Font Size
15px

Ada banyak sekali orang yang bersembunyi di taman untuk nikmati kencan di setiap jamuan makan. Leah terkadang keluar untuk nikmati angin malam, dan sering kali dia harus segera berpaling setelah ndengar tangisan yang penuh gairah.

"Sudah banyak orang yang lakukan hal ini di sini. Jadi, kami bahkan tidak akan nonjol." Apakah dia baru saja nebak apa yang dipikirkannya?

Selain ditangkap oleh seseorang, dia bahkan lebih terkejut lagi karena dia lakukan hal seperti ini. Sebab, ini sungguh...

"Kenapa, karena ini yang dilakukan binatang buas? Itukah yang tertulis dalam etiket istana Estia? Saya kira itu tidak jauh dari kebenaran karena Anda sedang lakukannya dengan seekor binatang saat ini."

Leah mbuka dan nutup bibirnya dengan mata kabur. Bagaimana dia tahu? Rasanya Ishakan bisa mbaca semua pikiran batinnya.

"Saya tidak mbacanya. Anda sedang berbicara sekarang. Sepertinya kamu benar-benar pergi."

Dia nggigit bibirnya yang berkibar dengan ringan.

"Sepertinya ramuannya cukup kuat...."

Tangan Ishakan lama mbelai betisnya dan raih pahanya. Jari-jarinya yang ramping ncengkeram pahanya begitu kuat hingga terasa seperti akan letus. Dia yakin itu pasti nyakitkan tapi anehnya itu lebih ndekati kesenangan daripada rasa sakit. Bagian dalam pahanya bergetar karena kegembiraan yang aneh. Rasanya sangat gatal sehingga tubuhnya tidak bisa nahannya. Dia nelan ludah dan natap pria di depannya.

Dia tahu kesenangan yang akan diberikan pria itu padanya. Pinggangnya bergetar secara naluriah, begitu dia mbayangkan bagaimana rasanya masukkan jari-jari panjang pria itu jauh ke dalam dirinya dan nggerakkannya. Leah getar dan getar sedikit demi sedikit, dia lebarkan kakinya sedikit tanpa dia sadari.

Ishakan, yang masih mperhatikannya dalam diam, tertawa kecil.

"nurutmu itu cukup? Sebarkan lebih luas."

Pikirannya semakin tidak sabar. Bagian dalamnya sangat gatal sehingga dia njadi gila. Dia mbuka kakinya lebar-lebar berharap dia akan nyentuhnya dengan cepat, dan segera setelah dia lakukannya, dia nciumnya di atas lutut dan mujinya.

"Di sana. Kerja bagus."

Matanya ncapai titik terdalam di antara kedua kakinya. Tatapannya yang blak-blakan dan eksplisit terasa hampir nyata. Dia ringkuk, tidak sanggup nahan antisipasi. Kegugupannya ningkat.

Tanpa sepengetahuan Leah, bagian bawah tubuhnya sudah basah kuyup. Wajahnya rah ketika dia nyadari betapa lembabnya wilayah bawahnya. Leah yang tersipu rasa seolah-olah dia bisa ledak kapan saja. Leah nggigit bibirnya dan berbisik.

"Aku, Ishakan, aku, aku rasa sangat aneh..."

Matanya yang lihat ke bawah terangkat kembali. Warna emas pada pupil matanya semakin dalam. Ishakan mbaringkan Leah kembali.

"Apa yang terasa aneh?" Pria nakal itu dengan sadar bertanya.

"Uhh, haaa...."

Dia nutup matanya dan nelan erangan. Tubuhnya terstimulasi dan teriritasi bahkan oleh sedikit sentuhan pakaian lembut di kulitnya. Bagian dalam tubuhnya ngejang dan dia rasakan dirinya netes ke bawah. Cairan panas rembes ke pahanya. Jika ini terus berlanjut, Leah rasa dia benar-benar akan mati. Kata-katanya selanjutnya keluar seperti isak tangis.

"Di bawahnya... Rasanya aneh di bawah..."

"Bagaimana?"

"Basah...dan air terus keluar..."

