Font Size
15px

"Inilah yang kamu inginkan. Kamu harus makan lebih banyak."

"Hhhh, ah... Ahhhh, Ishakan...!" Leah njerit, suaranya berteriak mprotes, pikirannya ingin minta lebih.

"Aku harus ngisimu dengan benar agar pikiranmu tidak nginginkannya untuk sentara waktu."

Erangan dan rengekannya yang tak berdaya bergema sepanjang malam yang tenang.

Suara tamparan tubuh dan nafas berat semakin terdengar. Matanya berkaca-kaca, samar-samar dia bisa lihat sekilas cahaya bulan yang berkibar-kibar saat dia nengadahkan kepalanya ke belakang. Dia nancapkan kukunya jauh ke punggungnya, tanpa terkendali. Pikirannya njadi kosong, kenikmatan yang luar biasa tak terlukiskan nyapu indranya.

"Hick, haaang!"

Leah ngeluarkan isak tangis yang nggoda dan lengkungkan pinggulnya. Dia ncapai klimaks, nektarnya netes ke bawah. Dia tampak sangat lemah dan sensual setelah ngalami kesenganan.

Kemudian, rasa dingin rambat di tulang punggungnya, tangan dan kakinya tidak berhenti getar.

Genggamannya semakin erat, dia tidak berhenti. Sebaliknya, dia ndorong tongkatnya yang masih segar, lebih dalam. Dia nyedot air liur yang ngalir ke bibirnya yang terbuka, nggigit pipinya saat dia lakukannya.

"Aku akan ngisimu sampai kamu kenyang hari ini!" Dia nyatakan.

****

Berapa kali reka lakukannya?

Leah telah kehilangan semua kemiripan dengan kenyataan, dia tidak tahu lagi di mana dia berakhir dan Ishakan dimulai. Setelah kedua kalinya, ingatannya kabur. Yang tersisa hanyalah kenangan samar akan persatuan reka yang hiruk pikuk; cadangan terakhir reka telah lama lepas dari belenggu saat Ishakan ngambilnya seperti binatang buas.

Hal terakhir yang dia ingat adalah jeritannya yang ngigau; teriakan kenikmatan luar biasa. Sepertinya dia pingsan setelah itu. Dia belum makan dengan benar untuk mpersiapkan jamuan makan, jadi wajar saja kalau tubuhnya tidak bisa ngatasinya, setelah dia terlibat dalam hubungan cinta yang begitu sengit.

Leah maksa kelopak matanya yang kelam untuk terbuka. Dia sangat mbutuhkan untuk lembabkan tenggorokannya yang kering.l? Air, aku butuh air.

"..."

Sepotong kain panjang berkibar narik perhatiannya. Itu adalah tirai, disulam dengan pola rumit, berkibar bebas tertiup angin.

Kesadarannya perlahan kembali padanya, dia mulai mperhatikan sekelilingnya. Matanya natap kosong, seolah mpelajari pola rumit di tirai.

Leah ndapati dirinya berada di ruangan gelap yang tenang. Kabut asap njadi penyaring, kesunyian begitu pekat sehingga bahkan angin puyuh debu yang tak terdengar pun bisa terdengar.

ngintip lalui jendela, cahaya perak dari bulan yang bulat sempurna bersinar. Dunia bintang lukis langit, mungkinkannya lihat prisma permata kecil berkilauan, yang nghiasi langit lalui panel kaca bening.

Itu sungguh tidak nyata. Leah rasakan seseorang nyentuh rambutnya. Kelopak matanya terus berkibar, ncoba mahami apakah dia masih dalam mimpi, atau kesurupan ini adalah kenyataan. Kehangatan yang nyentuh dan nyisir rambutnya dengan lembut sungguh nenangkan.

Setelah beberapa saat rasakan sentuhan itu, dia nyadari bahwa dia sedang berbaring di tempat tidur. Kepalanya bersandar pada gundukan yang hangat dan kokoh – tepatnya, dia nggunakan paha yang kencang sebagai bantal.

Pria itu, yang bersandar di samping tempat tidur, sedang rokok dengan santai. Dengan sebatang rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, salah satu anggota tubuhnya diangkat pada sudut sembilan puluh derajat dan yang lainnya diletakkan untuknya.

Dia narik napas dalam-dalam dan nghela napas. Asap kabur yang ngikuti nafas panjangnya, bertebaran di udara fajar. Aroma sejuk namun manis, perlahan tercium ke seluruh ruangan.

Leah yang sudah lama natapnya, nggeliat-geliat tubuhnya. Dia tidak lagi miliki tenaga untuk bangun. Jadi, dia hanya berhasil nggerakkan kepalanya sedikit.

Syukurlah, pria yang pahanya berwarna perunggu yang dia gunakan sebagai bantal, segera nyadarinya. Mata emasnya yang natap ke arah senja di kejauhan beralih padanya.

Dia mukul dan ngerutkan bibirnya.

"Air..."

Ishakan nariknya dan nyandarkannya di dadanya. Dia matikan rokoknya di asbak kuningan di tempat tidur, dan ngulurkan tangan ke ja samping tempat tidur.

ngambil guci itu, dia nyesapnya.

Kemudian, sambil mandangi bibirnya yang kering, dia nciumnya, perlahan-lahan ngeluarkan air ke dalam mulutnya. Dia neguk air dingin yang lewati bibirnya, minumnya hingga tetes terakhir. Matanya tertuju pada pria itu, minta lebih banyak.

Ishakan kembali mberinya air dengan cara yang sama. Dia rasakan sebagian indranya kembali setelah dia muaskan dahaganya.

Namun, dia masih belum miliki kekuatan di tubuhnya, dan pikirannya masih kabur. Dia rasa seperti seseorang terus-nerus nusuk kepalanya dengan jarum kecil. Persepsinya terdistorsi, penglihatannya berputar-putar.

"Aku rasa pusing...," katanya lemah lembut.

Ishakan ngeluarkan sesuatu lalui bibirnya, segera setelah dia rengek dan nggelengkan kepalanya.

"Jangan ditelan, diamkan saja di mulut, beberapa detik, lalu dimuntahkan... Ya, begitulah, seperti itu."

Asap rokok dengan lembut nuhi mulutnya, dan yang narik, begitu aroma sejuk resap ke dalam rongganya yang lembab, sakit kepalanya hilang. Pusingnya perlahan reda. Dia ingin nelannya, tetapi tidak miliki kekuatan untuk lakukannya, jadi dia nyimpannya di mulutnya dan ludahkannya seolah dia diminta.

"Kerja bagus."

Dia nciumnya dengan ringan. Dia nyukai sensasi sejuk dan ingin ncicipinya lagi. Dia mbuka mulutnya lagi, tapi Ishakan nariknya dengan kuat.

"TIDAK. Bahkan terlalu banyak obat adalah racun." Suaranya yang nenangkan nolak permohonan diamnya.

Sebuah tangan hangat nutupi matanya saat dia natapnya dengan sedih. Suaranya yang dalam dan rendah terdengar seperti lagu pengantar tidur.

"Kamu seharusnya baik-baik saja sekarang."

Satu kata itu secara ajaib yakinkannya.

Ya, semuanya akan baik-baik saja.

Dia nutup matanya, bersembunyi di kegelapan yang dimandikan telapak tangannya.

Rasa kantuk mulai nutup pikirannya. Perlahan, dia kembali tertidur lelap.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 46: Tempat Tidur Mawar 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.