Rasanya terlalu panas. Dia seperti neraka, Dewa berkulit coklat yang nempel padanya. Semuanya mbakar Leah dengan kejam. Mulutnya, karena panas yang nyengat, terbuka di luar keinginannya...
"M–Lagi...Ahh, di sana..ugh...hmm..."
"Di Sini?"
"Ya, hmm, bagus, bagus sekali."
Anggota besarnya nggosok seluruh bagian dalam tubuhnya, nemukan dindingnya yang halus dan panas. Dia rasa seperti dia akan njadi gila setiap kali dia bergerak. Setiap tempat dirangsang olehnya.
Kenikmatan berikutnya ngalir ke dirinya; air terjun yang deras karena dia tidak lewatkan satu titik pun.
lanjutkan serangan paraunya, Ishakan nggenggam dadanya yang bengkak. Jari-jarinya yang kapalan lapisi kulit porselennya dan ncubit. Puncak kembar itu nyesuaikan dengan bentuk tangannya, gundukan tegaknya ngundang Ishakan untuk nyentuhnya. mperhatikan keadaan Leah, sebuah ide licik pun terbentuk.
Dia nggosoknya dengan keras, secara bersamaan, pinggulnya bergoyang lebih cepat. Wilayah bawah yang mbesar njadi tempat dia dan Leah njadi satu, sentara jari-jarinya nyerangnya di atas.
"Ahhhh, huh!"
Perut bagian bawahnya negang seiring dengan sensasi yang ndebarkan. Dia rasakan sesuatu ledak di perut bagian bawahnya dan dinding bagian dalamnya ngejang. Hasilnya, aliran cairan tubuh mbasahi tempat reka terhubung.
Batang Ishakan nancap di bagian terdalam tubuhnya. Gencarnya rit tubuh reka yang bertabrakan, mbuktikan keinginan Ishakan untuk nyatukan reka. Ishakan lepaskan dadanya, hanya untuk raih ke belakang dan gang pantatnya, luknya lebih erat. Tidak ada lagi kesenjangan yang terlihat di antara reka.
Perut dan dada Leah nempel tepat di tubuh berototnya. Dia dengan panik ngerang dan nangis. Benda di dalam dirinya berdenyut dan mbesar, dan Ishakan ngerang dalam-dalam.
Sesuatu yang hangat ngalir tanpa henti dan para pria itu nuhinya, kepala batangnya bergerak-gerak di leher rahimnya. Leah mbiarkan tangan dan kakinya nggantung. Ishakan, nikmati mon ini.
Pikirannya berada dalam kebahagiaan murni, wilayah bawahnya, masih di dalam dirinya, bergerak dengan santai. Ishakan lihat ke bawah ke tempat reka terhubung.
Campuran cairan tubuh dan pria mbuatnya terlihat berantakan. Cairan yang nempel di tubuhnya semakin nonjol, karena Leah, yang tidak miliki rambut kemaluan, terlihat mulus.
lihat klitorisnya yang rah dan bengkak, Ishakan tertawa licik. Dia njentikkannya nyebabkan dia ngerang, dan sedikit sadar kembali. Dia ncoba nyingkirkan tangan gelisahnya yang mulai mbangunkannya lagi.
"Ah...hee...T-tidak..."
Namun, dia langsung nyesali hal itu. Ishakan lepaskan tangannya, lalu raih pinggangnya. Dia kemudian mulai duduk di lantai dan ndudukkan Leah di atasnya.
Anggotanya, yang masih berada di dalam dirinya, ngubah posisinya dan ndorong kembali lebih dalam, ncium leher rahimnya. Tidak ada masalah untuk njangkau bagian terdalam dirinya, skipun lemas karena masih sangat besar.
Leah, yang masih terisak-isak akibat klimaksnya, terkejut. Ishakan nopang pinggang Leah agar dia tidak terjatuh ke belakang, dan nariknya ke dalam dengan tangan di belakang lehernya.
"Aku akan mijat dadamu. Kemarilah."
Jari-jarinya ncubit putingnya. Dia njilat wajah Leah yang rintih, sambil dengan lembut ngusap puncak kembarnya yang mbesar dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
Dia mbasahi bibirnya dengan air liur dan njilatnya. Lidahnya berpindah ke pipinya yang basah oleh air mata, dan akhirnya tidak lupakan daun telinganya yang telah berubah njadi rah padam. Dia nggigit dan nghisapnya juga.