Dia robek celana dalamnya. Sepotong kain bernoda jatuh di atas sedap malam putih. Ishakan dengan kuat nekan paha Leah dengan kedua tangannya, sehingga dia tidak bisa bergerak dan letakkan kepalanya di antara keduanya.

"Ini luap."

Dia tiba-tiba rasa khawatir. ndengar dia nggambarkan keadaan basahnya seolah-olah bendungan jebol mbuatnya khawatir. Tubuhnya mungkin berantakan; karena dia obat asing yang dia minum. Ishakan tertawa kecil.

"Apakah kamu ingin aku nghentikannya?"

Dia tidak yakin apakah dia ngangguk atau mintanya untuk lakukannya. Ishakan perlahan nundukkan kepalanya dan nundukkan kepalanya sentara dia ncoba untuk ndapatkan kembali kesadarannya yang redup. Dia bisa rasakan napas panas pria itu ngalir ke bawahnya. Leah mbuka matanya lebar-lebar dan nangis.

"...Uh!"

Segumpal daging lembut yang bergerak njilatnya di bawah, di tempat yang panas sekali. Dia negangkan lidahnya dan njilatnya. Seolah-olah lidahnya yang nyelidik ingin ncicipi hidangan pembuka terlebih dahulu, lalu nghisap benjolan panasnya. Tubuhnya ringkuk rasakan sensasi lembut yang nggesek tubuhnya.

Paha Leah dengan panik ncoba untuk bangkit, tetapi tidak bergerak sedikit pun karena tangannya nekan pahanya dengan kuat. Di balik serangan lidahnya dan suara basah air liur dan cairannya yang bercampur, napasnya yang terengah-engah terdengar.

"Ah ah. T, tidak... Berhenti..."

Sensasinya lampaui batas kemampuannya. Perasaan ngigau yang dibangkitkannya dalam dirinya hampir ncapai titik kesakitan. Dia nangis, tidak mampu nahannya. Namun, Ishakan tidak berhenti. Serangannya yang tanpa henti dan tak kenal ampun terus berlanjut saat dia nggali lebih jauh ke dalam dirinya.

Jari tengahnya luncur di atas kelopak bunga yang bertekstur halus, lalu mbukanya dan nggalinya perlahan. Ia tak lupa njilat benjolan kaku yang bengkak itu sambil masukkan jarinya.

Cairan yang tumpah di dalamnya keluar saat dia mbengkokkan jari yang dimasukkan sedikit miring dan perlahan nggerakkannya beberapa kali. Dinding bagian dalamnya yang basah nempel di jari-jarinya, seolah nandakan bahwa reka telah nunggunya.

"Heuk, ha...T, tidak, tolong keluarkan jarimu...!"

"Apakah kamu ngalami kesulitan hanya dengan satu jari?"

Ishakan tersedot ke bawah. Bunyi suara basah saat bibirnya nyedot guanya bisa terdengar. Dia nyeringai puas.

"Aku perlu masukkan sesuatu yang lebih besar, jadi aku harus lebarkanmu."

Jari-jari Ishakan bergerak pendek dan cepat. Dengan hanya selaput lendir tipis yang misahkannya, lidah lembutnya terus-nerus njilat dan nghisap bagian atas, dan jari-jarinya yang keras nyodok dengan kasar ke bawah. Leah lihat ilusi petir turun di depan matanya.

Kulitnya yang terbuka sangat panas hingga bersinar. Dia tidak tahan lagi. Leah, hampir nangis, manggil Ishakan.

"I-Ishakan... Ah, ahh!"

Dia masukkan jarinya jauh ke dalam. Kepalanya noleh ke belakang dan jeritan seperti erangan terdengar. Perut bagian bawahnya yang rata ngejang.

Klimaksnya panjang, dan begitu kuat hingga mbuat pikirannya mucat. Sensasi dahsyat yang nerpa tubuhnya tidak mudah reda. Bagian dalam tubuhnya ngejang dan ngeluarkan cairan. Seutas benang lengket ditarik keluar saat dia perlahan narik jarinya dari lubang rendamannya. Ishakan njilat jarinya dan tertawa.

"Sangat lezat."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 42: Lezat 3 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.