Font Size
15px

Blain masih duduk tegak di ja, nggunakan makan siang tak bernyawa, sebagai alasan untuk mbuat Leah tetap tinggal. "Aku bilang jangan pergi, Leah."

Namun, Leah tidak mbalasnya.

Tidak dapat nahan kurangnya tanggapannya, Blain nendang kursinya. Alisnya bergerak-gerak; jelas dia sangat marah pada Leah. Kepahitan yang luar biasa nyapu wajahnya, karena ketidaktaatannya nyebabkan kemarahan yang tak terbendung landa Blain. Leah yang selalu patuh, berani nentangnya. Tinjunya ngepal dan dia mbanting ja, mbuat piring-piring berdenting saat dia ncoba ngintimidasi wanita itu agar tetap tinggal.

Namun, semuanya sudah terlambat. Tangan Leah sudah terulur ke arah Ishakan. Begitu jari-jarinya nyentuh jari-jarinya, Ishakan segera njalinnya. Cengkeramannya begitu kuat, bahkan dia pun tercengang. Ishakan raih tangannya, cengkeramannya stabil dan yakinkan, dan nariknya ke dadanya.

Dalam sekejap mata, dengan beberapa langkah kuat, reka ninggalkan ja makan siang dan taman.

Blain, yang masih diliputi amarahnya, ncoba ngejar reka. Namun, tangannya yang ncoba ncuri kembali Leah, leset hanya beberapa inci, sebelum Ishakan mbawanya pergi. Hanya udara hampa dan dingin yang nuhi kulitnya.

"..."

lepaskan cengkeramannya di udara, Blain nurunkan tinjunya, dan ngepal begitu kuat, kukunya nusuk kulitnya dan nusuk dagingnya. Namun, dia ngabaikan rasa sakitnya. Itu bukan apa-apa, dibandingkan perasaan gejolak dan amarah yang nghinggapinya saat itu. Selama satu nit, matanya ngamati tempat kosong tempat Leah duduk beberapa saat sebelumnya. Mata biru sedingin esnya bergetar hebat, ngarahkan seluruh permusuhannya pada Ishakan, di kursi.

Itu adalah kesempatan terakhirnya. Saat Ishakan nyeret Leah keluar dari taman, Blain bereaksi dan neriaki para ksatria yang berjaga di pintu masuk makan siang untuk nghentikan reka. Namun, semuanya sudah terlambat.

Ditambah dengan seberapa panjang kakinya, jarak yang reka tempuh dengan kecepatannya ningkat, dan tak lama kemudian, taman tempat makan siang diadakan, tidak terlihat lagi.

Di depan labirin istana, reka berhenti di koridor yang dilapisi pilar marr.

Putra dan putri bangsawan yang sedang bermain di dekatnya, mperhatikan sosok Ishakan yang nyeret Leah dengan intens, dan nyadari bahwa reka adalah sosok penting, dengan cepat berpencar seperti semut yang disiram air.

Lingkungan sekitar reka langsung njadi sunyi. Bahkan pin yang terjatuh pun akan terdengar.

Ishakan natap Leah dan nghela napas, akhirnya lepaskan cengkeramannya di pergelangan tangannya.

Saat tangan panasnya terlepas, Leah nyembunyikan tangannya di balik gaunnya, namun Ishakan mperhatikan tindakannya dan langsung nariknya lagi.

Tangannya ninggalkan bekas kerahan di pergelangan tangannya yang putih dan ramping. ski Ishakan sudah berusaha nggenggamnya dengan lembut, kulit Leah begitu pucat dan rapuh sehingga genggaman yang nurut Ishakan ringan, terdapat bekas tangan di kulitnya. Dia benar-benar terbuat dari kaca.

"ngapa...!"

Karena terkejut, Ishakan nghentikan kata-katanya saat suaranya ninggi tajam. Dia ndekatkan tangannya ke wajahnya, nutupi matanya, saat emosi campur aduk ngalir dalam dirinya. Desahan keras keluar dari mulutnya dan dia bergumam dengan putus asa.

"Kau seharusnya mberitahuku itu nyakitkan."

Ketika Ishakan ngatakan itu, Leah nyadari betapa perhatiannya dia selama ini. Cengkeramannya, ski bekasnya tertinggal, tidak nyakitinya sama sekali. Hal-hal kecil itu tidak penting baginya.

Dia ngangkat kepalanya dan mata ungu mudanya bertemu dengan mata emas Ishakan yang dalam. Bibirnya terbuka dan ngeluarkan kata-kata yang ingin dia ucapkan selama ini.

"Aku sangat minta maaf sebagai pengganti keluarga kerajaan."

Namun, Ishakan dengan kasar nghentikan Leah, nyenggolnya. "Berhenti." Dia rintahkan.

Matahari yang bersinar di matanya, berdenyut saat pupil matanya mbesar. Segerombolan emosi njalari reka.

"Kau bukan orang berdosa. Kenapa kamu selalu minta maaf?"

Rasa frustasi dan amarah nerpa dirinya. Setiap kali dia berinteraksi dengannya, itu seperti gelombang kemarahan yang hebat. Namun, alasan dibalik ini jauh berbeda dari apa yang Leah pikirkan.

"Apa yang Estia lakukan padamu? Apakah tidak cukup njualmu ke Byun Gyongbaek? Kau adalah tang sialan..."

Dari apa yang dia tahu, dalam benak Ishakan, hanya Leah yang berusaha keras saat makan siang itu. Dia sendiri yang nahan diri untuk berusaha mpertahankan hubungan baik; hanya saja dia tanpa pamrih mikirkan negaranya.

Karena tidak bisa berkata-kata, dan tidak dapat mahami tindakannya, dia nundukkan kepalanya dan berbisik pelan.

"Apakah kerajaan itu terlalu penting bagimu? Sejauh lindungi Putra Mahkota?" Ishakan dengan sekuat tenaga berusaha ngendalikan emosinya yang ngamuk. Hanya demi Leah kemarahannya dapat dipadamkan. Leah nggigit bibirnya, tanpa ngeluarkan satu suara pun.

Dia ngangkat tangannya dan ngangkat dagunya. "Kenapa kau tidak ngatakan apa-apa?"

Ibu jarinya nyentuh bibirnya dan nekan, mbuka mulutnya. Leah hampir nggigit jarinya tetapi nghentikan dirinya tepat waktu.

"Jika kau rasa dirugikan, kau juga harus ngungkapkan kemarahanmu. Berteriak, katakan apa saja. ski kau tidak..."

ndengar perkataannya, gejolak emosi yang tadinya mati, kembali hidup. Bahkan jika dia ngira dia mampu nanggungnya, bibirnya bergerak dengan sendirinya.

"...Apa yang akan berubah jika aku lakukan itu?"

Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak ada yang bisa diubah.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 63: Rasa Haus yang Tak Terpadamkan akan Kekuasaan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.