Gundukan putihnya tersangkut dalam genggaman Ishakan. Dia nghisap dan nggigit satu sisi, dan dia berulang kali nepuk dan dengan lembut mutar sisi lainnya dengan jari-jarinya.
Leah nggeliat pinggangnya dan raih lengan bawahnya erat-erat. Kukunya ncakar lengannya, namun sulit untuk nggaruk kulit kerasnya.
Dia rasakan pedangnya yang ada di dalam dirinya ndapatkan kembali kekuatannya dan njadi keras lagi, saat dia nggeliat dan mutar tubuhnya karena tidak mampu nahan sensasi geli. Tubuh bagian bawahnya perlahan mulai ndapatkan kembali kekuatan sebelumnya.
Dia rasakan ketakutan sekaligus antisipasi, ketika dia mikirkan pria itu akan lakukan hal itu lagi padanya. Bertentangan dengan dirinya sendiri, Leah natap Ishakan, ingin dia lebih sering nyentuh dan nggosoknya. Dia lihat kegembiraan nyebar di matanya.
"Kamu ingin aku mukulmu?"
Dia ragu-ragu lalu ngangguk. Jantungnya mbengkak pada saat itu, dan dia lengkungkan punggungnya. Ishakan bersandar, dan nyeringai. Tangannya lepaskan serangannya dan dia nyelipkan tangannya ke depan perutnya, di mana sebagian dirinya nonjol. lakukan tindakan kesal, dia nggelengkan kepalanya. Leah mutar tubuhnya dan njilatnya, terlepas dari tindakannya.
"Apa yang harus aku lakukan jika kamu sangat nyukainya? Aku tidak bisa naruhnya padamu sepanjang hari."
Dia ncengkeram dadanya, ekspresi nakal di wajahnya. "Ah, setidaknya aku harus ndapatkan mainan serupa dan ngirimkannya ke istana."
Leah nggigit bibirnya erat-erat. Dia mbencinya karena terus-nerus ngatakan hal-hal vulgar padanya. Matanya berkaca-kaca karena kesedihan. Otaknya yang demam tidak mampu nyaring pikirannya dan mbiarkannya keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kenapa... kenapa kamu terus ngatakan hal itu..."
Lea rintih. Matanya berkabut, dan sepertinya air matanya akan tumpah kapan saja, tetapi dia maksakan diri untuk nelannya kembali.
"Jangan lakukan itu...."? Jangan rendahkan saya, lebih dari yang sudah saya lakukan.
Ishakan berhenti dan bibirnya sedikit terbuka.
Dia natap Leah dengan tatapan kosong sejenak, lalu bergumam pelan.
"...Baiklah."
Itu adalah jawaban yang lembut dan lembut. Leah natap matanya yang tenang. Mirip dengan madu, rasanya manis dan mpesona. Pada saat itu, bola-bola yang natap ke arahnya tidak nunjukkan tanda-tanda ketajaman dan keganasan.
Angin bertiup di sekitar reka, mbawa aroma bunga yang lebat. Aroma yang nyenangkan segera nuhi lubang hidungnya. Semua rasa manis berpadu, dan aroma yang dihirupnya, mbuat jantungnya berdebar-debar. Itu keterlaluan, apakah dia pantas nerima ini? Dia khawatir jantungnya yang berdetak begitu kencang njadi sangat keras hingga Ishakan bisa ndengarnya.
Kelopak bunga yang rapuh layang lembut tertiup angin, bergabung dengan kelopak bunga lainnya di dada Ishakan. Kulitnya yang halus dan kecokelatan kini dipenuhi kelopak bunga putih. Leah sedikit ragu, sebelum dengan lembut nyapu reka pergi.
"...nyerupai kamu."
ndengar suaranya yang tiba-tiba terdengar, Leah ngalihkan pandangannya ke arahnya. Ishakan lepas salah satu kelopak dari rambutnya dan bergumam. "Sepertinya kamu. Bunga-bunga ini."
Jantungnya berdetak lebih kencang. Ishakan tertawa terbahak-bahak dan luk Leah, mbelai rambut peraknya.
"Beri aku ciuman."
Reviews
All reviews (0)