tentara bayaran.
"Ughh..."
Penunggang kuda itu nyaris tidak bisa rangkak keluar dari gerbong. Di sekelilingnya, segala macam suara kesakitan dan pembantaian yang ngerikan nusuk telinganya. Jeritan itu nghantui. Dia nutup mulutnya dengan tangan sambil getar, maksa dirinya untuk tidak berteriak. Tiba-tiba, hembusan udara dingin nerpa dirinya saat kereta yang nyembunyikan tubuhnya terbalik.
Bau kematian resap di udara dingin. Hanya mayat yang tergeletak di sekelilingnya. Dia nyaksikan rekan tentara bayarannya mandang ke langit dan kemudian nyemburkan darah, yang terakhir dilihat tentara bayaran itu adalah wajah yang mirip dengannya. Dengan bunyi gedebuk, penunggang kuda itu nyaksikan, ketakutan, saat dia terjatuh ke tanah hutan tanpa bergerak. Di situlah dia akan dimakamkan. Darah panas tentara bayaran itu ngalir ke tanah di bawahnya perlahan, tubuhnya njadi dingin.
Di balik bulan yang tertutup, siluet seorang pria berotot bersinar. Dia dengan lesu lototi wanita yang langkahi mayat-mayat itu, ngabaikan penunggang kuda yang mbeku dan ngintip ke dalam gerbong yang terbalik. Tidak diragukan lagi, jika seseorang lihat mata topasnya yang cerah, reka akan ngenalinya sebagai pemimpin kelompoknya.
"Ishakan."
Seorang wanita raksasa nyerahkan sehelai daun tembakau kepada pria tersebut. Saat dia rawat yang lain, seorang pria kurus dengan rajin ncari di gerobak bersama orang Kurkan lainnya. Pria yang telah mastikan wajah para budak satu per satu dengan lampu untuk nerangi reka, tiba-tiba berseru.
"Itu tidak ada di sini!"
"...Upaya sia-sia lainnya?"
Lelaki itu terdiam sesaat sambil nghisap daun tembakau, sisa rasanya nenangkan di malam yang tenang dan penuh darah ini. Dia perlahan bergumam sambil ngeluarkan asap dari daun tembakau.
"Luar biasa. Aku cukup yakin bahwa informasi yang diberikan adalah akurat."
Kepalanya dimiringkan dan dia ngunci pandangannya pada penunggang kuda itu. Saat penunggang kuda itu diamati dari jauh dengan mata yang tajam dan nyala-nyala itu, dia njadi terdiam karena ketakutan. Bahkan jika dia ingin berteriak, tidak ada satu suku kata pun yang bisa diucapkan. Kakinya terjepit di luar keinginannya dan dia tidak bisa lari dari rasa takut yang dia rasakan.
Penunggang kuda itu rasakan cairan hangat netes ke bagian dalam pahanya, sepertinya dia telah ngotori celananya dengan air seni.
Ishakan nyeringai. Mata emasnya berkilauan saat dia ngangkat alisnya ke arah penunggang kuda itu, ngejeknya seperti predator.
"Apakah kau tahu sesuatu tentang ini?"
Gigi penunggang kuda itu bergeletuk. Dia getar tak terkendali, saat dia nghadapi pria nakutkan di hadapannya, namun, dia tahu jika dia berhenti di sini, hutan akan njadi tempat pemakamannya. Kata-kata itu keluar dari mulutnya dalam gumaman, saat dia maksakan mulutnya terbuka untuk ngucapkan suku kata yang masuk akal.
"P-pedagang budak lainnya..."
"Apakah pedagang budak lain mbeli dan ngambil orang Kurkan?"
"Y-ya..."
Ishakan nyipitkan matanya. Dia terkunci dalam pikirannya dan miringkan kepalanya ke samping. Lalu dia ndongak dan nganggukkan kepalanya ke arah wanita di samping.
"Tolong ampuni Saya. Saya hanya ngemudikan kereta... Ini mungkin cukup untuk mbayar dosa-dosa saya."
Wanita itu dengan singkat nganggukkan kepalanya dan tiba-tiba ngangkat tinjunya?THUD!? Dia mukul bagian belakang kepala penunggang kuda itu. Segera, dia pingsan tanpa suara.
Ishakan yang sedang natap penunggang kuda di depan bertanya singkat.
"Apakah dia mati?"
"Kau berhasil ngendalikan kekuatanmu dengan baik, Ishakan." Dia nunjuk ke sekeliling reka.
Haban gelisah nanggapi jawaban naif Genin dan nambahkan.
"Saya pikir dia sudah mati."
"TIDAK. Dia belum mati."
Saat pertengkaran kecil reka pun terjadi, Haban mulai riksa denyut nadi penunggang kuda itu. Tidak ada hal yang narik untuk disimpulkan.
"Dia belum mati."
Haban dengan ragu mberi judul pada kepalanya dan ndecakkan lidahnya. Genin ngangkat ujung dagunya, mberi isyarat padanya, seolah negaskan kekuatannya. Ishakan, yang nertawakan pertengkaran diam-diam reka, nghisap tembakaunya dan berkata.
"Apakah dia yang ketiga?"
Haban nghentakkan kakinya saat dia berbicara dengan wajah rah.
"Ini jelas bukan suatu kebetulan."
Saat ini, Ishakan sedang lacak para budak Kurkan di Estia. Dia sudah ngetahui keberadaan orang Kurkan yang dijual kepada bangsawan dan saudagar kaya.
Di tengah penangkapan orang-orang Kurkan yang terancam ditangkap dan dijual, reka secara tak terduga nemui berbagai kesulitan. Setiap petunjuk akan ngakibatkan kegagalan, hanya dalam hitungan jam. Itu adalah kesulitan paling mbuat frustrasi yang selalu reka hadapi dalam lacak reka.
Telah dipastikan bahwa orang-orang Kurkan telah dibeli dan antrian pedagang budak telah dibatasi, namun, rute perdagangan reka adalah sebuah labirin. Setiap saat, alasannya selalu sama. Pedagang budak lain akan mbeli orang Kurkan tepat sebelum reka bisa mbebaskan reka.
Ini adalah ketiga kalinya reka lewatkan peluang, dengan selang waktu yang singkat.
"Saya pikir seseorang pasti bergerak selangkah lebih maju dari kita."
Reviews
All reviews (0)