"Kamu tahu aku tidak bisa lakukan itu, kan? ngapa kamu mbuatku ndapat masalah?" dia ndesis pelan padanya. Ishakan ngerutkan kening dengan jawaban singkatnya. Dia dengan keras kepala ndekatkan wajahnya ke arahnya, ngabaikan para saksi.
"Apakah itu terlalu berlebihan untuk pria yang layanimu dengan seluruh tubuhnya?" dia berbisik.
Begitu dia noleh, ski sedikit, ujung hidungnya yang tajam nyentuh pipinya.
"Aku banyak mbantumu, kan? Aku bahkan hampir mati." dia ludah kembali dengan dingin.
Bahkan jika dia mberitahunya, dia akan tetap lakukan hal yang sama. Kalau bukan karena Ishakan, dia pasti sudah ditangkap oleh Byun Gyongbaek di taman malam itu. Ishakan mbentak dan dengan lembut ngusapkan dahinya ke dahinya.
"Kamu harus mbalas budi padaku, tuan putri." dia dengan lembut nuntutnya.
Leah akhirnya mundur selangkah dengan cermat. Namun ski begitu, Ishakan semakin ndekat padanya. Semakin dia larikan diri, semakin dia mprovokasi dia. Akhirnya, dia nyadari bahwa dia tidak bisa lagi nghindari tatapannya, saat matanya perlahan ndongak untuk bertemu...
Saat dia lakukannya, ada kilatan kepuasan di matanya. Leah diam-diam mbuka mulutnya.
"Katakan padaku apa yang kamu inginkan."
"Berjalanlah bersamaku nuju ruang makan siang."
Ishakan dengan bercanda ngangkat alisnya. Setelah natap tajam ke arah Ishakan dalam pandangan sekilas, Leah dengan enggan mindahkan langkah pertamanya ke depannya. Dia berpikir untuk berjalan di depannya dari jarak yang jauh. Beri dirinya jarak darinya.
Namun, dia ngabaikan sesuatu. Ada perbedaan besar antara tubuh reka, seperti langit dan bumi. Dia dengan cepat nyusul Leah hanya dalam beberapa langkah.
"Kamu berjalan terlalu cepat." dia bercanda, dan dia nggigit bagian dalam bibir bawahnya karena kesal.
Aku tidak percaya pria ini.
Leah rengut padanya sambil tertawa nakal.
"Aku datang karena kamu. Sulit bertemu denganmu akhir-akhir ini." Ishakan nggerutu sambil ngatakan bahwa putri yang dikurung di nara tidak boleh seperti ini. Dia akui nganggapnya lucu, ski itu tidak cocok untuknya.
Leah diam-diam natapnya. Rambut hitam kecoklatannya tergerai secara alami di dahinya yang lebar. Garis jelas di pangkal hidungnya yang berlanjut hingga ke alisnya mberinya tatapan tajam, berlawanan dengan cara dia mberinya tatapan yang lebih lembut.
Rasa gatal nyelimuti tangannya. Sensasi gatal yang tak tertahankan, seperti kuncup yang bertunas di musim semi.
Leah ngepalkan tangannya di bawah sarung tangan bertali putih, lalu bergerak perlahan. Ishakan berjalan tepat di sampingnya, ncocokkan langkah demi langkahnya saat reka berjalan beriringan dengan sempurna. reka semakin dekat ke taman tempat makan siang akan diadakan. Bagaimanapun, itu hanya jarak yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Di setiap langkahnya, dia mikirkan orang-orang yang akan lihat reka, jadi dia milih jalan yang lebih sedikit orang yang lewat. Para pelayan ngikuti reka dari jarak dimana reka tidak dapat ndengar percakapan reka berdua.
Cuacanya bagus. Berjalan di bawah hangatnya sinar matahari terasa lebih baik dari yang dia kira. Keduanya tetap diam sambil berjalan. Ada perasaan nyaman nyelimuti reka saat keheningan pun terjadi di antara reka.
Sudah lama sekali sejak Leah keluar jalan-jalan. Bagaikan kucing yang bergelantungan di dekat jendela pada siang hari, Leah nikmati sinar matahari dengan suasana hati yang santai. Berjalan-jalan di luar tidak pernah terasa senyenangkan ini, mungkin karena dia baru tinggal di dalam istana selama berhari-hari.
Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya.
Mungkin saja Ishakan ngetahui apa yang terjadi padanya sehingga dia sengaja ngajaknya berjalan bersamanya di luar hari ini. Tapi dia tidak repot-repot minta konfirmasi darinya, dan mbiarkan pikirannya layang begitu saja.
Saat reka hendak sampai di taman, Ishakan yang selama ini diam di sepanjang jalan, tiba-tiba terbuka untuk pertama kalinya sejak reka mulai berjalan...
"Kamu terlihat cantik hari ini." Dia mujinya. Pernyataan sederhananya mbuat dia rasa sesak. Sentara Leah mikirkan jawabannya, Ishakan terus berbicara, tidak nunggu jawaban. "Apakah aku nyebutkan bahwa Putra Mahkota juga akan nghadiri makan siang itu?"
Ada kerutan yang dalam di dahinya.
Tampaknya dia tidak senang dengan berita yang dia keluarkan dari mulutnya tetapi dia nambahkan lagi, atau nanyakan apa yang dia pikirkan karena reka akan tiba di istana Ratu.
Para pelayan istana kerajaan, yang nunggu di luar untuk nyambutnya, mandang reka dengan sedikit terkejut. Mungkin karena reka ngira tak satu pun dari reka akan datang bersama. Namun, para pelayan hanya mbungkuk di hadapan reka saat Leah lewat, tanpa ekspresi seperti boneka, tanpa ekspresi apa pun di wajahnya.
"reka nunggu di dalam." kepala pelayan mberi tahu reka, ngarahkan reka ke jalan.
reka berjalan nuju taman dengan diantar oleh para pelayan. Dia bisa lihat, bahkan dari kejauhan, taplak ja yang dihiasi pasir emas. ja itu dihiasi dengan bunga-bunga narik, buah-buahan kecil, renda, dan kelopak bunga yang tersebar dengan indah di mana-mana, sentara peralatan perak dan keramik yang indah berjajar—yang semuanya terlalu wah untuk makan siang, pikir Leah.
Para bangsawan sudah duduk di ja. Di sudut atas ja, Raja dan Cerdina duduk, sedangkan Blaine, Putra Mahkota, terletak di sisi kiri ja. Denah tempat duduk telah diatur sebelumnya, dan Leah akan duduk di samping Blaine, sentara Ishakan akan duduk di seberangnya.
Dia berhenti di depan reka, dan berdiri kokoh, sebelum natap reka dengan tatapan kosong.
Cerdina tersenyum saat lihat Leah. Gaun ratu berkilauan terang di bawah sinar matahari langsung. Bentuk gaun datar tanpa efek balon tentu bukan gaya Estian. Roknya jatuh mulus ke lantai.
Mata sang putri lebar sedikit ketika dia nyadari apa yang dikenakan ratu—itu adalah gaun sutra yang dihadiahkan Ishakan kepada Leah.
Reviews
All reviews (0)